
Tiara menjemput Mikho di sebuah klinik kesehatan kecil. Sehari-hari dr. Mikho bertempat praktek di klinik di desa pesanggrahan itu. Setiap hari itu pula Tiara menjemput tunangannya.
"Kapan pindah dari tempat praktek ini. Apa tidak capek setiap hari bekerja sejauh ini?" tanya Tiara.
"Kalau kamu capek, tak usah menjemputku," ucap Mikho.
"Bukan begitu," ucap Tiara lalu menunduk.
Tiara menyesal sendiri bertanya seperti itu. Mikho memang tak minta dijemput. Hanya saja laki-laki itu tak akan pulang jika tak dijemput. Memilih menginap di kamar kecil di klinik itu hingga jadwal prakteknya di rumah sakit besar akan terbengkalai.
"Aku bisa pulang naik bus atau menginap kalau tak mendapat bus. Tak ada yang susah," ucap Mikho dan Tiara juga tahu Mikho tak bisa menaruh mobilnya di situ karena klinik itu tak berpagar dan tak memiliki garasi.
Aku tahu kenapa kamu bertahan di situ. Semua demi kenanganmu bersamanya 'kan? Memilih tempat ini agar selalu mengenang saat-saat bersama Celine, batin Tiara.
Semua kata-kata itu hanya bisa diucapkannya di dalam hati karena saat mengungkitnya di hadapan Mikho, dia sendiri yang akan merasa sakit hati. Mikho tak pernah mengungkit tentang Celine sejak kepergiannya. Mikho merasa sakit hati tapi jauh di lubuk hatinya Mikho tetap merasakan cinta.
"Apa pasien hari ini banyak?" tanya Tiara mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan, ada yang sesak napas. Ada anak kecil yang terluka karena jatuh. Juga seorang gadis yang hipotermia," ucap Mikho sambil mengemudi.
Tiara tertunduk, entah mengapa mendengar kata-kata hipotermia, hatinya terasa sakit. Gadis itu merasa kalau Mikho sengaja praktek di tempat itu untuk menolong korban hipotermia demi menjaga kenangannya bersama Celine. Tiara selalu merasakan dadanya perih setiap kali mendengar kata-kata hipotermia.
Gadis itu teringat apa yang pernah dilakukan Mikho saat menangani serangan hipotermia yang dialami Celine. Berbeda dengan penanganan darurat di atas gunung. Saat sampai di klinik seorang dokter akan menanganinya dengan cara memberikan oksigen yang telah dilembapkan melalui masker atau selang hidung. Semua itu untuk menghangatkan saluran pernapasan dan meningkatkan suhu tubuhnya.
Memberikan cairan infus yang telah dihangatkan. Bahkan bisa dengan cara menghangatkan darah pasien menggunakan mesin cuci darah bila hipotermia yang dialaminya berderajat berat.
Sampai kapan kamu akan menyimpan Celine di hatimu? Dia sudah meninggalkanmu, kenapa masih mengenangnya, batin Tiara.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Tiara dengan suara pelan.
__ADS_1
"Apa?" tanya Mikho sambil melirik Tiara yang mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
Mikho kembali menatap lurus ke depan. Sangat mengerti apa yang ditanyakan Tiara. Namun, jawabannya akan sama sedangkan Tiara masih bertanya.
"Aku benci dia," ucap Mikho kali ini berbeda. Tiara dengan matanya yang berkaca-kaca menatap ke arah Mikho.
"Kamu bohong! Nggak mungkin kamu benci Celine. Jika kamu membencinya tak mungkin kamu menjaga kenanganmu bersamanya. Aku tahu setiap kali melihat pasien hipotermia, itu akan membangkitkan kenanganmu bersamanya," ucap Tiara dengan suara serak.
"Aku tidak bohong! Aku memang benci Celine. Setelah apa yang aku lakukan padanya, tak ada sedikit pun niatnya untuk bertahan untukku. Dia tak peduli aku memohon padanya agar tetap berada di sisiku. Aku benci dia yang egois, hanya mengikuti pemikirannya sendiri tanpa peduli perasaanku … aku benci dia. Aku sangat benci dia .…"
Tapi juga sangat mencintainya, batin Mikho.
"Tak mencintainya lagi?" tanya Tiara.
"Aku benci dia tapi juga ... cinta padanya–"
Awalnya tak ingin mengungkapkannya pada Tiara tetapi gadis itu menuntut jawaban dari Mikho.
"Aku sudah bilang jangan ungkit Celine–"
"Tapi aku ingin tahu perasaanmu, sebelum menikah, aku ingin kamu berhenti mencintainya. Aku sangat ingin tahu, kapan itu akan terjadi? Kapan kamu bisa melupakannya? Kapan kamu bisa berhenti mencintainya?" tanya Tiara lalu menutup wajahnya dengan keduanya tangannya.
Mikho menghentikan mobilnya di bahu jalan lalu menoleh ke arah Tiara. Laki-laki itu tak tega menyakiti hati sahabat sekaligus tunangannya itu. Setelah sekian lama saling menghibur karena kehilangan Celine. Kedua keluarga mereka menganggap mereka adalah pasangan serasi dan minta hubungan mereka lebih serius lagi.
Mikho yang seperti telah putus asa pada Celine, akhirnya mengangguk di depan orang tua Tiara yang bertandang ke rumah orang tuanya. Tiara sangat bahagia saat melihat keputusan Mikho memenuhi permintaan orang tuanya. Tak sia-sia gadis itu bertahan di sisi Mikho sejak kelas tiga SMA hingga mengikutinya mengambil kuliah di fakultas kedokteran.
Sama-sama berprofesi dokter, semua menganggap mereka pasangan yang sangat serasi. Meskipun hati Mikho tak bisa berpaling dari Celine. Namun, Tiara tetap bertahan hingga akhirnya mereka bertunangan.
Mikho meraih tubuh tunangannya dan memeluknya. Seperti hari-hari yang lalu, jika mereka telah hanyut dalam pembicaraan masa lalu dan menyangkut Celine maka akan berakhir tangis oleh Tiara. Mikho akan merasa bersalah dan memeluk tunangannya itu.
__ADS_1
"Kamu belum jawab pertanyaanku?" tanya Tiara sambil melingkarkan tangannya ke punggung dokter tampan itu.
"Pertanyaan yang mana?" ucap Mikho balik bertanya.
"Perasaanmu padaku, seperti apa? Jika pada Celine kamu merasakan benci sekaligus cinta. Lalu bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Tiara dengan suara pelan.
"Kenapa selalu bandingkan dirimu dengan Celine. Ini hanya akan membuat hidupmu tersiksa sendiri," ucap Mikho.
"Jawablah Mik," ucap Tiara lalu mengangkat wajahnya menatap Mikho.
"Aku … tidak membencimu dan aku sayang padamu," ungkap Mikho akhirnya.
Antara bahagia dan sedih mendengar jawaban Mikho. Antara puas dan tidak puas akhirnya mendengar perasaan laki-laki itu terhadapnya. Mikho tak membencinya seperti Mikho membenci Celine, itu sebuah kemenangan baginya. Namun, saat mendengar Mikho menyayanginya sementara pada Celine tetap menjadi gadis yang dicintainya. Tiara merasa dirinya kalah telak.
Tiara menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki yang dicintainya itu. Berusaha menerima kenyataan dan bertahan. Berharap suatu saat nanti Mikho bisa mencintainya dengan sepenuh hati.
Seperti biasa setiap hari Mikho bertugas di klinik kesehatan itu, ada pasien atau tak ada pasien. Saat sore hari akan pulang dan langsung bekerja di rumah sakit besar di kota. Pagi menjelang siang terjadi hujan lebat hingga membuat Mikho tenggelam dalam lamunannya. Mikho sedang menatap foto galeri di ponselnya ketika dikejutkan oleh pasien yang tiba-tiba datang diantar oleh asistennya.
"Tolong dokter, sepertinya tunangan saya menderita hipotermia," ungkap seseorang lengkap dengan pakaian naik gunungnya, sambil merengkuh tunangannya yang sulit berjalan karena kedinginan.
"Lola tolong bantu pasien ganti pakaiannya yang basah," ucap Mikho langsung memerintahkan asistennya.
Lola pun membantu pasien mengganti pakaiannya dengan pakaian yang kering. Lola sudah cekatan dalam menangani pasien hipotermia karena klinik itu memang terletak di desa pesanggrahan menuju puncak gunung.
"Saya sudah bilang, kalau saya tidak akan sanggup naik ke puncak gunung tapi tunangan saya sangat suka naik gunung. Untung kami bertemu pendaki yang hendak turun, jadi ada yang menemani kami turun," jelas laki-laki itu tanpa diminta.
Mikho hanya tersenyum, setelah Lola selesai mengganti pakaian pasien, Mikho segera memeriksa keadaan pasien. Pasien yang sedang berbaring itu menoleh. Mikho langsung terbelalak saat melihat pasien yang sedang berbaring itu. Sang pasien bahkan langsung terduduk.
Celine, batin Mikho menjerit.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...