
Mikho dan Celine terjebak cuaca buruk. Mereka tak bisa melakukan perjalanan pulang. Lola mengantarkan mereka ke rumah warga yang menyediakan kamar menginap untuk keadaan darurat. Membuat Mikho tak tahan ingin melepas hasratnya saat situasi membuat mereka tinggal dalam satu kamar dan tak mengenakan apa pun.
Celine mencoba menolak. Tetapi Mikho tetap melakukan apa yang diinginkannya. Celine pasrah ketika laki-laki itu menyesap lehernya sambil menggenggam jemarinya. Teringat atas pengorbanan Mikho selama ini untuknya.
Begitu sabar menghadapi gadis yang selalu menentangnya. Menjaga dan selalu mementingkan kepentingan Celine di atas kepentingan dirinya sendiri. Merawatnya di kala sakit bahkan mengabaikan keselamatannya sendiri untuk menyelamatkannya.
Celine merasa pengorbanannya kali ini untuk laki-laki itu belum seberapa dibandingkan semua yang dilakukan Mikho untuknya. Selain itu Mikho melakukannya dengan cinta dan memang akan bertanggung jawab untuk menikahinya.
"Apa yang aku lakukan? Celine, maafkan aku sayang," ucap Mikho tiba-tiba menyadari apa yang dilakukannya akan menyakiti gadis yang dicintainya.
"Kenapa tak melarangku?" tanya Mikho gusar.
"Sudah, tapi Kak Mikho tak mau dengar," ucap gadis itu pelan. Mikho tersenyum lalu memeluk gadis yang dicintainya itu.
Untung saja aku segera sadar, entah apa yang ada dalam pikirannya tentang aku? Mengambil kesempatan dalam kesempitan? Melakukan hal seperti itu saat ada kesempatan? Ya ampun, aku menghormatimu Celine. Aku takut kamu berpikir aku akan melecehkanmu lagi. Aku tak akan pernah melecehkanmu. Aku sangat menghormati kamu, terlalu sayang sama kamu. Cukup ingatkan aku sayang, batin Mikho menyesali kelakuannya.
Mikho mengecup puncak rambut gadis itu. Celine hanya diam mematung. Gadis itu seperti baru saja lolos dari bahaya yang mengancamnya. Celine percaya Mikho akan selalu menjaganya. Terlintas lagi semua yang Mikho lakukan padanya adalah karena mencintainya.
"Maafkan aku ya? Entah kenapa aku jadi sulit mencegah kelakuanku sendiri," ucap Mikho sambil tetap memeluk gadis itu.
"Nggak apa-apa, yang penting jangan sampai terjadi," jawab Celine.
"Aku tak bisa bayangkan jika hari itu kamu tidur sekamar dengan Yodi. Aku merasa beruntung memutuskan untuk kembali menjemputmu. Mungkin saja karena nekat dia ingin memiliki kamu hingga melakukan hal yang diluar batas. Kenapa membayangkan itu, aku jadi makin kesal padanya," ucap Mikho.
"Kalau begitu jangan dibayangkan. Jangan pikirkan dia lagi. Papa bilang, dia dan keluarganya sekarang masuk daftar pencarian orang. Kakak tak perlu khawatir tentang dia lagi," ucap Celine.
"Tapi sayang! Kamu harus hati-hati ya! Aku takut dia dendam padamu dan keluargamu," ucap Mikho.
Celine mengangguk. Dalam hatinya sangat bersyukur Mikho begitu perhatian dan peduli padanya dan orang tuanya. Terlebih lagi rasa syukurnya karena Mikho bisa mengendalikan hasratnya seperti saat kejadian hipotermia di gunung itu.
Celine mengangkat wajahnya untuk menatap wajah laki-laki yang tiba-tiba dirindukanya. Memeluk tubuhnya tapi rindu untuk menatap wajahnya. Mikho menunduk membalas tatapan gadis itu.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti aku tak bisa menahan diri lagi. Kamu sendiri yang dalam bahaya," ucap laki-laki itu. Celine tertawa, kembali memejamkan mata sambil berpikir.
"Kak! Sebaiknya kita berjarak dan menghadap masing-masing ke sisi lain," usul Celine.
__ADS_1
Oh tidak! Padahal aku ingin tidur sambil memelukmu, batin Mikho menyesal.
Laki-laki itu mengangguk sambil mulai menggeser tubuhnya ke sisi ranjang yang lain. Meski berjarak tetapi tetap berada dalam selimut yang sama. Menaruh guling di tengah-tengah sebagai pagar pembatas mereka. Diam-diam mereka tersenyum memikirkan hal itu.
Karena sedang kedatangan keluarga dari jauh, rumah itu hanya bisa menyediakan satu kamar untuk mereka. Karena cuaca yang tak memungkinkan untuk mencari tempat lain lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk menerima satu kamar itu.
Celine yakin mereka dapat mengendalikan hasrat mereka. Setidak-tidaknya dalam kondisi cuaca seperti itu tak mungkin berpikiran yang aneh-aneh. Namun, setelah menjalaninya sendiri, mereka baru menyadari, mengendalikan hasrat sendiri sangat sulit terlebih mereka telah saling mencintai.
"Harusnya dari tadi kita kasih batas dan tetapkan peraturan. Siapa yang melewati batas akan mendapatkan hukuman," ucap Mikho. Celine tertawa mendengar usul Mikho.
"Apa hukumannya?" tanya Celine masih menghadap ke sisi yang lain.
"Siapa yang melewati batas bersedia dicium–"
"Kakak! Itu bukan hukuman," ucap Celine.
"Bukan ya? Kalau gitu, yang nggak melewati batas harus mendapatkan ciuman–"
"Kakak! Peraturan macam apa itu? Masa yang nggak bersalah dihukum?" tanya Celine merasa tak adil.
"Tetap saja harus adil," ucap Celine sambil tersenyum.
"Sayang! Kalau sudah menikah, jangan pernah seperti ini ya? Aku mana bisa tidur kalau berjarak begini?" ucap Mikho.
"Kenapa?" tanya Celine.
"Ada gadis yang aku cintai tidur di sampingku, masa aku belakangi? Itu sebenarnya sudah hukuman paling berat. Aku tak mau jalani hukuman seperti itu," ucap Mikho. Celine tersenyum.
"Baiklah! Sekarang aku tahu bagaimana cara menghukum Kakak kalau Kak Mikho nakal–"
"Apa?" tanya Mikho. Celine malah tertawa.
Mikho membuang ke samping guling yang membatasi mereka. Mikho menggeser tubuhnya hingga kembali menempel ke tubuh Celine. Laki-laki itu kembali memeluk gadis itu. Namun, kali ini dari belakang.
"Bagaimana ini? Belum apa-apa sudah melanggar peraturan," ucap Celine.
__ADS_1
"Tak ada larangan memeluk istri sendiri," ucap Mikho.
"Tapi kan sekarang belum jadi istri?" tanya Celine.
"Kamu sudah jadi istriku sejak belasan tahun yang lalu. Aku tetap mencintaimu meski kamu tak ada disisiku. Aku tetap setia padamu meski banyak gadis yang menggodaku. Aku lebih menjaga kesetiaanku dibandingkan para suami yang sebenarnya," ucap Mikho panjang lebar.
"Kalau sudah menikah. Jangan berubah ya?" tanya Celine.
"Tak mungkin berubah apa yang telah jadi kebiasaan selama belasan tahun. Apalagi sudah benar-benar menjadi istri sungguhan," bisik Mikho.
"Kita tak tahu apa yang akan terjadi. Bisa saja muncul alasan lain untuk mengkhianati aku," ucap Celine.
"Nggak mungkin," jawab Mikho.
"Baiklah! Baiklah! Aku bersyukur kalau seperti itu. Tapi baru pergi sebentar saja, Kak Mikho sudah langsung jadi tunangannya Tiara," ucap Celine sambil menahan tawa.
"Itu bukti lain lagi, meski bertunangan dengan gadis lain, aku tetap cinta sama kamu," jawab Mikho mengelak.
"Wah, lebih gawat lagi kalau begitu. Bisa tambah istri dengan alasan meski aku tambah istri kedua, ketiga, keempat aku tetap cinta sama kamu–"
"Mana mungkin aku seperti itu!" jerit Mikho dan langsung menggelitik pinggang gadis tercintanya.
Celine kegelian lalu membalik badan. Mereka saling menatap, Mikho mendekat. Jantung Celine langsung berdetak kencang.
"Hanya, mencium saja. Aku janji!" ucap Mikho.
Memeluk erat tubuh gadis yang berbaring di bawahnya itu. Lalu membenamkan bibirnya ke bibir manis itu. Mikho melepaskan keinginan untuk menikmati manisnya bibir gadis itu. Hanya sampai di situ, Mikho melakukannya hanya sebatas itu hingga akhirnya lelah dan tertidur.
Mereka telah membuktikan bisa membatasi diri meski tak ada yang membatasi tubuh mereka. Mereka akhirnya memilih tidur untuk menghilangkan perasaan yang bisa membangkitkan hasrat mereka. Bersyukur di dalam hati bahwa semuanya belum terjadi.
Mikho ingin menjaga Celine. Begitu menghormati Celine. Menjadikan Celine wanita terhormat, mulia dan agung dihatinya. Bertolak belakang dengan apa yang pernah dilontarkannya sewaktu kecil.
Mikho tetap menjadikan gadis itu, seseorang yang sangat dihormati dan dimuliakannya. Ini adalah bukti lain bahwa apa yang diucapkan Mikho saat kelas enam SD bukanlah datang dari hatinya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1