
Di pagi hari Celine duduk termenung menatap kosong keluar jendela. Mikho masuk dan langsung menghampirinya. Laki-laki itu menatap Celine yang sama sekali tak menggubris kedatangannya.
"Kamu nggak ikut sarapan?" tanya Mikho ketus tetapi tersirat kekhawatiran.
"Tak ada yang menawariku sarapan," jawab Celine singkat tanpa menoleh.
"Ya ampun Celine! Kenapa harus ditawari segala?" tanya Mikho geram.
"Ini bukan rumahku, mana mungkin aku seenaknya makan di rumah ini," jawab Celine.
"Oh begitu? Kamu benar-benar menganggap ini bukan rumahmu, kamu tak merasa jadi menantu di rumah ini?" tanya Mikho bertubi-tubi.
"Nggak! Aku tak merasa jadi menantu di rumah ini. Untuk apa aku membangun perasaan sebagai menantu di rumah ini. Bukannya Kak Mikho sengaja mengatakan kita akan berpisah tiga bulan yang akan datang agar aku tak merasa sungguh-sungguh jadi menantu di rumah ini? Agar aku ingat kalau dalam waktu tiga bulan ini aku bukan lagi menjadi istri Kak Mikho. Lalu, untuk apa aku harus merasa jadi menantu di sini? Toh aku akan segera pergi dari sini?" tanya Celine dengan mata yang berkaca-kaca.
Kamu benar-benar ingin pergi dari sini? Tak adakah keinginanmu untuk bertahan bersamaku? Celine, kenapa kamu begitu keras hati? Kenapa tak memohon maaf padaku? Aku mungkin masih bisa merubah keputusanku, batin Mikho menatap gadis yang sudah kembali menatap keluar jendela itu.
Mikho menarik tangan gadis itu agar ikut turun bersamanya. Mau tak mau, Celine terpaksa mengikuti langkah kaki laki-laki itu. Dengan air mata yang mengalir, gadis itu terpaksa menuruni satu demi satu anak tangga untuk mencapai ruang makan. Mikho segera menggeser kursi agar Celine bisa duduk di sampingnya.
Di hadapan Celine, duduk ibu mertuanya yang menatap dengan tatapan mata yang tak senang. Celine hanya bisa menunduk. Mikho meminta pelayannya untuk menyediakan sarapan untuk istrinya.
Hari itu Mikho tidak masuk praktek di rumah sakit. Hari-harinya sebagai seorang suami ingin dilewatinya bersama Celine. Setidaknya dia bisa berperan sebagai suami selama tiga bulan ini.
"Bagaimana tidurmu? Apa bisa nyenyak?" tanya Gunawan pada Celine.
"Baik Om, tidur saya nyenyak," jawab Celine pelan.
"Baiklah, kalau ada perlu apa-apa katakan saja. Kalau ingin makan sesuatu, katakan saja pada pelayan. Nanti akan di siapkan untukmu. Jangan sungkan-sungkan ya," ucap Gunawan.
__ADS_1
Sikap ramah suaminya membuat Bu Anisa tercengang. Ibu itu menganggap suaminya tak perlu bersikap baik pada Celine. Tak tahan melihat keramahan suaminya, ibu itu memalingkan wajahnya dengan kesal. Celine bisa merasakan ibu itu sangat membencinya.
"Kamu jangan biarkan Celine sendiri, dia masih baru di rumah ini. Tanyakan apa yang dibutuhkannya. Mungkin Celine datang ke rumah ini kurang persiapan, mengingat kalian hampir saja membatalkan pernikahan. Kalau perlu, beli apa saja yang dibutuhkannya ya Nak," ucap Gunawan pada Mikho.
Laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk. Celine heran melihat perlakuan Pak Gunawan padanya seolah-olah tak tahu tentang perjanjian mereka. Begitu berada di kamar, Celine langsung menanyakan hal itu.
"Apa yang terjadi? Apa Om tidak tahu tentang perjanjian pernikahan kita? Om tidak tahu? Kalau kita hanya menikah selama tiga bulan?" tanya Celine penasaran dan Mikho menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Tak ada yang tahu, kecuali kita berdua," jawab Mikho pelan.
"Kenapa? Nanti mereka akan kaget jika tiba-tiba kita berpisah, kecuali Tante. Aku rasa Tante yang akan senang kalau kita berpisah. Kenapa Kak? Kenapa tak terus terang pada mereka?" tanya Celine.
Karena aku masih berharap kamu berubah. Kamu akan jujur padaku dan memohon maaf padaku. Aku tak ingin kamu pergi Celine. Aku masih ingin memberimu kesempatan. Aku sendiri tak siap berpisah denganmu karena aku sangat mencintaimu, batin Mikho menatap gadis itu dengan tatapan nanar.
Menatap gadis itu, Mikho sangat ingin memeluknya. Betapa Mikho sangat merindukan gadis itu. Jika setiap bertemu dengannya Mikho akan langsung memeluk dan menciumnya, sekarang laki-laki itu terpaksa menahan sendiri perasaannya.
Celine pun berpikiran sama. Situasi ini terasa sangat menyiksanya. Kadang Celine merasa lebih baik jika Mikho berterus terang pada kedua orang tua, dan mengizinkannya kembali pulang ke rumahnya. Celine merasa niat laki-laki itu yang ingin menyelamatkan nama baik orang tuanya telah terwujud.
"Apa?" tanya Mikho kaget hingga mendekati gadis itu
"Bagaimana kalau kita terus terang pada orang tua tentang perjanjian selama tiga bulan itu. Aku rasa Tante pasti akan senang mendengarnya. Kalau kita akan berpisah dalam waktu tiga bulan ini. Bukankah, niat Kak Mikho menikah hanya untuk menyelamatkan nama baik orang tua di mata para undangan telah tercapai. Bagaimana kalau kita berpisah sekarang saja–"
"Apa? Nggak! Nggak! Enak bener kamu! Kamu yang bersalah! Aku menyelamatkan nama baik orang tua kamu tapi gara-gara kamu aku harus menyandang status duda di usia muda, enak sekali kamu," ucap Mikho dengan emosi.
Nggak! Aku nggak mau pisah sekarang! Aku ingin memberimu waktu untuk menyesali perbuatan kamu dengan Yodi. Bukannya berpisah dan menjauh dariku, batin Mikho langsung gusar.
Mendengar ucapan Mikho, Celine tertunduk. Tak tahu apalagi solusi untuk memecahkan masalah mereka. Hanya saja, dia harus menanggung semua beban masalah itu selama tinggal di rumah Mikho. Celine menoleh ke arah Mikho yang menatap nanar ke arahnya.
__ADS_1
Apa sebenarnya keinginanmu Kak? Kakak tak inginkan aku, tapi kenapa Kakak tak izinkan aku pergi. Aku menderita di sini. Aku tak mau menjalani hidup seperti ini selama tiga bulan, batin Celine.
Keadaan akan semakin menyiksanya jika hari menjelang malam. Setiap kali melihat Mikho masuk ke kamar, gadis itu akan kebingungan. Kadang Mikho berbaring di sofa sehingga Celine tak bisa tidur di situ. Menunggu dengan perasaan bingung hingga harus duduk di sofa single sambil menahan kantuknya.
Kadang saat keluar dari kamar mandi, Celine tak sadar Mikho berada di kamar itu. Keluar hanya mengenakan handuk dililitkan di dadanya, membuat Mikho terpana. Namun, terpaksa menelan ludahnya sendiri. Rasanya laki-laki itu ingin menerjang Celine, membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Sebuah keinginan yang telah lama ditahannya.
Situasi yang itu sangat mengganggu pikirannya. Namun, dia tak boleh kalah hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi. Meski terasa lama, tetapi waktu tiga bulan itu tetap akan datang. Sementara hubungan mereka tak bisa lebih baik lagi. Kadang Mikho menghabiskan waktu di rumah sakit, itu adalah salah satu cara agar laki-laki itu tak kalah dari Celine. Berusaha tak terjebak oleh hasratnya sendiri.
Seminggu lagi perjanjian mereka akan berakhir. Celine menangis di balkon seorang diri sementara Mikho baru pulang dari rumah sakit. Laki-laki itu benar-benar telah menjalankan prinsipnya. Tak menyentuh Celine sama sekali.
"Kak Mikho, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Celine.
Satu-satunya tempat yang nyaman bagi mereka adalah tempat mereka bekerja. Namun, saat kembali pulang mereka akan kembali bertemu dan kembali merasa serba salah. Sebuah situasi yang sangat tidak nyaman bagi mereka. Kali ini Celine memanggil Mikho untuk bicara berhadapan, membuat laki-laki itu sangat heran.
"Maafkan aku Kak, selama menjadi istrimu, aku tak melakukan apa pun padamu. Begitu juga dengan Kak Mikho benar-benar tak mau menyentuhku. Aku tahu Kak Mikho jijik padaku tapi malam ini, aku mohon, izinkan aku memelukmu, sekali saja," ucap Celine dengan terisak-isak.
Melihat wajah sedih itu Mikho tak tahan. Bagaimanapun juga dia masih mencintai Celine. Segera laki-laki itu mendekati gadis itu dan langsung memeluknya. Celine menangis hingga memejamkan mata, mengetahui Mikho bersedia memeluknya.
Dengan isak tangis Celine menikmati hangatnya pelukan laki-laki itu. Lalu mengangkat wajahnya untuk menatap laki-laki yang dicintainya itu. Dengan nekat Celine mencium bibir Mikho.
Gadis itu tak peduli, jika karena itu Mikho akan mendorongnya hingga jatuh terbanting. Yang terpenting bagi Celine, dia sangat ingin mengingat ciuman terakhirnya itu. Mikho yang tak kuasa lagi menahan keinginan yang telah lama di tahannya, akhirnya menyesap bibir itu dengan perasaan yang menggebu-gebu.
Laki-laki itu seperti lupa pada ucapannya sendiri yang tak akan menyentuh Celine. Kini laki-laki itu bahkan memeluk Celine erat dan membenamkan bibirnya ke bibir Celine. Membalas ciuman gadis itu dengan sepenuh hati.
Terima kasih Kak, batin Celine.
Gadis itu lega. Mikho mau memenuhi permintaan terakhirnya karena Celine telah bertekad untuk diam-diam pergi dari rumah itu. Menghilang dari hadapan Mikho meski waktunya masih tersisa seminggu lagi.
__ADS_1
Celine tak sanggup mendengar ucapan perpisahan dari Mikho, karena itu, Celine lebih memilih untuk pergi dan menjadikan ciumannya itu sebagai ucapan perpisahan bagi mereka. Sementara Mikho justru ingin menjadikan ciuman itu sebagai tanda bahwa dia telah memaafkan Celine dan akan menerima gadis itu apa adanya.
...~ Bersambung ~...