
Bu Dessery mengejar putrinya yang lari ke lantai atas. Melihat Celine begitu sedih, Bu Dessery khawatir putrinya akan putus asa. Begitu sampai di kamar Celine, ibu itu terkejut melihat Celine yang meraba-raba di lantai.
"Apa yang kamu cari Nak? Kamu mencari pisau? Ingin mengakhiri hidupmu lagi? Ingin meninggalkan kami lagi?" tanya ibu itu berderai air mata.
Merasa yakin putri sedang mencari cutter yang sempat terpental dari tangannya. Beruntung ibu itu berinisiatif menyingkirkan semua benda tajam di kamar putrinya. Kini terbukti, Celine kembali ingin menggunakan pisau itu untuk mengakhiri hidupnya.
"Apa pun permintaanmu akan Mama turuti, Nak. Begitu sayang kami padamu hingga kami rela berkorban untukmu. Mengikuti semua permintaanmu. Pindah sekolah, tinggal di luar negeri, apa saja kamu kabulkan. Sekarang tetap sama, mintalah apa yang kamu inginkan Nak, tapi jangan tinggalkan kami!" jerit Dessery menangis.
Celine tertunduk di lantai, gadis itu menangis terisak-isak. Ucapan ibunya membuatnya tersadar. Celine hanya memikirkan kesedihannya sendiri tanpa memikirkan kesedihan ayah ibunya. Bu Dessery langsung memeluk putrinya.
Menangis bersama-sama dengan putrinya sambil memeluk tubuh yang berguncang itu. Hati ibu itu terasa perih, anak yang dilahirkannya dengan susah payah, hidup menderita. Rasanya tak rela putri kesayangannya bersedih seperti itu. Apa pun akan dilakukannya demi menghilangkan kesedihan putrinya meski tak tahu apa yang menyebabkan gadis itu menderita.
"Kamu mencintai Mikho atau tidak. Kamu memilih Yodi atau tidak. Kami tak akan memaksamu Nak. Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia. Mama tak peduli jika seisi dunia ini membenci pilihanmu, menyalahkan keputusanmu. Mama tak peduli, asalkan kamu bahagia menjalaninya. Pikirkanlah Papa dan Mama Nak. Bagaimana kami menjalani hidup jika kamu memilih jalan ini. Jangan pikirkan orang lain, pikirkan dirimu saja. Mikho, Yodi, keluarga Yodi, orang-orang akan kehilanganmu hanya seminggu, sebulan, setahun, setelah itu mereka akan menjalani kehidupan seperti tak pernah terjadi apa-apa. Mereka akan melupakanmu, tapi Mama, Papa, kami tak akan pernah bisa melupakan anak kami selama hidup kami. Hidup dalam penyesalan tanpa akhir. Merasa bersalah tak bisa membantu menyelesaikan masalah putri kami sendiri. Kami akan menjadi orang tua yang tak berguna. Tolong, pikirkanlah kami Nak. Jika kami bersalah, tolong maafkanlah kami, tapi jangan hukum kami seperti ini Nak," tutur Dessery sambil menangis.
Mendengar itu, Celine menangis sejadi-jadinya. Gadis itu meminta maaf karena telah membuat ibunya bersedih. Celine akhirnya menyadari, kalau dirinya begitu egois. Hanya memikirkan penderitaannya sendiri. Tak menyadari, memilih pergi dengan cara seperti itu hanya akan meninggalkan penderitaan bagi orang tuanya.
"Sekarang terserah padamu Nak. Apa pun pilihanmu, Mama harap tak akan menjadi penyesalan di belakang hari. Semua keputusan sepenuhnya ada ditanganmu. Jangan ragu dan merasa kalau keputusanmu itu salah. Karena kita tak tahu pernah tahu apa yang terbaik bagi kita. Apa yang tak kamu sukai saat ini mungkin adalah sesuatu yang akan kamu syukuri suatu saat nanti. Kita tak tahu apa yang akan terjadi, Nak. Kita tidak tahu pilihan kita adalah tepat atau tidak, sebelum menjalaninya," jelas Dessery memberi pandangan bagi putrinya.
Celine mengangguk, Bu Dessery mengajak putrinya berbaring di ranjang. Ibu itu tak peduli, Mikho dan Yodi yang masih menunggu di lantai bawah. Wanita setengah baya itu hanya ingin putrinya istirahat dan tidur untuk menenangkan hati dan pikirannya
Sementara itu Yodi, Mikho, Pak Yudhi, menunggu dengan raut wajah tegang. Hanya berharap kalau Celine baik-baik saja. Hanya Yodi yang sesekali menoleh dengan tatapan mata tak senang pada Mikho.
__ADS_1
"Apa lagi yang kamu tunggu. Bukankah sebaiknya kamu pergi?" tanya Yodi pada Mikho.
Laki-laki yang sejak tadi hanya menatap ke lantai atas itu langsung menoleh ke arah Yodi. Mikho menoleh dan menatap Pak Yudhi dengan raut wajah menyesal. Laki-laki itu akhirnya keluar dari rumah dengan langkah yang tertunduk.
Mikho merasa menyesal dengan segala keputusannya di masa lalu. Mulai dari membiarkan Celine sendirian di ruang rawat inap sehingga gadis itu merencanakan menghilang ke luar negeri. Juga menyesali keputusannya untuk menyerah menunggu Celine dan menerima usulan pertunangannya dengan Tiara.
Mikho menangis di dalam mobil. Mengenang gadis yang dirindukan ada di depan mata tetapi tak bisa dimilikinya. Sekian lama tertunduk menangis bertumpu pada kedua lengannya di atas setir mobilnya itu.
Mikho akhirnya melajukan mobilnya dengan mata yang masih tergenang. Menatap jalan raya dengan tatapan yang kosong. Membayangkan gadis yang dicintainya bersanding dengan pria lain membuatnya sangat frustasi.
Sehari-hari dokter tampan itu hanya termenung. Tak ada lagi canda tawa dengan pasien. Dr. Mikho yang terkenal ramah dan tampan telah lenyap. Tinggallah seorang dokter yang pemurung dan jarang senyum.
Tiara menyadari hal itu, sejak kejadian di restoran hubungannya dengan Mikho tak bisa membaik. Mikho enggan bicara dengan Tiara dan gadis itu pun tak berani membuka pembicaraan dengan laki-laki itu. Mereka bahkan tak pernah lagi bertemu.
Tiara pasrah, sejak awal tahu Mikho tak pernah mencintainya. Hanya dirinya yang selalu ingin mencoba. Berharap Mikho bisa berpaling dari gadis yang telah mencuri hatinya. Seperti apa pun usaha Tiara mendapatkan hati laki-laki itu, Tiara merasa tak memiliki harapan untuk bisa hidup bersama dengan Mikho. Tiara telah sadar, gadis itu pun menyerah.
Sejak dulu, Mikho hanya mencintai Celine. Bahkan sejak mereka masih kecil, batin Tiara.
Lalu tersenyum pahit. Teringat saat Mikho bercerita tentang gadis kecil yang pernah menjadi teman sekelasnya, saat duduk di bangku kelas enam SD. Mikho telah menyukai Evita, dan baru menyadarinya setelah mereka berpisah. Mikho tanpa sadar telah mencintai Celine sejak gadis itu masih kecil dan dipanggil dengan nama Evita.
Apa yang harus aku lakukan? Cerita pada Mikho kalau Evita adalah Celine? Atau bilang pada Celine kalau Mikho tak membencinya saat kecil bahkan menyukainya? Ini menyakitkan. Aku menghapus kesalahpahaman mereka untuk ditinggalkan? Agar Mikho dan Celine bersatu kemudian mereka mencampakkan aku? Batin Tiara menangis.
__ADS_1
Gadis itu menangis tetapi juga tertawa. Tiara merasa dirinya hanya manusia biasa. Punya rasa cemburu yang berkembang menjadi rasa iri. Merasa tak mampu menjadi pahlawan yang rela mengorbankan hatinya demi melihat laki-laki yang dicintainya menemukan cinta sejatinya.
Tiara hanya bisa diam menatap Mikho yang termenung sepanjang hari. Selagi tak ada pasien yang memanggilnya laki-laki itu sama sekali tak mau beranjak dari bangkunya di rooftop itu. Bahkan klinik kesehatannya pun tak pernah didatanginya lagi.
"Ini undangan pertunangan mereka," ucap Tiara pelan.
Dokter cantik itu meletakkan kartu undangan pertunangan Celine dan Yodi di samping Mikho. Laki-laki itu bergeming, hanya terus menatap lurus ke depan. Perasaannya yang hampa tak cukup kuat untuk berbasa-basi atau bermanis-manis pada Tiara.
"Maafkan aku Mikho. Apa mereka memutuskan bertunangan sejak kejadian di restoran itu?" tanya Tiara. Mikho masih bergeming.
"Aku tak tahu kenapa mereka mengantar kartu undangan ini ke rumahku. Padahal mereka tahu aku telah menyakiti hati putri mereka," sambung Tiara sambil menatap Mikho yang duduk di sampingnya. Mikho tetap bergeming.
"Mungkin untuk memberitahu aku kalau Celine tak akan mengganggu hubungan pertunangan kita lagi. Mereka membujukku untuk memaafkan putri mereka yang telah mengganggu hubungan kita," ucap Tiara pelan lalu tertawa.
Gadis itu tertawa dengan air mata yang menitik di sudut matanya. Begitu keras suara tawa itu seolah-olah berharap bisa melegakan hatinya. Mikho akhirnya menoleh ke arah gadis itu.
"Mereka mengundangku untuk meminta maaf karena putri mereka telah mengganggu hubungan kita. Hubungan apa? Pertunangan apa? Hanya aku yang ingin bertunangan di sini sementara kamu … kamu tetap menyimpan Celine di hatimu. Begitu bertemu dengannya kamu ingin segera melepasku," Tiara kembali tertawa sambil menangis.
"Harusnya tak usah minta maaf dan berbasa-basi dengan mengirim undangan. Karena pertunangan kita itu tak pernah ada. Hanya simbol untuk membiarkan kita berteman dekat. Di hatimu aku tak pernah menjadi tunanganmu. Kenapa aku harus protes? Kenapa tak terima dan menghina Celine? Kamu tetap mencintainya itu bukan kesalahannya. Kenapa aku harus marah padanya?" tanya Tiara terisak-isak bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Mikho merangkul bahu Tiara dan merebahkan di dadanya. Mikho merasa Tiara telah menyesal dengan ucapannya. Namun, semua sudah terlambat. Meski menyesal dan membatalkan pertunangan mereka pun, sudah tak ada artinya.
__ADS_1
Kartu undangan pertunangan Yodi dan Celine bahkan telah sampai ke tangan mereka. Mikho tak bisa berbuat apa-apa. Semua seperti menyalahkan dirinya yang membawa Tiara ke acara jamuan makan malam itu. Kini hanya tertinggal kesedihan di hati mereka. Menyesal atas cinta mereka yang berliku dan selalu terhalang.
...~ Bersambung ~...