Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 50 ~ Terjebak Hujan ~


__ADS_3

Celine penasaran karena Teon menelepon Mikho. Tepat saat mereka sedang bersama, bahkan saat mereka sedang menikmati ciuman hangat di daerah yang bersuhu rendah itu. Hari itu Mikho mengajak Celine menemaninya ke klinik. Lola merasa mendapat kejutan saat melihat Celine dan Mikho datang bersama.


"Jangan kaget. Kami tak selingkuh tapi sudah resmi bertunangan," ucap Mikho langsung saat Lola menatapnya dengan mulut ternganga.


"Lalu dr. Tiara?" tanya Lola otomatis.


"dr. Tiara sudah mengakhiri pertunangan kami dan sekarang dialah tunanganku. Perkenalkan dia–"


"Sudah kenal! Selamat atas pertunangan kalian!" seru Lola dengan wajah ceria lalu memeluk Celine.


"Aku pikir kamu akan membenciku karena … kamu telah mengenal dr. Tiara dan–"


"Yang terpenting bagiku adalah bos ku merasa bahagia. Entah siapa pasangannya atau seperti apa caranya," ucap Lola.


Celine terperangah dengan cara pemikiran Lola. Sederhana tapi langsung ke tujuan. Jauh dari kesan rumit. Tak ada baginya hal yang sulit, asalkan tak berbuat kesalahan, itu sudah cukup baginya.


"Aku tahu dr. Mikho tak mencintai dr. Tiara. Setiap kali sepi pasien, dr. Mikho akan berjalan ke tanah kosong di belakang. Termenung sambil menatap gunung tinggi itu. Aku tahu ada kenangan dr. Mikho  di situ. Setiap kali memandang gunung itu seperti ada kerinduan yang tak bisa dilepaskan. Aku pernah menyarankan agar sesekali naik ke atas, tapi dr. Mikho selalu bilang, 'aku akan ke sana tapi bersama dia' jadi jika dr. Tiara adalah orang yang berarti itu, yang bisa membawanya ke sana, pasti sudah dilakukannya dari dulu," jelas Lola.


Celine tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Hari ini gadis itu mengambil cuti di perusahaannya setelah sibuk mempersiapkan pesta pertunangannya. Bukannya berlibur, atau beristirahat tetapi Celine justru menemani Mikho yang telah berjanji akan datang ke kliniknya.


Menemani Mikho dengan status telah resmi menjadi calon suaminya. Celine sama sekali tak pernah membayangkan semua ini akan terjadi. Gadis itu hanya bisa membayangkan, suatu saat jika hubungan mereka dipaksakan, pasti akan berpisah karena kisah masa lalu mereka. Namun, kenyataannya sungguh tak disangka-sangka, laki-laki yang dikira membencinya justru malah mencintainya.


"Andai aku bisa simpel seperti kamu, hidupku tak akan rumit," ucap Celine kagum.


"Itu karena tak jujur apa adanya Cel, kalau segala sesuatu terang benderang tak akan ada yang berprasangka," ucap Lola.


"Wah kamu hebat," ucap Celine kagum.


"Aku tak mau menjadi orang yang misterius hingga orang berprasangka padaku. Itu juga yang membuat suamiku percaya padaku meski bekerja berdua saja dengan dokter ganteng itu," jawabnya lagi.


Celine tertawa. Tak lama kemudian Mikho keluar dari ruangannya setelah memeriksa seorang pasien. Laki-laki itu langsung bergabung dengan para wanita.


"Kita sarapan dulu yuk! Aku lapar tadi nggak sempat sarapan dulu," ajak Mikho.


"Oh, kamu belum sarapan? Baiklah, aku cari di sekitar sini," ucap Celine.


"Tahu lokasi aja nggak, mau cari-cari? Mau ke cari mana?" tanya Lola.


"Entahlah, tapi mungkin bisa bertanya sama warga sini," jawab Celine.


"Udahlah nggak bakal diizinkan sama dr. Mikho. Kalau gadis yang dicintainya hilang aku bisa berabe. Mau gado-gado kan?" tanya Lola.


"Apa?" tanya Celine kaget karena Lola tahu makanan kesukaannya.


"dr. Mikho tak akan mau makan makanan yang lain selain gado-gado. Kecuali makan di rumah. Kalau beli makanan pasti belinya gado-gado," jelas Lola.


Celine menoleh ke arah Mikho. Tak percaya laki-laki itu bisa mengetahui segala sesuatu tentang dirinya. Bahkan semua itu juga menjadi kesukaan Mikho. Lola pergi memesan makanan untuk mereka. Untuk Mikho dan Celine, Lola memesan gado-gado, sementara untuk dirinya makanan yang berbeda. Saat Lola pergi, Mikho langsung mengajak Celine ke ruang periksa.


"Mau apa?" tanya Celine saat laki-laki itu menarik tangannya.


"Mau periksa," jawab Mikho.


"Periksa apa?" tanya Celine heran tetapi tetap mengikuti.


"Periksa hatimu, masih miliku atau tidak," ucap Mikho.


Celine tertawa, laki-laki yang telah resmi menjadi tunangannya itu hanya mencari alasan untuk bermesraan dengannya. Mikho menggendong pinggang Celine dan menaruhnya di atas ranjang periksa. Laki-laki memeluk pinggang Celine dan gadis itu mengalungkan tangannya di leher Mikho. Laki-laki itu mulai mendaratkan ciumannya dengan sempurna.


Mikho semakin erat memeluk tubuh gadis itu. Semakin menikmati ciuman yang diinginkannya sejak tadi itu. Sangat menginginkannya hingga begitu mendapatkan, Mikho tak bisa berhenti hingga membuat napas mereka tersengal-sengal.

__ADS_1


Ponsel bergetar membuat mereka terpaksa menghentikan aktifitas menyenangkan itu. Mikho ternyata menerima panggilan telepon dari Teon yang meminta tolong untuk memeriksakan lukanya. Kesempatan itu digunakan Mikho untuk menjodohkan mantan anak Sispala itu dengan mantan tunangannya.


"Ingin menjodohkan Abang dengan Tiara?" tanya Celine.


"Ya, kenapa? Kamu cemburu?" tanya Mikho menggoda Celine.


"Ih nggak lah. Mana mungkin aku cemburu, justru senang jika mereka bisa bersama," jawab Celine.


"Masa sih? Aku merasa cemburu setiap kali memanggilnya dengan sebutan Abang," ucap Mikho.


"Kenapa?" tanya Celine.


"Ya, kenapa kamu harus memanggil Abang sama dia sedangkan memanggilku cuma memanggil nama," ucap Mikho merajuk.


"Ya, karena umur dia lebih tua dari umurku," ucap Celine.


"Aku yakin umurku juga lebih tua dari umurmu. Lalu kenapa cuma memanggil namaku?" tanya Mikho masih memeluk pinggang Celine.


"Kita kan seangkatan," jawab Celine masih bersikeras memanggil nama pada Mikho.


"Lalu si Teon bukan seangkatan kita, dia sekelas sama kamu," balas Mikho.


"Iya, iya baiklah! Aku akan panggil Abang juga, Bang Mikho–"


"Nggak mau!" 


"Gimana sih? Tadinya mau dipanggil Abang?" tanya Celine.


"Panggilannya nggak mau samaan dengan dia," ucap Mikho.


"Lalu panggil apa dong?" tanya Celine. Mikho diam.


"Kalau ada orang lain panggil Kak Mikho tapi kalau cuma berdua panggil yayang Mikho," ucap Mikho sambil tersenyum.


"Oh, ternyata ada aturannya. Baiklah yayang Mikho," jawab Celine langsung mempraktekkannya.


Mikho tertawa terbahak-bahak hingga membuat Lola yang baru datang langsung penasaran dengan perbincangan mereka. Celine ingin cerita, Mikho malu, langsung menutup mulut Celine dengan telapak tangannya. Celine menjerit seolah-olah seperti kena culik, Lola pun tertawa.


Mereka menikmati makan pagi menjelang siang itu. Lola tersenyum melihat keceriaan Mikho saat makan sambil bercanda dengan Celine. Lola juga merasa kalau Celine telah berubah dari Celine yang pernah dikenalnya dulu. Setelah makan, Mikho mengajak Celine berjalan-jalan.


"On call aja ok!" ucap Mikho berpesan pada Lola.


Laki-laki itu ingin mengajak Celine berjalan-jalan ke desa Pesanggrahan, di mana mereka pernah berkemah. Mikho berpesan pada Lola agar menelponnya jika ada pasien. Sesampainya di sana, Celine berdiri termenung, membayangkan semua kejadian yang terjadi di situ.


"Aku ingin mendaki denganmu ke puncak. Kalau kamu nggak trauma," ucap Mikho.


"Kalau aku trauma, aku nggak ajak Kak Yodi naik ke puncak itu Yayang Mikho," ucap Celine dengan memanjangkan nadanya. Mikho tertawa, lalu tiba-tiba terhenti.


"Tunggu dulu, waktu itu kamu mengalami hipotermia juga 'kan? Apa dia melakukan skin to skin juga?" tanya Mikho.


"Mau tau aja," ucap Celine lalu berlari ke tengah lokasi mereka berkemah dulu.


Mikho mengejar, dalam waktu singkat tentu bisa menyusul Celine. Laki-laki itu memeluk Celine dari belakang. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh Mikho. Cuaca di daerah itu memang cenderung dingin. Mikho memeluk gadis itu untuk menyalurkan hangat dari tubuhnya. Membalik tubuh gadis itu lalu menangkup wajah calon istrinya itu.


"Aku mencintaimu Evita Celine," ucap Mikho.


"Aku juga mencintaimu Yayang Mikho," balas Celine seperti meledek panggilan untuk Mikho.


Laki-laki itu tertawa, begitu gemas melihat gaya Celine yang meledeknya. Mikho tak tahan untuk tidak mencium gadis itu. Perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Celine diam menunggu hingga gadis itu merasakan hangatnya bibir Mikho. Mereka berbagi kehangatan melalui pelukan dan ciuman yang hangat.

__ADS_1


Mereka menghabiskan hari dengan berjalan-jalan hingga tak terasa hari telah menjelang sore. Tiba-tiba geirmis turun. Mikho dan Celine segera berlari kembali ke klinik. Sesampai di sana hujan lebat pun mengguyur. Lola sudah menunggu di klinik.


"Sepertinya hujan akan berhenti lama, mungkin akan ada angin kencang. Kalian tak bisa pulang sekarang," ucap Lola.


"Apa?" tanya Mikho dan Celine serentak.


Karena asyik berjalan-jalan Mikho tak sadar hari telah menjelang sore. Menjelang sore hingga malam daerah itu memang sering turun hujan. Karena itu Mikho selalu menutup kliniknya lewat dari tengah hari.


"Kalian menginap di rumah warga saja. Bahaya jika pulang sekarang. Jarak pandang sangat pendek, bahaya. Belum lagi, ancaman tanah longsor. Sebaiknya kalian pulang besok saja. Aku antar ke rumah warga yang biasa terima tamu untuk menginap. Bagaimana?" tanya Lola.


Celine menoleh ke arah Mikho untuk meminta pendapatnya. Laki-laki itu mengangguk. Tak ingin mengambil resiko terjadi apa-apa di jalan.


"Aku belum menikah, aku tak mau batal menikah kalau terjadi apa-apa," ucap Mikho.


Celine mencubit pinggang laki-laki itu dengan pipi yang merona merah. Mereka pun sepakat untuk menginap di salah satu rumah warga. Lola mengantar mereka ke rumah yang bisa jadi tempat menginap itu. Lalu Mikho mengantar Lola pulang.


Celine menunggu Mikho di kamar yang mereka sewa. Ruangannya bersih dan lumayan luas. Yang terpenting kamar itu terasa lebih hangat daripada di luar.


Tak lama kemudian Mikho datang. Celine membantu mengibas titik air yang menempel di kemeja Mikho yang terpaksa hujan-hujanan setelah memarkirkan mobilnya. Laki-laki itu melepas kemejanya agar bisa digantung.


Celine menatap tubuh atletis calon suaminya itu. Celine tersenyum saat Mikho membalik badan ke arahnya. Laki-laki itu langsung memeluk Celine.


"Aku butuh kehangatan," bisik Mikho lalu tertawa.


Celine memeluk tubuh laki-laki itu erat untuk menyalurkan hawa hangat dari tubuhnya. Sayangnya pakaian Celine sendiri sedikit lembab karena sempat terkena hujan.


"Lepas pakaianmu–"


"Nggak mau," jawab Celine.


"Nanti masuk angin," ucap Mikho.


"Masa dokter bilang masuk angin?' tanya Celine sambil tertawa.


"Baiklah, nanti kamu demam," ucap Mikho mengulangi.


Celine masih tertawa. Mikho mendekat, perlahan melepaskan satu kancing atas blouse gadis itu. Celine langsung menahan tangan Mikho.


"Aku lepas sendiri saja, Yayang Mikho balik belakang dulu," ucap Celine.


Gadis itu mulai melepas pakaiannya lalu duduk di ranjang bersembunyi di balik selimut. Mikho tersenyum saat melihat gadis itu membungkus tubuhnya dengan selimut itu. Mikho mendekat lalu membaringkan tubuhnya.


"Untung malam itu aku paksa kamu dan Yodi pulang. Kalau nggak, kejadiannya bisa seperti ini," ucap Mikho.


"Seperti apa?" tanya Celine.


"Seperti ini," ulang Mikho tetapi kali ini menyambar tubuh Celine dan merebahkannya di ranjang.


Mereka saling menatap, kemudian perlahan semakin mendekat. Mikho membenamkan bibirnya ke bibir Celine yang dingin. Perlahan Mikho melepas lilitan selimut yang menutupi tubuh Celine. Kemudian masuk ke dalamnya.


Mikho memeluk tubuh Celine tanpa batasan apa pun, seperti saat Celine tersesat di gunung. Perlahan bibir itu menciumi wajah Celine lalu mulai menjelajahi leher gadis itu lalu mulai turun ke dadanya.


"Jangan Mikho," bisik Celine.


Mikho seperti tak mendengar ucapan calon istrinya itu. Tetap melakukan apa yang diinginkannya. Celine pasrah ketika bibir itu menyesap lehernya sambil menggenggam jemarinya.


...~  Bersambung  ~...


 

__ADS_1


__ADS_2