Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 52 ~ Pulang ~


__ADS_3

Keesokan harinya mereka kembali pulang ke rumah. Begitu khawatir orang tua Celine hingga menunggunya di teras depan rumah. Saat meminta izin tak bisa pulang karena cuaca buruk, Bu Dessery langsung risau. Cemas karena keadaan desa itu yang mungkin sangat membahayakan mereka. Juga cemas karena membiarkan mereka hanya berdua saja.


"Nggak terjadi apa-apa kan?" tanya Dessery. Saat anak gadisnya keluar dari kamar mandi.


"Maksud Mama?" tanya Celine.


"Kamu tahu, maksud Mama," jawab Dessery.


"Ya nggak tahu Ma, kalau dibilang nggak terjadi apa-apa, kan Celine sudah bilang kalau memang terjadi cuaca buruk," ucap Celine menggoda mamanya.


Bu Dessery mencubit pinggang putrinya. Celine mengelak sambil tertawa. Bu Dessery menatap putrinya yang kembali ceria.


"Apa yang dilakukan Mikho padamu hingga membuatmu kembali ceria seperti ini," ucap Dessery.


"Yang dilakukan Kak Mikho hanyalah membuktikan kalau dia menghormatiku," jawab Celine.


"Apa?" tanya Dessery bingung.


Tak mengerti dengan ucapan Celine karena memang tak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Bu Dessery cemas sekaligus merasa heran dengan panggilan Celine pada Mikho. Ibu itu tertawa mendengar perubahan panggilan Celine pada Mikho.


"Kak Mikho?" tanya Dessery sambil tersenyum menggoda.


"Ya, dia minta dipanggil Kakak karena cemburu sama Bang Teon. Dia protes kenapa memanggil Bang Teon seperti itu padahal kami semua seangkatan," jelas Celine.


"Oh ya, anak muda yang tubuhnya kekar itu? Yang menjengukmu saat kamu kritis di rumah sakit? Dia menceritakan kalau kamu panggil dia Abang karena umurnya yang lebih tua darimu," jelas Dessery sambil tertawa.


"Benarkah Ma? Dia juga datang jenguk Celine?" tanya gadis itu sambil duduk di samping ibunya.


"Iya, dia, Tiara, Mikho, mereka sabar menunggumu saat dinyatakan kritis. Kami sempat kehilangan kamu beberapa saat. Bahkan dokter sudah menyatakan kamu meninggal. Kami semua menangis, termasuk Mikho, Tiara dan Teon," jelas Dessery. Celine tercenung, membayangkan situasi saat itu.


"Kami semua letih Nak. Bukan letih tubuh kami. Tapi letih perasaan kami, tak sanggup rasanya mengalami hal seperti itu lagi. Kamu tak peduli apa yang kami rasakan saat takut kehilanganmu. Kalau kamu ingin tahu rasanya, Mama cobakan padamu. Mama bunuh diri agar kamu tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti kami ini adalah orang-orang tak berguna, yang tak bisa menolongmu," jelas Dessery lagi.


"Mama," ujar Celine lalu memeluk ibunya.


Gadis itu menangis sambil memeluk ibunya. Merasa sangat menyesal dan merasa sangat egois. Celine berjanji akan selalu tegar dalam setiap masalah yang dihadapinya demi mereka yang mencintainya.

__ADS_1


Celine menjalani hari-hari dengan semua rencananya. Berhenti dari perusahaan tempat dia bekerja. Bekerja di perusahaan ayahnya sambil melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan itu nantinya.


Setelah mengikuti perkuliahan, gadis itu melangkah ke parkiran. Tanpa curiga apa pun, gadis itu membuka pintu mobil. Ingin segera berangkat ke kantor ayahnya.


"Jangan melawan. Ikut aku!"


Deg, jantung Celine terasa berhenti berdetak. Merasakan sesuatu menempel di pinggangnya. Menoleh ke arah sesuatu itu. Sebuah benda tajam mengkilap, sedang mengarah ke pinggangnya. Celine tercenung. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya di dorong ke arah lain. Celine terpaksa mengikuti.


Gadis itu bahkan tak sempat melihat wajah yang menodongkan senjata tajam itu padanya tetapi dari perawakan yang terlihat sekilas. Seseorang yang masih berusia sangat muda. Laki-laki itu membawanya ke sebuah mobil sedan.


Celine dipaksa masuk ke mobil itu. Di sana telah menunggu sopir yang mengenakan masker, sama seperti laki-laki yang menodongkan senjata tajam itu padanya. Celine mencoba mengamati keduanya tetapi laki-laki tadi mengacungkan senjatanya.


"Aku mau dibawa kemana?" tanya Celine.


"Dibawa ke suatu tempat, diperkosa lalu dibunuh," ucap laki-laki yang menodongkan senjata itu. Laki-laki yang mengemudikan mobil itu langsung tertawa.


"Kak Yodi?" tanya Celine mengenali suara pengemudi itu meski mereka mengenakan hoodie dan masker.


Tawa laki-laki yang menjadi sopir itu langsung terhenti. Merasa menyesal karena suaranya membuat dia akhirnya dikenali. Yodi akhirnya melepas tudung kepala dan maskernya.


"Ini semua gara-gara kamu!" bentak Yodi.


"Oh ya? Jadi kecurangan yang dilakukan terhadap perusahaan ayahku itu terjadi karena aku?" tanya Celine.


"Bodoh! Bukan kecurangannya tapi gara-gara pertunangan itu batal makanya semua menjadi gagal–"


"Siapa yang bodoh?" teriak Celine. "Kalau tak melakukan kecurangan, dengan posisi dan penghasilan seperti itu sudah cukup membuat sebuah keluarga hidup sejahtera," ucap Celine tak mau kalah.


"Kamu pikir gaji yang diberikan ayahmu itu cukup untuk kami?" tanya Yodi lebih keras lagi.


"Kalau tidak mengeluarkan uang yang banyak untuk mendapatkan ijazah palsu, sewa kapal pesiar, sebuah penthouse dan mengaku semua itu milik sendiri? Ya! Tentu saja penghasilan itu cukup untuk sebuah keluarga bahkan bisa menjadikan keluarga itu sejahtera–"


"Tutup mulutmu!" bentak Yodi.


"Jangan bicara lagi! Kalau Kak Yodi marah dan suruh aku tikam kamu, aku tak tanggung jawab," ucap laki-laki di samping Celine yang masih mengenakan masker dan tudung kepalanya.

__ADS_1


"Kamu itu harusnya sekolah yang rajin. Jangan ikut Kakakmu yang gagal ini," ucap Celine.


Akhirnya anak itu melepaskan tudung kepala dan maskernya karena merasa telah dikenali Celine. Selama mengenal Yodi di Amerika, laki-laki itu telah mengenalkan diri sebagai seorang pengusaha yang sukses. Lulusan universitas bergengsi di Amerika, memiliki penthouse dan kapal pesiar.


Yodi juga mengenalkan keluarganya, mereka terdiri tiga orang bersaudara. Celine yakin laki-laki di sampingnya itu adalah saudara Yodi yang paling bungsu karena saudara setelahnya adalah seorang perempuan. Celine yakin itu karena pernah diperlihatkan foto keluarganya saat mereka masih kecil dengan latar belakang sebuah kolam renang.


Mereka masih kecil saat itu, Yosi masih sangat kecil karena perbedaan kelahiran yang cukup jauh dengan kakak perempuannya yang hampir remaja tetapi sangat gemuk untuk ukuran gadis yang baru menginjak remaja.


Meski baru dua kali bertemu dengan Yosi, gadis itu sudah cukup hafal karakter anak itu. Yosi adalah remaja yang ingin dikira dewasa dengan sikapnya yang sengaja sok beringas dan sok preman. Tapi gadis itu tahu, Yosi anak yang tertekan dengan segala aturan dan kecerewetan ibunya.


"Apa kamu mau ikut masuk penjara? Kakakmu dan Daddy-mu berbuat curang itu memang pantas dipenjara. Menipu, korupsi, melakukan tindakan kekerasan, mereka memang pantas di penjara. Kalau kamu?  Apa tuduhan terhadapmu? Menjadi kacung? Dipidana atas tuduhan menjadi kacung, nggak keren banget–"


"Diam!" bentak Yodi menghentikan Celine mempengaruhi adiknya.


"Kalau mereka masuk penjara, nggak apa-apa. Mereka sudah tua! Sudah merasakan kesenangan hidup walaupun semua itu palsu, milik orang. Tapi kamu? Kesenangan apa? Merasakan pacaran saja belum, sudah harus masuk penjara. Berkumpul dengan para penjahat berwajah sangar. Kalau mereka suka sama kamu bisa jadi pacarnya kalau nggak jadi kacungnya–"


"Diam!" bentak Yodi sekali lagi dengan suara yang lebih keras.


Sementara Yodi bertambah kesal mendengar celotehan Celine, Yosi justru termenung. Yodi menghentikan laju mobilnya. Turun dari mobil itu dan membuka pintu mobil di samping Celine. Laki-laki itu menarik tangan Celine lalu memukulinya. Yosi meringis melihat perlakuan Yodi terhadap Celine.


Gadis itu ditampar hingga jatuh tertelungkup di atas kap mobil. Yodi melepas ikat pinggangnya. Yosi langsung keluar dari mobil lalu menghampiri mereka.


"Bang, mau apa?" tanya Yosi dengan ekspresi cemas.


"Diam kamu! Sana masuk!" bentak Yodi.


Yosi terlihat bingung, melihat sekelilingnya. Yodi membawa mereka ke daerah yang sepi. Entah ke mana tujuannya Yosi tak tahu. Celine yang merasa pusing setelah mendapat tamparan keras mencoba untuk bangun. Tapi kembali Yodi mendorong punggung gadis itu dengan kasar hingga terbanting kembali di atas kap mobil. Yodi melepas celana jeans-nya, membuat Yosi terperangah.


"Bang jangan!" jerit Yosi yang sudah mengira apa yang akan dilakukan kakaknya.


"Masuk! Aku bilang kamu masuk!" bentak Yodi.


Laki-laki itu memerintahkan adiknya kembali masuk ke mobil. Sementara dirinya melancarkan niatnya. Namun, Yosi bukannya masuk ke mobil tapi memilih lari dari tempat itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2