
~ Perbuatanmu menyakitinya tapi dia masih mau menolongmu. Ternyata dia masih tetap perhatian padamu? Mikho bahkan marak padaku karena meninggalkanmu ~
~ Memangnya kamu siapa? ~
~ Kenapa aku tidak boleh meninggalkanmu? ~
~ Kenapa aku harus mengawalmu? Apa kamu seorang putri? ~
~ Apa semua orang di dunia ini harus bergerak mengitarimu? ~
~ Aku capek! Aku lelah harus menjaga perasaanmu. ~
~ Aku tak suka melihat sikapmu yang berlebihan, menyimpan dendam masa lalu. Apa cuma kamu yang punya masalah di masa lalu, kenapa masalah sekecil itu ikut menjadi bebanku? ~
~ Kamu cuma gadis murahan, lontee yang selalu ingin terlihat berharga ~
Setiap saat, setiap waktu, ucapan-ucapan yang dilontarkan Tiara selalu terngiang di telinga Celine. Air mata Celine akan mengalir dengan sendirinya. Perubahan sikap Celine membuat orang tuanya khawatir. Celine menjadi pendiam, murung dan sering menangis.
Acara wisata telah berlalu tapi apa yang terjadi di masa itu selalu membayangi Celine. Kedua orang tuanya risau dan membujuk agar gadis itu mau menceritakan apa yang terjadi selama acara wisata. Namun, Celine hanya diam, dengan air mata yang mengalir pelan. Mama Celine ikut menangis melihat perubahan sikap putrinya.
Sangat ingin tahu apa yang terjadi, tapi Celine sama sekali tak mau bicara. Kedua orang tuanya bahkan mengajaknya menemui psikiater. Celine menjalani beberapa kali pertemuan tapi tetap tak mau bicara. Mama Celine akhirnya bertanya pada Tiara. Namun, Tiara menanggapi dengan sikap yang biasa dan tak simpati. Mama Celine akhirnya beranggapan kalau kedua sahabat itu telah putus pertemanan.
__ADS_1
"Mungkin itu sebabnya Pa, Mama pikir mereka bertengkar. Tiara tak akan membiarkan Celine seperti ini jika hubungan mereka baik-baik saja," ungkap Mama Celine.
"Lalu apa yang kita lakukan Ma?" tanya Yudhi.
"Kita sudah mencoba segala hal agar Celine bisa kembali seperti semula tapi tak ada hasilnya. Dia masih tetap murung. Mungkin seperti yang dikatakan Psikiater itu, Celine terguncang jiwanya karena orang yang dipercaya, orang yang disayangi justru menjadi orang yang menyakiti hatinya. Itu membuat luka sangat dalam di hatinya. Tiara biasanya mendengar keluh kesahnya. Orang yang menjadi tempat curahan hatinya justru menjadi orang yang menyakiti hatinya. Orang yang dipercaya dan orang yang disayanginya justru menggores luka dihatinya, pada siapa dia akan mengadu lagi?" tanya Dessery dengan air mata yang mengalir.
"Kita salah! Kita biarkan Tiara menjadi segala-galanya baginya. Harusnya kitalah tempat curahan hatinya, tempat dia mengadu. Kita tidak, kita justru tenang melihat dia berkeluh kesah pada orang lain, di saat orang lain itu yang justru melukainya, dia menjadi sangat terpukul. Harusnya kita menjadi orang yang dipercayainya Ma karena kita tidak akan mengkhianati putri kita," ungkap Yudhi.
"Mengkhianati? Apa mungkin ini masalah asmara? Apa Celine merasa dikhianati Tiara? Apa mereka bersaing mendapatkan hati seorang laki-laki? Apa–"
"Banyak kemungkinan Ma. Kita hanya bisa menduga-duga," jawab Yudhi.
Ny. Dessery menangis mengingat derita yang dialami putri satu-satunya. Mereka telah berusaha apa saja untuk menyembuhkan luka hati putrinya. Namun, masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik.
Tanpa orang tua itu sadari, gerbang sekolah adalah awal munculnya kesedihan Celine setiap hari. Tatapan siswi-siswi yang iri atas perhatian Mikho padanya. Mereka salurkan dengan ucapan-ucapan menghina dan menyakitkan. Baik secara langsung ataupun secara sindiran.
Celine tak lagi aktif dalam pengurusan OSIS. Saat rapat pertemuan pertama setelah acara wisata Celine diminta mengundurkan diri. Mikho protes tapi tak bisa memutuskan, sikap Celine yang seperti tak melihat dan mendengar apa pun lagi memang tak bisa diharapkan.
Mikho pasrah kedudukan wakil ketua OSIS diserahkan pada Tiara. Sementara Celine hanya termenung. Tak ada respon apa pun terhadap putusan itu. Pandangannya kosong, pikiran Celine seperti sengaja meninggalkan tubuhnya agar gadis itu tak merespon apa pun yang diucapkan teman-temannya. Saat rapat selesai dia akan ikut keluar ruangan.
"Celine tunggu!" jerit Mikho.
__ADS_1
Tapi gadis itu tetap melangkah. Mikho meraih lengan gadis itu membuatnya tersentak kaget. Pikirannya kembali ke tubuhnya, serta merta air matanya mengalir. Mikho sedih melihat perilaku Celine.
"Sayang aku mohon! Kembalilah seperti dulu, lupakan semua yang terjadi di gunung. Aku mohon Celine!" ungkap Mikho sambil menangkup wajah Celine.
Mata Mikho bahkan berkaca-kaca, tak sanggup menahan sedih atas perubahan sikap gadis yang dicintainya itu.
"Aku mencintaimu Celine, aku tidak melecehkanmu. Semua aku lakukan karena aku mencintaimu," ungkap Mikho dengan mata berkaca-kaca.
Sebuah ungkapan cinta yang harusnya membuat hati seorang gadis berbunga-bunga. Namun, tidak bagi Celine, gadis itu justru semakin bersedih. Celine tertunduk, Mikho justru mengangkat dagunya dan membenamkan bibirnya. Tiara menatap semua itu dengan tatapan mata yang nanar.
Marah, benci, kesal, melihat hati Mikho yang tak kunjung beralih dari Celine. Padahal sekarang gadis itu bukan siapa-siapa lagi. Hanya seorang gadis yang menjadi objek hinaan dari siswa-siswi yang menganggap wisata itu gagal akibat ulah Celine.
Mikho mencium Celine lama. Seakan-akan menunjukkan perasaannya yang mendalam pada gadis itu. Bukan karena nafsu atau hasrat liar tanpa perasaan. Berkali-kali melepaskan ciumannya lalu menyatakan cinta. Seolah-olah untuk meyakinkan Celine akan perasaannya, agar gadis itu tak ragu lagi akan cinta tulusnya.
"Maafkan aku," ungkap Celine pelan.
Mikho terkejut, setelah sekian lama tak mendengar suara gadis itu akhirnya Celine bicara. Mikho tersenyum lalu memeluk Celine dengan erat.
"Aku maafkan. Jangan khawatir sayang. Apa pun kesalahanmu aku maafkan," jawab Mikho bahagia.
Mendengar suara Celine, Mikho sangat bahagia. Laki-laki itu mengecup puncak rambut gadis itu lalu kembali memeluknya erat. Mikho ingin menyalurkan kehangatan cintanya sama seperti menyalurkan hangat tubuhnya pada Celine di gunung.
__ADS_1
Mikho yang memeluk Celine dengan memejamkan mata, tersenyum saat merasakan tangan gadis itu melingkar di punggungnya. Mikho bahagia sementara Tiara kesal dan sedih. Gadis itu berlari meninggalkan ruang rapat OSIS itu.
...~ Bersambung ~...