Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
Bab 19 ~ Perpisahan ~


__ADS_3

Garis dilayar monitor pasien telah cukup lama mendatar. Paramedis pun telah lelah berusaha. Salah seorang dari mereka menggeleng dan menghentikan usahanya. Sementara yang lain melihat jam di tangannya. Petugas medis yang lain meraih selimut dan menggeser hingga ke bagian kepala.


Ketiga sahabat itu terkulai duduk, Tiara terduduk menunduk sementara kedua laki-laki itu tersandar di dinding ruang perawatan intensif.


Mereka telah memohon dalam hati, meminta Celine jangan pergi. Namun, tanda-tanda kehidupannya telah berhenti. Pak Yudhi dan Bu Dessery pun menangis, meratapi.


Mereka menyesal karena terlambat mengetahui. Celine terlihat bahagia saat dijemput ayahnya. Setelah makan siang di kantin bersama Mikho. Gadis itu tersenyum selama dalam perjalanan di dalam mobil. Pak Yudhi pun ikut gembira melihat raut ceria di wajah putrinya.


Sesampai di rumah Celine langsung memeluk ibunya.  Meminta wanita cantik setengah baya itu untuk membuatkan masakan kesukaannya. Ibu itu sangat gembira, Celine yang tak pernah bicara sejak pulang dari wisata kini justru meminta masakan kesukaannya.


"Kenapa Celine ya Pa? Kok tiba-tiba ceria begitu?" tanya Dessery.


Sejak pulang dari wisata, wajah Celine tak pernah menunjukkan raut bahagia. Gadis itu justru sering melamun, makannya pun tak pernah habis. Saat ditanya Celine hanya diam. Kedua orang tuanya begitu sedih bahkan mengira Celine telah mengalami pelecehan seksual selama mendaki. 


Tak ada jawaban apa pun dari mulut gadis itu. Suara Celine tak pernah terdengar lagi di rumah itu, di sekolah atau di mana pun. Tapi kini Celine telah bicara, meminta sambil tersenyum.


"Ternyata Celine sedang jatuh cinta Ma," jawab Yudhi.


"Oh ya? Dari mana Papa tahu?" tanya Dessery.


"Papa pergoki mereka sedang bergandengan tangan di sekolah."


"Benarkah?" tanya Dessery begitu bahagia.

__ADS_1


"Anaknya sangat tampan dan juga sangat sopan. Papa langsung suka padanya. Dia minta maaf mengajak Celine makan siang, di saat pulang dia juga meminta izin untuk mengantar Celine pulang sekolah setiap hari," jelas Yudhi.


"Benarkah?" tanya Dessery masih tak percaya.


"Papa pikir, dia pasti tak ingin Papa selalu menjemput Celine hingga mengganggu kebersamaan mereka. Papa izinkan saja, karena kelihatannya dia anak yang baik dan sopan," lanjut Yudhi.


"Jadi itu rupanya, jadi kita salah Pa, menuduh Celine punya masalah dengan Tiara," ucap Dessery.


"Kalau itu Papa belum tahu, bisa jadi kesedihan di hati Celine karena pertemanannya dengan Tiara berakhir tapi Mikho datang menghiburnya. Celine tersenyum pada Papa selama di perjalanan Ma. Papa rasa Celine sedang bahagia karena mereka telah jadian," ungkap Yudhi.


Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Namun, mereka tak peduli lagi, yang penting putri mereka telah ceria seperti dulu. Bu Dessery pun memenuhi permintaan putrinya. Memasak semua masakan kesukaan putrinya. Bu Dessery bahkan mengingat-ingat semua masakannya yang pernah dipuji gadis cantik itu.


Sembari menunggu makan malam mereka bermain permainan keluarga, monopoli. Ayah dan ibunya tak peduli menang atau kalah tapi saat putrinya yang sudah lama tidak berminat bermain itu, kini mengajak mereka bermain tentu mereka bersedia. Begitu asyik bermain, sore pun berlalu, saat makan malam pun tiba.


Celine bersorak gembira saat melihat semua masakan kesukaannya telah terhidang di atas meja. Ayah dan ibu itu bahagia melihat Celine yang berkeliling mencium aroma masakan itu. Tak sedikit pun tercorek kesedihan di wajahnya. Pak Yudhi dan Bu Dessery sangat bahagia makan malam bersama putrinya.


Mereka mengira kebahagiaan Celine berasal dari itu. Namun, saat ditanyakan gadis itu justru kembali murung.


"Kenapa sayang? Kami setuju kok, kami bahagia, kamu sudah semakin dewasa dan memang pantas jatuh cinta. Sudah naik ke kelas tiga, sebentar lagi tujuh belas tahun. Memang sudah pantas untuk jatuh cinta," sambung Dessery.


Meski didukung seperti itu, Celine tetap murung. Melihat itu ayahnya langsung angkat bicara.


"Udahlah Ma, terserah Celine saja, yang penting kita izinkan. Kita tidak batasi dia mau suka sama siapa asalkan dia bahagia maka kita akan ikut bahagia. Ayo sayang ambil lagi masakan kesukaanmu yang banyak," ucap Yudhi mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Meski penasaran tentang Mikho kedua orang tua itu akhirnya mengalah tak membicarakan laki-laki itu. Rasa heran, mereka simpan didalam hati. Masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan Celine berubah bahagia hari ini. Mereka mengira Mikho lah sebabnya namun ternyata saat membicarakan laki-laki itu Celine justru berubah murung.


Setelah makan malam Celine meminta menonton koleksi-koleksi film mereka. Film-film yang dulu mereka tonton saat Celine masih kecil hingga menjelang remaja. Mulai dari kartun anak-anak hingga film keluarga.


Malam telah semakin larut, ayah dan ibu Celine merasa heran putrinya tak kunjung berhenti menonton film-film kesukaannya.


"Kamu nggak tidur sayang, ini sudah lewat tengah malam, besok mau ke sekolah kan," ucap Dessery sambil mengusap rambut putrinya yang bersandar di dadanya.


"Celine nggak sekolah Ma," ucap gadis itu pelan. Sekuat tenaga menahan bulir air mata muncul di kelopak matanya.


"Oh, besok sekolah libur?" tanya Dessery lagi.


"Nggak, cuma Celine yang ingin libur," ungkap gadis itu.


"Oh baiklah," jawab Dessery.


Sedikit pun tak ingin memaksa putrinya lagi. Mereka membebaskan Celine melakukan apa pun asalkan itu bisa membuatnya bahagia. Mereka terus menikmati film-film yang ingin Celine tonton. Hingga akhirnya kedua orang tua itu tertidur. Celine bangun dari tubuh ibunya yang telah bersandar tertidur di sofa.


Celine duduk di sofa bulat kecil di hadapan kedua orang tuanya. Matanya berkaca-kaca memandang kedua orang tuanya lekat-lekat. Bergantian hingga bulir air mata yang tak bisa tertampung lagi jatuh di kedua pipinya.


Pa, Ma, maafkan Celine. Maafkan karena Celine tak bisa membahagiakan Mama dan Papa. Maafkan Celine yang selalu membuat Papa dan Mama khawatir. Celine yang selalu menyusahkan, yang selalu merepotkan kalian dari kecil hingga sekarang. Celine tak mampu, tak sanggup membalas kebaikan Mama dan Papa. Celine cuma bisa sayangi Mama dan Papa. Tak bisa mengurangi rasa khawatir Papa dan Mama. Tak bisa tak membuat Papa dan Mama susah. Tak bisa tak merepotkan. Mulai sekarang Celine janji, akan membuat Mama dan Papa bahagia. Tak perlu merasa repot lagi. Tak akan merasa susah lagi, batin Celine lalu perlahan mendekati ayah dan ibunya.


Mencium kedua pipi mereka, Celine tak ingin keduanya terjaga, melakukanya dengan begitu lembut sambil menahan isak tangisnya. Celine bangun dari tempat duduknya dan menghapus air matanya. Kemudian naik ke lantai atas, menulis sesuatu dengan air mata dan tangis yang tak bisa ditahannya lagi.

__ADS_1


Celine menangis tersedu-sedu setelah susah payah menahan tangisnya saat tersenyum di depan kamera. Sekian lama menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Celine memutuskan masuk ke kamar mandi yang akhirnya ditemukan oleh ibunya dalam keadaan tubuh yang telah tersandar lunglai dan tangan yang menjuntai ke luar dari bathtub menitikkan tetes demi tetes darah segar.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2