Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 41 ~ Rencana ~


__ADS_3

Setelah Mikho pergi, Yodi menunggu Celine. Namun, yang turun dari lantai atas hanya Bu Dessery. Yodi bertanya keadaan gadis itu. Bu Dessery menjelaskan keadaan Celine yang baik-baik saja tetapi masih sangat bersedih.


"Celine sedang istirahat. Mama suruh dia tidur agar lebih tenang," jelas Dessery.


"Apa benar Celine sudah menerima lamaranmu?" tanya Yudhi pada Yodi.


"Ya Pa, aku berencana akan mengajak orang tuaku datang menemui Mama dan Papa, kalau berkenan menerima," ucap Yodi.


Bu Dessery menoleh ke arah suaminya. Jelas masih ada keraguan di hatinya. Ibu itu sudah mengenal Yodi sejak mereka tinggal di Amerika. Namun, entah mengapa hati Bu Dessery tak pernah bisa dekat dengan Yodi.


"Kami akan bicarakan ini dengan Celine. Setelah itu akan kami kabari, seperti apa langkah selanjutnya," jawab Yudhi langsung, melihat istrinya yang hanya diam, tak bisa menjawab.


"Baiklah Pa, kalau begitu aku permisi pulang dulu. Mudah-mudahan kondisi Celine segera pulih. Sepertinya dia sangat terguncang," ucap Yodi pamit.


Kedua orang tua itu mengangguk. Yodi pun pulang. Kedua orang tua Celine itu duduk termenung di ruang tengah.


"Celine, hampir saja melakukan itu lagi Pa," ucap Dessery akhirnya memecah keheningan.


"Melakukan apa Ma?" tanya Yudhi tak mengerti.


"Bunuh diri," jawab Dessery.


"Apa? Lalu bagaimana dia sekarang? Mama tak boleh meninggalkan dia sendiri," ucap Yudhi langsung panik.


"Sedang tidur Pa. Tadi Mama sudah bicara dari hati ke hati dengannya. Mama rasa dia tak akan melakukannya lagi," jawab Dessery.


"Lalu, apa alasan dia melakukan itu Ma?" tanya Yudhi penasaran.


"Celine belum cerita Pa. Sepertinya, dia tak mau mengungkap masalahnya," ucap Dessery kembali bersedih.


"Kalau begitu masih bahaya Ma. Jika masalahnya masih tersimpan di hati dan belum terselesaikan, Papa takut suatu saat nanti, Celine kembali lemah dan merasa tak sanggup menahan lagi penderitaannya. Celine bisa mengambil langkah pendek itu lagi Ma," ujar Yudhi.


"Ya Pa, Mama juga merasa begitu. Tapi kita tak bisa mendesaknya. Mama juga kasihan melihatnya. Biarkanlah dia menenangkan diri dulu. Nanti kita tanyakan masalahnya perlahan-lahan ya Pa," ucap Dessery.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Masalah di biarkan berlarut-larut tak akan terselesaikan tapi hanya akan menjadi beban yang terus memberatkan," jelas Yudhi.


"Ya Pa, baiklah. Tapi bagaimana dengan lamaran Yodi ini. Mama merasa aneh Pa. Sudah lama mengenalnya di Amerika. Tapi kok, Mama tak bisa percaya padanya seperti Mama percaya pada Mikho," tutur Dessery.


"Mungkin karena hati Mama yang telah terlanjur terisi olehnya. Mama terlanjur sayang pada Mikho dan percaya kalau Mikho bisa melindungi dan membahagiakan Celine," jelas Yudhi.


"Mungkin Pa, Mama melihat Mikho di sudutkan seperti tadi, rasanya kasihan sekali," ucap Dessery.


"Kita serahkan semuanya pada Celine Ma. Apa pun keputusannya harus kita dukung," jawab Yudhi.


Bu Dessery mengangguk. Mereka kembali tenggelam dalam lamunan masing-masing. Pasrah terhadap keputusan putri mereka nanti. Saat mereka mendapat kesempatan untuk bicara dengan Celine, keduanya pun menanyakan keseriusan gadis itu menerima lamaran Yodi.

__ADS_1


"Jangan takut Nak, jawab sesuai kata hatimu. Jika belum yakin, membatalkan pun tak apa-apa. Jangan sampai menyesal nantinya. Jika masih butuh waktu untuk berpikir, kita akan minta waktu sama Yodi. Jangan takut Nak, kami tak akan menyalahkan apa pun pilihanmu," jelas Dessery.


"Ya Ma, Celine sudah memutuskan menerima lamaran Kak Yodi, Celine juga sudah menyetujui untuk melaksanakan acara pertunangan–"


"Kamu yakin Nak?" tanya Yudhi.


Nggak, sedikit pun tak yakin. Tapi aku sudah terlanjur setuju. Tak mungkin menarik ucapanku sendiri. Itu pasti akan menyakiti hati Kak Yodi, batin Celine.


Gadis itu tak menjawab tetapi hanya mengangguk. Lidahnya sangat kelu untuk berucap kata-kata yang bertentangan dengan hatinya. Celine tak bisa mencari jalan lain untuk menghindar, juga tak sanggup menyakiti hati orang-orang yang disayanginya.


Aku akan berpegang pada ucapan Mama. Apa yang tak aku sukai saat ini mungkin adalah sesuatu yang akan aku syukuri. Aku tak menyukai Kak Yodi seperti aku menyukai Mikho tapi mungkin suatu nanti akan berubah, dan aku akan mensyukuri pilihanku. Semoga seperti itu, aku hanya berharap seperti itu. Karena bersama Mikho tak akan mungkin lagi. Mikho milik Tiara, meski mereka berpisah pun aku tak yakin Mikho akan tetap bertahan bersamaku, karena kebenciannya padaku, jerit hati Celine.


Gadis itu kembali termenung, membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala. Terlihat Celine yang tak begitu yakin dengan keputusannya. Namun, setiap kali diyakinkan kembali, jawaban Celine tetap sama. Gadis itu tetap menyetujui rencana pertunangannya dengan Yodi.


Pertemuan antara dua keluarga pun direncanakan. Orang tua Yodi, segera datang untuk mengenalkan diri mereka. Dalam sebuah jamuan makan malam ayah dan ibu Yodi diundang untuk membicarakan kelanjutan rencana pertunangan putra putri mereka.


"Pak Cipto?" tanya Yudhi kaget.


"Lho ini rumahnya Pak Yudhi?" tanya tamu yang baru datang.


"Ya Pak Cipto, ini rumah saya. Jadi Yodi ini putranya Pak Cipto?" tanya Yudhi langsung.


"Benar Pak, wah kebetulan sekali ya?" tanya Cipto.


Keduanya saling tertawa, sementara para istri tersenyum dengan tatapan heran. Mereka pun saling mengenalkan keluarga masing-masing. Celine pun dikenalkan dengan kedua orang tua Yodi.


Bu Dessery tersenyum, ada sedikit rasa lega di hatinya. Calon besan ternyata bukan orang yang asing bagi keluarga mereka. Bahkan suaminya mempercayakan perusahaannya saat tak bisa memimpin perusahaan itu.


Celine pun berpikiran sama, jika ayahnya bisa mempercayakan perusahaannya pada Pak Cipto artinya orang tua Yodi itu adalah orang yang bisa dipercaya. Mereka pun melanjutkan pembicaraan yang lebih serius. Mengingat Yodi telah melamar Celine dan gadis itu pun telah menerimanya.


"Bagaimana kalau langsung menikah saja Pak?" tanya Wina, istrinya Cipto.


"Kalau kami terserah pada mereka yang menjalani. Apa mereka siap untuk langsung menikah saja?" ucap Yudhi kembali bertanya.


"Kalau Yodi pasti siap saja Pak, bagaimana dengan putri Bapak?" tanya Cipto.


Semua sontak menoleh pada Celine. Gadis itu diam membeku. Melihat itu Bu Dessery langsung mewakili putrinya menjawab.


"Sepertinya kalau segera menikah, Celine belum siap. Tapi jika bertunangan dulu, mungkin Celine masih bisa," jawab Dessery.


Terlihat kedua orang tua Yodi langsung kecewa, begitu juga dengan Yodi. Namun, mereka tak bisa memaksakan kehendak pada gadis itu. Begitu inginnya segera menikahkan putra mereka, Bu Wina bahkan bertanya alasan Celine belum siap menikah.


"Celine ini sangat pendiam ya? Katakanlah Nak, kenapa kalian tidak bisa langsung menikah? Ada kendala apa?" tanya Wina.


Celine diam, tak mungkin menceritakan kalau hatinya masih tertambat pada laki-laki lain. Mencari alasan pun sudah tak sempat lagi. Bu Dessery kurang suka cara Bu Wina yang mendesak putrinya.

__ADS_1


"Biarkan dia memutuskannya Bu Wina. Jika belum siap, berarti ya belum siap, tak peduli alasannya apa," jawab Dessery. Bu Wina tercenung.


"Oh ya maaf, aku pikir apa yang jadi kendalanya, mungkin kami bisa bantu mengatasi," jawab Wina.


"Tidak ada kendala apa-apa kecuali hanya kesiapan hati mereka," jawab Yudhi membantu menjawab.


"Oh ya kalau begitu, terserah Celine saja. Kalau berubah pikiran, jangan ragu-ragu beritahu kami," lanjut Wina.


"Jangan khawatir, tahap pertama adalah pertunangan. Itu sudah langkah besar bagi Celine. Maklumlah putri kami satu-satunya. Sangat manja pada ibunya. Mungkin jika sudah bertunangan, dan tiba-tiba merasa siap menikah, kita lanjutkan. Itu mungkin saja terjadi," jelas Yudhi.


"Oh ya, benar Pak. Jika langsung lompat mungkin Celine masih gamang. Kalau selangkah demi selangkah mungkin Celine bisa menjalani. Benar juga Pak," jawab Wina.


"Terima kasih atas pengertiannya Bu," jawab Yudhi.


Mereka pun lanjut membicarakan tentang acara pertunangan. Penetapan tanggal dan lokasi acara. Sementara ibu-ibu sibuk mendiskusikan semuanya, Celine hanya termenung. Tak satu pun menjadi perhatiannya. Semua dipercayakan pada ibunya.


Begitu serunya perencanaan pertunangan itu sehingga harus diselingi dengan makan malam terlebih dahulu. Setelah itu ibu-ibu kembali melanjutkan perbincangan. Sementara bapak-bapak menyerahkan sepenuhnya pada ibu-ibu dan memilih berbincang di beranda belakang.


Celine dan Yodi, duduk di ruang tamu. Laki-laki itu mencoba mengajak Celine bicara. Karena sejak kejadian di restoran, Celine memang kembali berubah murung.


"Apa masih memikirkan laki-laki itu?" tanya Yodi.


"Apa?"


"Terus terang aku menyesal kita kembali ke tanah air. Dulu kamu telah menjadi gadis yang ceria. Yah tak begitu riang tapi sudah mendekati normal. Sekarang kamu sama seperti saat pertama kali kita bertemu," jawab Yodi.


Celine menunduk, gadis itu meminta maaf. Yodi dengan hati lapang memaafkan gadis itu. Dia juga meminta Celine kembali seperti dulu.


"Aku ingat kamu dulu suka memaksaku memenuhi keinginanmu. Sekarang jangankan memaksa, memiliki keinginan saja sepertinya tak ada. Aku ingin Celine seperti dulu, yang memaksaku naik ke puncak gunung," ucap Yodi mengingatkan sifat Celine yang dulu.


Namun, Yodi salah dalam mencari analogi. Sangat tak tepat karena langsung mengingatkannya pada Mikho yang menolongnya di klinik kesehatan. Mata gadis itu langsung berkaca-kaca.


Saat semuanya setuju dengan konsep-konsep acara pertunangan. Keluarga Yodi mohon diri. Mereka terlihat berat untuk pulang, merasa telah dekat dengan keluarga Celine. Bu Dessery hanya tersenyum menanggapi segala ucapan Bu Wina.


"Mama nggak suka dengan Bu Wina," ucap Dessery begitu mobil yang membawa keluarga itu melaju di jalan raya. Sebaliknya Bu Wina pun berpikiran sama.


"Sombong sekali mentang-mentang istri bos. Semua sesuai kehendak putrinya. Aku yakin, putrinya itu tak mau segera menikah karena takut ketahuan kalau sudah tak perawan lagi," ucap Wina.


"Sudahlah, yang penting bisa menikahi putrinya si Yudhi itu. Kamu bisa menjadi penerusnya nanti," ucap Cipto pada istrinya lalu pada putranya.


"Ya, kalau sudah jadi Dirut nanti, kamu bisa cari yang lebih baik dari putrinya itu. Yang perawan dan lebih cantik," sahut Wina.


Yodi hanya diam, sementara orang tuanya sibuk memberi semangat, dirinya sibuk mengkhayalkan dirinya sebagai Direktur Utama. Cerita ayahnya yang sempat mengenyam rasanya menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan itu membuat hatinya terpacu untuk dapat mencapai posisi itu secara instan.


Meski untuk itu dia harus mengorbankan cintanya terhadap pasangan hidup dan putrinya di Amerika. Begitu mendengar cerita ayahnya yang menggantikan posisi seorang Direktur Utama demi putrinya yang tertekan. Yodi langsung mencari tahu dan mendekati Celine.

__ADS_1


Rapuhnya jiwa Celine membuat gadis itu mudah mempercayai laki-laki yang telah mengetahui seluk beluk tentang dirinya. Yodi pun mulai menyukai Celine, jatuh cinta pada gadis kasihan itu. Bertekad memilikinya sekaligus memiliki perusahaan ayahnya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2