
Tiara berlari meninggalkan ruang rapat OSIS dengan hati kesal dan sedih. Meski Celine telah menyakiti hati Mikho sedemikian rupa, tapi laki-laki itu tetap saja menyukainya. Tiara tidak akan peduli jika Celine mempertahankan dendamnya pada Mikho yang dipendamnya sejak kecil. Dia juga tak peduli jika Mikho masih tetap meyukai Celine.
Namun, begitu mendapat teguran dari Mikho, hati Tiara sungguh terasa sakit. Sangat terasa kalau laki-laki itu terlalu mengagungkan Celine hingga tak boleh terluka sedikit pun. Tiara merasa sudah menjaga Celine selama ini tapi bukan berarti dia harus selalu menyediakan tubuh, waktu dan hatinya untuk gadis itu.
Tiara kesal, semakin hari semakin membenci Celine. Laki-laki yang dicintainya itu membuatnya semakin membenci sahabatnya. Bukan karena cinta Mikho yang bergeming pada Celine. Tapi karena sikap Mikho yang terlalu berlebihan memuliakan Celine, membuat Tiara merasa muak.
Hari itu Celine patuh pada Mikho, laki-laki itu mengajak Celine makan siang di kantin yang masih dibuka. Rapat OSIS yang dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar selesai membuat mereka harus telat pulang sekolah.
"Aku pesankan makanan kesukaanmu ya?" tanya Mikho.
Celine hanya tersenyum, laki-laki itu memesan makanan kesukaan Celine. Gadis itu tidak tahu apa yang di pesan Mikho. Namun, saat makanan itu datang Celine tersenyum. Makanan favorit di kantin sekolah itu adalah bakso, lontong sayur dan nasi soto. Mikho tak memilih itu karena laki-laki itu tahu makanan kesukaan Celine adalah gado-gado.
Celine tertegun, Mikho seperti benar-benar mengerti dirinya. Entah dari mana laki-laki itu tahu, tapi Celine tak ingin memikirkannya lagi. Mereka menikmati makan siang itu, sesekali Celine tersenyum. Mikho sangat bahagia.
Kata-kata yang diucapkan Celine sejauh ini hanya 'maafkan aku' sangat sedikit tapi sudah cukup membuat Mikho bahagia. Laki-laki itu akan bersabar menunggu luka dihati Celine pulih. Melihat gadis itu tak lagi larut di dunianya sendiri, sudah membuat Mikho sangat bahagia. Melihat gadis itu tersenyum saja, sudah cukup membuat hatinya gembira. Mendapati gadis itu mau menerima pelukan dan ciumannya tadi sudah membuat Mikho tak akan bisa tidur malam nanti.
Sekolah itu telah sepi, membuat sekolah itu terasa milik mereka berdua. Mikho dan Celine melangkah keluar dari area kantin sambil bergandengan tangan. Hati Mikho begitu bahagia hingga terasa dipenuhi bunga-bunga. Apalagi setiap kali melihat Celine yang tersenyum.
Langkah mereka terhenti saat melihat ayah Celine yang berdiri sambil menatap mereka. Ayahnya yang telah menunggu saat bel berbunyi, kelimpungan menunggu putrinya yang tak kunjung muncul. Melihat siswa-siswi yang mulai sepi keluar dari gerbang sekolah, ayah Celine mulai panik.
Namun, masih mencoba bersabar menunggu. Setelah sekian menit tak melihat siswa yang keluar gerbang lagi, ayah Celine turun dari mobil dan masuk ke lingkungan sekolah. Hati bapak itu panik saat melihat sekolah yang telah begitu sepi. Awalnya berharap sebagian siswa-siswi masih memiliki kegiatan di sekolah itu.
__ADS_1
Namun, saat melongok ke setiap kelas yang telah kosong, bapak itu terserang panik. Segera bertanya pada orang yang dilihatnya. Bapak itu mendapat penjelasan kalau sebagian siswa telat pulang karena masih ada rapat OSIS. Hati ayah Celine sedikit tenang karena dia tahu putrinya salah satu pengurus OSIS.
Bapak itu pun melangkah mencari-cari dan berharap rapat itu telah selesai dan tertegun saat melihat putrinya muncul bergandengan tangan dengan seorang laki-laki.
Langkah kaki Celine terhenti, Mikho langsung menduga kalau laki-laki paruh baya di hadapannya itu adalah ayah dari gadis yang dicintainya. Mikho tak peduli, laki-laki itu tak melonggarkan genggaman tangannya sedikit pun apalagi melepaskannya.
Melihat itu ayah Celine langsung mengerti, Mikho adalah seseorang yang memiliki arti khusus bagi putrinya. Celine menoleh ke arah Mikho, laki-laki itu membalas tatapan itu dengan senyuman lalu mengajak Celine menemui ayahnya. Mikho memperkenalkan diri pada laki-laki paruh baya itu. Pak Yudhi tersenyum sambil mengangguk.
"Kenapa tak beritahu Papa kalau Celine mau pulang telat. Papa tak perlu menyusulmu hingga ke sini," ucap Yudhi pada Celine.
Gadis itu hanya menoleh pada Mikho, sedangkan laki-laki itu membalas dengan tersenyum.
"Maaf Om, saya nggak tahu kalau Celine di jemput. Tadi saya ajak makan di kantin dulu," ucap Mikho.
Gadis itu kembali menoleh ke arah Mikho, laki-laki itu merasa Celine menarik tangannya. Mikho pun melepas genggaman tangannya. Celine melangkah menghampiri ayahnya. Laki-laki paruh baya itu pun pamit pada Mikho. Ketua OSIS tampan itu mengangguk dengan hormat.
Celine melangkah mengikuti langkah ayahnya sambil menunduk. Tak ada yang menyadari gadis itu menitikkan air mata. Sementara Mikho begitu bahagia dan berharap hari-hari selanjutnya akan lebih bahagia lagi.
Keesokan harinya, Tiara yang biasanya selalu sarapan di kantin datang sendiri dan memesan makanan kesukaannya, gado-gado. Namun, hari itu dia memilih makanan lain. Teringat itu adalah makanan kesukaan Celine.
Kenapa harus sama dengannya? Awalnya aku juga tak suka gado-gado tapi karena ingin lebih cepat, aku memilih pesanan yang sama. Aku mengalah dan memilih makanan yang sama dengan pilihanmu. Aku bodoh, kenapa aku tak membuatnya mengikuti makanan kesukaanku? Kenapa harus aku yang mengikuti makanan pesanannya? Apa hebatnya kamu Celine hingga aku harus selalu mengikuti keinginanmu? Mulai sekarang aku akan pesan makananku sendiri. Tanpa kamu, aku bebas memilih. Tanpa kamu, aku akan bahagia! Seru Tiara dalam hati.
__ADS_1
Tiara segera mengganti makanan pesanannya tadi. Lalu kembali ke mejanya.
"Bunuh diri, iih, kalau ingat itu gue nyesel sempat ngutuk dia dalam hati," ungkap seorang gadis yang duduk di belakang Tiara.
"Iya, gue juga. Cuma gara-gara wisata yang kacau, lagian itu juga bukan kehendaknya hilang di gunung."
Mendengar itu, Tiara yang tadinya menunduk langsung menegakkan kepalanya. Gadis itu menoleh pada kedua gadis yang sedang berbincang itu.
"Gue nyesel Rin," ucap gadis itu.
"Gue malah takut," ucap gadis yang dipanggil Rin.
Tiara berdiri mendekati meja kedua gadis itu. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Tiara pada kedua anak IPS itu.
"Loe nggak tahu? Bukannya loe sahabatnya?"
"Sstt, udah nggak lagi," ucap gadis satunya sambil berbisik.
"Celine … dia bunuh diri. Orang tuanya mengabarkan wali kelas tadi pagi." Setelah mengucapkan itu gadis itu menangis. Keduanya bahkan serentak menangis, tak mampu menahan kesedihan lagi.
Bagaimanapun juga mereka sekelas, pernah merasakan kebaikan hati Celine. Namun, karena terpengaruh rumor tentang Celine mereka pun ikut mengucilkannya. Sekarang mereka menyesal, harusnya mereka tetap di pihak Celine bukannya ikut mem-bully.
__ADS_1
Tiara tak percaya, dengan sekuat tenaga menggelengkan kepalanya. Meski saat ini sangat membenci Celine tapi tak berharap gadis itu meninggalkan dunia dengan cara seperti itu.
...~ Bersambung ~...