Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 22 ~ Sadar ~


__ADS_3

Mikho bahagia diberi kesempatan menunggui Celine di ruang rawat inap itu. Begitu senangnya, dia mengisi waktu dengan bercerita. Meski hanya bercerita satu arah, meski tak mendapat respon apa pun, tetapi itu sudah membuatnya sangat bahagia dan berharap gadis itu bisa mendengarkannya.


Laki-laki itu bercerita tentang apa saja. Kadang cerita bahagia, kadang cerita sedih. Saat cerita bahagia dia tertawa, saat menceritakan kesedihannya dia akan menangis. Mikho berharap gadis itu segera bangun. Mikho ingin menumpahkan rasa rindunya pada Celine hingga tak tahan dan akhirnya mencium bibir Celine.


Tanpa disadarinya air mata Mikho menitik di kelopak mata Celine. Perlahan, sangat berat dan hanya itu yang bisa di gerakannya. Gadis itu akhirnya membuka kelopak matanya. Setelah puas mencium bibir gadis itu akhirnya Mikho melepaskan ciumannya. Lalu menatap wajah yang dirindukannya itu. Tanpa disadarinya Celine sedang  menatapnya dengan tatapan mata yang kosong.


Oh my … dia sudah bangun, batin Mikho.


"Celine, Cel … kamu sudah bangun?" Seperti seorang maling yang ketahuan mencuri ayam.


Mikho kelimpungan ketika kepergok sedang mencium bibir Celine. Begitu kaget saat menyadari mata Celine yang telah terbuka. Laki-laki itu kebingungan hingga akhirnya sadar untuk segera memanggil dokter. Selama perjalanan mencari seorang dokter laki-laki itu menyesali perbuatannya.


Apa Celine akan marah? Oh ya ampun, kenapa aku lakukan itu. Apa dia tahu? Apa dia benar-benar sadar? Apa dia merasakan ciumanku. Oh ya ampun, apa yang dipikirkannya? Aku laki-laki lancang yang berani menciumnya saat dia tidak sadar? Oh ya Tuhan, Celine berubah sejak turun dari gunung dan sekarang aku melakukannya lagi. Oh tidak! Tidak! Tidak! Jangan sampai Celine berpikir untuk bunuh diri lagi. Tidak! Aku sudah sangat takut kehilangannya. Aku sudah merasa sangat kehilangannya. Apa yang telah aku lakukan, lagi-lagi aku tidak bisa menahan diri, batin Mikho begitu menyesal.


Penyesalannya itu tak henti-henti meski dokter telah memeriksa dan menyatakan kondisi Celine sudah stabil. Saat dokter meninggalkan ruangan itu pun Mikho hanya bisa tertunduk diam tak berani menatap wajah Celine. Tiba-tiba dia teringat akan kekhawatirannya.


"Celine maafkan aku ya, aku tidak bermaksud … tolong jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi. Celine … aku menyesal," ucap Mikho.

__ADS_1


Celine hanya diam memandang laki-laki di hadapannya itu. Air matanya mengalir di samping matanya. Celine tak berkata apa-apa tapi melihat air mata itu, Mikho pun ikut menangis.


"Celine, aku mohon maafkan aku. Kenapa kamu menangis? Jangan pernah bunuh diri lagi ya … aku mohon. Oh … oh ya jika kamu sudah kuat, kamu boleh pukul aku sekuat tenagamu. Kalau kamu kesal padaku, pukul saja aku. Tidak apa-apa, asal … jangan sakiti dirimu. Jangan bunuh dirimu aku … tidak sanggup kehilanganmu Celine. Aku mencintaimu … aku sangat mencintaimu," ungkap Mikho dengan air mata yang mengalir deras.


Laki-laki itu bingung, mengungkapkan cintanya akan membuat Celine semakin membencinya, tak mengungkapkan, Celine tak akan tahu kalau dia sungguh-sungguh takut kehilangan. Laki-laki itu hanya mencoba memberi pengertian, kalau yang dia lakukan adalah murni karena perasaan cinta dan sayangnya pada Celine.


Laki-laki itu mengoceh sendiri panjang lebar agar Celine mengerti isi hatinya. Sementara Celine, hanya diam menatap kosong. Dengan ragu-ragu laki-laki itu menyentuh tangan Celine. Mikho sangat ingin menyalurkan perasaannya melalui kata-kata, sentuhan, pelukan dan ciuman. Namun, laki-laki itu belum mendapat izin dari Celine. Mikho sangat ingin gadis itu segera menjadi miliknya.


"Apa kamu tahu? Setiap kamu abaikan aku saat rapat atau di mana pun. Aku … selalu sedih seharian. Selalu bertanya-tanya, apa kesalahan aku sama kamu. Saat jalan-jalan, aku pikir kita bisa semakin akrab tapi justru … ah ya, selama kamu belum sadar, teman-teman sekelasmu datang. Ini, mereka bawakan hadiah. Bunga, buah, boneka, mainan, aku juga ingin tunjukkan sesuatu sama kamu," ucap Mikho sambil meraih ponselnya.


Celine menatap foto dirinya di tengah hamparan bunga edelweis. Bersanding dengan Mikho dengan jarak yang begitu dekat seperti bersentuhan. Kelopak mata Celine bergerak-gerak menatap foto yang terpampang di hadapannya itu. Mikho sengaja meminta foto yang telah di edit Teon.


"Kamu tidak suka? Tapi aku sangat suka. Lebih suka lagi jika ini sungguh-sungguh terjadi. Kita bisa berfoto bersama di tengah hamparan bunga edelweis. Bukan hanya sekedar editan. Kita naik gunung sama-sama. Jangan khawatir, kamu tak akan hilang, aku akan menggenggam tanganmu sepanjang perjalanan. Kalau kamu letih, aku akan gendong kamu. Kalau kamu kedinginan, aku akan … memeluk kamu. Celine … Segeralah pulih, aku ingin melihat Celine yang dulu. Celine yang tertawa begitu riang meski langsung diam saat melihatku–"


Terdengar suara Celine seperti tertawa tertahan. Mikho langsung berdiri menatap wajah gadis itu dari dekat. Ingin memastikan bahwa tawa itu sungguh-sungguh berasal dari mulut gadis itu.


"Celine, kamu ketawa? Ya baiklah. Segeralah pulih dan abaikan aku seperti dulu. Tidak apa, aku tidak takut. Aku akan berjuang lagi mendekatimu. Aku tidak akan menyerah mendapatkan hatimu. Celine … meski kamu membenciku tapi aku terlanjur suka sama kamu. Aku … aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu," ucap laki-laki itu lalu mengecup lama telapak tangan Celine.

__ADS_1


Perasaan Mikho tak bisa mundur lagi. Sejak kejadian di gunung, hati laki-laki itu telah tertanam untuk Celine. Setiap kali teringat apa yang dilakukannya di gunung. Mikho merasa bahagia dan dadanya terasa hangat. Memeluk dan mencium Celine waktu itu sungguh menjadi kenangan paling indah dalam hidupnya dan tak akan mungkin terlupakan olehnya.


Membayangkan kejadian itu sambil menatap langit-langit kamarnya, dia akan tersenyum. Meski tak lama setelah itu senyumnya menghilang. Teringat Celine yang memutuskan untuk bunuh diri. Mikho merasa apa yang dilakukannya juga termasuk alasan gadis itu ingin mengakhiri hidupnya.


Celine, aku tak bisa membahas hal itu sekarang. Jika kondisimu telah pulih, kita bicara kejadian di gunung itu. Aku tidak melecehkanmu, itu adalah luapan rasa cintaku yang tak bisa aku tahan. Maafkan aku, kamu boleh menghukum aku nanti, batin Mikho sambil menatap sendu ke wajah Celine.


Meski takut hukuman seperti apa yang akan diterimanya dari Celine, tetapi itu dipilih Mikho asalkan rasa kesal Celine padanya berakhir. Asalkan Celine tak memintanya untuk menjauh, asalkan Celine tak semakin membencinya. Mikho mau melakukan apa saja untuk mendapatkan maaf dari gadis yang dicintainya itu.


Tak lama kemudian orang tua Celine datang. Begitu mendengar ucapan dokter, Mikho langsung menghubungi ayah dan ibu Celine. Sedikit banyak menjelaskan tentang keadaan gadis itu. Begitu masuk ruang rawat inap itu, ayah Celine langsung memeluk Mikho. Menepuk punggung laki-laki tampan itu.


"Celine bahagia ada kamu menemaninya, dia segera sadar telah ditemani olehmu," ucap Yudhi.


"Ini berkat doa Om dan Tante," ucap Mikho yang dibalas anggukan oleh Yudhi.


Sementara Bu Dessery telah sibuk menciumi wajah putrinya. Bicara panjang lebar, menanyakan apa saja. Bahkan menyalahkan tindakan gadis itu untuk membunuh diri. Bu Dessery bahkan berkata akan membenci putrinya jika Celine mengambil langkah seperti itu lagi.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2