
Hari keberangkatan Yosi pun tiba. Celine mengantar remaja itu ke bandara. Mikho sering merasa cemburu dengan perhatian Celine pada remaja lima belas tahun itu.
"Kenapa buru-buru sekali mengurus keberangkatannya. Kamu bahkan menghabiskan banyak waktu hanya mengurus anak itu. Aku jadi sering terabaikan," ucap Mikho lagi-lagi merajuk.
"Maaf Kak Mikho, eh Yayang Mikho tapi … aku harus melakukannya. Yosi harus segera pindah sekolah. Yayang Mikho, apa pernah merasakan, seperti apa rasanya masuk sekolah dengan tatapan semua orang tertuju pada Kak Mikho? Begitu masuk gerbang sekolah, terasa seperti masuk ke dalam neraka. Tak tahu apa yang akan terjadi tapi … tak pernah bisa membayangkan hari yang lebih baik lagi. Merasa sangat tertekan hingga berharap hari itu mungkin berharap mati saja? Aku–"
"Celine … maafkan aku! Sedikit pun aku tak bermaksud mengingatkanmu masa-masa saat di sekolah dulu," ucap Mikho sambil menangkup wajah gadis yang dicintainya itu.
"Aku tahu, ini bukan tentang aku. Ini tentang Yosi. Berita tentang ayahnya yang seorang koruptor, ibunya yang tersangka money laundry atau kakaknya yang penipu, penculik, pem … apa bisa? Menurut Kak Mikho, apa bisa dia sekolah dengan normal seperti biasa dengan berita yang telah tersebar tentang keluarganya? Apa bisa teman-teman sekolahnya memperlakukan dia–"
"Baiklah … baiklah sayang, aku mengerti," ucap Mikho akhirnya.
"Jangan cemburu lagi ya? Jika dia sudah berangkat, aku sepenuhnya jadi milikmu–"
"Benarkah? Kenapa kedengarannya begitu menggiurkan?" tanya Mikho.
Celine tertawa. Gadis itu langsung memeluk laki-laki itu. Celine pasrah apa pun yang terjadi. Dia telah berjanji akan selalu tegar demi ibu dan ayahnya. Tak akan mudah menyerahkan hidup meski pahit, meski sulit. Celine akan berusaha menjalaninya.
"Kamu menangis? Ada apa Celine? Sayang?" tanya Mikho.
Apa kata-kata seperti ini bisa aku dengar sepanjang hidupku? Bagaimana jika kamu tidak bisa menerima kekuranganku? Bagaimana kalau ternyata aku telah ternoda? Apa kamu masih menanyakan itu padaku? Apa masih seperti itu caramu bertanya padaku? Batin Celine, semakin lama semakin tak bisa menahan tangisnya.
"Hey … ada apa? Apa masih ingat masa-masa sekolah? Maafkan aku ya sayang. Aku tak bermaksud mengingatmu tentang itu. Aku … cuma iseng menanyakan itu. Aku tahu bukan kehendakmu mengabaikan aku. Aku juga nggak masalah bantu anak itu. Celine, maafkan aku ya?" tanya Mikho sambil menghapus air mata Celine.
Namun, setiap kali dihapus, air mata itu kembali mengucur deras. Mikho kewalahan menghapusnya. Celine sudah ingin meredakan tangisnya tetapi tetap saja tak bisa. Selalu terbayang, masalah yang menghantuinya sekarang ini akan membuat mereka benar-benar berpisah. Mengingat itu air matanya akan kembali mengucur deras.
"Aku sedot aja kalau gitu, biar cepat habis," ucap Mikho langsung menempelkan bibirnya ke mata Celine. Gadis itu langsung mendorong tubuh Mikho.
"Nggak apa-apa rasanya enak, gurih!" ucap Mikho.
Celine tertawa, Mikho juga tersenyum. Laki-laki itu kembali menarik tangan gadis itu. Membawanya ke dalam pelukannya. Setelah keberangkatan Yosi, Mikho berharap gadis itu mau membicarakan tentang pernikahan mereka.
Hari itu pun tiba, bukan hanya Celine yang mengantarkan Yosi, Mikho pun ikut mengantarkan anak itu. Laki-laki itu berjanji tak akan cemburu pada Yosi lagi. Namun, tetap bersikap waspada, Celine tahu karena itu membiarkan laki-laki itu bersamanya ke bandara.
Dengan alasan kasihan Celine pulang sendiri dari bandara. Laki-laki itu cuma ingin menemani Celine yang pulang sendiri. Gadis itu tertawa mendengar alasan laki-laki tampan itu.
"Aku tak bohong. Aku tak cemburu, cuma tak ingin lihat kamu dan Yosi berduaan saja," ucapnya berdalih.
"Tetap saja itu namanya cemburu," bisik Celine.
"Nggak! Cuma nggak mau liat kalian berduaan aja," balas Mikho.
Celine tertawa, akhirnya mereka bertiga ke bandara. Menunggu jadwal keberangkatan Yosi. Setelah check in, Yosi kembali menemui Celine dan Mikho yang mengantarnya. Mereka menunggu hingga waktunya berangkat.
"Ada yang haus nggak? Aku mau beli minuman," tanya Mikho pada Celine dan Yosi.
__ADS_1
Keduanya serentak mengangguk. Mikho tersenyum lalu pergi membeli minuman dan makanan ringan. Selama menunggu, gadis itu memberi banyak nasehat pada Yosi. Laki-laki itu mengangguk lalu tertunduk, mengusap matanya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Kamu kenapa?" tanya Celine. Yosi menggeleng.
"Kamu nggak ingin berangkat? Kakak nggak akan paksa kamu kalau kamu nggak mau. Kita bisa batalkan keberangkatanmu, nggak masalah. Kita pulang se–"
"Nggak Kak! Aku mau berangkat. Sungguh!" ucap Yosi cepat.
"Lalu kenapa kamu menangis? Ingat orang tuamu? Kakakmu?" tanya Celine. Yosi mengangguk masih menitikkan air mata.
"Maaf ya, kamu nggak bisa menunggu sidang ibu dan kakakmu," ucap Celine.
"Bukan itu Kak. Aku ingat mereka bukan karena tak bisa hadiri sidang. Tapi … aku … punya keluarga yang selama ini tak peduli padaku, pada keinginanku. Mereka hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Aku sebelumnya tak pernah mendapatkan perhatian seperti yang Kak Celine berikan. Kadang aku berpikir, keluargaku sebenarnya mereka atau Kak Celine. Kenapa orang lain bisa lebih perhatian padaku ketimbang keluargaku sendiri," ucap Yosi sambil terisak.
"Jangan pernah punya pemikiran seperti itu. Mereka menyayangimu, tapi dengan cara mereka sendiri. Ayahmu mencari kekayaan pasti untuk anak-anaknya, bahkan tak peduli itu dengan cara benar atau salah. Ibumu meski terlihat tak acuh, tapi lihatlah, dia mengandung kamu, melahirkan kamu, menjaga kamu dari bayi hingga menjadi pemuda tampan seperti sekarang ini. Percayalah! Jika ibumu tak peduli padamu, saat bayi saja mungkin kamu sudah mati kelaparan karena tak diberi ASI. Nggak akan sekolah hingga SMA karena tak didaftarkan atau ke mana-mana tak memakai baju karena tak dibeliin baju," ucap Celine sambil tersenyum. Yosi tertawa.
"Syukuri saja apa yang ada. Dibandingkan ibumu, perhatian Kak Celine padamu belum seberapa. Hanya saja kamu tak menyadari itu," ucap Celine mengingatkan anak itu agar selalu bersyukur terhadap orang tuanya.
Yosi mengangguk, tak lama kemudian Mikho datang dan langsung membagikan minuman. Laki-laki itu duduk kembali di samping Celine. Sesekali menoleh ke belakang. Celine heran melihat tingkah Mikho.
"Ada apa Kak Mikho?" tanya Celine.
"Oh, itu tadi aku ketemu dengan Erica," ucap Mikho.
"Apa?" tanya Celine heran bercampur kaget.
"Aku merasa heran, kenapa belakangan ini seperti sering melihat Erica? Sebelum muncul di pesta kamu, rasanya dia nggak pernah kelihatan–"
"Sering melihatnya? Di mana?" tanya Celine heran.
"Entah apa itu memang dia, tapi aku seperti melihatnya di sidang. Mungkin cuma mirip. Bisa dibilang lebih dari satu kali aku melihatnya di sidang. Karena jauh aku jadi tak yakin. Tapi tadi aku yakin benar, karena aku menyapanya. Dia berdiri di belakang tiang," jelas Mikho.
Teringat saat selesai membeli makanan ringan dan minuman. Mikho hendak kembali ke tempat Celine dan Yosi menunggu. Namun, tiba-tiba dia melihat seorang gadis yang mirip dengan Erica sedang mengintip-intip di balik tiang.
"Erica!" panggil Mikho.
Erica kaget dan langsung berbalik menatap Mikho. Sekarang laki-laki itu benar-benar yakin kalau itu memang Erica. Mikho segera mendekati gadis yang terlihat kebingungan itu.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Mikho.
"Aku … aku … aku sedang menunggu seorang teman yang mau berangkat," jawab Erica.
"Kamu pernah ke pengadilan?" tanya Mikho langsung ingin menghilangkan rasa penasarannya.
"Aku? Nggak lah untuk apa aku ke pengadilan?" ucap Erica balik bertanya.
__ADS_1
"Siapa yang kamu intip?" tanya Mikho lalu berdiri di posisi Erica berdiri dan menatap ke arah pandangan mata gadis itu.
"Kamu menguntit Celine?" tanya Mikho bernada tuduhan.
"Celine … aku nggak tahu ada Celine di sini? Aku cuma ingin melihat temanku pergi, eh, sebenarnya mantan pacarku," ucap Erica berkilah lalu pamit pergi.
"Erica!"
Langkah kaki Erica terhenti. Namun, tak menoleh sama sekali. Hanya terdiam sedikit menunduk.
"Awas saja. Jika aku tahu kamu berniat buruk lagi pada Celine. Aku akan menyeretmu ke penjara," ancam Mikho.
Lalu pergi meninggalkan tempat itu. Erica membalik badannya menatap punggung laki-laki itu yang bergerak menjauh. Melangkah menuju Celine dan Yosi yang menunggu.
"Rasanya ingin aku seret ke kantor polisi. Kalau nggak banyak orang, kalau nggak sedang temani kamu? Udah pasti aku seret dia ke kantor polisi!" ucap Mikho sedikit emosi.
"Kenapa?" tanya Yosi.
"Dia merekam video Tiara yang sedang menghina Celine. Berkomplot dengan Yodi, Kakakmu, lalu menyebarkan rekaman video itu. Membuat Celine merasa terpukul bahkan nyaris ingin bunuh diri–"
"Kak!"
Celine menghentikan Mikho melanjutkan ucapannya. Bagi Celine cerita itu tak baik di dengar oleh Yosi karena itu bisa jadi pembelajaran yang buruk bagi anak itu. Mikho pun berhenti bercerita lalu, membuka kaleng minumannya dan meneguknya.
Laki-laki itu belum bisa memaafkan perbuatan Erica. Karena ulah gadis itulah Celine kembali terguncang dan Yodi tampil sebagai pembela dan lalu menyingkirkannya. Mendengar cerita Mikho, Yosi tertunduk dan murung. Celine yang melihat perubahan raut wajah anak itu langsung heran dan bertanya.
"Kamu kenapa Yosi?" tanya Celine.
"Nggak apa-apa Kak. Aku … cuma nggak menyangka. Tega sekali menyakiti hati orang sebaik Kak Celine," jawab remaja laki-laki itu.
"Yang tega menyakiti orang baik tentulah orang jahat," celetuk Mikho.
Yosi kembali tertunduk. Tak lama kemudian panggilan untuk penumpang dengan pesawat yang menjadi penerbangan Yosi diumumkan. Celine segera meminta remaja itu masuk. Yosi langsung memeluk Celine dan berpamitan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan khawatir, Kakak akan segera menghubungi teman Papa di sana. Kamu akan dijemput dan tinggal bersama mereka. Mereka orang-orang yang baik. Jangan khawatir ya. Kakak akan sering-sering menghubungi kamu," ucap Celine memberi semangat pada remaja laki-laki itu.
Yosi mengangguk, setelah berpamitan pada Mikho dan berterima kasih pada mereka. Yosi melangkah masuk ke dalam bandara. Celine melambaikan tangannya sambil tersenyum agar Yosi berangkat dengan hati gembira.
Yosi pun pergi, Mikho segera menggandeng tangan gadis yang dicintainya. Mereka pun melangkah ke parkiran mobil untuk kembali pulang. Baru saja Mikho melajukan mobilnya keluar dari terminal keberangkatan internasional itu, Celine merasakan ponselnya bergetar.
Gadis itu terkejut saat menerima pesan dari Yosi. Segera Celine membaca pesan anak itu.
~ Kak Celine, tolong maafkan Kakakku, Erica ~
Celine kaget tetapi mencoba menahan reaksinya. Berusaha bersikap sewajar mungkin, agar Mikho tak kaget, bertanya dan menjadi gusar. Terbayang wajah Yosi saat mendengar cerita Mikho saat menceritakan perbuatan kakak perempuannya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...