Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 23 ~ Curhat ~


__ADS_3

Mikho mengabarkan kondisi Celine yang telah sadar pada Tiara dan teman-teman kelas IPS nya. Semua menyambut gembira berita baik itu, begitu juga dengan guru-guru. Sementara Tiara justru tertunduk mendengar kabar itu. Tiara bukannya tak senang mendengar kabar baik itu, tapi sekarang hatinya risau bagaimana cara menemui Celine.


Tiara merasa belum siap bertemu secara langsung dengan sahabatnya itu. Saat Celine belum sadar, tiap hari gadis itu ikut rombongan teman sekelas Celine yang dapat giliran menjenguk. Saat ingin menunggui, ayah dan ibu Celine meminta gadis itu untuk istirahat pulang.


Kini saat sahabatnya itu telah sadar, entah bagaimana perasaan Celine padanya. Tiara merasa mungkin saja sahabatnya itu sekarang telah membencinya. Saat Mikho mengajak, Tiara menolak dengan berbagai alasan. Tapi saat sendiri Tiara menjenguk Celine meski hanya berdiri di depan pintu ruang rawat inap itu.


"Kita tinggal Celine sendiri, apa nggak apa-apa itu Pa?" tanya Dessery.


"Kita titip sama suster untuk lihat-lihat sebentar, lagi pula sekarang Celine lagi tidur. Kita kembali nanti sebelum dia bangun," jawab Yudhi.


"Coba ada Mikho ya Pa, kita bisa titip Celine sama dia. Dia itu kayaknya sayang sekali sama Celine," ucap Dessery.


Pak Yudhi mengangguk, Tiara mendengarkan percakapan kedua orang yang dikenalnya itu dari balik dinding rumah sakit. Kesempatan itu digunakan Tiara untuk masuk ke dalam ruang rawat inap Celine. Saat gadis itu masih tidur, Tiara masih berani menemuinya.


Cel, selamat ya! Loe berhasil melewati masa kritis. Gue bahagia Cel, loe memutuskan untuk balik. Gue bakal menyesal seumur hidup jika loe pergi, batin Tiara.


Hening, tak ada suara yang keluar dari mulut Tiara. Hanya isak tangis yang tak bisa ditahannya. Gadis itu tertunduk dengan tubuh yang berguncang. Semakin lama isaknya semakin keras, entah berapa banyak penyesalan yang diungkapkannya di dalam hati, hingga tangisnya menjadi tersedu-sedu.


"Ra …" ucap Celine begitu pelan.


Namun, cukup membuat Tiara kaget. Suara pelan Celine seperti suara petir baginya. Gadis itu bahkan terlonjak dari tempat duduknya, reflek bergerak untuk pergi.


"Ra …" panggil Celine dengan suara lebih keras.


Langkah Tiara berhenti, tak tega mengabaikan Celine yang telah susah payah memanggilnya dengan suara lemah. Gadis itu membalikkan badannya ke arah Celine. Namun, tetap menunduk tak mampu menatap wajah sahabatnya itu.


"Loe datang?" tanya Celine menunjukkan seakan-akan tak percaya dengan penglihatannya.


Tiara mengangguk cepat dengan air mata yang terus mengalir. Celine tersenyum. Saat terbangun gadis itu langsung mencari sahabatnya tetapi Tiara tak terlihat. Celine hanya melihat Mikho dan kedua orang tuanya. Hati gadis itu langsung bersedih merasa Tiara masih membencinya.


"Loe masih marah sama gue Ra?" tanya Celine pelan dengan air mata yang langsung mengalir dari samping kiri dan kanan matanya.


Tiara mengangkat wajahnya menatap Celine. Melihat gadis itu menangis, Tiara langsung menghambur ke tubuh Celine. Kedua gadis itu menangis tersedu-sedu sambil berpelukan


"Maafin gue Cel, maafin gue," ucap Tiara terisak-isak.


"Gue yang minta maaf Ra. Gue nyakitin hati loe. Jangan takut Ra, gue akan menjauh dari Mikho," ucap Celine pelan tapi membuat Tiara kaget.


Tiara melepaskan pelukannya dan menatap sahabatnya. "Nggak Cel, loe jangan lakuin itu. Mikho sayang sama loe, jangan Cel. Itu bisa nyakitin hati dia. Mikho itu nyelamatin loe Cel, masa loe tega sama orang yang nyelamatin nyawa loe," ucap Tiara.

__ADS_1


"Tapi … loe kan tahu, gue nggak bisa sama dia. Kalau dia tahu siapa gue, dia pasti benci gue," ucap Celine lalu meringis menyentuh dadanya.


"Kenapa Cel?" tanya Tiara panik.


"Dada gue … sakit," ucap Celine memejamkan matanya masih meringis.


"Cel, udah jangan mikirin Mikho dulu. Gue panggilin dokter ya," ucap Tiara panik.


Gadis itu hendak pergi tetapi Celine langsung menahan tangannya. Tiara termangu, melihat temannya yang sedang berusaha menenangkan hatinya. Tiara sangat panik, tak sanggup merasakan kesedihan lagi seperti saat melihat sahabatnya kritis.


Bunyi monitor pasien yang terdengar panjang dan  nyaring itu masih terbayang dalam ingatan Tiara. Seperti trauma yang sangat dalam setiap kali mengingat saat-saat menyedihkan itu. Tiara tak ingin itu terjadi, tetapi dia tak tega melepaskan tangan Celine dan pergi meninggalkannya. Celine tak ingin ditinggalkan sendiri olehnya.


"Gue… udah … nggak apa-apa," ucap Celine akhirnya masih dengan suara pelan dan terbata-bata.


"Sungguh?" tanya Tiara.


Celine mengangguk pelan. "Jangan tinggalin gue Ra. Gue takut," ucap Celine sambil tetap menggenggam tangan Tiara.


Melihat penderitaan Celine gadis itu terduduk di bangku samping ranjang rumah sakit itu. Begitu sedihnya, gadis itu hingga menelungkupkan wajah di ranjang rumah sakit dan menangis sesenggukan. Celine membelai rambut sahabatnya pelan. Meski begitu pelan, Tiara dapat merasakannya. Gadis itu mengangkat wajahnya menatap Celine.


"Cel, maafin gue ya," ucap Tiara pelan.


"Udah Cel, jangan bicara tentang dia lagi," ucap Tiara sambil menggenggam tangan Celine dan menggelengkan kepalanya kuat.


Celine masih menganggap Mikho membencinya karena kejadian masa kecil. Apa mungkin aku tanyakan pada Mikho tentang itu? Tapi … bagaimana jika apa yang ditakutkan Celine benar-benar terjadi? Mikho benar-benar akan membencinya? Tapi setidaknya ada kejelasan, bukannya Celine memutuskan mereka tidak akan bersama, jadi ... kenapa takut jika Mikho membencinya? Batin Celine bertanya-tanya.


Celine melihat sahabatnya yang termenung. Gadis itu menyentuh pipi Tiara membuat gadis itu tersadar. Tiara melihat Celine yang seperti ragu untuk bicara. Tiara tak ingin lagi Celine memendam masalahnya lalu memutuskan jalan yang salah untuk penyelesaiannya.


"Ada apa Cel?" tanya Tiara penasaran. Celine menggelengkan kepalanya pelan.


"Cel, gue nggak akan kayak dulu lagi. Gua nggak akan biarin loe memendam perasaan loe sendiri lagi. Jika ada sesuatu, loe harus cerita sama gue. Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama," ucap Tiara membujuk.


"Gue malu Ra, tapi ini selalu jadi beban pikiran gue," ucap Celine yang mulai percaya lagi pada Tiara.


"Kalau gitu cerita sama gue, loe nggak boleh pendam sendiri. Gue pasti bantu loe Cel. Loe juga sering bantu gue. Sekarang giliran gue bantuin loe," lanjut Tiara sungguh-sungguh.


"Tapi … loe bilang nggak boleh ngomong tentang Mikho," ucap Celine menunduk.


"Ini ada hubungannya sama Mikho?" tanya Tiara yang dibalas dengan anggukan oleh Celine.

__ADS_1


"Jika dada loe terasa sakit, kita hentikan obrolan kita tapi jika nggak kita bicarakan sampai tuntas, ok!" ucap Tiara.


Celine hening sejenak, sepertinya masih ragu untuk bicara. Tiara menggenggam tangan Celine untuk memberi dukungan pada gadis cantik itu. Celine harus memiliki rasa percaya diri untuk mulai berbicara.


"Gue … gue dilecehin Mikho, gue merasa kotor Ra," ucap Celine lalu menunduk dan menangis terisak-isak.


Tiara kaget hingga menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya. Tiara tak menyangka jika Mikho tega melakukan itu pada Celine. Mikho terlihat begitu menghormati dan menyayangi gadis di hadapannya itu.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Tiara ingin tahu.


Celine tertunduk seperti menyesal mengucapkan itu pada Tiara. Sahabat Celine itu langsung mendekat bahkan duduk di hadapan Celine di atas ranjang rumah sakit itu. Meminta agar Celine meneruskan ceritanya.


"Mikho … melepas pakaian gue lalu–"


"Peluk loe dalam sleeping bag?"


"Apa? Kok loe–"


"Dia cerita semua sama gue, yang dia lakuin itu bukan lecehin loe Cel. Dia itu lagi berusaha untuk selamatin nyawa loe dari serangan hipotermia. Mikho juga … melepas pakaiannya 'kan?" tanya Tiara.


Celine mengangguk dengan ekspresi yang heran. Tiara tersenyum sambil menghapus air mata Celine. Gadis itu mengira dilecehkan karena ketidaktahuannya tentang penanganan korban hipotermia.


"Teknik Skin to skin itu adalah salah satu cara mengatasi hipotermia, di saat tak ada cara lain untuk mengatasinya. Mikho memang harus melakukan itu. Dia juga harus melepas pakaiannya agar bisa melakukan pemindahan panas tubuhnya ke tubuh loe. Pemindahan panas tubuh itu memang lebih mudah terjadi dengan saling menempelkan tubuh. Otomatis dia juga akan memeluk loe," jelas Tiara berusaha menjelaskannya sewajar mungkin meski dadanya bergemuruh.


"Seperti itu? Ada cara seperti itu?" tanya Celine dengan polos, setengah tak percaya.


Tiara mengangguk. "Apa itu … juga jadi beban pikiran loe hingga … loe memutuskan untuk mengakhiri hidup loe?" tanya Tiara dan dibalas anggukan oleh Celine.


"Salah satunya," jawab Celine pelan sambil tertunduk.


"Sekarang udah nggak jadi beban pikiran lagi 'kan?" tanya Tiara sambil tersenyum, menangkup wajah sahabatnya itu.


Tiara bersikap ceria agar Celine menghilangkan pikiran tentang kejadian itu. Berusaha bertingkah seolah-olah apa yang terjadi itu adalah sebuah kejadian yang wajar. Agar gadis itu tak lagi memikirkan perbuatan Mikho yang dikiranya perbuatan yang melecehkan.


"Apa … mencium bibir, leher dan dada termasuk usaha untuk menyelamatkan gue?" tanya Celine dengan polosnya.


"Apa?" Kali ini Tiara benar-benar terkejut. Tak menyangka laki-laki itu melakukan perbuatan lebih jauh lagi.


Tiara bahkan pernah membaca sebuah kejadian. Di mana seseorang menyelamatkan nyawa seorang gadis yang terserang hipotermia dengan cara melakukan hubungan intim. Tubuh Tiara gemetar, gadis itu tak berani bertanya lebih jauh lagi. Pikirannya telah buntu karena terkejut mendengar apa yang dilakukan Mikho terhadap sahabatnya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2