Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 89 ~ Berkunjung ~


__ADS_3

Mikho memiliki firasat kalau Devan menyukai  Celine. Hal itu dinyatakannya langsung pada Celine bahkan menyatakan kalau dirinya tak menyukai laki-laki dari masa kecil Celine itu. Celine tak setuju suaminya bersikap seperti itu pada Devan karena bagaimanapun juga Devan telah berjasa mereka.


Membantu membawa Mikho saat pingsan ke klinik. Bahkan menemani Celine menunggui suaminya itu hingga larut malam. Mendengar itu Mikho tercenung, tak menyangka kalau laki-laki yang tak disukainya itu justru pernah berjasa padanya. Celine tersenyum melihat suaminya yang tiba-tiba murung. Wanita itu menggoda suaminya dengan mengecup pipi Mikho dan langsung berlari ke dalam rumahnya.


Mikho terkejut dan langsung mengejar wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Menghempaskan wanita cantik itu di sofa lalu, menatapnya.


"Aku mencintaimu," bisik Mikho.


"Aku nggak seperti itu," jawab Celine


"Apa?" tanya Mikho kaget.


"Aku sangat sangat sangat mencintaimu," ucap Celine.


"Ya ampun! Itu sama aja,"


"Sama apa? Ucapanku lebih panjang," jawab Celine terlihat kesal tetapi menahan senyumnya.


Mikho tak bisa berkata-kata lagi. Memilih menggelitik tubuh wanita itu. Celine menggeliat kegelian. Celine memohon agar Mikho berhenti menggelitiknya.


"Ada syaratnya," ucap Mikho.


"Apa itu?" tanya Celine.


"Melakukan sore pertama–"


"Apa?" tanya Celine kaget.


Mikho tertawa lalu membenamkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu. Mereka mengikuti saran Erica, menjadikan kesempatan berduaan itu sebagai bulan madu mereka yang tertunda. Mengisi hari itu dengan canda dan tawa.


Sementara itu Erica mengantar Devan ke rumahnya. Di sebuah rumah sederhana, mobil yang membawa mereka berhenti. Devan menawarkan Erica untuk mampir. Gadis itu merasa ragu. Menoleh ke arah rumah sederhana itu. Terlihat seorang bapak yang duduk di sebuah lesehan di teras rumah. Seorang Ibu duduk bersandar di sampingnya.


Bertolak belakang dengan kehidupan kami. Memiliki segala-segalanya tapi tak bertegur sapa. Masing-masing larut dalam kesibukan masing-masing. Merasa bahagia dengan jika mencapai ambisi masing-masing. Meski harus mencapai semua itu dengan cara yang tidak benar, batin Erica.


"Erica, ayo turun," ajak Devan.

__ADS_1


"Aku nggak berani mereka. Daddy membuat hidup mereka menderita," ucap Erica menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kamu melihat mereka menderita?" tanya Devan.


Erica justru menangis. Gadis itu teringat kembali saat mereka sekeluarga harus kehilangan segala-segalanya. Semua harta disita untuk membayar kecurangan yang dilakukannya ayahnya. Kini dirinya justru menumpang hidup pada orang yang dikhianati keluarganya.


Erica merasa tak sanggup bertemu lagi dengan orang yang dikhianati oleh ayahnya. Difitnah dan dipaksa mengundurkan diri tanpa pesangon. Jika dia punya kuasa, Erica ingin memberikan hak yang semestinya diterima oleh ayah Devan.


"Mereka pasti benci padaku," jawab Erica tak sanggup menahan isak tangisnya.


Celine benar, Erica telah berubah. Jika dulu dia lebih suka membenci. Mencari kejelekan orang lain. Kini justru lebih suka mencari kesalahannya dirinya sendiri, batin Devan.


"Dari mana kamu tahu kalau mereka membencimu? Apa menurutmu mereka adalah orang-orang pendendam?" tanya Devan.


"Tapi?" tanya Erica.


"Kamu yakin mereka akan membencimu? Kita tidak tahu kalau belum mencoba. Kamu bisa kehilangan kesempatan untuk mencari tahu apa mereka menaruh dendam pada keluargamu atau tidak, kalau kamu tidak mau mencoba," ucap Devan sambil tersenyum.


Senyum Devan seperti menguatkan hatinya. Gadis itu akhirnya turun untuk berkenalan dengan ayah dan ibu Devan. Mereka sangat terkejut mengetahui Erica adalah putri dari Pak Cipto. Orang yang pernah bekerja sekantor dengannya.


"Kami sudah melupakan itu. Kami sudah terima ini sebagai takdir kami. Lalu bagaimana dengan Pak Cipto dan keluarga, apakah baik-baik saja, mereka sehat-sehat kan?" tanya Rahman.


Erica menceritakan semua yang dia tahu tentang ayahnya dan yang lainnya. Kedua orang tua Devan kaget mendengar kabar itu. Tak menyangka jika Pak Cipto bisa melakukan kecurangan sejauh itu.


Erica menangis, kembali meminta maaf atas kesalahan ayahnya. Gadis itu merasa hukuman yang diterima keluarganya adalah karena mereka yang tak mau mengakui kesalahan dan tak mau meminta maaf.


"Kami sudah memaafkan Nak. Jangan menangis lagi. Nanti kami bisa digerebek warga karena bikin anak gadis orang menangis," kelakar pak Rahman.


"Kalau digerebek warga kita serahkan mereka saja Pa, biar dipaksa menikah–"


"Lho kok?" Protes Devan.


"Daripada jadi bujang kapuk?"


"Lapuk," ucap Rahman memperbaiki ucapan istrinya. Mereka tertawa, mendengar kelakar ayah dan ibu Devan.

__ADS_1


"Warga di sini cepat menikah. Kalau seumur Devan ini sudah pada menikah dan minimal punya anak dua. Sementara dia masih saja ingin membujang. Ada keluarga yang ingin meminta Devan menjadi menantunya tapi ditolak. Ada juga teman sesama guru suka padanya. Tapi tak digubris. Katanya nggak ada perasaan apa-apa. Mama jadi bingung ya Nak Erica. Lihatlah kami berdua ini tak ada kesibukan mengurus cucu seperti orang-orang tua lainnya. Mereka begitu bangga mengatakan. Sibuk momong  cucu. Lah kita jangan kan cucu, menantu pun belum ada," jelas Fitri.


"Kok malah curhat sih Ma?" tanya Devan.


"Ya, biar kamu malu sama Erica agar berusaha serius untuk mencari calon istri," jelas Fitri.


"Kalau menurut Papa, Devan sudah usaha Ma. Ini sudah dikenalkan," ucap Rahman.


Erica kaget langsung melambaikan kedua tangannya, mengelak. Tak ingin mereka salah sangka. Erica langsung mengelak sambil malu-malu.


"Yah kasihan kamu Nak. Kamu ditolak Erica–"


"Bukan! Bukan begitu Ma, aku tidak menolak tapi–"


Kedua orang tua itu mengangkat alis mata mereka menandakan. Mereka heran dengan perkataan Erica yang tidak menolak. Mereka langsung menggoda Erica.


"Kalau tidak menolak berarti menerima," ucap Rahman.


"Bukan begitu Pa," ucap Erica yang sudah terbiasa memanggil kedua itu seperti Devan memanggil.


"Ya, kami sadar Erica. Kami ini cuma keluarga sederhana cenderung miskin. Gadis cantik sepertimu pasti memilih yang jauh lebih baik segala-galanya daripada Devan," ucap Fritri.


"Bukan begitu Ma. Aku juga miskin. Aku juga tak punya apa-apa. Keluargaku memalukan–"


"Jangan berkata seperti itu Erica. Ayahmu melakukan segalanya untuk membahagiakan kamu dan yang lainnya," ucap Rahman.


"Tapi kalau masalah hati itu memang beda Pa. Nggak bisa dipaksakan. Erica tak tertarik pada putra kita," ucap Fitri.


"Nggak Ma, bukan begitu. Aku menyukai Devan sejak kecil. Sejak pertama kali aku melihatnya–"


"Kalau sekarang?" tanya Fritri.


"Masih Ma," ucap Erica pelan.


Kedua orang tua itu tersenyum lalu mengangkat dagu mereka pada Devan. Menantang Devan untuk berani bicara pada Erica. Entah itu menolak atau menerima.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2