
Mikho mengajak Tiara menghadiri jamuan makan malam di sebuah restoran. Raut bahagia terpancar dari wajah Tiara saat tunangannya membukakan pintu mobil untuknya. Begitu bahagia tersenyum menatap orang-orang yang tersenyum menyapa.
"Pesta siapa ini Mik?" tanya Tiara.
Setelah merasa sedih atas pembicaraan mereka yang lalu. Tiba-tiba Mikho mengajaknya menghadiri pesta jamuan makan malam di sebuah restoran. Tiara menganggap Mikho sedang berusaha membujuknya, tak tega untuk merajuk berlama-lama, Tiara menyetujui untuk menjadi wanita pendamping laki-laki itu untuk menghadiri pesta itu.
"Seorang teman," jawab Mikho.
"Dia ulang tahun?" tanya Tiara lagi.
"Dia baru pulang dari luar negeri, sekedar mengumumkannya kalau dia telah kembali," jelas Mikho.
Tiara tercekat, jantungnya langsung berdebar. Memiliki firasat kalau yang dihadirinya adalah pesta kedatangan sahabatnya. Tiara menatap ke sekelilingnya. Mencari siapa yang mungkin dikenalnya. Belum sempat gadis itu bertemu dengan seseorang yang dikenalnya, Mikho telah mempertemukannya dengan tuan rumah.
Tiara terkejut, begitu juga dengan Celine. Keduanya tercenung, mereka sama-sama tak menyangka kalau akan bertemu. Celine tak mengundang Mikho apalagi Tiara yang tak pernah membalas pesannya. Gadis itu terkejut melihat kehadiran sahabatnya, tak tahu harus berkata apa. Keduanya hanya diam terpaku, sama-sama terlihat canggung.
Berbeda dengan Tiara yang merasa tak nyaman dengan situasi canggung itu, Mikho justru terpesona dengan penampilan Celine malam ini. Gaun pesta yang elegan dengan riasan yang natural. Menambah kecantikan alami gadis yang selalu dirindukannya itu. Jika lengannya tak diapit oleh Tiara, laki-laki itu mungkin hilang akal, mendekati, memeluk dan mencium bibir gadis itu.
Mikho tak ingin suasana canggung itu berlangsung lama. Segera menghampiri gadis itu dan mengucapkan selamat atas kembalinya Celine dan keluarga. Belum sempat laki-laki itu mendekat untuk menyalami, Yodi datang dan langsung merangkul pinggang calon istrinya.
"Oh … dokter juga ikut datang? Apa kamu yang mengundangnya sayang?" tanya Yodi, yang tak menyangka Celine, bisa begitu cepat akrab dokter yang telah merawatnya.
Celine menjawab pertanyaan Yodi hanya dengan tersenyum. Sementara Tiara menatap heran pada tunangannya. Gadis itu mengira kalau Mikho telah mengetahui kepulangan Celine dan merahasiakan pertemuan mereka.
"Kamu pernah bertemu dengan Celine sebelumnya? Karena itu kah bertanya pendapatku tentang kepulangan Celine? Apa membawaku ke sini ingin mempermalukanku?" tanya Tiara dengan nada yang semakin meninggi.
"Apa maksudnya mempermalukanmu? Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Aku tak berniat seperti tuduhanmu," jawab Mikho.
__ADS_1
"Jangan bohong! Kamu telah mengetahui kepulangan dia dan kamu …." Tiara menoleh ke arah Celine. "Sengaja meminta Mikho mengajakku untuk mempermalukan aku di sini karena aku tak membalas pesan darimu. Kamu ingin membalasku bukan? Ingin membuat aku terkejut, karena kehadiranmu yang tiba-tiba. Menunjukkan pada Mikho kalau aku sengaja menutupi kepulanganmu. Agar pandangan Mikho buruk terhadapku, benar kan? Kamu hebat Celine, terlihat seperti gadis baik-baik, berhati lembut, seperti korban yang patut dikasihani tapi sebenarnya kamu licik, murahan, dasar lontee–"
"Cukup Tiara! Jaga ucapanmu!" bentak Mikho.
Tiara menatap tajam ke arah Mikho, lalu melangkah pergi dari restoran itu. Baru sadar saat membalikkan badan, tamu-tamu yang menatap ke arah mereka. Tiara segera meninggalkan ruangan itu meski Mikho mencoba menahannya. Ucapan Tiara yang dinilai sangat keterlaluan membuat Mikho membentaknya. Gadis itu merasa sangat membenci laki-laki itu karena tega membentaknya di depan orang banyak.
Mikho menatap Celine yang tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Mikho mencoba mendekati Celine, tetapi Yodi menghalangi. Laki-laki itu meminta Mikho mengurusi tunangannya yang dinilai sangat kejam mengucapkan kata-kata seperti itu.
Mikho menyadari ucapan Tiara sangat keterlaluan. Karena itulah Mikho ingin menenangkan hati gadis yang dicintainya itu. Menatap Celine yang menitikan air mata karena tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Mikho ingin mendekati gadis yang telah menangis itu. Namun, langkahnya terhenti melihat Yodi yang langsung memeluk Celine.
Sementara itu Tiara yang melangkah tergesa-gesa itu tak sengaja menabrak seorang laki-laki di pintu masuk restoran. Tiara terhuyung ke belakang kaku menatap orang yang menurutnya tak hati-hati itu. Mereka saling menatap untuk menyalahkan.
"Tiara? Kamu datang juga? Oh ya aku lupa, kamu itu sahabat Celine–"
"Aku bukan sahabatnya," jawab Tiara ketus.
Tiara menepis tangan Teon yang mencoba mengajaknya masuk ke dalam restoran. Begitu emosinya Tiara hingga membuatnya terhuyung hingga high heels nya patah dan membuat gadis itu terjatuh. Teon mencoba menahan tubuh gadis itu. Namun, tak cukup siap hingga keduanya terjatuh berguling di lantai. Mikho yang tiba-tiba muncul, terkejut melihat Tiara yang tertindih oleh tubuh Teon.
"Apa-apa ini?" teriak Mikho sambil menarik tubuh Teon dan langsung melayang tinjunya pada laki-laki itu.
Entah kenapa kali ini Teon tak terima di tinju untuk kedua kalinya. Tak terima pukulan Mikho melayang kembali ke wajahnya. Perkelahian pun terjadi, pesta itu menjadi heboh karena dua orang tamu, berkelahi di depan pintu masuk restoran. Celine yang mencoba menenangkan hatinya setelah mendengar perkataan kejam dari Tiara merasa terusik oleh suara keributan.
Segera gadis itu berlari mendekati suara tendangan dan baku hantam itu. Tiara terpaku menatap keduanya berkelahi karena dirinya. Gadis itu menyesal karena Mikho yang mendapat beberapa kali pukulan.
"Mikho sudah hentikan!" jerit Tiara.
Sementara Celine telah tiba di lokasi itu. Sangat terkejut saat melihat Mikho dan Teon kembali bertemu dan kembali berkelahi. Tiara menoleh pada Celine yang baru datang.
__ADS_1
"Mikho sudah! Jangan seperti ini, kamu tak boleh melakukan ini," jerit Tiara.
"Kenapa tak boleh! Aku berhak memberi pelajaran padanya. Enak saja dia bebas setelah berbuat lancang pada tunanganku," ucap Mikho.
"Apa? Tunangan? Siapa tunanganmu?" tanya Teon ikut menjerit karena heran.
"Tiara! Tiara itu tunanganku. Enak saja kamu memeluk tunanganku," bentak Mikho hendak melayangkan kembali pukulannya.
Tiara bangga mendengar perkataan Mikho. Apalagi diucapkannya di depan Celine. Mikho tak menyadari kehadiran Celine di tengah orang-orang yang menonton perkelahian itu.
Hati Celine terasa pedih mendengarnya. Tapi gadis mencoba menerima kenyataan kalau Tiara benar-benar adalah tunangan Mikho sekarang. Teon dan Mikho kembali terlibat perkelahian. Teon tak lagi berusaha menjelaskan tetapi justru meladeni tantangan perkelahian dari Mikho. Laki-laki itu cukup kesal setelah dituduh bahkan sampai dua kali.
Teon yang tak begitu membabi buta sering mendapat pukulan dari Mikho yang sedang emosi. Celine tak tahan dengan perkelahian tak seimbang itu. Untuk kedua kalinya Celine menghentikan perkelahian itu dengan berdiri di antara kedua laki-laki tampan itu. Mikho hampir saja melayangkan tinjunya ke wajah Celine.
"Hentikan! Cukup Mikho! Aku minta kamu hentikan perkelahian ini! Kamu selalu berprasangka buruk padanya! Mintalah penjelasan pada tunanganmu! Begitu cemburu hingga tak menutup matamu pada kebenaran. Pergilah! Bawa tunanganmu, tak ada satu pun tamu di sini yang ingin merebut tunanganmu–"
"Celine …." ucap Mikho terkejut dengan ucapan Celine.
"Jangan pernah muncul lagi dihadapanku. Aku … kamu sebaiknya jaga baik-baik tunanganmu. Jangan sembarangan lagi menuduh orang tertarik pada tunanganmu," jerit Celine dengan suara keras.
"Celine …."
Hanya itu terlontar dari mulut Celine. Namun, membuat Mikho tertegun. Celine membimbing Teon masuk ke dalam restoran. Meninggalkan Mikho yang berkali-kali memanggilnya.
Celine menitikkan air mata. Hatinya lelah menghadapi Mikho. Laki-laki itu menyatakan seolah-olah dirinya takut kehilangan Celine, ingin gadis itu kembali padanya. Namun, kenyataannya Mikho terlihat ingin mempertahankan tunangannya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1