
Bu Dessery yang baru datang bersama dengan Bu Fitri, menatap haru kedua pasangan itu sambil mendekap dada. Tubuh gemetar dengan nafas yang tersengal-sengal itu lalu mendekati Erica yang masih menempel di tubuh Devan. Melihat itu Erica perlahan bangkit dengan wajah yang tertunduk. Bagaimana tidak? Bu Dessery menatapnya dengan sangat tajam.
Perlahan ketiga yang lain pun ikut berdiri. Bu Dessery masih diam menatap ke arah Erica dengan tatapan yang tak berkurang tajamnya. Tiba-tiba, wanita paruh baya itu langsung mencubit pipi Erica dengan begitu kencang. Semua yang melihat kejadian itu sampai tercengang.
"Bukannya dulu Tante pernah bertanya padamu bagaimana sedihnya saat orang yang kamu sayangi memilih mengakhiri hidupnya daripada bersandar padamu. Apa jawabanmu waktu itu?" tanya Dessery dengan tatapan mata yang tajam.
"Sedih, seperti orang yang tidak berguna …."
"Kamu lihat orang-orang disekelilingmu ini. Apa kamu ingin semua orang merasakan itu?"
"Tante …." ucap Erica dengan air mata yang tiba-tiba mengalir tetapi sanggup untuk menatap mata teduh di hadapannya itu.
"Kamu sudah cukup lama hidup bersama kami. Tak cukupkah perhatian dan kasih sayang kami berikan untukmu? Hingga begini cara kamu membalas semuanya? Dengan membuat kami menyesal dan merasa tidak berguna?" tanya Dessery dengan intonasi yang mulai melunak.
"Bukan begitu Tante …." Erica tiba-tiba melangkah cepat menubruk wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu.
Sekuat tenaga memeluk wanita dan menangis sesenggukan. Teringat kembali bagaimana perhatian wanita paruh baya itu saat menerima tinggal di rumah keluarga itu. Merawatnya saat masa pemulihan setelah mengalami kecelakaan. Bu Dessery membalas pelukan itu sambil membelai rambut Erica.
"Kamu tau persis apa yang Tante rasakan pada Celine. Sekarang kamu ingin Tante merasakannya lagi dari kamu?" tanya Dessery.
"Maafkan aku Tante. Aku nggak bermaksud seperti itu. Aku nggak ingin Tante merasa sedih karena aku. Aku juga tidak bermaksud mengulang kesedihan masa lalu Tante, tapi …."
"Apapun masalahmu. Kamu harus yakin ada orang-orang disekelilingmu yang akan merasakan kehilangan yang pahit pergi dengan cara seperti itu. Apa kamu tega membiarkan kami merasa tak berguna sepanjang sisa hidup kami?" tanya Dessery sambil menangkup wajah Erica.
"Nggak Tante, maafkan aku," jawab Erica dengan air mata yang bercucuran.
Celine tertunduk mendengar percakapan itu. Seolah-olah pembicaraan itu juga ditujukan untuknya. Celine merasa bersalah atas kesedihan yang pernah diberikan pada ibu yang telah melahirkannya. Rasa putus asa membuatnya tak memikirkan perasaan ibunya. Wanita itu menunduk dengan mata yang berkaca-kaca mengenang masa lalu saat Bu Dessery memanggilnya.
"Celine sayang, kemarilah!" pinta Dessery.
"Mama … maafin Celine," ucap Celine menatap ibunya dengan air mata yang akhirnya mengalir di pipinya.
__ADS_1
Baru kali ini Celine merasakan panik dan sedihnya saat seseorang yang disayangi lebih memilih mengakhiri hidup. Rasa marah, kecewa, kesal dan ketakutan yang sangat dirasakannya saat membayangkan Erica tak sempat diselamatkan. Kini permintaan maaf Celine selama ini terasa tak cukup untuk membayar kesedihan ibunya.
Wanita segera berlari memeluk ibunya lalu menangis dalam pelukan ibu yang penyayang itu. Bu Dessery merentangkan sebelah tangan untuk menyambut sang putri tersayang. Memeluk kedua wanita muda yang pernah merasakan frustasi yang mendalam itu dalam dekapan kasih sayangnya.
"Apa Mama pantas merasakan kehilangan kalian?" tanya Dessery sambil membelai rambut Celine dan Erica bersamaan.
Keduanya menggeleng. Mempererat pelukan mereka. Semua yang melihat kejadian itu terharu. Bu Fitri bersandar pada putranya. Pak menepuk lembut pundak menantunya. Mikho membalas dengan senyuman.
"Mama, Celine, Erica, ayo kita kembali ke ruang Pak Rahman. Kasian, beliau pasti cemas saat ini," ajak Yudhi pada istri, putrinya dan Erica yang masih berpeluang sambil menangis.
Teringat itu mereka segera melepaskan pelukan dan menghapus air mata masing-masing. Mikho segera memeluk istrinya. Sementara Bu Fitri merangkul Erica. Mereka pun bergegas kembali ke ruang perawatan Pak Rahman.
Mereka lega karena melihat dr. Tiara dan Theon yang ternyata berada di ruangan Pak Rahman. Keduanya membesarkan hati Pak Rahman bahwa tak akan terjadi hal-hal yang buruk. Meski tak yakin, Pak Rahman hanya bisa mengangguk pasrah menunggu kedatangan semuanya.
Saat melihat Erica, Pak Rahman, dr. Tiara dan Theon pun tersenyum lega. Dokter itu pun menyambut kedatangan semuanya. Bergantian memeluk Bu Dessery, Bu Fitri dan terakhir teman-temannya.
"Syukur semua baik-baik saja. Tadinya aku ingin menuntut karena telah mengabaikan pasien seorang diri," ucap Tiara sok serius.
"Aku cuma bercanda Bu," sahut Tiara sambil tersenyum.
Semua pun tertawa. Dokter wanita itu hanya ingin menghangatkan suasana yang terasa masih tegang. Wanita itu bahkan masih merasakan tubuh Erica yang gemetar. Hatinya telah lega tapi rasa bersalah atas perbuatannya masih membuatnya sulit tersenyum.
"Aku tidak tahu kisah dramatis apa yang terjadi di rooftop sana. Apa ada kejadian bujuk membujuk agar turun dari pagar pembatas?" tanya Tiara sambil tersenyum.
"Bukan berdiri di pagar pembatas lagi tapi sudah jatuh …."
"Apa?"
"Beruntung Devan masih sempat menangkap tangannya dan pertahankan Erica," jelas Mikho.
Dr. Tiara menutup mulut dengan kedua tangannya. Tak menyangka sudah sampai sejauh itu. Segera mengalihkan pandangan pada Erica yang tertunduk.
__ADS_1
"Kamu benar-benar serius ingin bunuh diri?" tanya Tiara.
Erica mengangkat wajahnya dan air matanya pun mengalir. Melihat itu dr. Tiara kembali memeluk Erica. Meski awalnya tak begitu menyukai Erica tapi mengetahui berat beban perasaan gadis itu, dr. Tiara merasa iba juga. Merasakan hati gadis itu yang sangat tertekan.
"Tapi sudahlah, beruntung Erica berhasil diselamatkan," ucap Theon ingin menyudahi suasana sedih itu.
"Kamu beruntung tapi kamu berhutang nyawa pada orang yang menyelamatkanmu," ucap Tiara lalu merenggangkan pelukannya.
"Ya beruntung, yang menyelamatkan nyawanya justru cinta pertamanya," sambung Celine.
"Oh ya beruntung sekali. Kamu harus habiskan sisa hidupmu yang diselamatkannya itu untuk menyenangkan hatinya," ucap Tiara lalu tertawa.
Semua mata langsung tertuju pada Devan. Laki-laki itu sontak terlihat kikuk lalu menunduk. Mereka yang melihatnya pun langsung tertawa. Tak terkecuali Celine yang langsung menambahkan ucapan dr. Tiara.
"Tenang dokter cantik, Erica pasti bersedia menyenangkan hati pahlawannya, tergantung pahlawannya ini, apa bersedia?" tanya Celine yang langsung disahut oleh Bu Fitri.
"Kalau Mama setuju-setuju aja, ya kan Pa?" tanya Fitri pada suaminya dan dibalas anggukan oleh Pak Rahman.
Entah apa yang ada dalam pikiran Devan. Tiba-tiba berlari meninggalkan ruangan itu. Celine langsung merasa bersalah dan ingin mengejar. Mikho menahan tangan istrinya lalu melangkah tergesa keluar dari ruangan. Dokter tampan itu sejak tadi memang ingin bicara empat mata dengan sahabat istrinya itu.
"Devan! Tunggu!"
Devan menghentikan langkahnya. dr. Mikho langsung berhenti di hadapan laki-laki itu. Sementara Devan langsung memalingkan wajahnya.
"Celine merasa bersalah atas ucapannya. Harusnya dia tidak memaksa seperti itu di depan orang banyak. Aku minta maaf karena Celine berusaha menjodohkanmu dengan Erica."
"Aku mencintai Celine. Aku cinta istrimu."
Dan Mikho pun terpaku mendengar ucapan Devan yang begitu terus terang.
☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️
__ADS_1