
Semua mengunjungi Pak Rahman kecuali Erica yang ingin mengunjungi keluarganya di penjara. Saat bertemu dengan ayah dan kakaknya, Erica ceritakan semuanya. Seperti apa hidupnya di tengah-tengah keluarga Pak Yudhi, serta pertemuannya dengan Pak Rahman.
"Kita berdosa pada mereka semua, aku malu berkumpul dengan mereka," ucap Erica tertunduk.
"Ini semua salah Daddy, Nak. Jangan salahkan dirimu. Daddy yang terlena dengan ambisi. Merasa semua bisa dimiliki hingga tak memikirkan mana yang menjadi hak kita, mana yang menjadi hak orang lain," ucap Cipto dengan wajah penuh penyesalan.
"Lalu bagaimana dengan Celine, terakhir kali bertemu. Aku … menipunya," tanya Yodi.
"Saat itu Celine sangat terpukul, dia pergi dari rumah. Menyadari dirinya tak pantas untuk Mikho, dia memutuskan untuk berpisah. Kakak mempermainkan kehidupan Celine dan Mikho sedemikian rupa. Merusak kebahagiaan yang harusnya dari dulu mereka dapatkan. Mempermainkan nasib orang lain. Apa yang dapatkan sekarang ini … kehancuran. Saat berkuasa, saat memegang tongkat kekuasaan, kita bisa melakukan apa saja, tapi … pada akhirnya kekuasaan semu itu akan roboh dengan sendirinya. Membawa kita ikut terkubur di dalamnya. Tak ada mengingatkan. Tak ada yang menegur, semua saling bantu untuk menjatuhkan orang. Sekarang, kita yang tenggelam dalam lumpur nista dan hina," ucap Erica dengan bercucuran air mata.
"Maafkan Daddy, Erica, semua …."
"Nggak Daddy, ini bukan salah Daddy saja. Ini salahku. Aku yang pelihara sifat iri dalam hatiku pada Celine. Memelihara dengan baik sifat iri itu hingga tumbuh menjadi besar. Akulah masalah utamanya. Daddy hanya menjadi pendukung perbuatan jahatku. Daddy hanya membantu sekuat tenaga bahkan melebihi kemampuan Daddy sendiri untuk menolongku, hingga akhirnya mencari jalan yang salah. Akulah otak semua kejahatan. Akulah penyebab kita hancur, dan yang paling aku sesali. Orang yang aku jahati, keluarga yang ingin kita hancur. Justru mereka yang menampungku. Mereka berusaha membuat aku tersenyum setiap hari. Mereka tidak tahu, semakin baik mereka, semakin sedih hatiku. Aku ingin mereka membalasku tapi aku juga sayang mereka …."
"Erica, sudah Nak. Jika tak sanggup tinggal bersama mereka. Pergilah hidup sendiri, mungkin … sedikit demi sedikit kamu bisa membalas kebaikan mereka," usul Cipto.
__ADS_1
"Aku pernah hidup sendiri Daddy. Hidupku terlunta-lunta, justru mereka yang menolongku. Memberikan segala yang aku butuhkan. Sekarang aku punya apotek Daddy. Aku menjadi seorang apoteker. Semua berkat dukungan keluarga Pak Yudhi. Aku hidup nyaman, bersama keluarga yang hangat. Sementara putri mereka hidup seorang diri, menyendiri dengan segala kesedihan akibat ulah kita, karena Kak Yodi yang berbohong telah menodai Celine," ucap Erica sambil menatap tajam ke arah Yodi.
Laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Ucapan Erica, kembali mengingatkannya pada kebohongan demi kebohongan yang dilakukannya pada Celine, hingga yang terakhir kali, memanipulasi pikiran Celine seolah-olah dirinya telah ternoda oleh perbuatannya.
"Sebenarnya …."
"Sudah tahu! Semua sudah terungkap. Yossi yang beritahu semuanya. Hari itu tidak pernah terjadi perkosaan. Yossi menolong Celine sebelum Kak Yodi berhasil menodainya. Celine yang tidak tahu apa yang terjadi padanya, menyimpan perasaan terhina itu seorang diri bahkan akhirnya menghindar dari laki-laki yang dicintainya, karena merasa tak percaya diri. Kak Yodi sudah berhasil membalas dendam pada Celine bukan? Apa sekarang sudah puas? Mereka menikah tapi hidup terpisah karena Mikho yang tidak bisa menerima kenyataan Celine yang telah ternoda …."
"Apa?" tanya Yodi kaget.
"Itu yang Kak Yodi inginkan, ya kan? Membuat kedua orang yang saling mencintai itu terpisah dan menderita?" tanya Erica yang membuat Yodi langsung tertunduk.
Memeluk ayahnya yang duduk di seberang meja. Memeluk kakaknya yang duduk di samping ayahnya. Mencium pipi keduanya lalu melangkah meninggalkan ruang pertemuan khusus untuk penghuni lapas itu.
"Kamu mau ke mana Nak?" ucap Cipto tiba-tiba merasa khawatir atas ucapan putrinya.
__ADS_1
"Jangan berpikir yang macam-macam Erica!" teriak Yodi, seperti mendapat firasat buruk.
Teriak kedua orang yang disayanginya itu hanya dibalas dengan senyuman. Lambaian tangan Erica justru menambah kesedihan kedua orang itu. Hal yang sama dilakukan oleh Erica pada ibunya. Bercerita tentang kejahatan mereka hingga kehidupan keluarga Pak Yudhi yang sekarang telah kembali baik-baik saja, lalu pamit pada ibunya.
Setelah bertemu dengan kedua orang tua dan kakaknya, Erica pun akhirnya memutuskan ke mengunjungi rumah sakit tempat Pak Rahman dirawat. Terlihat Pak Yudhi dan Bu Dessery begitu juga dengan Celine dan suaminya. Mereka terlihat berbincang hangat.
Erica tersenyum. Gadis itu hanya mampu menatap mereka dari balik lobang kaca di pintu rawat inap itu. Setelah puas memandangi mereka, Erica melangkah dengan gontai menuju sebuah lift. Devan yang baru saja kembali membawakan makan siang untuk ibu dan pengunjung ayahnya, mencoba memanggil Erica.
Namun, Erica seperti tak mendengar. Pikirannya kosong. Seperti tak berada di dunia lagi. Devan yang khawatir melihat gelagat Erica yang murung segera mengejarnya. Meminta tolong pada perawat yang ditemuinya untuk memberikan makanan yang dibawanya.
Devan menyusul Erica, ingin ikut masuk ke dalam lift bersama Erica. Namun, tatapan mata Erica yang kosong tak membuatnya menghentikan pintu lift. Devan panik karena merasa Erica jelas-jelas telah melihatnya.
Mau apa dia? Kenapa dia naik ke lantai atas? Untuk apa? Ada keperluan apa? Batin Devan yang melihat LED Display yang menampilkan angka lantai rumah sakit yang dilalui lift terus bergerak ke lantai teratas. Devan segera menekan tombol lift di sebelahnya. Namun, terasa begitu lama hingga membuatnya tak sabar.
Devan segera mencari tangga darurat dan berlari ke lantai atas. Satu demi satu menaiki anak tangga dengan berlari secepat-cepatnya. Pada satu lantai Devan melihat lift kosong yang terbuka. Segera masuk ke dalam lift itu dan memilih lantai rooftop rumah sakit.
__ADS_1
Begitu sampai, Devan langsung mencari Erica. Laki-laki itu terkejut dan panik karena menyaksikan Erica yang telah berdiri di pagar pembatas. Tak bisa berpikir panjang lagi. Devan segera berlari berusaha menyergap Erica yang telah melangkahkan sebelah kakinya. Erica pun jatuh.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...