
Hari menjelang sore, seorang anggota OSIS melapor pada Tiara kalau hingga saat ini masih belum menemukan Mikho. Tiara menoleh pada Celine, gadis itu hanya diam tertunduk. Tiara merasa, sebagai wakil ketua OSIS, Celine tak bisa diharapkan lagi. Gadis itu akhirnya mengajak beberapa orang untuk mencari Mikho.
"Aku hanya berani mencarinya saat hari masih terang. Kita harus segera menemukannya sebelum hari menjadi gelap," jelas Tiara.
"Gimana kalau Mikho naik ke puncak?" tanya seorang yang ditugaskan untuk ikut mencari.
"Entahlah! Kalau seperti itu kita pasrah. Kita tak ada yang berani mendaki hingga ke puncak," jawab Tiara.
"Kita minta bantuan sama anak sispala aja," usul yang lain.
"Mereka baru pulang tadi pagi, nggak mungkin meminta mereka naik lagi. Lagi pula apa mungkin Mikho pergi tanpa membawa perlengkapan apa pun?" tanya Tiara.
Mereka mengangguk,aa akhirnya memutuskan mencari di sekitar lokasi wisata pegunungan itu. Tiara membagi kelompok yang terdiri dari beberapa orang. Masing-masing kelompok pergi ke arah mata angin yang berbeda. Tak ada yang boleh berpencar, harus tetap dalam satu kelompok.
Mereka telah mencari hingga satu jam lebih namun belum ada tanda-tanda Mikho di temukan. Seorang gadis teman sekelas Mikho mendatangi Celine yang duduk termenung di depan onggokan api unggun yang telah padam.
"Semua ini gara-gara loe," ucap gadis itu dengan tatapan sinis.
Celine mengangkat wajahnya menatap gadis yang bicara padanya.
"Dasar perusak acara," ungkap yang baru datang.
__ADS_1
Celine menoleh pada gadis yang baru datang itu. "Apa liat-liat dasar cewek gak tahu diri. Udah dibaikin malah sok-sokan, loe tu siapa ha? Seorang putri? Sok banget," ucap yang lainnya.
Mereka berdatangan mengerumuni Celine. Sepertinya karena tak ada Tiara di tempat, mereka menjadi berani mendekati Celine
"Loe itu sok ya? Mentang-mentang disukai Mikho belagu banget. Jangan sok! Loe itu, tak lain hanya cewek murahan. Dasar lontee!" serua cewek itu.
Mendengar itu Celine langsung berdiri. Mereka langsung kaget melihat Celine yang seperti menantang.
"Mau apa loe?" tanya gadis itu melihat Celine berdiri dari tempat duduknya.
Gadis itu langsung mendorong Celine. Gadis itu tersandung bangku hingga terjatuh. Mereka langsung mengerubuti Celine, memukuli dan menjambak rambut gadis itu. Celine menangis, tak ada yang menolongnya. Gadis itu bergantian di jambak dan di pukuli.
Hingga saat seorang gadis ingin melayangkan tamparan pada Celine, seseorang menahan tangannya. Semua gadis itu menoleh termasuk Celine yang tadi bersiap-siap akan menerima tamparan.
"Erica, kalau kamu berani menyakitinya lagi. Aku tidak akan segan-segan lagi padamu," ungkap Mikho sambil melepas tangan Erica dengan disentakkan.
Mikho segera menarik tangan Celine lalu mendekap gadis itu dalam pelukannya. Gadis itu menangis dalam pelukan Mikho. Erica menatap heran pemandangan di hadapannya itu dengan perasaan yang tak karuan. Hati Mikho jelas-jelas telah disakiti oleh Celine tapi laki-laki itu masih saja membelanya.
Baru tadi pagi Mikho merasa kecewa dengan sikap Celine. Sore harinya laki-laki itu kembali untuk membelanya. Erica termenung frustasi melihat sikap Mikho. Bukan hanya Erica yang tercenung menatap kejadian itu. Tiara yang baru saja kembali setelah mencari Mikho pun tercenung menatap kejadian tak terduga itu. Tiara menghampiri Mikho dan Celine.
"Kamu dari mana aja, kami susah payah mencarimu?" tanya Tiara pada Mikho.
__ADS_1
"Kenapa tinggalin Celine sendirian? Lihat apa yang mereka lakukan pada Celine. Setidaknya sisakan satu orang untuk menemaninya. Mereka sudah mem-bully dan memukuli Celine. Kamu 'kan tahu Celine sedang terguncang?" tanya Mikho dengan ekspresi kesal.
Bukannya menjawab pertanyaan Tiara, laki-laki itu justru menegurnya. Kemudian Mikho mengusap punggung Celine lalu menangkup wajah gadis itu.
"Apa sakit?" tanya Mikho.
Celine menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir di pipinya. Mikho menghapus air mata itu sambil tersenyum. Bukan tanpa alasan Celine meneteskan air mata. Semua itu karena hatinya yang tergugah. Setelah sikapnya yang menyakiti hati Mikho, sekarang laki-laki itu datang dan masih mau membelanya.
Mikho tersenyum pada Celine. "Masuklah ke dalam tenda, istirahatlah," ucap Mikho pelan. Celine mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam tenda.
Mikho beralih menatap Tiara. "Temanilah Celine, dia pasti sangat ketakutan," ucap Mikho lalu melangkah menuju tendanya.
Tiara tertunduk, gadis itu juga ingin dihargai oleh Mikho. Setelah susah payah qqqqmencarinya ke sana kemari dengan perasaan takut dan cemas, Tiara kembali. Begitu bahagia melihat Mikho yang telah berada di perkemahan mereka. Dengan semangat ingin bertanya dari mana saja laki-laki itu selama siang ini.
Tapi apa yang didapatnya? Sebuah pemandangan yang menyesakkan dadanya. Mikho yang sakit hati karena sikap Celine justru datang untuk membela gadis itu. Dan sekarang Mikho justru menghardiknya karena telah meninggalkan Celine seorang diri di perkemahan hingga di bully Erica dan kelompoknya.
Tiara patuh pada ucapan Mikho, gadis itu masuk ke dalam kemah dan melihat Celine yang duduk dengan tubuh berguncang karena tangisnya. Celine tak menyangka dan merasa bersalah pada Mikho. Laki-laki yang telah disakiti hatinya itu masih mau membela.
"Apa yang kamu tangisi? Perbuatanmu yang menyakitinya lalu masih mau menolongmu. Apa hatimu tergugah? Ternyata dia masih tetap perhatian padamu? Mikho bahkan menegurku karena meninggalkanmu. Memangnya kamu siapa? Kenapa aku tidak boleh meninggalkanmu? Kenapa aku harus mengawalmu? Apa kamu seorang tuan putri? Mikho memperlakukanmu sedemikan apa masih tidak cukup? Apa semua orang harus menjagamu? Apa semua orang, dunia ini harus bergerak mengitarimu? Aku capek! Aku lelah harus menjaga perasaanmu. Aku tak suka melihat sikapmu yang berlebihan, menyimpan dendam masa lalu. Apa cuma kamu yang punya masalah di masa lalu, kenapa masalah sekecil itu ikut menjadi bebanku? Mungkin memang benar apa yang Mikho katakan. Kamu cuma gadis murahan, lontee yang selalu ingin terlihat berharga," ungkap Tiara, lalu berlari keluar dari tenda Celine menuju tendanya.
Tiara menangis, Celine yang mendengar curahan hati sahabatnya itu akhirnya tertunduk terisak-isak. Gadis itu bahkan menepuk dadanya yang terasa sakit. Baru kali ini dia mendengar isi hati Tiara yang sesungguhnya dan itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
Dada Celine terasa berdenyut perih, gadis itu bahkan tak mampu mengeluarkan suaranya untuk menangis, tercekat, mendengar isi hati sahabatnya yang kini telah membencinya. Celine menangis hingga sesenggukan hingga gadis itu terbatuk-batuk karena tenggorokannya yang tercekat dan terasa sakit.
...~ Bersambung ~...