
Mikho meninggalkan Celine yang menangis tertunduk. Gadis itu tersadar dan langsung mengejar. Mencoba memanggil laki-laki itu tetapi Mikho tak peduli.
"Kak tunggu! Dengarkan penjelasanku," ucap Celine mensejajarkan langkahnya.
Mata Mikho menatap lurus ke depan. Sama sekali tak peduli dengan ucapan Celine. Mikho tak memperlambat langkahnya sedikit pun membuat Celine kewalahan mengikutinya. Langkah kaki Celine tertinggal semakin jauh hingga gadis itu akhirnya memilih berhenti. Diam menatap punggung laki-laki itu yang semakin menjauh. Berdiri menatap dengan air mata yang terus mengalir.
Celine melangkah sambil menunduk. Berjalan perlahan menatap lantai rumah sakit dengan mata yang berlinang. Celine memutuskan untuk pulang, tak ada yang menginginkannya berada di situ. Baik Erica maupun Mikho kedua-duanya tak menginginkannya.
Celine merasa salah berdiri di posisi mana pun, tak ada yang membelanya. Semua orang menyalahkan perbuatannya. Gadis itu menangis terisak, menatap pintu mobilnya sekian lama. Teringat kemarahan Mikho yang tak pernah dilakukannya selama ini.
Celine menghembuskan nafas berat, dadanya terasa sesak. Merasa tak tahu apa yang harus dilakukannya selain menangis. Celine bahkan tak kunjung bisa memasukan kunci mobilnya. Gadis itu akhirnya menangis tertunduk di atas kemudi.
Sekian lama menangis di depan kemudi, hati Celine menjadi sedikit lega. Segera gadis itu meraih ponselnya untuk menelepon tunangannya. Celine ingin pamit pulang tetapi Mikho tak kunjung mengangkat teleponnya. Air mata Celine kembali mengalir.
Gadis itu menyimpan ponselnya, lalu menyalakan mesin mobilnya. Mengemudikan mobil itu dengan tangisnya yang semakin jadi. Gadis itu bahkan tersedu-sedu di dalam mobilnya karena dadanya yang terasa sesak meski berulang kali menepuknya dengan keras.
Celine tiba di rumah dan langsung menangis sambil memeluk lututnya sendiri. Gadis itu merasa lelah hati dan tubuhnya hingga akhirnya tertidur. Berharap besok suasana hati Mikho telah berubah hingga Celine bisa menjelaskan alasannya.
Seperti hari-hari yang lalu, Celine membawakan makan siang untuk tunangannya. Begitu masuk jam makan siang, Celine langsung datang ke restoran dan memesan makanan untuk Mikho. Berharap laki-laki itu telah memaafkannya.
Langkah kaki Mikho terhenti saat melihat tunangannya duduk termenung di meja istirahat para dokter. Merasa ada yang datang Celine mengangkat wajahnya dan langsung tersenyum menatap wajah kekasihnya.
"Kak, ini aku bawakan makan siang," ucap Celine bersikap sewajar mungkin sambil mengeluarkan kotak berisi makanan itu dari paper bag.
"Biarkan saja di situ! Aku belum lapar," ucap Mikho dengan nada datar dan dingin.
__ADS_1
Tangan Celine terhenti mengeluarkan kotak makanan itu. Membeli dua paket makanan agar bisa makan siang bersama dengan Mikho. Celine menatap Mikho yang asyik menatap layar laptopnya. Celine menekan dadanya yang terasa perih dengan air mata yang berlinang.
Karena masalah ini Mikho mengabaikan aku, lalu bagaimana aku berharap Mikho akan menerima kekuranganku? Apa hubungan kita akan berakhir Mikho. Katakan padaku, apa sudah cukup sampai di sini saja, batin Celine bertanya-tanya.
Tak sanggup merasa diabaikan lagi, Celine meninggalkan ruangan itu tanpa berkata-kata. Di lorong rumah sakit gadis itu tak bisa menahan perasaannya lagi. Melangkah menuju area parkir sambil memeluk dirinya dan menangis. Berusaha sekuat tenaga meringankan rasa sesak di dadanya.
Mikho yang telah selesai dengan urusannya menoleh ke arah makanan yang dibawa Celine. Menghela nafas dan menggelengkan kepalanya karena Celine yang pergi tanpa pamit. Mikho mulai mengeluarkan kotak makanan dari dalam paper bag itu.
Mikho tertegun, mendapati dua paket makan siang di dalamnya. Mikho baru sadar kalau Celine ingin makan siang berdua dengannya. Langsung terbayang rasa sedih gadis itu yang diabaikan saat dia ingin makan berdua dengannya.
Mikho langsung berlari mengejar tunangannya itu. Mikho sudah cukup menyesal karena membiarkan Celine yang pergi tanpa pamit kemarin. Mikho mengira gadis itu hanya ingin mengantarkan makan siang untuknya hari ini lalu pergi. Setelah melihat dua paket makan siang itu, barulah Mikho sadar, Celine ingin makan siang dengannya.
Mikho bersyukur menemukan mobil Celine masih berdiri terparkir di situ. Segera laki-laki itu melangkah mendekati dan mengetuk kaca mobilnya. Setelah sekian detik barulah Celine membukakan kaca jendela mobilnya.
"Kamu nggak ingin makan bersamaku?" tanya Mikho.
"Buka pintunya!" perintah Mikho lalu berjalan ke sisi pintu mobil yang lainnya.
Membuat Celine mau tak mau menekan central lock untuk membuka kunci pintu mobilnya. Mikho langsung menatap Celine begitu duduk di kursi penumpang itu. Sementara Celine hanya menatap lurus ke depan. Tak kuat menahan kesedihannya, Celine memalingkan wajahnya. Berharap Mikho tak melihat air matanya.
Laki-laki itu melepas seat belt gadis itu lalu menarik ke dalam pelukannya. Celine langsung menangis tersedu-sedu. Setelah berusaha meredakan tangisnya dan memutuskan untuk pulang, Mikho justru berdiri di samping kaca mobilnya. Celine segera menghapus air matanya, membuka kaca mobil lalu menjawab pertanyaan Mikho.
Kini tiba-tiba Mikho memutuskan masuk ke mobil dan langsung memeluknya. Perbuatan Mikho membuat Celine tak bisa lagi menahan tangisnya. Kesedihannya yang berusaha ditutupinya kini tumpah dalam pelukan laki-laki itu.
"Kak Mikho … jika tak inginkan aku lagi … katakan saja padaku. Aku … akan pergi, tapi … tolong …. jangan abaikan aku. Katakan saja Kak … maka aku akan pergi," ucap Celine dengan tersedu-sedu.
__ADS_1
"Siapa yang tak inginkan kamu? Siapa yang ingin kamu pergi? Aku juga tak mengabaikan kamu," jawab Mikho.
"Kakak bohong! Kakak marah, sejak kemarin Kakak tak mau lagi bicara denganku. Aku ingin minta maaf karena aku salah. Aku tak tega, pada Yosi … dia meminta aku memaafkan Erica, apa yang harus aku lakukan? Kak Mikho tak mau mendengarkan penjelasanku. Aku pasrah Kak, aku tak sanggup begini, aku janji pada Mama akan tetap kuat tapi aku nggak kuat Kak–"
"Celine … Sayang … dengarkan aku! Aku sama sekali tak mengabaikanmu. Kemarin aku akui, aku memang kesal, ya, aku kesal. Tapi bukan berarti aku tak inginkan kamu lagi? Aku cinta kamu Celine, aku sangat cinta sama kamu," ucap Mikho sambil memeluk erat tubuh gadis itu.
Celine menangis tersedu-sedu. Laki-laki itu membujuk dengan sepenuh hati. Merasa menyesal, apa yang dilakukannya membuat hati gadis itu bersedih.
"Maafkan aku sayang. Kemarin aku mencarimu, tapi ternyata kamu sudah pergi," bisik Mikho.
"Kakak bohong! Aku tahu Kakak marah, karena itu Kakak meninggalkan aku. Aku menelpon Kakak berkali-kali tapi tak pernah diangkat. Aku tahu aku salah, aku ingin menjelaskan. Aku ingin meminta maaf tapi Kakak tak memberiku kesempatan. Aku merasa hubungan kita akan berakhir. Aku merasa Kakak sudah membenciku. Aku nggak kuat Kak. Aku nggak kuat seperti ini," jelas Celine dengan tersedu-sedu.
"Jangan berkata seperti itu sayang! Aku mohon! Ucapmu kata-kata seperti itu. Kamu membuat aku takut," ucap Mikho sambil menangkup wajah yang telah bersimbah air mata itu.
Mikho mengusap air mata itu dengan jemarinya. Mikho tersenyum lalu mengecup kening gadis itu. Mikho juga tak segan mengecup mata yang basah itu.
"Aku tak suka membuatmu menangis tapi kalau apa yang aku lakukan ini membuatmu bersedih, tolong percayalah, aku tak sengaja melakukan itu. Aku hanya ingin membahagiakanmu Celine. Aku ingin disisimu hanya ingin memberikan kebahagiaan untukmu. Karena aku mencintaimu. Aku sangat sangat sangat mencintaimu," jelas Mikho lalu membenamkan bibirnya ke bibir manis di hadapannya itu.
Mikho memeluk Celine, menyesap penuh nafsu bibir manis itu. Mikho ingin menunjukkan betapa laki-laki itu sangat menginginkan Celine. Begitu ingin menumpahkan rasa cintanya pada Celine.
Saat itu juga laki-laki itu berjanji, akan percaya dan mendukung apa pun yang dilakukan Celine. Mikho meyakinkan gadis itu bahwa dia percaya sepenuhnya pada Celine.
"Kamu gadis yang jujur, hatimu sangat bersih. Tak pernah menyimpan dendam meskipun telah disakiti. Aku harusnya bangga memiliki gadis sepertimu, kenapa aku harus meragukanmu? Aku harus yakin, apa pun yang kamu lakukan itu pasti pilihan yang terbaik," ucap Mikho bermaksud ingin membuat hati Celine tenang.
Memaklumi pilihan gadis itu karena tidak berterus terang padanya. Atas pilihan Celine yang tak ingin menjelaskan hubungan Yosi dengan Erica. Namun, ucapan Mikho itu justru menjadi beban bagi Celine yang merasa masih memiliki rahasia yang lain.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...