Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
Bab 7 ~ Kenangan ~


__ADS_3

Mikho terpaku menatap Celine dan anggota sispala lain yang mulai melanjutkan perjalanan mereka. Terlihat Celine yang begitu semangat dan gembira berjalan bersama anak-anak sispala sambil berbincang dan tertawa tapi sesungguhnya gadis itu merasa tak enak perasaan. 


Melihat kekhawatiran Mikho hingga tingkah laki-laki itu yang tiba-tiba memeluknya. Hati Celine menjadi tak tenang. Namun, telah terlanjur, gadis itu tak bisa mundur lagi hanya karena sikap Mikho yang terasa aneh baginya. Celine segera menepis dugaan kalau Mikho menyukainya.


Benarkah dia menyukaiku? Kalau iya pun sampai kapan? Sampai dia tahu kalau aku adalah cewek yang dihinanya saat masih kelas enam SD. Setelah itu dia akan kembali menghinaku, membuat hari-hariku penuh penderitaan seperti dulu. Karena dia tidak mengenaliku makanya dia baik padaku kalau sudah ingat dia akan berubah. Tapi kenapa bisa tak ingat? Hmm, mungkin karena dia benar-benar membenciku, lagi pula aku bisa ingat dengannya tentu karena sakit hatiku. Dia yang tak peduli dengan ucapannya tentu dengan mudah melupakanku, batin Celine.


Gadis itu memutuskan melupakan Mikho, sementara dia ingin menikmati perjalanannya mendaki gunung itu. Anak-anak sispala yang memang telah banyak dikenalnya, bersikap baik padanya. Dengan sabar mereka menunggu jika Celine merasa kelelahan. Mereka yang telah terbiasa mendaki seperti berjalan dengan santai tanpa terlihat letih.


Mereka seperti pengawal Celine, dengan sabar menunggu sang putri mampu melanjutkan pendakian. Kadang Celine merasa tak enak hati tapi mereka. Namun, mereka membesarkan hati Celine dan terus memberi semangat.


Tanpa terasa perjalanan selama empat belas jam itu berakhir. Berangkat jam tujuh pagi setelah sarapan, mereka akhirnya bisa sampai di puncak jam sembilan malam. Segera anak-anak sispala itu mendirikan tenda untuk melindungi diri dari angin malam. Celine memandang pemandangan dari atas puncak gunung itu dengan perasaan kagum.


Namun, entah mengapa, memandang pemandangan alam yang indah itu Celine justru teringat Mikho. Rasa bangga Celine yang mampu mencapai ke atas seolah-olah membuat gadis itu merindukan Mikho. Padahal hanya ingin berbangga pada laki-laki itu.


Coba dia ikut, dia akan tahu kalau aku sanggup mencapai puncak ini. Terlalu menganggap remeh aku sih, jadinya khawatir berlebihan, batin Celine tersenyum.


Sesaat kemudian gadis itu tertegun mengingat rasa khawatir Mikho yang terasa berlebihan menurutnya. Tak bisa dipungkiri rasa khawatir Mikho membuat hatinya tergugah, tapi mengingat sifat laki-laki itu yang memang memiliki jiwa sosial tinggi, Celine kembali merasa apa yang dilakukan Mikho adalah hal yang wajar.


Malam itu Celine bahagia, mengambil foto-foto pemandangan alam dari ketinggian itu. Usaha Celine terasa tak sia-sia setelah berjalan empat belas jam dengan melewati empat pos perijinan itu. Semua bisa terbayarkan lunas dengan pemandangan indah di belakangnya itu.


Berbeda dengan Celine yang merasa bahagia, Mikho masih saja merasa risau. Hal itu terlihat jelas oleh Tiara. Setelah makan malam dan acara kumpul bersama. Tiara menemui laki-laki yang hanya duduk termenung itu. Tiara tahu laki-laki itu merasa tak tenang.


"Masih khawatir?" tanya Tiara mengusik kesendirian Mikho.


"Oh, tidak! Siapa yang khawatir?" tanya Mikho balik.


"Kamu khawatir sama Celine atau sama anggota sispala itu?" tanya Tiara tak peduli dengan jawaban Mikho tadi.


Laki-laki itu terdiam, meski mengaku tak khawatir tapi jelas Tiara tak mempercayainya. Ditanya seperti itu Mikho agak bingung memilih.

__ADS_1


"Khawatir Celine dan anak anak-anak sispala itu ya 'kan?" tanya Tiara yang akhirnya menjawab sendiri pertanyaannya.


Tiara tersenyum menatap laki-laki tampan di sampingnya itu. "Khawatir pada Celine karena takut dia tidak akan mampu mencapai puncak dan khawatir anak sispala kalau-kalau mereka berniat buruk pada Celine," ungkap Tiara akhirnya.


Mikho menoleh ke arah Tiara karena apa yang ditakutkannya tertebak oleh gadis itu.


"Aku bantu jawab ya? Mudah-mudahan sedikit mengurangi rasa khawatirmu. Sebenarnya aku juga khawatir tapi karena aku mengetahui sedikit banyak tentang mereka aku … tak sekhawatir kamu," ungkap Tiara sambil tersenyum menoleh ke arah Mikho.


Laki-laki itu juga sedang menatapnya. Tak sabar ingin mendengar jawaban Tiara. Dia juga ingin mendapat jawaban yang bisa membuat hatinya tenang.


"Celine itu sahabatku sejak dari SMP, aku sudah mengenal karakternya. Meski orangnya manis dan lugu dia orang yang keras hati. Apa menurut kita tak akan bisa dilakukannya, dia bisa berhasil melakukannya asalkan dia punya tekad," jelas Tiara.


"Begitu?" tanya Mikho seperti kurang percaya.


Laki-laki itu menunduk. "Sifatnya sangat jelek, keras hati? Apa bagusnya itu?" tanya Mikho seperti bergumam pada dirinya sendiri.


Tapi kamu tetap suka padanya 'kan? 


Mikho tak menjawab karena belum pernah meragukan siapa pun. Laki-laki itu justru hanya berpikir dalam hati.


Kalau orang lain aku tak akan peduli, tapi ini Celine. Dia … sangat manis. Bicara dengannya, pikiranku sering melayang tak terkendali, bagaimana dengan cowok-cowok sispala itu? Apa mereka sanggup menahan diri melihat gadis cantik itu ada di sisi mereka sepanjang hari, batin Mikho.


"Kamu menyukainya 'kan?" tanya Tiara.


Pertanyaan yang membuat Mikho sangat kaget. Jika ditanya seperti itu tentu Mikho tak memiliki jawabannya karena meski merasa suka tapi dia sendiri belum begitu yakin.


"Aku tidak tahu, dia … belakang ini … mengusik pikiranku. Mungkin karena sikapnya dan keputusannya yang nekat demi menentangku. Aku hanya merasa takut terjadi sesuatu padanya justru karena aku," jawab Mikho ragu-ragu.


"Kenapa kamu tidak yakin menyukainya?" tanya Tiara.

__ADS_1


Mikho menoleh kaget pada Tiara, gadis itu seperti tahu saja apa yang dirasakannya.


"Aku … sudah … punya seseorang di hatiku. Dia … cinta pertamaku. Aku tidak yakin siapa pun bisa menggeser kedudukannya di hatiku tapi … mengenal Celine. Membuat aku … bisa sedikit melupakan cinta pertamaku itu," jawab Mikho.


Rupanya ini sebabnya dia tak pernah terlihat pacaran dengan gadis mana pun. Dia telah punya seseorang di hatinya. Pantas saja jika dia bersikap biasa pada gadis-gadis di sekolah kami, ternyata sudah ada yang mengisi hatinya, batin Tiara.


"Kenapa dengan cinta pertamamu? Apa kalian putus cinta?" tanya Tiara penasaran.


"Bukan! Justru kami tak pernah jadian. Dia gadis dari masa laluku. Aku baru menyadari kalau aku menyukainya setelah kami berpisah," ungkap Mikho.


"Oh, sampai sekarang kalian tidak pernah bertemu lagi?" tanya Tiara.


Mikho menggelengkan kepalanya. "Itu yang aku sesali, kenapa perasaanku muncul dengan yakin setelah dia tak bisa aku temui lagi," jelas Mikho.


"Kenapa tak menemuinya?" tanya Tiara.


"Karena kami berpisah dan aku tak tahu kemana harus mencarinya. Perasaanku masih terikat kuat padanya. Padahal itu timbul sudah sangat lama, aku saja bahkan tak ingat lagi wajahnya–"


"Apa? Kamu … mencintai seseorang yang bahkan kamu sendiri telah lupa wajahnya? Lalu … apa yang membuat kamu bertahan tetap mencintainya?" tanya Tiara terkejut.


"Kenangan kami! Kami memiliki kenangan buruk namun berubah menjadi indah saat kami telah berpisah," ungkap Mikho lagi.


"Kenangan buruk yang berubah menjadi kenangan indah?" tanya Tiara tak paham.


Mikho mengangguk. Hening. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mikho yang kembali mengenang masa indahnya dan Tiara yang mencoba menelaah apa yang diceritakan laki-laki tampan itu.


Keesokan harinya semua berjalan seperti biasa. Mikho dan peserta di pesanggrahan melakukan kegiatan sesuai jadwal. Dua malam telah berlalu, Mikho getar getir menunggu, karena malam ini harusnya Celine akan kembali. Saat semua orang bergembira, Mikho justru termenung.


"Mik! Tolong kami! Celine hilang."

__ADS_1


Tiba-tiba datang dan mengagetkan seluruh peserta wisata di pesanggrahan itu. Malam keempat itu Mikho melihat beberapa anak sispala yang telah kembali dan langsung terkapar di tengah acara mereka dan Celine tak terlihat di antara mereka.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2