Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 44 ~ Bersedia atau Tidak ~


__ADS_3

Yodi dan orang tuanya beserta tukang pukul mereka pergi meninggalkan ruangan. Mikho dan Teon terduduk letih. Napas mereka tersengal-sengal lalu mereka saling pandang dan langsung tertawa.


"Stamina anak Sispala boleh juga," ucap Mikho.


"Hey jangan ragukan kehebatan anak Sispala. Kami ini cuma kekurangan modal, kalau ada anggaran, gunung Elbrus pun kami daki," jawab Teon menantang Mikho yang terkenal telah menaklukkan gunung di Rusia itu.


"Kenapa dulu tak pernah ajukan proposal?" tanya Mikho.


"Kami tahu dirilah, sekolah dapat modal dari mana memberangkatkan sekelompok anak sekolah ke luar negeri?" tanya Teon.


"Kita bisa cari sponsor–"


"Oh ya benar juga, tapi sudahlah dah lewat. Tak mungkin terulang lagi," jawab Teon.


Mereka pun tertawa bersama. Celine dan kedua orang tuanya serta Tiara datang mendekat. Celine langsung menatap khawatir pada luka di sudut bibir Mikho.


"Aku nggak apa-apa sayang."


"Hhueek, perutku mual."


Semua menoleh ke arah Teon. Laki-laki itu justru tertawa. Semuanya pun ikut tertawa. Mereka khawatir akan kondisi Teon setelah bertarung melawan para pengawal Yodi. Ternyata laki-laki itu hanya ingin menggoda Mikho yang berkata mesra pada Celine. Setelah puas tertawa, Teon menunjukkan rekaman video itu pada Mikho.


"Simpanlah, jika dia macam-macam lagi, gunakan itu untuk menuntut mereka. Lumayan, bisa diancam pasal pencemaran nama baik. Juga menyebarkan informasi tanpa izin," ucap Teon.


Mikho menerima kiriman video dari Teon. Laki-laki itu menonton sekilas rekaman video itu. Terdengar suara Tiara yang menghina Celine, gadis itu pun langsung tertunduk.


"Celine maafkan aku," ucap gadis itu tanpa berani menatap wajah Celine.


"Gue udah maafin Ra," ucap Celine meniru gaya bicara anak remaja.


Tiara tertawa, meski matanya berkaca-kaca. Yang lain pun ikut tertawa. Tiara memeluk Celine. Ucapan terima kasih saja sepertinya tak cukup untuk menunjukkan rasa penyesalannya. Celine mengusap punggung sahabatnya itu. Celine mengerti, Tiara telah lama menyukai Mikho. Hanya saja selama ini sahabatnya itu tak mau mengungkapkannya. Celine hanya bisa merasakan perhatian Tiara pada Mikho.


Mikho pun tak ingin ketinggalan. Laki-laki itu pun meminta maaf pada Teon. Atas kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka saat acara jamuan makan malam menyambut kepulangan Celine.


"Aku maafkan! Aku maafkan! Jangan khawatir," ucapnya sambil menepuk pundak Mikho. Tiba-tiba laki-laki itu meringis, mereka langsung heran.


"Kamu kenapa?" tanya Tiara cemas.


Celine langsung menenggelamkan wajahnya di dada Mikho. Gadis itu menunjuk tanpa melihat ke arah lengan Teon. Tiara bingung bercampur heran, segera dokter cantik itu memeriksa lengan laki-laki itu.

__ADS_1


"Kamu terluka, kenapa nggak bilang dari tadi," ucap Tiara panik.


"Aku nggak apa-apa," jawab Teon.


"Kalau lama-lama kamu bisa kering juga Teon," ucap Mikho yang masih memeluk Celine.


Bu Dessery menggelengkan kepala melihat kemanjaan putrinya pada Mikho. Ibu Dessery dan Pak Yudhi saling berpandangan lalu tersenyum. Tiara hanya tersenyum melihat tingkah Celine. Dokter cantik itu segera mencari kotak P3K.


"Kamu ini memang nggak cocok masuk IPA, apalagi jadi dokter. Liat darah saja langsung gemetar," ucap Tiara sambil menjahit luka di lengan Teon yang cukup panjang dan dalam. 


Laki-laki itu meringis menahan sakit saat Tiara menangani luka robek itu. Namun, bersyukur gadis itu melakukannya dengan lembut. Terkadang reflek mengusap atau meniup luka itu saat melihat Teon kesakitan. Setelah selesai membalut luka Teon dengan kain kasa, barulah Tiara menepuk punggung sahabatnya.


"Sudah selesai," ucap Tiara pada Celine.


Celine menoleh ke arah, Teon. Gadis itu penasaran ingin melihat tetapi tetap tak berani. Gadis itu hanya duduk di hadapan Teon untuk bertanya.


"Abang sudah nggak apa-apa?" tanya Celine. Teon mengangguk.


"Sudah nggak sakit lagi?" tanya Celine dan Teon kembali mengangguk.


"Benar-benar nggak sakit lagi?" tanya Celine.


"Iyaaa," jawab Teon sambil mengucek rambut gadis itu.


"Cel," ucap Tiara sambil memberi gel anti memar ke tangan Celine lalu mengangkat dagunya ke arah Mikho.


Gadis itu langsung mengerti kalau Tiara menyuruhnya mengolesi laki-laki tampan itu dengan gel untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat kesembuhan luka memar. Celine sebenarnya agak grogi. Gadis itu harus begitu dekat dengan Mikho di depan semua orang termasuk orang tuanya.


"Aku oleskan ya? Kalau sakit bilang," ucap Celine yang dibalas dengan anggukan oleh Mikho.


Teon dan Tiara tersenyum melihat Celine yang canggung mengobati luka memar di wajah Mikho.  Celine mengoleskan dengan sangat lembut, begitu hati-hati dan sangat menjiwai. Jika laki-laki itu meringis sedikit, Celine reflek meniupnya.


Mikho tersenyum menatap wajah yang begitu dekat itu. Menatap bibir yang kadang-kadang menganga karena begitu menjiwai. Tak tahan melihat bibir manis itu Mikho langsung membenamkan bibirnya ke bibir di hadapannya itu. Menyesapnya begitu dalam. Lidahnya menari-nari di dalam rongga mulut gadis cantik itu.


Mikho semakin tak bisa mengendalikan diri. Begitu merindukan hangatnya rongga mulut gadis itu. Mikho terhanyut dalam manisnya bibir itu setelah sekian lama terpisah.


"Sepertinya dia sedang mengkhayal," ucap Teon sambil tertawa.


Sontak mengagetkan Mikho, laki-laki itu langsung menoleh. Tawa Teon membuyarkan khayalannya. Celine tersenyum malu, begitu malu hingga menggigit bibirnya. Mikho mendadak gerah, langsung mengipas-ngipas dengan menarik-narik kancing teratas kemejanya. Teon dan Tiara tertawa. Ayah dan ibu Celine datang mendekati mereka.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Hidangannya begitu banyak. Siapa yang bisa menghabiskan semua ini?" tanya Dessery bingung melihat ke sekeliling.


Mikho dan yang lainnya serentak ikut melihat ke sekeliling ballroom hotel yang luas itu. Hidangan penuh di setiap meja. Mereka pun tak menemukan solusi untuk masalah itu.


"Sebaiknya kita cari menantu anak IPS yang lain Ma, yang mengerti manajemen bisnis, yang bisa menggantikan posisi Papa nanti di perusahaan," ucap Yudhi.


"Ya juga ya Pa, Celine tak mengerti bisnis, meski jurusannya juga IPS," sahut Dessery.


"Jurusan untuk anak IPS itu bukan hanya Manajemen Bisnis Ma, banyak juga yang lain," jawab Yudhi.


"Apa kita panggil Yodi lagi Pak, yang mengerti bisnis–"


"Aku mau Om, Tante,  ambil kuliah manajemen bisnis. Anggap saja aku ini dokter yang juga berbisnis," jawab Mikho langsung.


"Ah mana mungkin bisa, jurusan mu jauh berbeda. Mana ada dokter yang sukses berbisnis?" ucap Yudhi.


Mikho tertunduk, Celine pun ikut tertunduk. Kedua orang tua Celine itu pun tertawa.


"Apa acaranya dibatalkan Pak?" tanya seseorang yang muncul dari luar ruangan.


Sekelompok orang datang ke ballroom pesta pertunangan itu. Mereka adalah para tamu yang tadi datang dan keluar saat terjadi perkelahian. Mereka adalah karyawan dari perusahaan Pak Yudhi.


"Acara akan dilanjutkan, jika berkenan silahkan duduk dan silahkan nikmati hidangannya," ucap Dessery.


Membuat Celine membelalakkan matanya. Mikho tercenung. Merasa bingung dengan ucapan Bu Dessery.


"Sayang makanan yang sudah dipesan, kita lanjutkan saja acara pertunangannya. Bagaimana Mikho?" tanya Dessery.


"Oh ya, tapi … siapa … bagaimana–"


"Kamu ini bicara apa sih? Kok nggak jelas. Kamu mau nggak lanjutkan pertunangan ini?" tanya Dessery.


"Apa?" tanya Mikho bingung dan langsung menoleh ke arah Celine.


"Nggak mau bertunangan dengan Celine ya?" tanya Teon.


"Kamu gila bertanya itu, tentu saja aku mau," ucap Mikho dengan berbisik.


"Kalau begitu katakan ya pada Tante," ucap Teon.

__ADS_1


Mikho menatap Bu Dessery lalu menoleh ke arah Celine. Gadis itu menatapnya penuh tanda tanya. Mikho menatap gadis itu seakan tak percaya mendapat kesempatan itu. Tetapi Celine berpikir lain, laki-laki itu terlihat bingung, seperti ragu untuk bertunangan dengannya.


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2