
Pesona Teon membuat Tiara terlena. Begitu juga dengan laki-laki bertubuh atletis itu, tak bisa menahan pesona dokter cantik yang sibuk merawat lukanya itu. Wajah mereka yang saling berdekatan memperkuat magnet di bibir mereka hingga akhirnya saling menempel dengan sempurna.
Debar jantung yang terasa begitu nikmat dan permainan lembut lidah Teon membuat Tiara semakin terlena. Gadis yang tak pernah merasakan hal-hal seperti itu saat bertunangan dengan Mikho itu, kini merasakan sensasi yang membuatnya kecanduan.
Tiba-tiba ponsel laki-laki itu bergetar. Sontak Tiara melepaskan ciuman mereka. Teon meraih ponsel yang bergetar di saat yang tak tepat itu. Tiara melihat profil wajah manis dan masih belia terpampang di layar ponsel Teon.
"Muridku," ucap Teon canggung.
"Murid?" tanya Tiara.
Teon mengangguk, lalu meminta izin untuk menerima panggilan video call itu. Tiara mengangguk mengizinkan. Laki-laki itu pun menekan tombol menerima panggilan.
"Halo Pak Teon! Aaaah Pak Teon bugiiiil," jerit siswa SMA itu.
Teon langsung sadar kalau tadi telah melepas kemejanya. Berbeda dengan Teon yang buru-buru mencari kemejanya. Para siswi itu justru langsung berkumpul di satu layar ponsel.
"Pak Teon ngapain? Di mana itu?" tanya siswi yang meneleponnya.
"Lagi di rumah sakit, bapak harus periksa luka bapak, gara-gara kalian," ucap Teon menatap layar ponsel sambil melirik Tiara sesekali.
"Ooooh maaf ya Pak Teon. Ayo lepas lagi kemejanya!" seru siswi itu lalu tertawa bersama dengan siswi-siswi di belakangnya.
"Nggak mau, kalian ini ngapain telepon-telepon bukannya belajar," ujar Teon.
"Lihat jam Pak, sekarang lagi jam istirahat!" seru siswi yang lain.
"Oh ya, kalau gitu sana, cari jajanan. Nanti istirahatnya keburu habis. Bapak juga mau lanjut periksa," ucap Teon kembali melirik Tiara.
"Nggak mau, mau telponan sama Pak Teon aja," jawab seorang siswi.
Ya ampun, gimana punya suami seperti itu? Tiap hari di ganggu siswi-siswi yang masih fresh. Bisa makan ati aku, batin Tiara saat mendengar percakapan itu.
"Pak Teon! Dokternya cewek apa cowok?"
"Cewek."
"Cantik nggak?"
"Cantik, cantik sekali."
"Bohong! Coba lihat!" Teon langsung mengarahkan layar ponselnya pada Tiara. Dokter cantik itu langsung salah tingkah. Berdiri membelakangi.
"Eh ya dokternya cantik."
"Dokternya pemalu."
__ADS_1
"Tapi pasti sudah punya suami."
"Belum," jawab Teon langsung.
"Masa sih? Pasti udah punya pacar."
"Hampir. Nyaris gagal gara-gara kalian," jawab Teon.
Para siswi tertawa terbahak-bahak. Sontak Tiara menatap guru tampan yang sedang tersenyum menatapnya itu. Tiara langsung mengalihkan wajahnya.
"Bu Dokter jangan mau sama Pak Teon ya! Pak Teon itu pacar kami. Pak Teon itu pedofil."
"Hush kamu sembarangan ngomong. Nanti Pak Teon dipecat baru tau loe," ucap siswi yang lain.
"Eh ya nggak jadi Bu Dokter. Pak Teon nggak pedofil. Tapi masih pacar kami," jawab yang tadi.
"Pak Teon suka sama Bu Dokter?" tanya siswi itu
Teon menoleh pada Tiara. Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya. Merasa malu hingga memukul keningnya sendiri, baru sadar kalau dirinya penasaran dengan jawaban Teon.
"Suka. Sangat suka!" jawab Teon.
Tiara terbelalak, meski menatap ke arah lain. Gadis itu terkejut mendengar jawaban Teon. Namun, mencoba untuk tetap tenang meski jantungnya berdegup dengan kencang.
"Ok deh, kalau begitu semoga jadian ya Pak! Semoga berhasil dan semoga Pak Teon cepat sembuh! Dah Pak Teon!" seru anak-anak SMA itu sambil melambaikan tangan mereka.
"Maaf ya … Tiara! Anak-anak itu memang suka usil," ucap Teon memulai pembicaraan. Tiara langsung membalikkan badan.
"Oh … Sudah selesai?" tanya Tiara seolah-olah tak mendengarkan pembicaraan mereka. Tiara kembali mendekat ke arah Teon.
"Kamu seorang guru?" tanya Tiara bersikap sewajarnya.
"Ya! Guru SMA. Tepatnya guru mata pelajaran olahraga di sebuah SMA," jawab Teon lengkap. Tiara tersenyum.
"Oh, siswi-siswimu itu … berlebihan ya? Masa godain guru?" tanya Tiara sambil mulai memberikan cairan pembersih dan pengering luka itu.
Seperti nada cemburu. Membuat Teon tersenyum. Laki-laki itu langsung ingin menggoda Tiara.
"Kamu cemburu ya?" tanya Teon.
"Apa? Cemburu? Mana mungkin? Untuk apa cemburu? Aku cuma heran dengan anak gadis jaman sekarang, terlalu berani menggoda guru. Aku juga punya guru ganteng saat SMA tapi nggak pernah seperti itu," ucap Tiara berapi-api.
"Siapa? Aku tak tahu ada guru ganteng di sekolah. Kita satu SMA, masa aku nggak tahu," ucap Teon.
Tiara langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu lupa kalau mereka memang dari SMA yang sama tapi beda jurusan. Tiara bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Oh ya … maksudku waktu SMP," ucap Tiara kelabakan.
Teon tersenyum. Tak yakin dengan ucapan Tiara. Namun, tak ingin semakin menyudutkannya.
"Oh ya ... kalau aku ke sekolah dan anak-anak itu bertanya, apa yang harus ku jawab?" tanya Teon.
"Tanya apa?" ucap Tiara balik bertanya.
"Apa kita jadian? Apa aku berhasil?" tanya Teon.
Tiara tertunduk. Tepat di saat selesai membalut luka Teon. Gadis itu kembali ke meja kerjanya.
"Kenapa? Kenapa memilihku? Apa karena tak ada harapan bersama Celine? Atau karena kasihan melihat seorang gadis yang dicampakkan?" tanya Tiara dengan nada sendu.
"Entahlah! Aku hanya tak tahan melihat bidadari yang terluka. Aku selalu ingin menghiburnya," jawab Teon.
Tiara memalingkan wajahnya. Menyembunyikan bulir bening di matanya. Teon tertunduk. Merasa Tiara tak ingin melanjutkan obrolan mereka.
"Tapi aku sadar. Aku bukan seorang dokter. Aku hanya seorang guru mata pelajaran yang dinilai tidak penting. Profesiku tak sekeren profesi dokter. Aku mengerti. Baiklah Tiara ... aku permisi. Terima kasih sudah mengobati lukaku. Semoga luka ini cepat sembuh. Semoga lukamu juga cepat sembuh," ucap Teon.
Laki-laki itu menunggu sesaat. Namun, Tiara masih memalingkan wajahnya. Laki-laki itu pun melangkah pergi.
"Teon!" Laki-laki itu langsung membalikkan badan.
"Kalau anak-anak itu bertanya, apa yang akan kamu jawab?" tanya Tiara.
"Anak-anak? … Oh … harus jawab apalagi, tentu saja bilang tidak berhasil," jawab Teon, dengan senyum yang sedih.
"Lalu … yang kita lakukan tadi, apa maksudnya?" tanya Tiara.
"Apa ya? Mungkin … hanya sebuah usaha yang sia-sia," jawab Teon.
"Bodoh! Tak ada usaha yang sia-sia," ucap Tiara.
Gadis itu berlari menghambur ke tubuh atletis itu. Teon terkejut tetapi segera membalas pelukan Tiara dengan pelukan yang erat. Menghirup pangkal leher dokter cantik itu. Mata Tiara yang berkaca-kaca kini mengalirkan air mata. Gadis itu tak yakin dengan perasaannya terhadap Teon tetapi merasa tak ingin kehilangan perhatian dari laki-laki itu.
Sejak awal hanya Teon yang peduli kesedihannya. Meskipun Tiara tak menyadari itu. Memeluknya saat menangis di teras rumah Celine. Menatap penuh iba saat Tiara menangis di acara pertunangan Mikho dan Celine. Merasakan kepedihan hati Tiara yang berusaha tetap tersenyum saat melihat Mikho yang menyuapi kue tart pertunangan untuk calon istrinya.
"Kamu mau menerima gadis yang sudah dicampakkan ini?" tanya Tiara dengan suara serak.
"Dicampakkan itu berarti sudah pernah diterima. Aku bahkan belum pernah diterima sama sekali," ucap Teon.
Tiara tertawa, dengan air mata yang masih mengalir. Merasa tak mungkin ada yang menolak cinta Teon. Laki-laki itu belum pernah diterima karena belum pernah menyatakan cinta sama sekali.
Tiara melepaskan pelukannya, menatap dengan malu-malu wajah teduh mempesona itu. Teon tersenyum, lalu kembali mendekatkan bibirnya ke bibir dokter cantik itu. Tiara menunggu, menerima dan membalasnya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...