
Mikho terbangun menjelang subuh. Begitu terbangun, matanya tak bisa dipejamkan lagi. Mikho akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota setelah merasakan kondisi tubuhnya sudah membaik. Laki-laki itu tadinya ingin berpamitan dengan Lola. Namun, melihat perawat itu yang tidur begitu lelap dan terlihat lelah, Mikho urung untuk membangunkannya.
Mikho melangkah menuju mobilnya. Setelah yakin menutup dan mengunci pintu klinik. Lalu menyelipkan kunci itu di bawah pintu. Mikho tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada perawat yang tinggal sendirian di klinik itu.
Maaf Lola, aku harus pergi sekarang. Tak ada gunanya lagi aku disini. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Aku akan mencarikan dokter lain yang mau menggantikan aku praktek di klinik ini. Terima kasih untuk pengabdianmu selama ini dan untuk segala-segalanya, bisik Mikho dalam hati.
Sekian lama menatap pintu klinik yang telah di kuncinya itu. Lalu perlahan meninggalkan klinik dan melaju bersama mobilnya. Di sepanjang perjalanan mengingat kembali masa awal laki-laki itu memilih membuka klinik di sana.
Semua itu karena Mikho sering berkunjung ke area perkemahan yang penuh kenangan bersama Celine itu. Mikho bahkan berulang kali turun naik gunung sendirian. Berulang kali mendapati pendaki-pendaki yang mengalami hipotermia dari serangan yang ringan hingga yang berat.
Mikho rela membantu mereka. Tanpa sengaja Mikho pun mengenang masa-masa saat menolong Celine dari serangan hipotermia. Setiap kali teringat itu, hatinya terasa hangat. Rasa dingin yang menghampiri tubuhnya terasa hilang. Seolah-olah merasakan kembali kehangatan tubuhnya yang berbagi dengan dinginnya tubuh Celine.
Mikho akhirnya menemukan situasi di mana seorang pendaki yang masih gadis mengalami serangan hipotermia berat. Mereka melakukan apa saja untuk menolongnya, hingga akhirnya memilih untuk melakukan teknik skin to skin yang pernah dilakukannya pada Celine. Bedanya, pendaki itu melakukannya bukan dengan orang yang disayangi hingga terjadi pertengkaran.
"Coba ada klinik kesehatan di sekitar sini. Kita tak perlu menggunakan teknik itu," ucap gadis pendaki yang menyesali tindakan seorang temannya.
Mikho hanya diam di dalam tendanya yang tak jauh dari rombongan para pendaki mahasiswa itu. Mikho akhirnya memutuskan untuk membuka klinik kesehatan yang tak jauh dari desa pesanggrahan itu. Setiap hari bisa mengenang masa-masa indahnya bersama Celine sehingga akhirnya mereka benar-benar bertemu lagi.
Mikho menghempaskan tubuhnya di ranjang setelah letih melakukan perjalanan jauh. Laki-laki itu menutup wajah dengan lengannya lalu menangis terisak-isak. Semua kenangan indah bersama Celine terpaksa ditinggalkannya bersama dengan keputusannya meninggalkan klinik.
Hatinya terasa perih, melihat Celine yang telah bahagia bersama laki-laki lain. Celine seperti menemukan kebahagiaan dengan tinggal di desa itu. Meninggalkan semua kenangan pahit di kota. Istrinya itu seperti telah berhasil melanjutkan hidupnya.
Baiklah Celine, raihlah bahagiamu. Kamu memang pantas mendapatkan itu. Tinggalkan aku yang kejam ini, laki-laki yang mengaku mencintaimu tetapi tega menyakitimu. Aku memang tak pantas untukmu. Mungkin dia memang lebih baik dariku. Biarkanlah aku sendiri dengan penyesalan-penyesalanku, aku tak akan mengganggumu lagi, kamu tak akan bertemu lagi dengan laki-laki egois dan kejam sepertiku. Maafkan aku Celine, tolong maafkan aku, batin Mikho menangis.
__ADS_1
Laki-laki itu mencoba untuk beristirahat tidur dan berniat minta izin untuk tidak praktek di rumah sakit. Mikho merasa tubuhnya sangat letih. Dan memang laki-laki itu akhirnya terserang demam. Erica yang ingin mencari Mikho di rumah sakit mendapat informasi kalau Mikho berhalangan praktek di rumah sakit karena sakit.
Erica yang penasaran ingin mengetahui hasil dari pencarian Celine, memutuskan untuk datang ke rumah laki-laki itu sekalian ingin menjenguknya. Mikho yang tidak berminat menemuinya di lantai bawah, akhirnya meminta Erica untuk naik ke lantai atas menuju kamarnya. Awalnya Erica merasa aneh mendapat kesempatan untuk masuk ke kamar laki-laki yang dicintainya sejak menginjakkan kaki di SMA itu.
Setelah berbasa basi, Erica pun menanyakan hasil pencarian Mikho ke desa itu. Mikho menceritakan apa yang dilihatnya. Termasuk Celine yang telah berpaling darinya.
"Nggak mungkin Mik, Celine itu masih mencintaimu. Nggak mungkin dia bersama laki-laki lain," sanggah Erica tak percaya.
Mikho yang bersandar di pagar pembatas balkon itu hanya bisa menatap lurus ke depan. Erica tak percaya dengan ucapannya karena tak melihat sendiri seperti apa situasi yang dilihatnya. Celine terlihat sedang dipeluk oleh seorang laki-laki dan Celine tak menolaknya.
"Apa mungkin laki-laki itu saudaranya?" tanya Erica setelah Mikho menceritakan apa yang dilihatnya.
"Seorang saudara tak akan memeluk dengan tatapan seperti itu. Aku mundur, tak sanggup melanjutkan langkahku. Sejujurnya aku takut tak tahan ingin memukul wajah laki-laki itu. Seperti yang pernah aku lakukan pada Teon, tapi apa yang aku dapatkan. Kebencian dari Celine. Aku mencintainya, aku tak ingin dia membenciku. Aku tak sanggup menerima kebencian lagi darinya karena itu aku memilih mengalah. Demi cintaku pada Celine, aku memilih mengalah. Membiarkannya dia bahagia dengan laki-laki itu tapi setidaknya Celine tidak lagi membenciku," tutur Mikho.
"Bagaimana kalau dia ingin menikah dengan laki-laki itu? Aku jelas-jelas tak punya harapan lagi bersamanya. Bagaimana aku tidak putus asa?" tanya Mikho.
"Kamu bisa melupakannya?" tanya Erica.
"Aku nggak tahu, yang jelas, pasti akan sangat berat. Selama bersama dengan Tiara, aku ... tetap mencintai Celine. Tiara sama sekali tak membantuku melupakan Celine. Justru dia yang sering membangkitkan kenanganku bersama Celine. Entah apa tujuannya? Mungkin karena mereka bersahabat. Tapi sekarang Tiara sudah bahagia bersama Teon. Aku tak punya siapa-siapa lagi yang bisa membantuku melupakan Celine," tutur Mikho.
"Tiara melakukan itu untuk membahagiakanmu. Dia berpikir jika kamu bahagia bersamanya, kamu akan jatuh cinta padanya. Tanpa dia sadari, justru membuatmu semakin kuat mencintai Celine," jelas Erica.
Mikho termenung mendengar pemikiran Erica. Masuk akal baginya semua yang dijelaskan Erica. Mikho merasa membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya melupakan Celine.
__ADS_1
Melihat Mikho yang semakin bersedih setelah usahanya gagal mengejar Celine hingga keluar kota, Erica memutuskan untuk membiarkan laki-laki itu menenangkan diri. Gadis itu pun pamit pulang. Saat melewati meja kerja Mikho, gadis itu melihat kotak bening berisi jepitan rambut Celine.
"Kamu belum perbaiki jepitan rambut ini? Bagaimana kalau kamu perbaiki jepit rambut ini? Setelah itu kita berikan padanya. Setidaknya kamu punya alasan untuk bertemu lagi dengannya?" tanya Erica.
"Untuk apalagi? Dia sudah melupakan aku. Lebih baik aku juga melupakannya. Erica ... bantulah aku! Bantulah aku melupakannya ... menikahlah denganku--"
"Apa? Kamu sudah gila! Sebesar apa pun cintaku sama kamu. Aku nggak akan menikah denganmu karena alasan itu! Aku ingin kamu mencintai aku bukan karena ingin melupakan Celine! Bagaimana jika kamu tak bisa melupakannya seumur hidupmu? Aku harus menikah dengan laki-laki yang mencintai wanita lain. Nggak! Aku nggak mau!" jawab Erica tegas.
Mikho termangu, dia baru sadar dengan kesalahannya. Pikirannya yang kacau membuat dia tak berpikir panjang sehingga akhirnya menyesali sendiri ucapannya.
"Kenapa aku selalu seperti ini? Jika pikiranku kacau, aku tak bisa mengontrol ucapanku. Berkali-kali aku menyakiti hati Celine karena ucapanku, yang akhirnya aku sesali sendiri. Maafkan aku Erica, maafkan atas ucapanku tadi," ucap Mikho akhirnya.
Kamu nggak tahu Mikho, bagaimana bahagianya aku saat mendengar permintaanmu tapi aku bersyukur masih bisa berpijak di bumi hingga sadar ini tidak mungkin. Kamu terlalu mencintai Celine. Kamu tak akan bisa melupakannya. Aku tak bisa membayangkan bercinta dengan suami yang membayangkan wanita lain. Biarlah kita menjadi teman saja. Aku sudah membuka mataku yang melihat tak ada kemungkinan bagimu untuk mencintaiku, bisik hati Erica lalu menatap jepit rambut milik Celine.
"Bagaimana kalau aku bantu perbaiki ini? Kita bersama-sama mengantarkan padanya? Aku tahu dia menyiapkan ini saat akan berangkat tapi entah kenapa dia bisa sampai lupa. Mungkin ini takdir Mikho, mungkin ini jalan agar kalian bisa bersama. Aku bawa ya, aku cari ahli untuk perbaiki jepitan mutiara ini?" tanya Erica penuh semangat. Mikho tersenyum mendengar ucapan Erica yang begitu berapi-api.
Mungkin Erica memang bisa membuatku melupakan Celine tapi bukan dengan menikahinya. Dengan berteman dengannya, mungkin bisa membantuku untuk melupakan Celine atau mungkin untuk membantuku meraih cinta Celine lagi, batin Mikho.
"Biar aku saja yang memperbaikinya. Jika sudah selesai di perbaiki aku akan beri kabar padamu," ucap Mikho.
"Jangan ditunda-tunda ya! Aku ingin segera menemui Celine," ucap Erica.
Mikho mengangguk. Erica pun pamit pulang. Mereka kembali pada pemikiran masing-masing. Erica yang merasa mungkin suatu saat akan menyesal menolak lamaran Mikho. Sementara Mikho bersyukur karena Erica menolak lamarannya yang tak berpikir panjang.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...