
Bu Dessery meminta pertunangan tetap diadakan. Ibunda Celine itu meminta Mikho melanjutkannya. Laki-laki itu kehilangan kata-kata, antara percaya dan tidak dengan ucapan ibu itu. Mikho pun tak ingin salah paham.
Teon bahkan membantu mengingatkan Mikho. Dengan pasti laki-laki itu menyatakan ingin bertunangan dengan Celine meski hanya sanggup berbisik pada mantan Sispala itu. Teon meminta Mikho menjawab permintaan Bu Dessery.
Mikho menatap Bu Dessery lalu menoleh ke arah Celine. Gadis itu menatapnya penuh tanda tanya. Mikho menatap gadis itu seakan tak percaya mendapat kesempatan itu. Tetapi Celine berpikir lain, laki-laki itu terlihat bingung, seperti ragu untuk bertunangan dengannya.
Mikho sulit menjawabnya permintaan Mama. Mungkin dia memang tak ingin bertunangan denganku, batin Celine.
"Ma, jangan dipaksa! Mikho tak mau bertunangan denganku. Acara ini dibubarkan saja," ucap Celine lalu berdiri dari kursi tamu undangan itu.
Mikho langsung berdiri dan meraih tangan Celine. Gadis itu menatap tangannya yang digenggam Mikho. Laki-laki melangkah ke hadapan Celine dan menangkup wajah gadis itu.
"Siapa yang tak ingin bertunangan denganmu. Menikah denganmu sekarang juga, aku mau,"ucap Mikho.
"Lalu kenapa sulit menjawab? Nggak! Aku nggak mau ada yang terpaksa! Tak ada acara pertunangan, batal!" ucap Celine menepis tangan Mikho yang menggenggam lengannya.
"Celine, bukannya aku sulit menjawab. Tak ada yang terpaksa. Aku hanya nggak percaya tiba-tiba mendapat kesempatan ini. Lagi pula, aku nggak punya persiapan apa-apa. Aku juga nggak punya cincin untukmu–"
"Mik, pakai aja ini," ucap Tiara sambil melepas cincin di jarinya setelah mendengar pembicaraan Mikho dan Celine.
Gadis itu tak menyangka, kalau Mikho melepas kesempatan untuk segera menjadikan Celine tunangannya hanya karena kurang persiapan. Tiara juga merasa cincin itu tak ada artinya lagi di jari manisnya. Segera gadis itu menyerahkannya pada Mikho.
"Jangan Ra, yang sudah diberikan, jangan dikembalikan," jawab Celine.
"Tapi cincin tunangan ini sudah nggak ada artinya lagi, Cel. Ini bisa digunakan untuk acara pertunanganmu," ucap Tiara.
Celine tetap menggelengkan kepalanya. Melihat Celine yang keberatan menerima itu, Mikho berjanji akan pergi membeli cincin sekarang juga. Namun, Celine menahan tangan laki-laki itu. Gadis itu mengeluarkan jepit rambut yang baru diserahkan Mikho padanya.
"Ini saja! Ini yang jadi simbol pertunangan kita," ucap Celine.
Semua tercengang dengan pilihan Celine. Bahkan Bu Dessery yang tadinya ingin meminjamkan cincinnya menjadi tercengang. Celine memilih sesuatu yang tak biasa sebagai tanda pertunangan mereka.
"Ini sangat berarti bagiku, ini adalah pemberian Oma ku yang telah tiada. Siapa pun takkan bisa menemukan benda seperti ini karena ini pemberian Omaku. Bagiku ini lebih berarti daripada cincin tunangan yang bisa di beli di toko," ucap Celine.
Bu Dessery tersenyum, ibu itu sangat ingat kalau Celine sangat dekat dengan neneknya. Jepitan itu dibelikan neneknya sebagai oleh-oleh saat neneknya berlibur ke Thailand. Celine begitu bahagia mendapat hadiah jepitan rambut itu sehingga selalu di pasang di rambutnya.
Sebuah penyesalan baginya saat dia ragu mengenakan jepitan itu karena hari itu mata pelajaran olah raga. Dia bisa saja menghilangkan jepitan kesayangannya dalam kegiatan olah raga itu tetapi karena begitu sukanya pada jepitan itu, Celine kecil tetap memasangnya di rambutnya. Akhirnya hal yang ditakutkan pun terjadi, hari itu adalah hari yang paling menyedihkan baginya.
__ADS_1
Bu Dessery tak sadar bahwa tangisan Celine bukan hanya karena kehilangan jepit rambutnya tetapi juga karena panggilan menghina yang dilontarkan Mikho padanya.
"Sungguh? Cukup ini saja?" tanya Mikho.
Celine mengangguk, Tiara urung mengembalikan cincin pertunangannya dengan Mikho yang telah batal. Teon yang ingin meminjamkan jas nya tetapi juga urung karena telah robek bagian lengannya. Pak Yudhi datang menyerahkan jas yang dipakainya untuk dikenakan Mikho.
"Seorang dokter tak butuh jas seperti seorang pengusaha. Kamu pasti sanggup membelinya tapi sudah tak ada waktu. Lihatlah para tamu tadi sudah mulai datang lagi," terang Yudhi sambil melihat tamu-tamu yang mulai berdatangan.
Rupanya para tamu itu tak pulang, mereka hanya takut dengan perkelahian. Saat seorang tamu menyatakan pertunangan akan dilanjutkan. Para tamu lain mulai kembali memasuki ballroom hotel itu.
"Aku beri kabar Papa dan Mama kamu ya?" tanya Tiara pada Mikho.
Mikho pun mengangguk. Tiara yang memang telah mengenal akrab kedua orang tua Mikho akhirnya mengundang mereka untuk datang. Awalnya mereka keberatan karena mendadak dan kesal karena Mikho yang tak meminta izin bertunangan terlebih dahulu. Namun, setelah dijelaskan oleh Tiara dengan hati yang sabar akhirnya kedua orang tua Mikho bersedia hadir.
Para undangan kembali datang satu persatu. Setelah menunggu dan melihat situasi serta mendengar bahwa pertunangan akan dilanjutkan mereka pun kembali memasuki ballroom. Sebagian besar dari mereka kaget karena pasangan yang akan bertunangan telah berganti. Namun, sedikit banyak mereka telah mengerti karena mengikuti sebagian dari kejadian tadi.
Para tamu yang datang pun sebagian besar adalah kenalan dari keluarga Yudhi. Selain orang-orang dari perusahaan yang juga merupakan kenalan yang menjadi undangan keluarga Yodi. Hanya sebagian kecil saja undangan yang tak dikenali oleh keluarga orang tua Celine itu.
Sambil menunggu orang tua Mikho datang, Pak Yudhi menyapa para tamu dan meminta maaf atas ketidaknyamanan dalam acara pertunangan yang batal tadi. Mereka mendengarkan dengan sangat serius penjelasan pimpinan tertinggi perusahaan itu. Meski begitu Pak Yudhi sama sekali tak menjelekkan Yodi dan orang tuanya.
"Benar Pak, cinta tak bisa dipaksakan. Kasihan anak-anak yang harus menjalani rumah tangga tanpa cinta. Pasti sangat tertekan," jawab salah seorang direksi.
"Tapi terus terang Pak, saya pribadi bersyukur, putri bapak batal menjadi menantu Pak Cipto," jelas direksi yang lain
"Oh ya? Kenapa?" tanya Yudhi heran.
Para direksi yang duduk berkeliling di meja bundar itu serentak tertunduk. Pak Yudhi merasa mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Pak Yudhi sangat berharap salah satu dari mereka menjelaskan maksud ucapan tadi.
"Pak Cipto, dia …."
"Ada apa dengan Pak Cipto?" tanya Yudhi semakin penasaran tentang calon besannya yang tak jadi itu.
"Kita tak bermaksud mengghibah, tapi kami rasa ini memang kenyataannya. Jangan takut Pak, ceritakan saja yang sebenarnya," jelas direksi yang lain.
"Ya benar, Pak Yudhi memang sebaiknya tahu yang sebenarnya," sambung direksi yang lain. Setelah Pak Yudhi menoleh pada direksi tadi akhirnya bapak yang memulai tadi akhirnya mau menjelaskan.
"Pak Cipto sepertinya sangat terobsesi dengan posisi Dirut. Dia seperti lupa dengan jabatannya yang sebenarnya. Tak mau mendengarkan kendala para direksi lain. Hanya menjalankan sesuai dengan keinginannya. Bahkan, tugasnya sendiri terbengkalai," jelas direksi tadi.
__ADS_1
"Benar Pak Yudhi. Mulai dari saat mengajukan diri sebagai PLT pak Yudhi waktu bapak di luar negeri. Kami, agak terkejut. Kurang yakin dengan kapasitasnya sebagai direktur perencanaan bisa memutuskan segala sesuatu tanpa meminta pendapat Pak Yudhi dan juga pendapat kami," jelas direksi lain.
"Dia mengajukan diri? Bukannya kalian yang memilih?" tanya Yudhi.
"Ini semua karena kami tak ada yang berani mengambil beban tanggung jawab besar sebagai pucuk pimpinan. Begitu Pak Cipto mengusulkan diri, meski tak yakin akhirnya kami setujui," jawab direksi yang lain.
"Oh kalau begitu sudahlah. Dia yang punya keberanian untuk mengajukan diri. Kita syukuri saja. Yang penting tak ada masalah lagi dalam perusahaan," ucap Yudhi pasrah. Keempat direksi itu saling berpandangan.
"Sebenarnya, ada masalah Pak. Bapak ingat saat kami minta datang ke perusahaan, waktu Bapak masih tinggal di luar negeri?" tanya direksi itu. Yudhi mengangguk.
"Itu akibat ulah Pak Cipto Pak–"
"Apa?" tanya Yudhi kaget.
"Awalnya kami hanya menduga-duga. Tim fraud kami kerahkan untuk melakukan audit secara diam-diam. Saat ini mereka sedang mengumpulkan bukti-bukti penyelewengan yang dilakukan Pak Cipto. Kita beruntung perusahaan bisa terselamatkan berkat perjuangan Pak Yudhi tapi ... perbuatan Pak Cipto tak bisa dibiarkan. Dia harus bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambilnya," ucap direksi itu.
"Betul Pak, saat kami dengar putri bapak akan menjadi menantu Pak Yudhi, kami langsung putus asa. Apalagi ada isu kalau yang akan melanjutkan kepemimpinan Pak Yudhi adalah putra Pak Cipto. Waah, alamat tenggelam Pak, penyelewengan Pak Cipto," jelas direksi yang lain.
"Kami rasa, Pak Cipto sengaja menjodohkan putranya dengan putri Pak Yudhi, untuk mengamankan kecurangan-kecurangan yang dilakukan Pak Cipto. Maaf Pak, itu menurut kami," ucap direksi itu.
"Tapi mereka bertemu saat kuliah," ucap Yudhi.
"Putra pak Cipto sudah lama tamat Pak."
"Tapi mungkin melanjutkan ke jenjang S2," ucap yang lain.
"Mungkin juga ya."
"Tapi apa pun itu kami tetap bersyukur Pak. Mereka tak jadi menikah," ucap direksi itu.
"Ya, dengan batalnya perjodohan ini, kita bisa menindak kecurangan Pak Cipto, tinggal menunggu bukti-bukti yang dikumpulkan tim fraud saja," ucap direksi itu.
Pak Yudhi termenung mendengar penjelasan para bawahan yang telah seperti teman itu. Penjelasan mereka sebenarnya sangat mengejutkan. Pak Yudhi hanya bisa menunggu untuk membuktikan tuduhan para dewan direksi.
Tak lama kemudian kedua orang tua Mikho datang. Pak Yudhi pun, berkenalan dengan calon besannya. Acara pertunangan pun segera dimulai.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1