
Hari itu Erica diizinkan keluar dari rumah sakit. Setelah mengurus biaya rumah sakit, dengan di antar oleh Mikho hingga ke parkiran, Celine dan Erica melaju di jalan raya. Di tengah perjalanan, Erica meminta Celine untuk mengantarnya ke rumah tahanan. Gadis itu ingin bertemu dengan orang tua dan kakaknya. Erica sangat ingin tahu keadaan mereka.
Mendengar nama Yodi disebut tubuh gadis itu sontak gemetar. Rasa trauma dirasakan Celine setiap kali mendengar nama laki-laki itu. Celine ingin mengalahkan rasa takutnya pada laki-laki yang hampir menjadi tunangannya itu. Akhirnya bersedia mengantar Erica walaupun dadanya berdebar dengan kencang. Demi mengalahkan rasa takutnya pada Yodi, Celine mencoba untuk menghadapi laki-laki itu.
Erica menemui orang tuanya secara bergantian. Setelah menemui ibunya, kini giliran Erica menemui ayah dan kakaknya. Gadis itu menemui mereka selalu ditemani Celine. Erica menceritakan apa yang dilakukan Celine untuknya dan Yosi. Bu Wina menangis menyesali perbuatannya pada Celine dan keluarganya. Ibu itu meminta maaf dan berterima kasih pada gadis itu.
"Maafkan Mommy Celine, kami tahu kamu anak yang baik. Mommy sungguh senang kamu menjadi menantu kami. Terlepas dari apa yang dilakukan Daddy pada perusahaan. Tapi sungguh! Mommy menyesal, Yodi tak jadi menikah dengan gadis sebaik kamu," ucap Wina meluapkan penyesalannya.
"Semua sudah terjadi Mommy, mungkin bukan takdir kami untuk bisa bersama," jawab Celine yang juga menyesal.
Gadis itu merasa seperti seorang pengkhianat yang tega meninggalkan seseorang demi bahagia bersama dengan laki-laki lain. Namun, semua terjadi dengan begitu cepat. Celine juga tak mampu menolak laki-laki yang telah dicintainya selama belasan tahun itu. Celine juga meminta maaf pada Ny. Wina tentang kejadian yang tak terduga itu.
Setelah menemui Ny. Wina, Celine menemui Pak Cipto. Kesempatan itu digunakan Celine untuk saling memaafkan.
"Maafkan aku Dad, aku menyesal atas apa yang menimpa Daddy dan keluarga. Tapi ... kami tak bisa diam dengan apa yang Daddy lakukan pada perusahaan. Semua ini demi rasa adil yang harus tetap dipertahankan dalam perusahaan. Daddy terpaksa menjalani konsekuensi atas perbuatan Daddy sendiri," jelas Celine tanpa mengurangi rasa hormatnya pada mantan calon mertuanya itu.
Bapak itu mengangguk, bapak itu bahkan tak mampu menatap mata Celine. Setelah sekali berhasil menggelapkan uang perusahaan, Pak Cipto ketagihan hingga mencari jalan pintas untuk mengamankan kedudukannya. Dan putranya lah yang menjadi jalan menuju ketenangan hatinya setelah melakukan berbagai bentuk kecurangan-kecurangan di perusahaan.
"Kami sangat bersalah, menjadikan putra kami sebagai alat untuk menutupi kecurangan kami. Tapi Celine sebenarnya kami sungguh setuju jika kalian benar-benar bersama," ucap Cipto.
Meskipun niat awal mereka mendekati Celine adalah untuk tujuan tertentu tetapi seiring dengan berjalannya waktu mereka dapat merasakan kebaikan hati Celine. Hingga berharap gadis itu benar-benar bisa menjadi istri yang sesungguhnya bagi putra mereka.
"Maafkan aku Daddy, aku telah mencoba. Aku merasakan bahagia sesaat bersama Kak Yodi, tapi jauh di dalam hatiku telah tersimpan seseorang yang tak bisa aku singkirkan. Bertahan dengan Kak Yodi pun rasanya seperti menipu diri sendiri, juga menipu Kak Yodi. Aku tak akan bisa tulus mencintainya. Rumah tangga kami tak akan berjalan dengan baik," jelas Celine dengan air mata yang mengalir.
Celine tak tega membiarkan orang tua itu tahu apa yang dilakukan Yodi padanya. Mengucapkan kata-kata seperti itu sangat bertentangan dengan kata hatinya. Celine tak memiliki rasa hormat sedikit pun lagi terhadap Yodi. Hanya rasa benci setelah apa yang dilakukan laki-laki itu padanya.
Namun, kedua orang tua itu tidak tahu kelakuan anaknya terhadap Celine. Gadis itu pun tak ingin mematahkan harapan mereka terhadap putranya itu. Celine hanya bisa berharap suatu saat nanti Yodi akan sadar dan berubah menjadi orang yang lebih baik sebelum kedua orang tua itu tahu seperti apa putra mereka.
Satu persatu keluarga Erica dipertemukan dengan Celine. Mereka menunjukkan rasa penyesalan dan permohonan maaf. Secara pribadi, Celine pun memaafkan mereka. Hingga tiba saatnya Erica menemui kakaknya. Begitu Yodi muncul, Erica langsung memeluk kakaknya meninggalkan Celine yang duduk di kursi kunjungan itu. Celine hanya menatap lurus ke meja dihadapannya. Tak sanggup menatap laki-laki yang telah membuatnya hidupnya menjadi tak tenang.
"Wow surprise! Calon istriku juga datang?" tanya Yodi sambil duduk dihadapan Celine.
"Kak Yodi! Sadarlah, pertunangan Kakak udah batal. Mikho lah yang menjadi tunangan Celine sekarang," ucap Erica menjawab dengan polos ucapan kakaknya.
"Oh ya? Apa mereka sudah menikah?" tanya Yodi dengan matanya yang tak lepas menatap mantan calon istrinya itu.
"Belum! Tapi mereka akan segera menikah," jawab Erica.
__ADS_1
"Oh jadi belum rupanya? Mikho belum tahu apa-apa kalau begitu" ucap Yodi sambil menyeringai.
Celine langsung menoleh ke arah Yodi. Gadis itu merasa tak mengenal Yodi lagi. Yodi yang dihadapannya sekarang bukanlah Yodi yang dulu bersamanya. Yodi sepertinya tak ingin menutupi lagi seperti apa dirinya yang sebenarnya.
"Begitu rupanya cara memancing perhatianmu, cantik" ucap Yodi saat melihat tatapan mata Celine.
"Kak Yodi, jangan rayu dia lagi. Dia itu sudah calon istri orang sekarang," ucap Erica.
"Oh ya? Tapi yang pertama mendapatkannya adalah aku," ucap Yodi sambil tersenyum mengejek.
"Erica, aku tunggu di mobil saja," ucap Celine, hendak beranjak pergi.
"Ke mana sayang? Aku masih kangen sama kamu. Kita bisa ulangi masa-masa indah kita dulu. Sebentar saja, bagaimana?" tanya Yodi.
"Apa maksud Kakak?" tanya Erica.
"Dia tahu maksudku, pengalaman indah yang tak akan bisa dilupakannya," jawab Yodi sambil tertawa.
Celine tak kuat lagi, segera gadis itu melangkah ke mobilnya. Menangis di atas setir mobil itu. Berkali-kali memukul-mukul kemudi itu. Celine gagal, mengatasi rasa takutnya pada Yodi. Tubuhnya tetap gemetar saat mendengar suara laki-laki itu. Terlebih kata-kata yang diucapkan laki-laki itu membuat seluruh tubuhnya lemas kehilangan daya.
Kenapa? Aku masih takut padanya. Kenapa dia masih menguasaiku? Aku bukan miliknya lagi, aku milik Kak Mikho. Sejak awal hatiku milik Kak Mikho. Tidak! Tidak! Tubuh dan hatiku milik Kak Mikho. Tolong lepaskan aku, tolong lepaskan aku, jerit hati Celine.
Saat Mikho datang ke rumahnya, gadis itu kembali menyatakan keinginannya untuk segera menikah dengan laki-laki itu. Setelah berbincang sebentar dengan orang tua Celine, laki-laki itu diizinkan menemui Celine di kamarnya.
"Aku merindukanmu," ucap Celine.
Gadis itu langsung memeluk dan membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki tampan itu. Air matanya mengalir saat menikmati ciuman mesra itu. Ciuman Celine begitu menggebu. Membuat Mikho merasa aneh tetapi tetap ingin menikmati.
Mikho bahkan mendorong gadis itu hingga ke ranjang. Melanjutkan permainan lidah itu dengan semakin liar. Celine membiarkan laki-laki itu bermain di leher dan bahunya yang telah terbuka. Mikho heran tapi tak peduli. Tetap meneruskan permainan manis itu.
"Celine, aku tak tahan ingin segera menikahimu," bisik Mikho.
"Kita akan segera menikah. Aku akan sepenuhnya menjadi milik Kakak," jawab Celine.
Laki-laki itu tersenyum bahagia. Mendapat dukungan sepenuhnya dari Celine. Tak puas-puasnya Mikho menciumi leher dan dada Celine. Nafas gadis itu berderu kencang diiringi nafas Mikho yang semakin berpacu.
"Nggak! Nggak! Oh ya ampun, hampir saja," ucap Mikho sambil mundur berdiri di samping ranjang, menatap Celine yang terpaku menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
"Apa aku gadis murahan?" tanya Celine karena mereka akan terhanyut oleh hasrat mereka yang memuncak jika Mikho tak buru-buru sadar dan mundur menjauh.
Rasa frustasi Celine membuat gadis itu ingin menyerahkan dirinya dan pasrah pada kenyataan nanti. Mikho akan tetap bersamanya atau mencampakkannya. Celine menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis itu malu telah nekad menyerahkan diri. Namun, ditolak oleh Mikho.
"Jangan menangis sayang. Maafkan aku. Aku tak bermaksud menolakmu. Aku sangat menginginkanmu. Aku hanya tak ingin melakukannya sebelum kamu sah menjadi istriku," ucap Mikho sambil membenahi kancing blouse Celine yang telah terbuka.
Mikho memeluk gadis yang masih menangis itu. Merebahkan diri di samping gadis itu lalu menariknya ke dalam pelukannya. Mikho mengusap punggung Celine agar gadis itu menjadi tenang.
"Apa menurut Kakak, Tiara masih perawan?" bisik Celine bertanya. Mikho merasa aneh dengan ucapan Celine.
"Aku rasa Teon menghormatinya. Tiara juga pasti menjaga kesucian cinta mereka–"
"Aku ... aku lah yang tak bisa menjaga kesucian cintaku," ucap Celine terisak-isak.
"Tentu saja kita menjaganya. Buktinya malam ini kita masih bisa bertahan," ucap Mikho.
"Itu karena Kak Mikho menolakku. Kak Mikho lah yang menjaga kesucianku, sementara aku tidak," ucap Celine lalu menangis dalam pelukan Mikho.
Mikho tak mengerti apa yang diucapkan gadis itu. Laki-laki itu hanya ingin menghiburnya. Memeluknya dengan begitu hangat untuk menghilangkan kesedihannya.
Persiapan pernikahan Celine dan Mikho dilaksanakan dengan cepat, dalam waktu yang sangat singkat. Semua demi permintaan Celine. Gadis itu tak ingin lebih lama tersiksa dengan perasaan bersalahnya. Menutupi kejadian memalukan yang terjadi padanya.
Erica yang tinggal di rumah itu sejak pulang dari rumah sakit. Sedikit banyak membantu persiapan pesta pernikahan itu. Menemani Celine fitting gaun pengantin. Memilih dan menentukan pakaian pendamping, cindera mata dan sebagainya.
Mikho makin sering hadir di rumah Celine menjelang pernikahan mereka. Keinginannya untuk segera tinggal bersama sepertinya tak bisa ditahankan lagi. Kadang-kadang hanya bermain, kadang-kadang membantu, kadang-kadang mencumbu. Hari pernikahan mereka tinggal seminggu lagi. Mikho pun mendapat cuti untuk persiapan pernikahannya.
"Mikho ada surat untukmu, sebentar lagi kamu akan cuti menikah kan?" tanya seorang dokter.
"Ya, kalau begitu aku bawa semua surat-suratku ya?" tanya Mikho.
Dokter itu mengangguk, Mikho pun membawa semua surat-suratnya pulang ke rumah. Membaca satu persatu surat yang ditujukan untuknya sehingga sebuah surat yang menurutnya begitu aneh. Tanpa kop surat atau amplop resmi.
Awalnya Mikho tak yakin surat itu untuknya. Namun setelah membaca alamat yang dituju, Mikho yakin surat itu untuknya. laki-laki itu mulai membacanya dan terkejut.
~ Mikho, kamu begitu ingin memiliki apa yang telah menjadi milikku. Apa kamu begitu menginginkan barang bekas pakai itu? Apa Celine bisa melupakan apa yang pernah kami rasakan bersama? Kalau dia begitu berharga bagimu, ambilah! Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan ~
Mikho menatap nanar surat di tangannya itu. Dengan tangan yang gemetar dan dada bergemuruh. Mikho tak percaya Celine membohongi dirinya. Menginginkan pernikahan dengannya setelah apa yang dilakukannya bersama Yodi.
__ADS_1
...~~ Bersambung. ~...