
Orang tua Mikho datang, langsung berkenalan dengan Celine dan orang tuanya. Saat melihat gadis yang tersenyum sambil menyalaminya itu, ibunda Mikho langsung menyukai. Keningnya berkerut menatap putranya yang tak sejak dulu mengenalkan Celine padanya.
"Namamu Celine?" tanya Anisa.
"Ya Tante," jawab Celine.
"Oh, jadi ini orangnya?" tanya Anisa.
Bu Anisa menatap Celine dari ujung kaki hingga ujung kepala. Celine menoleh ke arah Mikho, merasa heran dengan ucapan ibu itu. Raut wajah Celine langsung cemas.
"Cantik! Pantas bisa membuat Mikho membatalkan pertunangannya dengan Tiara–"
"Ma!"
"Tiara juga cantik Bu Anisa, dan jelas bukan itu yang membuat Mikho memutuskan pertunangannya dengan Tiara," jawab Dessery.
"Lalu karena apa?" tanya Anisa.
"Tiara dan Celine sudah bersahabat sejak di SMP. Kami juga telah menganggap Tiara sebagai putri kami sendiri. Putri kami tak akan mau merusak hubungan Mikho dan Tiara karena Celine sangat menyayangi Tiara. Itu karena–"
"Karena apa?" tanya Anisa ingin tahu.
Bu Dessery tak bisa menjawab. Karena merasa putrinya bersalah. Putrinya pergi meninggalkan Mikho ke luar negeri lalu kembali dan merebut Mikho dari Tiara.
"Karena Celine adalah Evita, cinta pertama Mikho saat mereka masih kelas enam SD," jawab Tiara.
"Evita? Jadi dia ini adalah Evita?" tanya Anisa lagi.
"Benar Ma, kenapa Mama kaget, apa mengenal Evita?" tanya Tiara.
"Ya! Evita itu nama pacar Mikho. Sejak dari SMP dia selalu bilang nama pacarnya itu Evita. Tapi setiap kali minta dikenalkan dia selalu menolak. Mama merasa itu cuma pacar halusinasi, karena tak ada wujudnya. Akhirnya bisa dibuktikan juga orangnya ada. Biasanya apa-apa selalu bilang, Evita … Evita … Evita, di dalam kamarnya. Wajar kan kalau dikira pacar halu?" tanya Anisa. Semua orang yang mendengar percakapan itu tertawa.
"Bukan pacar halu Ma, cuma pacar yang belum bertemu. Sekarang mereka telah bertemu jadi nggak pacar halu lagi kan Ma?" tanya Tiara.
Bu Anisa tersenyum sambil mengangguk-angguk. Tiara mengajak mantan calon mertuanya itu duduk di meja tamu. Sementara Mikho dan Celine melangkah ke panggung.
"Oh ya Mama bawa jas untuk Mikho. Tadi kata kamu, ini dadakan. Mikho nggak ada persiapan. Ayo kita ambil jas untuk Mikho," ajak Anisa.
"Nggak usah Ma, itu Mikho udah pake jas," ucap Tiara sambil menunjuk ke arah Mikho di depan.
"Punya siapa itu?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Punya Papanya Celine. Lihat Ma, itu Papa Celine nggak pakai jas demi Mikho," jawab Tiara sambil menunjuk ayah Celine.
"Kalau begitu kita kasih jas ini, biar Mikho kembalikan jas Papanya Celine," usul Anisa.
"Nggak usah Ma, menurut Tiara, biarkan saja. Papa Celine ingin menunjukkan rasa sayangnya pada calon menantunya," jawab Tiara sambil tersenyum.
Bu Anisa ikut tersenyum. Acara pertunangan dimulai. Mikho diminta untuk menyelipkan jepit rambut yang telah disimpannya selama belasan tahun itu di rambut Celine. Laki-laki itu langsung tersenyum bahagia, seolah-olah kembali ke masa lalu saat mereka masih kelas enam SD.
"Evita maafkan aku. Aku tak tahu arti kata-kata itu. Aku hanya mengikuti saran teman-temanku. Saat aku tahu arti kata itu. Aku sangat menyesal, aku tahu kamu tidak seperti itu. Aku tahu kamu gadis yang baik. Bagiku kamu sangat berharga. Aku ingin minta maaf tapi selalu gagal. Karena itu aku selalu menjagamu di hatiku. Aku tak ingin melupakanmu hingga akhirnya aku jatuh cinta padamu," ucap Mikho sambil menangkup wajah Celine.
Gadis itu tersenyum mendengar pengakuan Mikho. Tak menyangka laki-laki itu akan mengungkapkannya di depan banyak orang. Begitu bahagia sehingga senyumnya selalu terulas di bibir.
"Tapi … Maaf Evita, sekarang aku mengenal seorang gadis. Gadis yang sangat cantik. Aku jatuh cinta padanya. Aku tak akan melepasmu tapi aku ingin bersama gadis itu. Bolehkah aku bersamanya?" tanya Mikho.
Sebuah pertanyaan yang membuat senyum di bibir Celine langsung menghilang. Tangan gadis itu yang ikut menggenggam tangan Mikho, juga jatuh terlepas. Mata Celine berkaca-kaca. Semakin lama menatap semakin berlinang. Para tamu bahkan tegang menyaksikan itu.
"Bolehkah aku mencintainya? Boleh aku melamar dan menikah dengannya?" tanya Mikho lagi.
"Mikho," ucap Celine pelan dan terkesan bingung.
"Tolong restui aku. Aku sangat ingin menikah dengannya. Dengan gadis yang bernama Celine itu," ucap Mikho masih menangkup wajah Celine.
Mendengar itu air yang berlinang di pelupuk mata Celine langsung mengalir. Setelah menumpuk sekian lama akhirnya tertumpah. Celine tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali. Mikho tersenyum. Laki-laki itu segera mengecup pipi gadis itu.
Hanya Teon yang diam menatapnya. Menatap jauh ke hati Tiara yang merasa perih. Namun, harus rela demi kebahagiaan semuanya.
Acara dilanjutkan dengan pemasangan cincin pertunangan untuk Mikho. Cincin yang tadinya disediakan untuk Yodi, kini beralih ke jari tangan Mikho. Setelah menyelipkan itu, Celine berjinjit demi mencium pipi laki-laki tampan itu. Mikho memeluk gadis itu erat. Lalu kembali mengecup pipi Celine yang kembali diiringi tepuk tangan riuh para tamu undangan.
Mikho dan Celine melakukan potong kue bertingkat tiga itu bersama-sama lalu saling menyuapi. Celine dan Mikho juga memotong untuk kedua orang tua mereka. Mikho menyerahkannya untuk orang tua Celine dan Celine menyerahkan untuk orang tua Mikho.
Acara pun selesai dan para undangan pun di persilahkan menikmati hidangan. Tak lupa mereka memotong kue untuk para sahabat. Mikho menyerahkan untuk Teon dan Celine untuk Tiara.
"Awas ya udah ngerjain aku. Aku pikir ingin menikah dengan orang lain. Udah gitu ngomong di depan banyak orang lagi. Aku jadi salah paham tahu," ucap Celine sambil berjalan membawakan kue tart.
"Nggak apa-apa salah paham, yang penting jangan lama-lama," jawab Mikho sambil tersenyum, begitu juga dengan Celine.
Mereka menikmati makan kue bersama. Mikho bahkan menyuapi calon istrinya. Tiara menatap dengan senyum yang terlihat setengah terpaksa. Namun, melihat perjuangan cinta Mikho terhadap Celine, Tiara sadar tak ada yang bisa menggeser kedudukan Celine di hati laki-laki itu.
Acara pertunangan berlangsung dengan meriah. Meski awalnya mendapat tayangan yang menegangkan, para tamu akhirnya bisa menikmati acara pertunangan yang tak biasa itu. Saat acara bahagia Mikho dan Celine itu berakhir, Tiara pamit sambil memeluk erat tubuh sahabatnya.
"Selamat ya sahabat, semoga lancar ke depannya. Jangan lupa mengundang saat pernikahan nanti ya," bisik Tiara di bahu Celine.
__ADS_1
"Makasih Ra, dan maaf," ucap Celine pelan.
"Untuk apa minta maaf? Justru aku yang minta maaf padamu. Mengambil kesempatan di saat kamu tak ada di depan mataku. Tapi aku sadar Cel, hidupku tak akan bahagia di atas penderitaan kalian. Aku bersyukur, bisa sadar sebelum terlanjur. Aku pasti sangat menyakitimu jika tetap bertahan bersama Mikho. Cinta Mikho tak pernah beralih darimu. Itu bukan hanya prasangkaku tapi pengakuan Mikho sendiri. Dia tak pernah ragu-ragu mengungkapkan itu, kalau dia tetap mencintaimu. Menurutmu, apa aku bisa bahagia bersanding dengan laki-laki yang selalu mencintai wanita lain?" tanya Tiara sambil tersenyum.
"Maaf Ra," ucap Celine tanpa disadari.
"Aku bilang nggak usah minta maaf. Dia cinta sama kamu, itu bukan salahmu. Kamu harus bersyukur, dia mencintaimu sejak awal hingga akhir," ucap Tiara kembali tersenyum.
Celine mengangguk, mereka pun melepaskan pelukan. Mikho yang berdiri bersama Teon, menoleh ke arah dua gadis itu. Teon tertunduk, saat Tiara menoleh ke arahnya. Perasaannya bercampur aduk, saat mendengar pertanyaan Mikho.
"Benar 'kan Ra?" tanya Mikho tiba-tiba saat kedua gadis itu mendekat.
"Apa?" tanya Tiara heran, tahu-tahu Mikho langsung bertanya.
"Luka ini harus diperiksa dan di buka jahitannya 'kan?" tanya Mikho.
Teon langsung menoleh ke arah Mikho. Kaget karena mereka tak membahas masalah itu tadinya. Mikho justru menggoda Teon kalau laki-laki itu sangat serasi dengan Tiara. Teon yang malu tak segera menyetujui ucapan Mikho tetapi malah bertanya bukti tanda kecocokan mereka.
"Lamanya jahitan luka dapat dibuka tergantung dari kondisi luka dan lokasi luka. Kalau jaringan yang dijahit belum tertaut sempurna, luka jahitan belum bisa dibuka. Apalagi kalau luka mengalami infeksi. Dokter bisa saja memutuskan untuk membuka jahitan dan membersihkan luka lalu kembali mengulang prosedur penjahitan bila diperlukan. Penyembuhan luka pada lengan bisa memakan waktu lima sampai sepuluh hari. Lakukan kontrol luka ke dokter atau bila timbul keluhan selama proses penyembuhan. Kamu juga bisa temui aku di rumah sakit. Masa jelaskan itu saja kamu nggak bisa Mik?" tanya Tiara langsung menoleh ke arah Mikho.
"Bukannya tak bisa, tapi dia nggak percaya. Aku suruh dia temui kamu di rumah sakit. Aku malah dituduh mau jodohin dia sama kamu–"
Teon menoleh ke arah Mikho dengan mata yang terbelalak. Tiara merona merah. Sementara Celine menutup mulutnya menahan tawa.
Siapa yang nuduh gitu? Ampun, kamu ini, bikin cerita sendiri, batin Teon dengan mata masih terbelalak menatap Mikho.
Celine dan Mikho saling berangkulan dan tertawa menatap wajah sahabat mereka yang semburat merah. Tiara buru-buru pamit, begitu juga dengan Teon. Mereka melangkah terpisah, berjalan ke arah yang berbeda. Tiara ke parkir mobil sementara Teon berjalan keluar area hotel. Celine dan Mikho saling berangkulan. Menatap kepergian sahabat mereka.
"Memang benar? Kalau Bang Teon nuduh kamu jodohin mereka?" tanya Celine.
"Nggak! Itu cuma bisa-bisanya aku aja–"
"Ya ampun, lihat nggak? Mereka jadi malu-malu?" tanya Celine.
"Lihat dong sayang. Memang itu tujuannya, biar ada rasa yang muncul di antara mereka," jawab Mikho sambil tertawa.
"Kamu memang cerdas," ucap Celine sambil mengusap pipi tunangannya, Mikho hentikan tawanya dan menatap wajah dihadapannya.
"Aku sangat bahagia Celine, akhirnya aku mendapatkan cinta pertamaku sekaligus cinta terakhirku," ucap Mikho sambil menangkup wajah tunangannya.
Menatap lurus ke mata Celine. Gadis itu tersenyum. Mikho langsung mengecup bibir tunangannya sekilas. Itu sudah cukup untuknya sementara waktu. Mikho masih punya banyak waktu untuk memanjakan Celine dengan kecupan dan ciuman, karena sekarang, Celine benar-benar telah menjadi miliknya.
__ADS_1
...~. Bersambung. ~...