Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
Bab 13 ~ Menghilang ~


__ADS_3

Mikho dan anak sispala itu beradu argumen hingga berakhir dengan pemukulan yang dilakukan Mikho pada anggota siswa pecinta alam itu.


Laki-laki itu tersungkur, Tiara menjerit. Mikho mendekati laki-laki itu, menarik kerah bajunya dan bersiap-siap melayangkan pukulannya yang kedua. Tiba-tiba Mikho merasa tubuhnya didorong ke belakang. Sontak Mikho menoleh pada orang yang mencoba menghalanginya. Laki-laki itu terkejut saat Celine berdiri menatapnya dengan mata yang memerah.


Mikho tercenung, tatapan itu seolah-olah tatapan mata yang marah dan menyalahkan. Mikho masih terperangah tak percaya, gadis yang telah mati-matian ditolongnya justru menatap dengan penuh kebencian padanya.


Namun, ada yang lebih menyakiti hati laki-laki itu. Celine menghampiri anak sispala yang sangat dibenci Mikho itu. Laki-laki itu menangkup wajah Celine dan bertanya apakah gadis itu baik-baik saja. Celine tak menjawab, hanya air matanya yang mengalir. Laki-laki itu menarik Celine dalam pelukannya. Celine menangis disitu.


Mikho merasa dadanya terasa remuk, matanya berkaca-kaca. Mundur tiga langkah lalu berlari sekencang-kencangnya di jalan setapak menuju ke atas puncak. Celine melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Mikho yang berlari kencang.


Celine menangis sesenggukan. Tak hanya Celine, Tiara pun ikut menangis. Gadis itu mengerti betul seperti apa sakit hati Mikho. Hanya saja dia tidak tahu apa yang menyebabkan Celine begitu membencinya. Mungkinkah kejadian masa lalu begitu menyakitkan bagi Celine hingga bisa membuatnya begitu membenci orang yang telah menyelamatkan nyawanya?


Tiara menangis merasakan kepedihan hati Mikho. Gadis itu tahu pasti beberapa hari ini hati Mikho tak pernah tenang karena Celine. Ini dirasakan Tiara sangat tidak adil. Dia yang begitu menyukai Mikho, tak dianggap oleh laki-laki itu. Sementara Mikho yang begitu mencintai Celine justru dibenci oleh gadis itu.


Rasanya Tiara ingin memaki gadis yang tak tahu diri itu. Dicintai tapi justru tak menghargai. Tiara ingin mencari Mikho tapi atak tahu ke mana laki-laki itu pergi.


Mikho terus berlari hingga tiba di sebuah tebing. Laki-laki itu terkapar di sana. Air mata mengalir ke samping matanya. Hati Mikho seperti diiris halus. Perih seperti disiram garam. Gadis yang dicintainya, yang dikhawatirkannya, di selamatkannya justru membela laki-laki lain dihadapannya.


Diakah laki-laki yang kamu sukai? Diakah yang membuatmu begitu benci padaku? Jangankan berterima kasih padaku, segala usahaku menolong tak artinya bagimu. Anggaplah aku orang yang tak kamu kenal, tak bisakah kamu berterima kasih padaku. Meski kamu tak bisa menerima cintaku, setidaknya jangan membenciku, jerit hati Mikho.


Laki-laki itu memejamkan matanya hingga air matanya deras mengalir. Mikho ingin menenangkan pikirannya, laki-laki itu tak ingin memikirkan apa pun. Namun, bayangan Celine justru bermain di pelupuk matanya. Kejadian demi kejadian, kenangan demi kenangan, hingga teringat kejadian dalam sleeping bag itu yang akan menjadi kenangan yang akan dikuburnya sampai mati.

__ADS_1


Karena itukah kamu membenciku? Tak bisakah kamu memaafkan aku? Celine aku menyesal melakukannya, jika itu membuatmu membenciku, aku sangat menyesal melakukannya, batin Mikho.


Sebuah penyesalan yang terlambat, Celine terlanjur membencinya. Bahkan kebencian Celine tak sebanding dengan jasanya menyelamatkan nyawa gadis itu.


Celine mungkin lebih memilih mati daripada diperlakukan seperti itu. Wajar saja jika dia membenciku. Aku salah, aku salah tak bisa menahan diriku, batin Mikho.


Laki-laki itu kembali terisak, laki-laki itu menutupi tangisnya dengan sebelah lengannya. Diam, hening, mengosongkan pikiran dan tertidur. Sementara itu di perkemahan para peserta wisata dirundung rasa sedih.


Sejak Mikho pergi mencari Celine suasana perkemahan terasa hampa. Padahal sebelumnya terasa gembira. Walaupun Mikho khawatir pada Celine tapi laki-laki itu tetap dapat mengisi acara dan menjadikan suasana tetap ceria. Kini suasana terasa berbeda sejak kepulangan gadis itu. Membuat beberapa gadis yang tak menyukai Celine menatapnya dengan tatapan menyalahkan.


"Gara-gara anak IPS itu, acara kita jadi kacau," umpat seorang gadis.


"Maksud loe?"


"Nggak lihat kejadian tadi? Anak sispala itu cariin si Celine, Mikho kesal karena itu orang nggak jagain Celine, Mikho mukul anak sispala itu eh … Celine malah belain anak sispala itu bukannya belain Mikho yang udah cepek-capek nyariin dia. Kalau tahu gitu biarin aja dia mati di atas sana–"


"Hush, omongan loe jahat amat sih," ucap yang lain.


"Nggak tega aja gue lihat Mikho digituin," jawabnya.


"Baguslah kalau gitu, biar Mikho nggak baik-baik lagi ama cewek nggak tahu diri itu," ucap yang lainnya.

__ADS_1


"Ya juga sih. Lagian dari dulu Mikho selalu di jahatin sama dia. Kenapa juga Mikho masih perhatian ama dia, nyebelin banget," ungkap yang lain.


Pembicaraan tak akan berhenti, apalagi sudah tak ada lagi yang berminat membuat acara, semua lesu. Hanya mulut mereka yang ramai berbincang di sana sini. Pembicaraan yang hampir-hampir sama, berantai dari mulut ke mulut. Hingga mau tak mau sampai juga ke telinga Celine. Gadis itu menanggapi dengan diam, hanya air matanya yang meleleh. Sejujurnya dia juga tak ingin memperlakukan Mikho seperti itu. Dia juga bukanlah gadis yang jahat.


Menjelang sore, orang-orang mulai resah mencari Mikho. Sejak kejadian tadi pagi, laki-laki itu pergi hingga melewati makan siangnya. Mereka bertanya satu sama lain apakah melihat laki-laki itu. Tapi tak ada satu pun yang mengaku melihatnya.


"Mikho belum kembali sejak pergi tadi," ucap Tiara pada Celine.


Gadis itu hanya duduk diam sejak terbangun karena keributan tadi pagi. Saat mendengar Mikho tak ditemukan, Celine panik namun tak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu hanya menangis tersedu-sedu.


Tak ada yang merasa kasihan melihat tangis Celine. Mereka merasa tangis gadis itu hanyalah air mata buaya. Setelah menyakiti hati Mikho, sekarang gadis itu menangisinya. Semua anak IPA rata-rata membencinya.


"Ih dasar! Anak IPS aja belagu. Siapa yang mau temenan ama orang kayak gitu," ungkap seorang anak IPA.


Seorang gadis langsung mengedipkan matanya dan menunjuk dengan jempolnya ke arah Tiara. Gadis IPA tadi langsung tersenyum miring. Tiara termasuk kebanggaan anak IPA. Nilainya selalu menjadi yang tertinggi, karena itu yang lain agak segan padanya. Jika tidak bersahabat dengan Celine, mungkin Celine telah dibully habis-habisan.


"Gawat Ra! Mikho nggak ketemu. Nggak ada yang tahu di mana dia," ucap seorang anggota OSIS.


Anggota itu harusnya melapor pada Celine yang merupakan wakil Mikho. Entah karena ilfeel atau karena kasihan melihat kondisi Celine yang masih belum stabil, anggota OSIS itu justru melapor pada Tiara.


...~  Bersambung  ~ ...

__ADS_1


__ADS_2