Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 57 ~ Penguntit ~


__ADS_3

Yosi duduk di kursi penumpang, perasaannya sama sekali tak tenang. Setelah mendengar penjelasan Mikho, Yosi baru tahu, seluruh keluarganya telah menyakiti gadis baik yang telah menolongnya. Remaja laki-laki itu langsung menangis. Meski mereka tak terlalu akrab tetapi Yodi dan Erica tetaplah saudaranya.


Yosi frustasi mengingat kata-kata yang diucapkan Mikho. Orang yang tega menyakiti orang baik tentulah orang jahat. Kata-kata itu terngiang di telinganya. Yosi tak tega lagi membuat gadis itu tersakiti. Yosi ingin gadis itu waspada. Remaja laki-laki itu memutuskan memberitahu hubungan dirinya dan Erica. Segera anak itu mengirim pesan. Berkali-kali mengetik lalu menghapusnya lagi.


Hingga akhirnya pramugari meminta para penumpang tak menggunakan ponselnya lagi. Segera anak itu mengirimkan pesan. Yosi tak yakin dengan isi pesan yang dikirimnya. Tetapi hanya itu harapan terbesarnya, Celine bersedia memaafkan kakaknya.


Celine terkejut saat mendapat pesan dari Yosi. Gadis itu tak menyangka dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya. Erica ternyata adalah kakak dari Yosi.


Seperti yang dijanjikannya, setelah kepergian Yosi, Celine mencurahkan perhatian sepenuhnya pada Mikho. Menelepon, datang ke rumah sakit, mengajak makan siang bahkan memberikan hadiah. Mikho dibuatnya kewalahan.


"Kamu ini kenapa?" tanya Mikho.


"Kenapa? Memangnya aku ini kenapa?" tanya Celine.


"Kamu melakukan ini bukan karena ingin pergi kan? Atau bukan karena ingin bunuh diri atau ingin berpisah atau … apa pun itu. Kamu tak ingin membuat kenangan perpisahan lagi kan?" tanya Mikho gusar.


"Kakak ini kenapa? Siapa yang ingin berpisah? Kenapa selalu berprasangka buruk padaku? Pada niat baikku. Apa sikapku mencurigakan seperti itu?" tanya Mikho.


"Kalau begitu katakan alasannya kenapa berbuat seperti ini?" tanya Mikho sambil menunjuk makanan yang dibawakannya untuk Mikho.


"Kakak nggak suka?" tanya Celine.


"Bukannya nggak suka, tapi apa niat dibalik semua ini, perhatianmu, setiap hari menanyakan keadaanku. Menungguku untuk makan siang, memberiku hadiah dan sekarang membelikan makanan untukku, dan banyak lagi. Kenapa? Tolong jangan ada niat dibalik semua ini," ucap Mikho.


"Tak ada niat apa-apa, aku cuma ingin menunaikan janji. Bukannya kemarin sudah bilang, kalau Yosi sudah pergi, aku menjadi milik Kakak seutuhnya. Sekarang aku lakukan apa pun untuk Kakak," jelas Celine.


"Sungguh? Cuma itu? Kamu tak berniat pergi dariku kan? Kamu ini sudah menipuku dua kali," ucap Mikho.


"Nggak! Aku nggak akan pergi!" jawab Celine.


Kakaklah yang akan pergi. Kakaklah yang akan menjauh dariku, batin Celine.


Mendengar ucapan Celine, hati laki-laki itu lega. Mikho akhirnya mengajak gadis itu untuk makan bersama. Laki-laki itu bahkan menyuapi gadis yang dicintainya itu. Juga sebaliknya, Celine juga menyuapi tunangannya itu.


"Sebenarnya daripada memanjakan aku seperti ini lebih baik kamu menyetujui untuk segera menikah denganku–"


"Baiklah!"


Mikho yang telah bersiap-siap menyantap makannya sontak tercengang. Mulutnya yang menganga, tak kunjung mendapatkan makanannya. Tangannya membeku mendadak seperti menjadi patung. Apa yang diucapkan Celine tak disangka-sangkanya. Dengan mudah dan ringan, Celine menjawabnya.


"Se … rius?" tanya Mikho hingga terbata.

__ADS_1


"Ya! Kapan pun Kakak inginkan," jawab Celine.


Mikho menyentuh kening gadis itu. Celine menurunkan tangan laki-laki itu dengan kening yang berkerut, wajah yang cemberut. Gadis itu menampilkan wajah kesal karena Mikho mengira dirinya sedang demam.


"Kenapa aku jadi takut melihatmu begini?" tanya Mikho.


"Kakak terlalu banyak takutnya. Terlalu banyak prasangka. Terlalu was-was, terlalu–"


"Terlalu mencintaimu!" ucap Mikho.


Membuat Celine tercenung, menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sendu. Ucapan laki-laki itu membuatnya tertegun. Mikho memperbaiki ucapan Celine. Menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Begitu mudah Celine menyetujui permintaannya membuat Mikho menjadi takut.


"Kita bicarakan lagi nanti jika hati kita sudah lebih siap lagi," ucap Mikho akhirnya.


Celine mengangguk, Mikho pun melanjutkan makannya. Celine mengabarkan kalau sidang Ny. Wina akan digelar. Mikho sangat ingin menghadiri sidang itu. Seperti biasa menemani Celine jika tak berhalangan karena urusan lain.


Gadis itu telah hadir dan duduk di ruang sidang, membuatnya teringat pada Yosi. Celine berjanji akan mengabarkan apa pun hasil sidang yang dijalani ibunya. Kembali teringat olehnya pesan yang dikirimkan Yosi bahwa Erica adalah kakaknya. Celine menoleh, mencari-cari. Kemungkinan yang dilihat Mikho saat itu adalah benar Erica yang mengikuti sidang ayahnya.


"Ada apa sayang?" tanya Mikho.


"Nggak apa-apa Kak. Aku mau ke washroom dulu ya," ucap Celine meminta izin.


Mikho mengangguk setelah menggoda gadis itu, menawarkan diri untuk menemani. Celine mencubit pinggang laki-laki itu. Berjanji segera kembali sebelum sidang dimulai.


Celine berpindah ke pintu samping, dari sana gadis itu bisa melihat para hadirin meski dari arah samping. Celine terkejut saat melihat gadis mirip Erica duduk di sudut belakang. Gadis itu ingin melangkah mendekati tetapi langkahnya terhenti. Celine tak tega menemui gadis itu saat itu juga, mengingat gadis itu ingin menyaksikan sidang ibunya.


Untuk apa aku menemuinya? Itu akan  membuatnya pergi dan tak sempat menyaksikan sidang ibunya. Bukankah aku mencarinya hanya untuk membuktikan kalau dia benar Kakaknya Yosi, batin Celine akhirnya memutuskan membiarkan Erica.


Gadis itu mengirim pesan untuk Yosi. Mengabarkan dirinya yang hadir di ruang sidang. Celine juga mengabarkan kalau Erica juga telah hadir di situ. Celine meminta anak itu untuk tidak cemas terhadap apa pun. Fokus pada studinya agar bisa segera pulang membawa kesuksesan untuk orang tua dan kakak-kakak yang akan sangat membutuhkannya.


Celine kembali ke ruang sidang. Tersenyum pada Mikho yang langsung meraih tangannya. Celine bersikap wajar, seakan-akan tak menyadari kehadiran Erica.


Sidang pun digelar, pengadilan memutuskan Ny. Wina bersalah sebagai orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana. Ny. Wina akhirnya divonis dengan pidana penjara paling lima tahun dan denda paling satu miliar rupiah.


Erica tertunduk menangis. Celine hanya bisa melirik dengan ekor matanya. Celine tak ingin Mikho mengetahui kehadiran Erica. Laki-laki itu mungkin tak akan bisa menahan diri untuk tidak melaporkan perbuatan Erica di masa lalu.


Celine merasa semua sudah cukup untuk mereka. Mereka telah mendapat hukumannya masing-masing. Celine ingin membiarkan Erica, karena baginya Erica telah merasakan hukuman yang berat melihat satu persatu orang yang disayanginya menerima vonis dari pengadilan.


Beberapa hari kemudian vonis untuk Yodi pun dijatuhkan hukuman atas pasal penipuan, pemalsuan dokumen dan upaya penculikan dengan hukuman delapan tahun penjara. Seperti hal nya Erica, Celine pun menitikan air mata.


Namun, dengan kesedihan yang berbeda. Erica menangisi kakaknya yang harus mendekam dalam penjara sedangkan Celine, mengingat perlakuan Yodi yang harus tenggelam menjadi rahasianya sepanjang hidupnya.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya Mikho langsung meraih tubuh gadis itu dan mendekapnya dalam pelukan.


Celine menangis terisak, Mikho sibuk membujuk gadis itu. Satu persatu hadirin di ruang sidang beranjak meninggalkan ruangan. Mikho yang masih memeluk dan menepuk punggung gadis agar lebih tenang. Melirik ke arah lain karena melihat orang-orang yang mulai meninggalkan ruangan.


Laki-laki itu sontak terkejut melihat Erica yang juga hendak meninggalkan ruangan. Laki-laki itu langsung berdiri hendak mengejar. Celine kaget, reflek menoleh ke arah pandangan mata Mikho. Gadis itu terkejut saat Mikho, berusaha mendekati Erica.


"Ternyata memang kamu. Ngapain kamu ke sini? Ingin menguntit Celine lagi? Ingin mendapatkan rekaman yang bisa kamu sebar-sebarkan? Sekarang ikut aku, kamu telah meresahkan. Aku akan laporkan perbuatan kamu agar kamu jera!" bentak Mikho sambil menyeret Erica.


"Jangan Kak! Lepaskan dia!" ucap Celine berusaha melepaskan genggaman tangan Mikho.


"Apa-apaan kamu Cel, kenapa malah bela dia? Lihat dia nggak kapok-kapoknya menguntit kamu!" seru Mikho kesal.


Celine menggelengkan kepalanya. Gadis itu tahu Erica bukan bermaksud menguntitnya tetapi ingin menghadiri persidangan ibunya. Celine juga sadar kalau Erica datang ke bandara pasti ingin melihat keberangkatan adik bungsunya.


Namun, Celine tak bisa menjelaskan semua itu karena Mikho pasti akan semakin membenci Erica. Setelah tahu gadis itu dan keluarganya berkomplot ingin menghancurkan Celine dan orang tuanya. Celine mencegah Mikho menangkap Erica. Gadis itu akhirnya berhasil melepaskan diri. Erica langsung melarikan diri.


"Lihat akibat perbuatanmu! Dia jadi lepas," ucap Mikho gusar.


Laki-laki itu kesal, dia sudah cukup sabar dengan kelakuan Erica. Mikho sempat memuji Erica di depan Tiara. Menilai Erica adalah gadis yang sportif. Bersaing secara baik-baik. Namun, satu persatu Mikho menemukan perbuatan gadis itu yang mempengaruhi hubungannya bersama Celine.


"Apa ini?" tanya Mikho pada Celine sambil menunjukkan ponsel Celine sendiri.


"Oh itu sudah lama. Aku mendapatkannya waktu di rumah sakit," jawab Celine jujur.


"Kamu pergi gara-gara foto ini?" tanya Mikho.


"Bukan … itu …."


"Bukan? Tapi salah satunya karena kiriman foto ini 'kan?" tanya Mikho.


"Sudahlah, bukannya sudah lama berlalu?" tanya Celine.


Mikho langsung mengirimkan nomor pengirim foto-foto dirinya yang sedang berpelukan bersama Tiara di samping gedung sekolah itu. Laki-laki itu ingin mengetahui siapa pengirimnya. Sekaligus ingin memberi pelajaran pada orang yang selalu ingin memisahkannya dengan Celine.


Mikho terkejut. Karena nomor itu sudah terdaftar di ponselnya. Terdaftar dengan nama Erica. Laki-laki itu geram, ingin bertemu dengan Erica untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya. Namun, sayang nomor itu sudah tidak aktif. Setelah Yodi dan keluarganya ditangkap. Erica menghilangkan jejaknya.


Mikho kesal, laki-laki itu melepas tangan Celine yang menahannya. Mikho ingin gadis jahat itu tertangkap agar dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Celine mengikuti Mikho yang mengejar Erica.


Gadis itu melihat Erica yang telah berlari ke pintu gerbang. Berharap gadis itu segera bisa meloloskan diri di luar area gedung sementara Mikho masih saja mengejarnya. Namun, naas. Sebuah mobil SUV masuk tepat saat Erica hendak keluar gerbang.


Gadis salah memilih jalan, menggunakan gerbang masuk untuk berlari keluar. Semua yang melihat kejadian itu langsung terkejut. Erica terpental, tak sanggup menahan hantaman mobil besar itu. Gadis itu pingsan dengan luka di kepala dan sebagian wajahnya yang tergores aspal.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2