Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 24 ~ Menyatakan ~


__ADS_3

Celine yang memang tak mengerti tentang penanganan hipotermia menganggap apa yang dilakukan Mikho terhadapnya adalah sebuah pelecehan. Namun, Tiara menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Mikho adalah sebuah usaha untuk menyelamatkannya. Celine pun menceritakan sekaligus menanyakan perbuatan yang dilakukan Mikho padanya.


Kali ini Tiara tak mampu menjawab, di hadapan Celine, gadis itu tersenyum dan meminta agar Celine melupakan apa yang terjadi. Tiara juga meminta Celine tidak berpikiran buruk lagi terhadap Mikho.


Namun, keesokan harinya Tiara langsung mencari Mikho di kelasnya. Tiara kesal atas apa yang dilakukan laki-laki itu terhadap Celine. Gadis itu bahkan menggantikan Celine berpikiran buruk terhadap Mikho. Begitu sampai di kelas IPA 1, Tiara langsung menemukan Mikho yang asyik berbincang dengan teman kelasnya. Tiara langsung memukul lengan Mikho membuat laki-laki itu terkejut dan langsung menoleh.


"Kamu cerita setengah-setengah sama aku."


"Apa sih Ra?" tanya Mikho heran.


Laki-laki itu langsung berdiri dan mengajak Tiara bicara di samping gedung sekolah. Selama melangkah mereka membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiara yang menatap punggung Mikho dengan pikirannya yang terlanjur buruk terhadap perilaku laki-laki itu.


Sementara itu Mikho berpikir keras apa yang membuat Tiara kelihatan begitu marah. Begitu sampai di samping gedung sekolah, Mikho langsung duduk di bangku di bawah pohon rindang. Begitu duduk, Mikho langsung dihujani dengan pukulan di lengan berulang kali. Begitu kesal Tiara, hingga tak tahan ingin selalu memukuli laki-laki di hadapannya itu.


"Ra, ada apa ini? Jelaskan dulu! Kalau aku memang salah, aku akan terima pukulan dari kamu. Aku nggak akan mengelak," ucap Mikho sambil menangkap dan menahan tangan Tiara yang terus memukulinya.


"Aku kesal sama kamu. Kamu pembohong! Kamu cerita setengah-setengah padaku tentang kejadian di gunung itu. Kamu … ternyata benar-benar melecehkan Celine!" seru Tiara.


"Bukannya kamu ngerti, kalau apa yang aku lakukan pada Celine itu adalah usaha untuk menyelamatkannya?" tanya Mikho bingung.


"Kamu pikir aku ini bego? Anggap kamu menciumi Celine itu termasuk teknik skin to skin? Celine bunuh diri karena tak tahan lagi dengan perbuatanmu yang terus membayanginya–"


"Apa? Cel … Celine … karena … dia. Aaah, aku nggak melecehkan dia Ra. Sungguh!" ucap Mikho risau.


"Oh, jadi Celine bohong, kalau kamu mencium dia saat dia tidak mengenakan apa pun?" tanya Tiara masih emosi karena Mikho tak mengakui perbuatannya.

__ADS_1


"Aku akui, aku memang lakukan itu tapi bukan melecehkannya. Aku itu sayang sama dia. Aku … ah, coba kamu pikir sendiri. Sendirian dalam hutan berpelukan tanpa mengenakan apa pun dengan gadis yang dicintai, siapa yang bisa tahan? Aku ini laki-laki normal Ra. Bisa bertahan hanya menciumnya saja, itu sebuah usaha menahan diri yang luar biasa," jelas Mikho meminta pengertian Tiara.


Gadis itu tercenung, barulah sadar dengan situasi. Apa yang dikatakan Mikho benar, meski perbuatan Mikho itu tak bisa dibenarkan. Mikho laki-laki normal yang sedang jatuh cinta dan sedang memeluk gadis yang dicintainya, tentu saja bisa menimbulkan hasrat.


"Kalau gitu kamu jelaskan sendiri sama Celine. Aku udah jelasin kalau yang kamu lakukan itu untuk selamatkan dia tapi … tentang ciuman itu … aku tak bisa menjawabnya. Kamu sendiri yang harus menjelaskan. Belum selesai kesalahan masa kecil, sekarang sudah bikin lagi kesalahan baru," ungkap Tiara lalu bangkit dari duduknya, hendak beranjak pergi.


"Ra … apa maksudnya kesalahan masa kecil? Kesalahan masa kecil apa? Apa benar, Celine bunuh diri karena kelakuanku sama dia?" tanya Mikho pelan dengan raut menyesal. Tiara menghentikan langkahnya.


"Itu salah satunya. Kita sama-sama tahu. Celine disalahkan atas gagalnya wisata liburan kita tahun ini. Ditambah lagi Celine yang membela Teon waktu itu padahal kamu yang sudah selamat dia. Itu membuat seluruh siswa mengucilkan dia. Ada banyak hal yang mendesak Celine memilih jalan itu. Tapi … sebab yang paling besar, yang membuat Celine tak bisa bertahan lagi adalah aku," ucap Tiara tertunduk menangis terisak.


Tiara mengabaikan pertanyaan Mikho tentang kesalahan masa kecilnya. Gadis itu masih terikat janji dengan Celine untuk merahasiakan kisah lalu mereka. Melihat Tiara yang menangis terisak, Mikho bangkit dari duduknya lalu memeluk Tiara yang sesenggukan. Laki-laki itu tak tega menatap kesedihan gadis itu yang terlihat begitu dalam. Tiara pun melingkarkan tangannya di pinggang Mikho.


"Kalau aku yang bersalah itu mungkin, tapi kamu? Itu nggak mungkin, kamu itu sahabatnya. Mana mungkin dia menjadikan kamu alasan untuk memilih jalan itu," ucap Mikho pelan sambil menepuk punggung Tiara.


"Apa yang aku bilang itu memang benar Mik, akulah penyebab utamanya. Sebesar apa pun masalah yang dihadapi, seseorang masih bisa bertahan selama masih didukung oleh sahabat. Aku … bukannya menemani, aku justru ikut mengucilkannya. Bukannya menjadi tempat bersandarnya, aku justru ikut mendorongnya. Akulah penyebab sebenarnya dia melakukan itu," jelas Tiara dengan terisak-isak.


"Sekarang kamu masih bisa mendukungnya. Dia butuh kamu itu selama-lamanya. Kamu masih punya kesempatan untuk menemani. Untuk membantunya bangkit lagi. Kita semua punya salah padanya tapi kita masih punya kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Itu yang harus kita syukuri dengan lebih menyayanginya mulai dari saat ini," tutur Mikho sambil melepas pelukannya.


Menatap wajah sahabatnya itu. Mikho tersenyum lalu menghapus air mata Tiara. Mengucek anak rambut gadis itu hingga membuat Tiara tersenyum.


Pulang sekolah Mikho langsung menjenguk Celine, gadis yang dicintainya. Mikho sangat ingin menjelaskan seluruh kesalahanpahaman yang ada di antara dirinya dan Celine. Saat tiba di ruangan itu Celine hanya di temani oleh ibunya.


"Oh, Mikho sudah datang?" tanya Dessery menyapa.


"Ya Tante, maaf agak telat. Tadi ada rapat OSIS dulu," jawab Mikho sambil mencium punggung tangan wanita setengah baya itu. "Oh ya, Om nya mana Tante?" lanjut Mikho bertanya.

__ADS_1


"Om sudah mulai masuk kerja, nggak mungkin bolos terus 'kan?" jawab Dessery.


"Oh ya, apa Mikho punya banyak waktu hari ini?" lanjut Dessery bertanya tetapi disambut wajah bingung oleh Mikho.


"Kalau tak ada kegiatan lain, bisakah temani Celine hari ini? Tante ingin beres-beres di rumah. Nanti Tante bawakan makan malam untuk Mikho sebelum pulang, apa bisa?" tanya Dessery.


"Oh bisa Tante, jangan khawatir! Aku akan di sini temani Celine," jawab Mikho langsung.


Mendengar itu Bu Dessery tersenyum dan langsung bersiap-siap serta pamit pada putrinya. Berjanji akan kembali nanti malam bersama ayahnya Celine. Begitu wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu meninggalkan ruangan, Mikho langsung menghampiri Celine.


"Pulang saja kalau mau pulang, nggak usah tunggu Papa dan Mama datang. Aku nggak apa-apa sendirian. Nggak usah terikat sama permintaan Mama," ucap Celine saat Mikho berdiri di hadapannya.


Nggak! Aku ingin tetap di sini, aku ingin terikat denganmu. Selamanya ingin bersamamu. Aku justru bahagia selalu didekatmu, batin Mikho sambil menatap Celine.


Gadis yang ditatap itu hanya bisa menunduk. Mikho meraih tangan Celine dan menempelkan di dadanya. Gadis itu sangat terkejut, kembali menatap Mikho dengan raut wajah bingung.


"Celine, apa menurutmu aku laki-laki seperti itu? Laki-laki yang hanya ingin melecehkanmu? Aku … aku tidak seperti itu Cel. Di gunung itu, aku lakukan bukan untuk melecehkan kamu. Aku tidak akan minta maaf untuk itu. Karena aku sungguh-sungguh ingin menumpahkan rasa cintaku sama kamu. Aku punya hasrat sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku menciummu karena aku butuh untuk menyalurkan rasa cinta aku sama kamu," jelas Mikho panjang lebar untuk meyakinkan Celine.


Celine yang menatap Mikho, akhirnya tertunduk. Gadis itu sempat melayang mendengar ucapan Mikho. Lalu kembali tersadar akan perasaannya yang terhalang oleh kisah masa lalunya. Mikho mengangkat dagu gadis itu.


"Cel, apa tanggapanmu?" tanya Mikho penasaran ingin mendengar jawaban dari Celine setelah laki-laki itu dengan jelas menyatakan cintanya.


Namun, Celine hanya diam menatap Mikho dengan mata yang berkaca-kaca. Mikho tak ingin menunggu lama. Duduk di atas ranjang rumah sakit itu lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Celine. Laki-laki itu membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu. Perlahan dan lembut, Mikho mencoba menembus dan menyusup masuk ke rongga mulut gadis yang dicintainya itu.


Mikho perlahan memeluk Celine, dan masih berusaha menembus bibir yang terkatup itu. Laki-laki itu terkejut saat tiba-tiba merasakan tengkuknya disentuh lembut oleh Celine. Gadis itu bahkan mulai membalas ciumannya. Laki-laki itu tersenyum dalam hati dan semakin gencar menyalurkan ungkapan cintanya melalui permainan lidah yang bermain-main di rongga mulut Celine.

__ADS_1


Mereka telah terhanyut oleh permainan cinta yang lembut dan menyenangkan, hingga tak menyadari Tiara yang berdiri menatap mereka dari lobang kaca di pintu masuk ruang rawat inap itu. Mikho dan Celine seperti tak ingin melepaskan lagi kesempatan untuk menyalurkan rasa cinta yang terpendam tanpa mereka sadari.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2