Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
Bab 20 ~ Kembali ~


__ADS_3

Paramedis yang telah berusaha sekuat tenaga akhirnya menyerah. Salah seorang dari mereka menggelengkan kepala sementara yang lain melihat ke arah jam di tangannya untuk mencatat jam kematian.


Seluruh sahabat dan keluarga yang melihat itu langsung terkulai lemas. Meraung, meratap, menangis, semua menyesali. Berandai-andai semua belum terjadi. Berandai-andai bisa melindungi dan menjaga Celine sekuat tenaga. Namun, kini tinggal penyesalan. Apa yang mereka lihat di balik kaca menunjukkan Celine telah benar-benar menyerah.


Petugas medis meraih selimut dan menggeser hingga ke bagian kepala. Tiba-tiba dikejutkan dengan bunyi monitor pasien yang tiba-tiba berubah. Suara panjang dan nyaring tak lagi terdengar berganti dengan bunyi yang teratur. 


Seluruh petugas medis menoleh ke layar monitor pasien itu sontak membelalakkan matanya. Menatap monitor yang memiliki kemampuan untuk melihat kondisi vital seperti detak jantung, respirasi, saturasi atau kadar oksigen dalam darah dan tekanan darah itu.


Terlebih lagi saat melihat angka dan bunyi yang terdengar dari monitor. Seluruh petugas medis langsung kembali memeriksa kondisi gadis itu. Salah seorang dari mereka akhirnya mengangguk, yang lain mengusap wajah seperti bersyukur. Ada yang menitikan air mata dan yang lain saling menepuk tangan dan menggenggam jemari. Mereka bersyukur, usaha mereka tidak sia-sia.


Berbeda lagi dengan keluarga pasien yang berada di luar ruangan. Begitu mendengar bunyi monitor berubah mereka langsung merapat ke jendela kaca. Semakin gencar berdoa hingga akhirnya melihat paramedis yang terlihat bersyukur.


Rasa syukur mereka tentu melebihi rasa syukur paramedis. Mikho tak segan-segan meneteskan air mata. Memeluk kedua orang tua itu yang tanpa mereka sadari telah merasa dekat dengan laki-laki yang bersedih untuk putrinya itu.


Tak lama kemudian paramedis keluar. Menjelaskan masa kritis Celine telah berlalu.


"Ini sebuah keajaiban Pak. Kami bahkan telah menyerah tapi beruntung pasien memutuskan untuk kembali. Ini sebuah keajaiban dari Yang Maha Kuasa," ucap dokter yang memimpin usaha penyelamatan itu.


Seluruh keluarga mengangguk sambil menghapus air mata. Bersyukur semua ketakutan mereka telah berlalu. Celine tetap berada di ruangan itu hingga kondisinya memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang rawat inap.


Dengan tatapan penuh haru, Pak Yudhi menepuk pipi Mikho yang tersenyum dengan air mata haru masih mengalir di pipinya. Bu Dessery masih memeluk Tiara yang belum bisa menghilangkan rasa takutnya. Tubuhnya gemetar, ibu itu hingga menepuk-nepuk punggung gadis itu.


Tak heran jika Tiara begitu ketakutan karena dia merasa menjadi salah satu penyebab Celine mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Kini semua telah berlalu, tapi rasa menyesal itu masih belum bisa hilang.

__ADS_1


Mereka duduk di ruang tunggu, dengan hati yang lebih lega. Pak Yudhi memperkenalkan Mikho pada Bu Dessery.


"Terima kasih Nak, Tuhan mendengarkan doamu," ucap Dessery masih terharu.


"Ini berkat doa kita bersama … Mama," ucap Mikho.


Bu Dessery langsung menoleh ke arah suaminya dan tertawa. Pak Yudhi pun tertawa mendengar panggilan yang disebut Mikho. Tiara dan anak sispala itu hanya bisa menatap mereka sambil tersenyum. Pak Yudhi dan Bu Dessery yang teringat pada kehadiran mereka segera memanggil untuk bergabung.


"Siapa namanya?" tanya Yudhi pada Mikho minta dikenalkan dengan anak sispala itu.


"Kami juga belum kenalan Pa," ucap Mikho malu-malu.


Kedua orang tua itu kembali tertawa, bukan cuma karena heran datang bersama tapi tak saling mengenal. Namun, juga karena Mikho yang dengan begitu ringannya memanggil Pak Yudhi dengan sebutan papa.  Anak sispala itu pun mendekat lalu mengenalkan diri pada kedua orang tua itu.


"Teon Pak, saya sekelas dengan Celine," ucap Teon mengenalkan diri.


"Dia panggil saya abang, karena umur saya lebih tua satu tahun di banding Celine. Padahal kami satu kelas, tapi karena Celine inginnya begitu, jadi harus bagaimana lagi," jelas Teon sambil tersenyum.


Pak Yudhi dan Bu Dessery tertawa. "Umur Celine saat masuk sekolah memang kecil jadi mungkin banyak yang berumur di atasnya," jawab Dessery.


"Ya Pak, meski umurnya kecil tapi tekatnya besar," jawab Teon lagi.


Semua tertawa, Tiara tersenyum menatap anak IPS yang baru dikenalnya itu. Meski sering bermain ke kelas Celine, Tiara jarang memperhatikan teman-teman sekelas Celine, hanya mengenal beberapa orang gadis. Apalagi Teon adalah tipe laki-laki yang tak betah berada di dalam kelas.

__ADS_1


Mereka menunggu hingga malam, Pak Yudhi dan Bu Dessery meminta anak-anak itu pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Mereka pun pamit pulang dan berjanji pulang sekolah akan datang menjenguk Celine lagi.


Mereka pulang dengan perasaan lega, Mikho berpelukan dengan Teon saat berpisah. Mereka saling menepuk punggung. Terlihat akrab sebagai orang yang sama-sama menyayangi Celine. Tiara menatap Mikho dengan tatapan sendu lalu menunduk. Sejak Celine menjadi pendiam dan dikucilkan Tiara berharap Mikho akan beralih memperhatikannya.


Terpilihnya Tiara sebagai wakil ketua OSIS menggantikan Celine membuat perasaan itu semakin menjadi. Tiara terlena dengan perasaannya yang telah merasa di posisi di atas angin. Namun, semua pemikiran itu salah. Meski Celine bukan siapa-siapa lagi bahkan telah dikucilkan. Mikho tetap menempatkan gadis itu di posisi istimewa di hatinya.


"Kenapa … Celine benci padamu. Padahal kamu telah menolongnya? Telah susah payah menyelamatkannya," tanya Tiara sambil berjalan pelan di samping ketua OSIS itu.


"Mungkin karena aku sudah lancang padanya," ucap Mikho lalu menunduk.


Mereka sampai di halte bis lalu duduk menunggu di situ. "Lancang? Lancang kenapa?" tanya Tiara penasaran.


"Aku telah menelanjanginya," ucap Mikho, tak lepas memandang lantai halte itu.


Tiara terkejut. "Apa? Kamu … kamu … apa yang kamu lakukan?" tanya Tiara heran.


"Saat ditemukan, dia sudah berhenti bernafas, denyut nadinya pun tak terasa lagi. Aku … melakukan CPR hingga berhasil membuatnya sadar lagi. Saat melakukan itu, aku merasakan tubuh Celine basah. Aku langsung ingat hujan yang mengguyur kita siang itu. Sepertinya Celine dan anggota lain tak sempat berteduh. Mereka basah kuyup, dengan kondisi angin kencang seperti itu, sekian lama Celine terserang hipotermia. Dia … berhalusinasi hingga salah memilih jalan. Aku berpikir seperti itu karena saat menemukannya dia tidak berada di rute yang seharusnya. Tubuhnya menggigil kedinginan, aku tak punya cara lain. Selain melepas semua pakaiannya. Aku ... masukkan Celine ke dalam sleeping bag dan memeluknya," jelas Mikho.


"Kalian … berbagi panas tubuh. Skin … to skin?" tanya Tiara yang tiba-tiba merasakan matanya terasa panas.


Mikho mengangguk, Tiara langsung menengadahkan wajahnya agar air mata itu tak langsung tumpah. Tiara pernah membaca, Skin to skin adalah salah satu cara mengatasi hipotermia, di saat tak ada cara lain untuk mengatasinya. Penolong melakukannya dengan cara memegang tangan atau memeluknya. Pemindahan panas tubuh akan mudah terjadi ketika menempel tubuh ke tubuh yang lain. 


Tiara mengerti teknik skin to skin memang bisa menjadi alternatif untuk membantu menangani hipotermia. Teknik yang sama dengan teknik kangaroo, yang dilakukan seorang ibu untuk menghangatkan tubuh bayi yang baru lahir.

__ADS_1


Tiara bisa pastikan kalau Mikho juga melepas seluruh pakaiannya. Tiara tertawa pedih, mengetahui Mikho telah melakukan hal sejauh itu. Meski itu untuk menolong Celine, tapi Tiara yakin semua itu akan membekas di hati mereka.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2