Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 74 ~ Cinta yang Tak Sia-Sia ~


__ADS_3

Celine tertawa mendengar cerita tentang masa lalu mereka. Devan menceritakan kembali kenangan itu dengan gaya yang lucu. Setelah tertegun mendengar ucapan Devan yang pernah dikatakannya pada Erica dulu. Mereka berdua terlihat canggung.


Kata-kata itu sekarang seperti ucapan langsung ditujukan pada Celine. Devan seolah-olah baru saja menyatakan cintanya. Melihat reaksi Celine yang hanya mengalihkan pandangan, Devan pun jadi tertunduk. Tiba-tiba matanya menangkap satu benda yang terselip di jemari Celine. Laki-laki itu langsung menatap lurus ke wajah Celine.


"Kamu sudah menikah?" tanya Devan dengan ekspresi penasaran.


Pandangan matanya mengitari ke sekeliling. Tak ada tanda-tanda seorang laki-laki pun di situ. Sejak tadi duduk berbincang bersama Celine tak ada tanda-tanda munculnya seorang laki-laki atau minimal Celine yang ingin memperkenalkan suaminya.


"Ya! Aku sudah menikah," jawab Celine sambil tersenyum canggung.


"Di mana dia? Apa sedang bekerja?" tanya Devan.


"Kami sudah berpisah," ucap Celine pelan lalu tertunduk.


Entah mengapa setiap kali teringat Mikho, matanya akan langsung berkaca-kaca. Gadis itu mencoba tertawa untuk mengalihkan perasaannya, seolah-olah menunjukkan dia tidak apa-apa pada Devan. Namun, laki-laki itu hanya diam, sama sekali tak membalas tawa Celine. Devan tahu, gadis itu memiliki kesedihan yang coba ditutupinya.


"Lalu kamu tinggal dengan siapa di rumah ini?" tanya Devan.


"Aku tinggal sendiri, tadinya ada pemilik rumah dan putrinya. Setelah mereka pindah aku jadi tinggal sendirian," jelas Celine.


"Kamu nggak takut?" tanya Devan.


"Ya, sebenarnya sangat takut. Aku tak menyangka, rasanya begitu hening tapi justru membuatku tak bisa tidur. Aku belum pernah tinggal di rumah sendirian sebelumnya. Tapi … sudahlah! Mungkin kalau sudah terbiasa, pasti akan baik-baik saja," jelas Celine.

__ADS_1


"Mau aku bantu carikan teman untukmu–"


"Oh ya? Siapa?" tanya Celine.


"Aku," jawab Devan.


Celine langsung tertawa, Devan pun kembali tertawa. Tentu saja usulan Devan tak sungguh-sungguh. Celine tak akan bersedia ditemani olehnya. Hanya berdua di rumah itu bisa-bisa mereka di grebek warga. Mereka pun kembali bercerita tentang masa lalu. 


Sementara itu Mikho datang ke rumah Celine dan kembali bertanya pada kedua orang tua gadis itu. Sudah ketiga kalinya Mikho datang ke rumah itu. Laki-laki itu bahkan nekat masuk ke dalam kamar Celine meski tak dipersilakan. Bu Dessery hanya bisa menangis menatap menantunya yang memohon untuk dipertemukan dengan istrinya.


"Ma! Pa! Tolonglah aku! Aku ingin bertemu dengan Celine, aku harus bertemu dengannya Ma! Aku ingin meminta maaf padanya," ucap Mikho dengan air mata yang berderai.


Pasrah, memohon pada kedua orang tua itu setelah lelah berteriak memanggil nama Celine ke seluruh penjuru rumah. Mikho mencari ke setiap sudut dan memanggil-manggil seolah-olah bicara pada Celine yang sedang bersembunyi.


Laki-laki itu benar-benar frustasi mendapati Celine yang tak kunjung muncul. Meskipun telah memanggil ke setiap sudut. Mikho terduduk di lantai. Kedua orang tua itu menghampirinya dengan sedih.


"Berdirilah Nak! Jangan begini," ucap Dessery.


"Aku letih Ma! Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Semua teman-temannya yang aku tahu telah aku hubungi tapi dia tak kutemukan juga. Tolong Ma! Beritahu aku di mana dia Ma? Aku mohon–"


"Mama nggak tahu di mana dia Nak," ucap Dessery.


"Mama bohong! Mama nggak mungkin setenang ini melihat putri Mama hilang. Mama pasti sembunyikan Celine. Dia istriku Ma, aku sudah menikahinya. Papa sudah serahkan Celine padaku Pa, dia harusnya bersamaku," ucap Mikho berdalih pada ayahanda Celine.

__ADS_1


"Dia benar-benar tak ada di rumah ini Mikho! Kedua orang tua ini juga cemas," ucap Erica akhirnya tak tahan melihat Mikho yang memaksa kedua orang tua Celine untuk memberitahunya posisi Celine saat ini.


Mikho tercenung. Dengan air mata yang masih mengalir laki-laki itu tertunduk. Ucapan Erica yang terdengar membentak itu seperti menyadarkannya. Laki-laki itu membalik badannya hendak pergi. Mendengar ucapan Erica, entah kenapa Mikho menjadi pasrah.


"Kami tak sembunyikan Celine Nak. Kami sendiri juga ingin bertemu dengannya. Kami bisa tenang seperti ini karena Celine menelpon dan mengatakan dia baik-baik saja. Kami bahkan berharap kamu bisa menemukannya atau setidaknya menghubunginya. Kami juga khawatir Nak, kami tahu dia istrimu, tapi Celine tetap putri kami. Kami juga khawatir terhadap putri kami, Nak," ucap Dessery akhirnya.


Mendengar itu langkah Mikho langsung terhenti. Laki-laki itu membalik badan, tersenyum dengan senyum yang pedih. Sedikit tenang setelah mendengar Celine yang menghubungi orang tuanya.


"Kalau dia menelpon Mama lagi, aku mohon Ma. Katakan padanya aku menyesal, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin meminta maaf padanya. Aku … aku ingin dia kembali padaku," ucap Mikho dengan raut wajah yang begitu sedih.


Erica yang memilih raut wajah sedih itu menyadari bahwa Mikho benar-benar mencintai Celine. Gadis itu diizinkan tinggal di rumah keluarga Pak Yudhi sejak diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Mendapatkan perlindungan dan perhatian dari keluarga Celine, sekarang gadis itu menyadari begitu baiknya keluarga itu padanya.


Gadis itu berlari mengejar Mikho yang melangkah gontai di teras rumah. Gadis itu meminta laki-laki menunggu sekejap. Erica masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian gadis itu membawa sebuah kotak dari dalam rumah.


"Ini tanda pertunangan kalian dulu, Celine bilang ini sudah rusak. Tapi dia tetap menyukainya karena ini adalah pemberian neneknya. Tapi hal yang paling disukainya dari benda ini adalah karena kamu yang telah menyimpan dan menjaganya selama belasan tahun. Kami sekeluarga berpikir kamu yang sudah mengusirnya saat itu. Kami semua yang ada di rumah ini pasrah Celine pulang. Om dan Tante, sama sekali tak bertanya-tanya apa. Malamnya dia menceritakan tentang benda ini. Aku nggak tahu kenapa dia menceritakan itu. Lalu dia pergi keesokan harinya. Aku pikir mungkin dia ingin membawa benda ini tapi akhirnya dia lupa. Mikho, jika menemukannya, berikanlah benda ini padanya. Ini adalah simbol cinta kalian, Celine bilang kamu yang telah merusaknya, sebaiknya kamu yang memperbaikinya," ucap Erica.


Mikho menerima kotak bening berisi jepitan rambut yang pernah menjadi tanda pertunangan mereka. Mikho membanting jepitan itu hingga mutiaranya bertaburan. Laki-laki itu pun menatap kotak berisikan jepitan rambut yang telah bercerai berai itu.


"Kamu benar. Aku yang telah merusaknya, aku juga yang harus memperbaikinya. Jika aku memperbaiki semuanya ini, apa menurutmu Celine akan kembali padaku?" tanya Mikho.


"Tentu, dia mencintaimu. Karena cinta padamulah dia memilih pergi. Menurutnya kamu berhak mendapatkan yang lebih baik darinya. Awalnya aku tak mengerti kenapa dia bisa berpikiran seperti itu. Setelah Om dan Tante menceritakan tentang kesuciannya yang direnggut Kakakku. Aku baru mengerti, dia … berkorban untukmu Mikho, dia pergi karena ingin kamu mendapatkan yang lebih baik. Dia … cintanya … aku tidak tahu bagaimana menggambarkan cinta yang seperti itu. Seperti lilin yang memberikan cahaya agar kamu menemukan apa yang kamu cari sementara dia rela habis dan menghilang. Mikho, aku tak rela cinta yang seperti itu sia-sia. Dengan cinta yang penuh pengorbanan itu, harusnya kalian hidup bahagia. Jangan putus asa mencarinya, aku juga akan menghubungi siapa pun yang aku kenal, kita sama-sama mencarinya, Ok!" jelas Erica.


Mikho mengangguk. Meski air mata masih mengalir di pipinya tetapi dia telah tersenyum penuh semangat. Erica menyakinkannya kalau Celine mencintainya. Itu sudah cukup baginya untuk kembali memperjuangkan cinta istrinya.

__ADS_1


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2