
Mikho meminta izin untuk membuktikan cintanya. Celine bersedia menerima. Mikho melakukannya dengan penuh kelembutan, penuh perasaan dan aksi bercinta itu pun selesai. Mikho bertanya apakah Celine ingin tahu hasil pemeriksaannya secara langsung.
"Hasilnya … kamu sudah tidak perawan lagi," ucap Mikho.
Mendengar itu Celine terguncang, gadis itu langsung bergerak turun dari ranjangnya. Matanya terasa panas dan ingin segera menangis. Laki-laki itu segera menahan dengan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Mau ke mana sayang?" tanya Mikho sambil menahan senyum.
Celine diam, malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Celine tak bisa menahan kesedihannya mendengar ucapan Mikho. Rasa tak percaya dirinya langsung muncul. Gadis itu bersedih sementara Mikho tersenyum.
"Sayang, kamu ini kenapa? Sedih udah nggak perawan lagi?" tanya Mikho sambil tersenyum.
Celine menoleh ke arah suaminya yang menempelkan dagu di bahu Celine. Gadis itu merasa heran dengan sikap Mikho yang terlihat biasa saja mengetahui dirinya sudah tidak perawan lagi. Mikho seperti sama sekali tak permasalahkan kondisinya yang sudah tidak perawan lagi.
"Apa maksud Kakak? Tentu saja aku sedih karena aku tak bisa berikan kehormatanku untuk seorang yang aku cintai," ucap Celine tak lagi bisa menahan tangisnya.
"Siapa yang kamu cintai?" tanya Mikho dengan wajah serius.
"Ya … Kak Mikho," ucap Celine malu-malu tetapi masih meneteskan air mata.
"Bukannya tadi udah kamu berikan? Lalu kenapa masih nangis?" tanya Mikho sambil tersenyum.
Celine terlihat bingung. Laki-laki itu langsung membalik tubuh Celine dan menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya. Mengecup puncak rambut gadis itu dengan penuh perasaan.
"Kamu sudah serahkan bukti cintamu untukku. Jangan bersedih lagi! Aku sangat berterima kasih padamu, istriku sayang," ucap Mikho tersenyum lalu kembali mengecup kening istrinya yang sedang menatapnya.
"Benarkah? Apa buktinya. Kak Mikho nggak bohong?" tanya Celine masih tak percaya.
__ADS_1
"Itu!" tunjuk Mikho sambil mendorong tubuh istrinya ke tengah ranjang.
Menunjukkan noda di sprei putih itu. Celine tercengang hingga ternganga. Mikho tertawa melihat ekspresi lucu istri yang dicintainya itu.
"Mau aku simpan," ucap Celine tanpa mengalihkan pandangannya dari warna merah di kain putih itu.
"Untuk apa?" tanya Mikho.
"Sebagai bukti. Aku laminating biar awet," ucap Celine sangat serius tapi membuat Mikho tertawa.
"Apa? Kamu ini ada-ada aja. Bukti untuk siapa? Udah jelas-jelas aku sendiri yang membobolnya. Masa mau kasih aku bukti lagi?" tanya Mikho sambil tersenyum.
"Ya! Mana tahu nanti pura-pura lupa kalau yang bobol aku itu Kak Mikho. Nanti harus ada tanda Kakak juga," ucap Celine sambil tersenyum. Tawa Mikho keras.
"Oh ya ampun, banyak sekali prosedur pembuktiannya," ucap Mikho.
"Salah sendiri kenapa dulu meragukan aku," ucap Celine dengan wajah serius. Mikho berhenti tertawa lalu menatap wajah cantik itu.
"Hm, karena itu Kak Mikho harus dihukum. wajahnya di foto sambil pegang laminating bukti keperawananku lengkap dengan tanda tangan, nomor KTP--"
"Ya, ampun, ribet sekali hukumannya," ucap Mikho sambil menggelitik istrinya.
Celine tertawa geli. Mikho langsung menghempaskan tubuh istrinya ke ranjang. Lagi-lagi Mikho memeluk dan mengecup bibir istrinya. Lalu menatap wajah yang dirindukannya itu. Mengusap wajah yang halus itu. Menepis lembut helaian rambut yang menutupi sebagian mata Celine. Tawanya tadi langsung menghilang berganti dengan senyum dan tatapan mata kagum pada istrinya.
"Kamu cantik sekali sayang." Lalu kembali mengecup bibir istrinya. "Aku ... bersyukur hari ini memutuskan untuk datang. Padahal saat melihatmu bersama laki-laki itu aku jadi putus asa. Ini untuk kedua kalinya aku melihat kamu bersamanya. Apa yang kalian lakukan berdua saja di rumah yang sepi ini?" tanya Mikho tiba-tiba teringat pada hal yang menghalanginya untuk menemui Celine.
"Berdua? Kami selalu bersama anak-anak?" tanya Celine heran.
__ADS_1
"Tapi hari itu aku melihat kalian cuma berdua," ucap Mikho sedikit dengan nada cemburu.
"Oh, hari di saat Kak Mikho jatuh pingsan?" tanya Celine. Mikho berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Sebenarnya anak-anak saat itu harus belajar tapi karena salah satu dari mereka terjatuh karena berlari. Kakinya terluka, aku membawanya ke klinik. Anak-anak yang lain akhirnya di suruh pulang. Tinggal kami ngobrol berdua tapi kami tidak melakukan apa-apa," ucap Celine.
"Tidak melakukan apa pun? Aku melihat sendiri kalau dia memelukmu. Siapa dia, apa dia menyukaimu? Melihat tatapan matanya saja aku sudah tahu kalau dia menyukaimu," tanya Mikho bertubi-tubi dan cemburu.
"Dia itu Devan, teman waktu kecil saat family gathering yang diceritakan Erica waktu itu. Aku baru tahu kalau ayahnya difitnah hingga akhirnya terpaksa resign dari perusahaan Papa. Semua itu karena ayahnya Kak Yodi. Aku jadi merasa prihatin dan sedih dengan nasib keluarganya. Mereka terpaksa kembali ke kampung karena tak bisa mendapatkan pekerjaan lagi di kota. Aku berniat ceritakan semuanya pada Papa jika aku pulang nanti," jelas Celine dengan mata yang berkaca-kaca. Celine terlihat sangat sedih.
"Baiklah aku terima penjelasanmu tapi kamu belum jawab pertanyaanku. Apa dia menyukaimu?" tanya Mikho. Celine mengangguk pelan.
"Tapi aku bilang padanya kalau aku telah menikah meski Kak Mikho bilang pernikahan kita sudah berakhir. Aku …."
Tiba-tiba Mikho membenamkan bibirnya ke bibir manis istrinya. Mikho sangat terharu mendengar penjelasan wanita yang dicintainya itu. Mikho sangat bersyukur Celine tak memanfaatkan ucapannya yang membubarkan pernikahan untuk bisa berbahagia dengan laki-laki lain.
Mikho memeluk erat tubuh Celine seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi. Matanya bahkan terpejam merasakan hangatnya tubuh istri yang dicintainya itu. Lalu kembali laki-laki itu menghirup pangkal leher wanita cantik itu.
"Kak, bagaimana dengan mereka. Ayo kita temui. Mereka sudah lama kita abaikan di luar begitu saja," ucap Celine segera bangkit dari ranjang dan mengajak suaminya membersihkan diri.
Mikho tersenyum lalu mengikuti. Setelah membersihkan diri mereka pun segera keluar untuk menemui teman-teman yang telah mereka abaikan sejak tadi. Mikho mengatakan ingin menginap di rumah Celine tetapi akan tetap mengantar Erica pulang.
"Tidak perlu diantar pulang. Aku bisa pulang sendiri," ucap Erica yang hanya ingin meminjam mobil Mikho untuk pulang.
"Tapi ini jauh Erica. Kasihan kamu masih gadis jalan sendiri sejauh itu," ucap Celine.
"Nggak apa-apa Celine, aku udah biasa. Lagian kasihan Mikho, dia pasti masih kangen sama kamu. Diajak pulang pasti nggak mau. Dia pasti masih ingin berduaan sama kamu. Kasihan kalau disuruh bolak balik sejauh itu. Nanti dia kelelahan saat malam pertama, kalian anggap aja sekarang sedang bulan madu atau jangan-jangan sudah," ucap Erica sambil menahan senyum.
__ADS_1
Celine dan Mikho saling bertatapan lalu tersenyum malu. Erica tertawa, bahagia melihat kedua sahabatnya itu telah bersatu. Hanya Devan yang tersenyum kecut melihat kenyataan itu.
...~~ Bersambung ~...