Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
Bab 18 ~ Ternyata Rencana ~


__ADS_3

Mereka termenung, tak tahu apa yang harus dilakukan. Masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing, penyesalan masing-masing.


Rupanya ini rencanamu? Bersedia makan siang bersamaku hanya untuk memberi kenangan terakhir untukku? Tidak Celine, aku tidak rela, aku tidak rela, bertahanlah, sama seperti bertahan di gunung itu aa. Aku mohon Celine, jangan buat aku menyesal, aku mohon, batin Mikho.


"Aku tidak ingin percaya dengan isu yang beredar tapi dia memang sangat menderita. Rasanya tak ingin membiarkan dia seperti itu. Saat aku melihatnya aku bisa menghiburnya tapi jika aku tak ada, dia akan menelan sendiri penderitaannya," ungkap anak sispala itu memecah keheningan.


Mikho menoleh ke arah laki-laki itu. "Maafkan aku, waktu itu. Aku gelap mata, aku cemburu melihat kedekatan kalian. Aku–"


"Aku tahu, aku mengerti perasaanmu. Sejujurnya aku juga cemburu padamu. Saat kami di puncak Celine terlihat begitu bahagia. Aku pikir dia benar-benar bahagia, tapi saat bicara dia mengeluh, andai kamu ikut bersama kami. Saat aku menebak isi hatinya dia bicara tak henti-henti seperti host home shopping," ucap anak sispala itu tertawa sambil menangis.


Mikho pun ikut tersenyum meski tak sepenuhnya dimengerti.


"Dia bilang ingin kamu ikut agar kamu tahu dia mampu mendaki hingga ke puncak. Aku hanya tersenyum saat itu karena aku tahu isi hatinya yang sesungguhnya. Aku tahu, jika hatinya tertebak dia akan nyerocos tak henti-henti. Kamu tahu apa yang aku katakan padanya?" Mikho mengangkat bahunya.


"Aku bilang 'Celine kamu suka padanya. Kamu rindu dan ingin dia di sini bersamamu'. Dia protes habis-habisan, nyerocos tak henti-henti. Dari situ aku tahu, dia suka padamu–"


"Benarkah?" tanya Mikho tak percaya.


"Tapi cintanya terhalang masa lalu–"


"Apa? Masa lalu? Apa dia punya janji dengan seseorang di masa lalu?" tanya Mikho sangat penasaran.


"Aku tidak bisa cerita tentang itu. Aku sudah janji padanya tak akan menceritakan masalah itu pada siapa pun," ucap anak sispala itu.


"Dia juga … tak izinkan aku cerita," ungkap Tiara.

__ADS_1


"Saat siang Celine sibuk, mengambil foto di tengah-tengah hamparan bunga edelweis. Aku menggodanya kalau dia sangat ingin berfoto denganmu. Dia tertawa dan bilang kalau dia telah memiliki fotomu. Tapi dia menoleh ke arah hamparan bunga abadi itu dengan senyum yang dipaksakan. Aku tahu dia sangat ingin berfoto denganmu di sana–"


"Benarkah?" tanya Mikho penasaran.


Anak sispala itu menunjukkan foto hasil editannya. Laki-laki itu membantu mengedit dan mengganti latar belakang foto Celine dan Mikho saat foto bersama anggota OSIS. Mikho tertawa melihat hasil yang terlihat begitu manis. Mereka tak lagi berdiri dengan jarak namun seperti berdampingan berdua di tengah hamparan bunga edelweis.


"Dia meminta aku menghapusnya tapi aku tahu dia sangat suka," sambung anak sispala itu.


Mikho menatap foto di ponsel itu, dengan mata yang berkaca-kaca. Tiara menatap sedih laki-laki yang menangis di hadapannya itu. Tiara pun teringat pada pesan dari Celine yang dikirimnya saat lewat tengah malam.


Teringat saat tadi pagi melihat pesan masuk. Pesan yang dikirim Celine lewat dari tengah malam. Awalnya Tiara tak peduli tapi akhirnya memutuskan membuka pesan dengan gambar itu. Terlihat foto Selfi, Celine yang tersenyum dengan boneka pemberian Tiara dalam pelukannya.


Kini Tiara baru melihat dengan jelas Celine yang tersenyum namun matanya yang berkaca-kaca. Sebuah foto dengan tulisan.


~ Maafkan aku, maafkan kesalahanku. Tiara adalah sahabatku, selamanya sahabatku. Jangan membenciku, aku tak akan lagi menyusahkanmu. Kami adalah milikmu, kami sayang padamu ~


Mikho dan anak sispala itu kaget melihat Tiara, yang tiba-tiba menangis. Anak sispala itu bahkan memeluk Tiara untuk menenangkannya. Mikho meraih ponsel di tangan Tiara dan melihat pesan itu. Laki-laki itu pun menangis. Menangis sambil tertawa pedih.


Celine seperti telah merencanakan niatnya. Bersedia menemaninya makan siang di kantin, mengirimkan foto pada Tiara, semua itu seakan-akan sebuah perpisahan baginya. Mikho mengigit kepalan tangannya untuk menahan tangisnya. Namun, tetap saja air mata itu mengalir. Mereka bertiga menangis dan berusaha menenangkan hati mereka masing-masing.


Tiba-tiba ponsel Tiara berbunyi, Tiara segera menerima panggilan telepon itu.


"Maaf Tiara, Mama tak mendengar panggilan teleponmu," ungkap Dessery melalui sambungan telepon.


"Ma, di mana Celine. Celine di mana Ma. Tiara ingin ketemu Ma," ungkap Tiara sambil menangis.

__ADS_1


"Kami di rumah sakit Tiara–" 


"Ma, izinkan kami ke sana ya Ma" ungkap Tiara memohon sambil menangis.


"Ya Nak," jawab Dessery.


Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit yang telah disebutkan Mama Celine. Segera mereka menuju ruang perawatan intensif yang telah diberitahukan.


Tiara, Mikho dan anak sispala itu terpaku bahkan tak berani menyapa saat melihat Mama Celine menangis bahkan meraung dalam pelukan Pak Yudhi. Pandangan mata mereka beralih ke arah ruang dengan kaca jendela yang besar itu.


Terlihat beberapa tenaga medis yang berkumpul di ruangan itu sedang memberikan tindakan penyelamatan. Tanda garis datar di layar monitor pasien dengan suara yang terdengar panjang dan nyaring membuat mereka langsung panik.


Celine! Celine! Tidak! Aku mohon jangan pergi. Jangan pergi Celine, aku mohon. Aku mohon Celine, jangan pergi! Jangan pergi! Batin ketiga sahabat itu.


Namun, semua hanya terucap dalam hati, menjerit dalam hati sementara mereka meratap berjajar di jendela kaca ruang perawatan intensif itu. Air mata mereka mengalir tak tertahankan.


Tidak Celine! Aku tidak rela, kamu jangan pergi. Kamu masih berhutang terima kasih padaku. Kamu jangan pergi, aku mohon. Aku mohon, aku mohon. AKU MOHOOOON, jerit hati Mikho.


Mikho tertunduk di depan kaca itu sambil menangis. Sementara tenaga medis masih tetap berusaha. Layar monitor masih menunjukkan garis datar dan berbunyi nyaring. Mikho menagih ucapan terima kasih dari Celine karena telah menyelamatkannya dari hutan.


Namun, justru saat itulah dimulai masa penderitaan gadis itu. Mikho menyadari, kembalinya Celine setelah diselamatkan memicu ejekan dan hinaan terhadap gadis itu. Mikho juga mendengar bully-an yang dialami gadis itu. Perbincangan tentang gadis itu dan sikap seluruh peserta wisata yang memusuhinya.


Tuhan, jika aku memang tak sanggup menjaganya, aku ikhlas dia pergi. Jika aku masih bisa membuatnya bahagia, tolonglah dia. Kembalikanlah dia padaku, batin Mikho dengan air mata yang meleleh di kedua sisi pipinya.


Garis dilayar monitor telah cukup lama mendatar. Paramedis pun telah lelah berusaha. Salah seorang dari mereka menggeleng dan menghentikan usahanya, sementara yang lain melihat jam di tangannya. Petugas medis yang lain meraih selimut dan menggeser hingga ke bagian kepala.

__ADS_1


Ketiga sahabat itu terkulai duduk, di depan kaca besar ruangan itu. Tiara terduduk menunduk sementara kedua laki-laki terduduk tersandar di dinding ruang perawatan intensif itu.


...~~  Bersambung  ~...


__ADS_2