
Celine, Mikho, Tiara, Teon dan Erica, mengambil foto bersama dan mengirimkannya pada Yosi, adik Erica yang menimba ilmu di luar negeri. Yosi dan Erica menangis saat di pertemukan dalam sambungan video call. Erica bahkan menangis sesenggukan saat pertama kali wajah adiknya muncul. Tak pernah terbayangkan Erica akan begitu merindukan adiknya itu.
Gadis itu yang sebelumnya tak peduli pada adiknya, kini saat terpisah mereka justru jadi saling khawatir. Erica meminta adiknya agar rajin belajar hingga bisa menjadi harapan bagi keluarga mereka kelak. Sementara Yosi mengkhawatirkan luka Erica.
"Jangan khawatir, Kakak baik-baik saja. Yang penting kamu belajar yang rajin ya! Kakak akan sering mengunjungi Mommy, Daddy dan Kak Yodi. Kakak akan sampaikan berita ini pada mereka, kalau kamu diberi kesempatan oleh perusahaan untuk belajar di luar negeri …."
Erica menangis menyebutkan kenyataan itu. Perusahaan dan pemiliknya yang telah dikhianati oleh ayahnya kini justru membantu pendidikan adiknya. Keempat sahabat itu hanya bisa memandang Erica yang kadang tertawa dan kadang menangis, berbincang dengan adiknya.
Erica berterima kasih pada Celine yang telah meminjamkan ponselnya agar bisa berkomunikasi dengan adiknya. Gadis itu tak lagi memiliki ponselnya karena terpaksa dijual untuk biaya makannya sehari-hari.
Sejak aset-aset milik ayahnya disita, Erica hidup menumpang pada teman-temannya secara bergantian. Gadis itu mencoba mencari pekerjaan tetapi tak sanggup dan terasa berat baginya hingga dalam beberapa hari gadis itu langsung dipecat.
"Jangan khawatir mengenai biaya rumah sakit, biar kami yang akan mengurusnya," ucap Celine saat Erica mengkhawatirkan biaya rumah sakit itu.
"Terima kasih Celine," ucap Erica lalu melangkah turun dari ranjang rumah sakit hendak memeluk Celine.
Gadis itu segera mendekati Erica dan menyambut pelukannya. Perasan mereka bercampur aduk antara sedih dan bahagia. Permusuhan di antara mereka telah musnah, yang tertinggal hanya rasa saling peduli.
"Apa kalian semua akan segera menikah?" tanya Erica menatap mereka yang telah menemukan pasangan masing-masing.
Pertanyaan itu juga menunjukkan keikhlasannya atas batalnya pertunangan Celine dan kakaknya. Tiara dan Teon tersenyum malu-malu mendapat pertanyaan itu. Sementara Celine hanya diam tertunduk.
"Kami memang berencana melanjutkan ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat ini," jawab Tiara dengan semburat merah di pipinya.
"Tanpa pertunangan lebih dulu?" tanya Erica lagi.
"Nggaklah, kami mau langsung menikah saja. Tanpa ada acara pertunangan," ucap Teon dan langsung tertawa.
Mereka berbincang tentang rencana pernikahan Tiara dan Teon sejenak. Lalu pamit pulang dan kembali pada aktivitas masing-masing. Mikho menatap Celine yang melangkah dengan tatapan mata hampa.
"Sepertinya aku harus mengantarmu balik ke kantor," ucap Mikho menawarkan diri.
"Apa?" tanya Celine seperti baru tersadar.
"Betul kan dugaanku. Kamu sedang termenung. Aku perhatikan, kamu jadi sering termenung sejak membicarakan pernikahan Teon dan Tiara tadi. Ada apa? Aku jadi khawatir kalau kamu menyetir dengan pikiran kosong begini," ucap Mikho.
"Mereka akan menikah akhir tahun ini," ucap Celine.
"Ya! Itulah yang kita dengar," jawab Mikho.
"Berarti kurang dari lima bulan lagi," ucap Celine.
"Ya, kalau tak ada halangan," jawab Mikho.
"Kakak tak ingin menikahiku?" tanya Celine.
"Apa? Celine! Itu adalah hal yang paling ingin aku lakukan," ucap Mikho lalu menghentikan langkahnya, menatap Celine dengan serius.
"Ayo kita menikah," ajak Celine dengan wajah yang risau.
"Celine, ada apa ini? Aku ingin menikah denganmu. Sangat ingin menikah denganmu tapi … jangan menikah karena mereka, tapi karena keinginanmu sendiri. Nggak! Aku nggak mau, kamu jelas-jelas belum siap," ucap Mikho mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
Celine melanjutkan langkahnya menuju mobilnya dengan tergesa-gesa. Mikho kaget dan langsung mengejar. Laki-laki itu langsung menghadang langkah Celine.
"Celine, ada apa? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Mikho.
"Maaf Kak! Sepertinya aku mengalami kegilaan sesaat. Aku tak bisa berpikir dengan jernih. Maafkan aku," ucap Celine menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Mikho meraih tubuh Celine dan memeluknya. Mikho merasa Celine sangat kebingungan dengan hubungan mereka. Mikho tak ingin Celine merasa terpaksa menikah dengannya di saat dia belum siap untuk melakukan itu.
"Aku akan menunggumu dengan sabar. Jangan memikirkan apa pun selain kesiapan dirimu sendiri. Aku akan sabar menunggumu. Mengerti?" tanya Mikho.
Celine mengangguk, mereka melanjutkan langkahnya. Celine pun melajukan mobilnya. Gadis itu menatap Mikho yang melambaikan tangannya dari kaca spion. Perlahan air mata gadis itu menetes. Terlihat tekad Mikho yang ingin sabar menunggunya. Namun, ada kesedihan tersirat di matanya. Celine tahu, laki-laki itu ragu padanya.
"Kapan waktu tercepat aku bisa menikah Ma?" tanya Celine saat makan malam bersama.
"Apa? Kamu sudah ingin menikah? Apa Mikho memintamu menanyakan ini?" tanya Dessery.
"Nggak Ma, ini keinginan Celine sendiri. Kak Mikho tak memaksakan tapi menurut Celine dia sangat ingin segera menikah," jawab Celine.
"Oh baiklah, Mama akan bicarakan ini dengan Papa. Kita lihat kapan waktu tercepat dan terbaik untuk hari pernikahan kalian. Mama akan coba hubungi orang tua Mikho untuk membicarakannya," jawab Dessery.
Celine mengangguk. Memutuskan untuk segera menikah akhirnya menjadi pilihan bagi Celine. Tak sanggup merasakan ketakutan lebih lama karena rasa tak percaya dirinya menghadapi pernikahan itu.
Semakin lama aku semakin tersiksa. Aku pasrah, jika akhirnya Kak Mikho menceraikan aku. Setidaknya aku akan tahu apa akhirnya nanti. Kami tetap bersama atau berpisah. Oh Tuhan aku tahan lagi, aku semakin takut menjalani ini, jerit hati Celine.
Bu Dessery segera berkonsultasi dengan para sahabat yang bisa mengusulkan wedding organizer terbaik untuk pesta pernikahan putrinya. Dalam hati, ibu itu sangat bersemangat mendengar permintaan putrinya ini. Suatu hal yang di tunggu-tunggunya sejak pesta pertunangan putrinya.
Setiap hari, sejak menyampaikan keinginannya pada ibunya, Celine semakin sering termenung. Seperti saat ini, gadis itu tak sadar Mikho telah berdiri di sampingnya. Gadis itu termenung di ruang kerjanya. Hingga tak sadar telah masuk jam istirahat.
Mikho mengecup puncak rambut gadis itu. Celine langsung terkejut. Tak menyangka, seperti mimpi, seseorang yang dipikirkannya tiba-tiba datang ke hadapannya.
"Kakak! Aku sedang memikirkan Kakak," jawab Celine sambil tersenyum.
Gadis itu langsung memeluk laki-laki yang dicintainya itu. Mikho heran, tetapi akhirnya membalas pelukan Celine. Laki-laki itu memejamkan mata menikmati pelukan yang sangat dirindukannya setiap saat itu.
"Aku sudah bicara sama Mama, kalau aku ingin segera menikahi Kakak–"
"Apa? Celine, kamu serius?" tanya Mikho yang merasa aneh dengan sikap gadis itu.
"Jika nggak serius, aku nggak mungkin minta Mama mencari tanggal untuk hari pernikahan kita," jawab Celine lalu kembali memeluk laki-laki itu.
Aku letih Kak. Letih dengan ketakutanku, aku harus hadapi ini. Aku ingin bersamamu, aku sangat ingin bersamamu. Begitu takut aku kehilanganmu, maka aku harus hadapi ini. Aku ingin mendapat kepastian, apa kita berjodoh atau berpisah, jerit hati Celine.
"Kakak mau 'kan, menikah denganku?" tanya Celine.
"Tentu saja sayang, aku sangat ingin menikah denganmu," jawab Mikho dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Laki-laki itu langsung membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu. Celine menunjukkan keseriusannya untuk segera menikah dengan menyampaikan niatnya itu kepada ibunya. Celine tak mungkin bermain-main dengan ibu yang telah melahirkannya itu karena Celine sangat menyayangi orang tuanya.
Rasa bahagia Mikho disalurkannya melalui ciumannya yang begitu menggebu. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu telah dengan berani menyampaikan keinginannya mengambil langkah yang membutuhkan kesiapan mental itu.
Sebuah keputusan yang akan dipertanggungjawabkan seumur hidupnya. Keputusan yang akan mempengaruhi jalan hidup mereka nanti. Mikho sangat bahagia mendengar keputusan gadis itu.
__ADS_1
Saat pulang ke rumah, Mikho langsung dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan oleh ibunya. Bu Dessery telah menghubunginya untuk membicarakan secara serius kelanjutan hubungan putra putri mereka.
"Kalian serius memutuskan untuk segera menikah?" tanya Anisa.
"Ya Ma, Celine yang menginginkannya. Aku sama sekali tidak memaksanya. Membicarakannya saja aku tak berani. Aku takut membuatnya panik. Entah kenapa aku merasa kasihan padanya. Kadang dia seperti orang yang tertekan. Saat aku bertanya dia akan selalu bilang baik-baik saja, tak ada masalah tapi … sejak penculikan itu dia seperti lebih murung. Sering melamun, dan tidak konsentrasi. Aku jadi khawatir padanya Ma," tutur Mikho saat makan malam bersama keluarganya.
"Mama sudah dihubungi oleh Mamanya Celine, dalam waktu dekat mereka ingin bertemu. Kita akan datang ke rumahnya secara resmi untuk membicarakan segala sesuatunya dengan lebih serius. Benar kan Pa?" tanya Anisa pada suaminya.
Pak Gunawan mengangguk. Begitu mendapat kabar dari Bu Dessery, Bu Anisa langsung berunding dengan suaminya. Setelah pertunangan dadakan itu berhasil diselenggarakan, kedua orang tua Mikho itu sangat bersemangat untuk persiapan pernikahan. Mereka sangat ingin ikut terlibat langsung dalam acara sekali seumur hidup bagi putranya itu.
Melihat orang tuanya yang juga bersemangat mempersiapkan pernikahannya, Mikho merasa lega. Laki-laki itu siap kapan pun, jika disuruh datang untuk membicarakan dengan secara serius perihal pernikahannya.
Hari itu, Erica dizinkan keluar dari rumah sakit. Gadis itu hanya diminta untuk rawat jalan. Celine datang untuk melunasi biaya administrasi rumah sakit dan mengajak Erica pulang bersamanya. Mikho menarik tangan gadis itu ke ruang istirahat para dokter itu. Langsung memeluk dan mencium bibir wanita cantik itu.
Begitu bahagianya Mikho hingga tak bisa menahan dirinya untuk mengekspresikannya lewat ciuman yang menggebu. Celine hanyut terbawa perasaan yang menggelora itu. Begitu takut kehilangan Mikho hingga tak ingin sedikit pun melewatkan kesempatan untuk bermesraan dengan laki-laki itu seolah-olah tak akan pernah didapatkannya lagi.
Berbeda dengan Mikho. Laki-laki itu memang menginginkannya setiap hari, sepanjang hari. Membayangkan Celine selalu berada di sisinya dan menciumnya sepanjang hari selalu menjadi khayalannya.
"Aku harus antar Erica pulang dulu kak, agar dia bisa beristirahat di rumah," ucap Celine saat Mikho melepaskan ciumannya.
Laki-laki itu telah siap untuk ciumannya yang kedua. Namun, Celine mengingatkan laki-laki itu bahwa dia harus segera pulang. Mikho terlihat kecewa, Celine langsung membujuk laki-laki itu untuk datang ke rumahnya nanti malam.
"Sungguh? Aku boleh ke rumah?" tanya Mikho begitu bahagia mendapat imbalan atas kesabarannya memenuhi keinginan Celine.
Laki-laki itu lebih banyak pasrah dengan kehendak Celine setelah masalah yang mendera hubungan mereka beberapa hari belakangan ini. Hubungan Erica dan keluarga Yodi menjadi puncak kekhawatiran Mikho saat mendengar Celine meminta laki-laki itu meninggalkannya jika tak menginginkannya lagi. Mikho pasrah dengan apa pun keinginan gadis itu.
Erica bersiap untuk pulang. Celine pun telah menyelesaikan biaya administrasinya. Erica pamit pada Mikho.
"Aku akan main ke rumah Celine. Kita bisa bincang-bincang di sana," ucap Mikho.
"Baiklah tapi izinkan aku berterima kasih padamu," ucap Erica lalu tiba-tiba memeluk Mikho.
Laki-laki itu kaget, langsung melirik Celine. Gadis itu hanya tersenyum. Sekian lama akhirnya Erica melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Mikho, anggap saja itu tadi tanda perpisahanku–"
"Perpisahan?" tanya Mikho heran tak mengerti maksud ucapan Erica.
"Ya, tanda perpisahan untuk perasaanku padamu. Aku merelakan kamu bahagia bersama Celine. Aku mendoakan kalian dan merestui kalian," tutur Erica.
"Terima kasih Erica," ucap Mikho tersenyum lega.
Erica mengangguk pada Celine untuk mengajaknya pulang. Mereka pun melangkah keluar dari rumah sakit. Dengan perasaan yang lebih lega. Erica benar-benar telah mengikhlaskan Mikho pada Celine.
"Maukah kamu antar aku ke suatu tempat?" tanya Erica.
"Kemana?" tanya Celine setelah mereka melaju di jalan raya.
"Ke rumah tahanan. Aku ingin bertemu dengan Mommy, Daddy dan Kak Yodi–"
"Apa?"
__ADS_1
Mendengar nama Yodi disebut tubuh Celine langsung gemetar. Namun, gadis itu mencoba untuk tegar. Celine seperti trauma bertemu dengan Yodi. Jangankan bertemu, mendengar namanya saja, darahnya langsung berdesir.
...~ Bersambung ~...