
Mikho melangkah sendiri di dalam gelap malam, berbekal lampu senter di tangan laki-laki itu berjalan menapaki rute perjalanan ke puncak gunung itu. Mikho melangkah dengan cepat menuju wilayah di mana anak-anak sispala mulai menyadari kehilangan Celine.
Laki-laki itu bersikeras pergi mencari sendiri. Cuaca sangat dingin dan Mikho tak ingin menunggu bala bantuan datang. Bisa memakan waktu selama dua hari untuk koordinasi dan segala macamnya. Mikho bertekad menemukan sendiri malam ini juga karena begitu khawatirnya dia akan keselamatan Celine.
Begitu sedih, kecewa dan marah Mikho pada anak-anak sispala yang lalai menjaga Celine. Begitu bencinya pada mereka, Mikho bahkan berprasangka buruk pada mereka. Celine yang perempuan sendiri sementara mereka para laki-laki.
Prasangka paling buruk pun bisa terpikirkan oleh Mikho. Celine diperkosa lalu dibunuh dan mayatnya dibuang ke jurang. Kemudian mereka pulang dan berpura-pura mengatakan Celine hilang. Mikho menggelengkan kepalanya kuat-kuat saat membayangkan hal itu.
Tuhan, lindunglah Celine, batin Mikho ingin keluar dari pikiran buruknya.
Rifo menawarkan diri untuk menemani, tapi Mikho menolak. Baginya Rifo hanya akan memperlambat usahanya mencari. Sahabat Mikho itu seorang yang perlente, area permainannya hanya berkutat antara Mall, Cafe dan bioskop. Rifo tak pernah mendaki ke puncak gunung. Untuk itu Mikho menolak tawaran sahabatnya itu dengan tegas.
Celine, bertahanlah. Kamu ingat ucapanku 'kan? Batin Mikho.
~ Jika terjadi sesuatu, bertahanlah, aku pasti akan menjemputmu ~
Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Mikho. Sebagian hatinya merasa menyesal mengucapkan itu. Seolah-olah telah bersiap-siap akan terjadi hal seperti sekarang ini. Namun, sebagian hati Mikho bersyukur dan berharap Celine benar-benar akan bertahan hingga dia datang menjemputnya.
Bertahanlah sayang, aku akan segera menemukanmu, batin Mikho.
Antara yakin dan tidak, tapi Mikho lebih memilih berusaha. Teman-temannya yang lain memutuskan untuk melaporkan kehilangan itu tapi Mikho memilih mencarinya sendiri. Mikho telah sampai di wilayah yang menurut teman-temannya, Celina mulai disadari hilang di daerah itu.
Dengan penerangan lampu senternya Mikho berusaha mencari jejak-jejak gadis itu lalu mulai memanggil. Tak ada rasa takut di hati laki-laki tampan itu di tengah hutan yang gelap gulita. Kadang terdengar bunyi-bunyi yang menyeramkan. Mikho tak peduli, tetap memanggil nama Celine lalu mencoba mendengarkan. Selain itu Mikho juga mencari jejak-jejak yang mungkin bisa menjadi petunjuk.
Sesekali Mikho memanggil-manggil nama Celine. Setelah sekian lama dan berkali-kali, sayup-sayup Mikho mendengar bunyi yang sedikit aneh. Terdengar teratur, Mikho membelalakkan matanya saat mendengar bunyi yang dihasilkan. Terdengar seperti sandi untuk permintaan tolong.
__ADS_1
"CELINE KAMU DENGAR AKU!!"
Setelah berseru Mikho diam mendengarkan dan benar, kembali terdengar sinyal SOS dari arah belakang Mikho. Laki-laki itu berteriak meminta Celine terus membunyikan suara itu. Secepatnya Mikho mencari dari mana arah suara. Namun, perlahan suara itu semakin jarang terdengar dan semakin sayup. Mikho menitikkan air, saat berlari menuju arah suara yang semakin terdengar lemah itu.
Tolong jangan berhenti, bertahanlah, batin Mikho berlari ke arah yang berbeda dari jalan utama rute yang dia lewati tadi.
Sepertinya di situlah Celine mulai tersesat karena mengira jalan itu adalah rute yang harus dilewatinya. Celine telah mencoba memberi sinyal saat anak-anak sispala memanggilnya. Namun, setiap kali gadis itu memberi sinyal, setiap kali itu pula anak sispala lain berteriak.
Mereka bersahut-sahutan memanggil tanpa sempat menunggu balasan dari Celine yang telah menggigil kedinginan. Gadis itu berusaha dengan susah payah mengeluarkan bunyi dengan sebatang kayu yang dipukul-pukul. Semakin lama, Celine semakin kedinginan bahkan jari-jarinya mulai terasa beku.
Celine semakin lemah hingga tak mampu berjalan lagi. Gadis itu berusaha memukul pohon yang ada di dekatnya tapi suara anak-anak sispala yang memanggilnya semakin menjauh. Celine terjatuh dan terkapar di antara pohon-pohon yang tinggi. Gadis itu hanya bisa menatap langit yang diterangi bulan. Air mata mengalir di samping matanya.
"Maaf … maaf … ma … af." Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkannya.
Celine meminta maaf pada siapa saja. Pada orang tuanya, pada sahabat-sahabatnya, pada tim SAR yang akan bersusah payah mencari mayatnya dan pada Mikho karena Celine yang tak mau mendengarkan kata-katanya.
~ CELINE … TOLONG JAWAB AKU! CELIIIIINE … CELIIIIIINE! ~
~ AKU MOHON CELINE, JAWAB AKU! ~
Mendengar permohonan itu Celine yang tadinya telah pasrah akhirnya meraih kayu yang dipakai untuk memukul pohon tadi. Meski lemah, gadis itu mencoba sekuat tenaga memukul untuk mengirimkan sinyal meminta pertolongan hingga beberapa kali dan akhirnya terdengar oleh Mikho.
Laki-laki itu meminta Celine terus memberikan tanda. Namun, kekuatan gadis itu telah habis. Gadis itu jatuh pingsan. Mikho yang telah mengetahui arah suara segera berlari mengejar. Laki-laki itu bahkan hampir melewati gadis yang telah terkapar itu.
"Celine! Celine! Celine! Bangun!" seru Mikho sambil menepuk-nepuk pipi gadis itu.
__ADS_1
Mikho melihat Celine yang mengalami gejala hipotermia. Kondisi ketika suhu tubuh turun drastis hingga di bawah 35°C atau lebih rendah lagi yang mengakibatkan jantung dan organ vital lainnya gagal berfungsi. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan henti jantung, gangguan sistem pernapasan, bahkan kematian.
Segera Mikho memeriksa denyut nadi dan pernapasan Celine. Laki-laki itu menangis saat mendapati denyut nadi dan pernapasan Celine yang sudah berhenti. Mikho segera melakukan tindakan resusitasi jantung paru atau CPR.
Mikho memberikan nafas buatan sebanyak dua kali, lalu memeriksa dada gadis itu yang belum naik. Mikho bertambah panik, kembali laki-laki itu memberikan nafas buatan dua kali lagi. Melihat dada gadis itu yang masih belum bernapas, Mikho segera melakukan kompresi sebanyak tiga puluh kali. Saat melakukan kompresi Mikho merasakan pakaian Celine yang telah basah.
Celine pasti mengenakan pakaian basah ini terlalu lama. Dia pasti diguyur hujan tadi siang. Angin yang bertiup kencang dengan pakaian yang basah membuatnya lebih cepat kehilangan panas tubuhnya, batin Mikho menyesali.
Hipotermia menyerang Celine secara perlahan, menyebabkan gadis itu tidak menyadari dirinya akan terserang hipotermia. Menyerang saraf dan bergerak dengan pelan. Menyebabkan gadis itu berhalusinasi hingga jatuh pingsan
Dengan berderai air mata Mikho menekan dada gadis itu. Meniupkan nafas dua kali, menekan lagi sebanyak tiga puluh kali, lalu meniupkan lagi dua kali. Menekan lagi, meniup lagi, menekan lagi, meniup lagi. Mikho melakukannya berulang kali, hingga akhirnya gadis itu menarik napas panjang. Mikho langsung memeluk gadis itu dan merasakan pakaian Celine yang basah.
"Kamu sudah bangun? Kamu bisa lihat aku? AKU BILANG JUGA APA? JANGAN NAIK GUNUNG! KAMU MASIH SAJA NGOTOT. LIHAT APA YANG TERJADI PADAMU SEKARANG!" bentak Mikho.
"Mi-kho," ucap Celine pelan dengan bibir yang gemetar.
Melihat itu, Mikho segera melepas pakaian basah Celina satu persatu.
"Ja-ngan, ja-ngan," ucap Celine mencegah laki-laki itu melepas semua yang melekat di tubuhnya.
Tapi Mikho tak peduli, laki itu terus saja melepas semuanya tak menyisakan satu pun. Mikho juga melepas pakaiannya. Dengan pakaiannya yang masih kering itu, Mikho mengeringkan seluruh tubuh Celine. Gadis itu meneteskan air mata saat Mikho melakukannya.
Mikho menyiapkan sleeping bag. Menggendong gadis yang telah polos itu lalu membaringkannya di atas sleeping bag. Mikho melepas semua pakaiannya kemudian berbaring di samping Celine lalu menutup resleting sleeping bag itu
"Ja-ngan, ja-ngan," ucap Celine lemah dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
Mikho menarik tubuh Celine ke dalam pelukannya. Laki-laki itu memeluknya erat. Celine ingin meronta tapi tak memiliki kekuatan. Pasrah namun meneteskan air mata saat tubuh mereka menyatu tanpa sehelai benang pun membatasi mereka.
...~ Bersambung ~...