
Di kantor perusahaan Pak Yudhi terjadi kehebohan. Para karyawan membicarakan pesta pertunangan putri atasan mereka yang mengalami peristiwa menegangkan. Ditambah lagi, calon menantu Pak Yudhi ternyata adalah putra dari salah satu direksi dari perusahaan itu.
Hal yang lebih menghebohkan adalah Pak Cipto yang telah mengundurkan diri secara tiba-tiba dengan hanya meninggalkan surat pengunduran diri di atas meja kerjanya. Sementara tim fraud telah berhasil menemukan bukti-bukti kecurangan Pak Cipto. Saat melihat hasil penyelidikan tim fraud, Pak Yudhi hingga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Untuk apa dia melakukan semua ini? Bukankah dengan jabatan dan penghasilan yang diterimanya sudah melebihi dari cukup bahkan bisa dinilai hidupnya telah sejahtera?" tanya Yudhi.
"Kalau masalah kesejahteraan, pastilah hidup Pak Cipto sudah sangat sejahtera. Masalahnya adalah obsesi Pak Cipto yang terlalu besar untuk menguasai perusahaan ini Pak. Mungkin untuk menutupi semua kecurangannya. Karena itu dia harus mengamankan posisi puncak. Jika putranya benar-benar menjadi penerus bapak. Kecurangannya pasti akan ditutupi. Dia bisa bebas selama-selamanya," jelas seorang direksi.
"Sayang sekali dia dan keluarganya harus meninggalkan rumahnya yang sebesar itu karena terpaksa melarikan diri," ucap direksi lain.
"Rumahnya pasti banyak Pak. Jika begitu cara kerjanya," ucap direksi yang lain.
"Bisa jadi sudah dijual cepat ke orang lain," sahut direksi yang lainnya.
"Tapi sekarang sudah masuk daftar pencarian orang kita tunggu saja kabar beritanya," sahut yang lainnya.
"Apa yang dilakukan Pak Cipto telah mengguncang perusahaan. Beruntung Pak Yudhi segera datang dan kembali menempati posisi bapak, jika tidak …." ucap direksi itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Benar! Entah bagaimana nasib perusahaan, entah bagaimana nasib kita," ucap direksi yang lain.
"Perusahaan bagi kita adalah kapal untuk berlayar. Yang kita rawat baik-baik agar bisa mengantar kita sampai ke tujuan," jelas Yudhi.
"Benar Pak, masalahnya, demi ingin merasa hangat dan nyaman sendiri, ada yang melobangi kapal dan mengambil kayunya untuk membuat perapian, tinggal menunggu karam saja kapal itu, ya kan Pak," ucap direksi yang lain.
"Benar! Benar sekali, beruntung kita semua masih bisa selamat berkat Pak Yudhi yang mau kembali ke perusahaan," ucap direksi lain.
"Ini berkat putriku yang selalu menyuruhku untuk kembali. Jika tidak, aku sudah seperti orang yang melobangi kapal sendiri dengan tak peduli saat melihat air masuk dari lobang meski hanya sebesar lobang jarum. Beruntung saat itu putriku memaksaku untuk kembali. Dia memikirkan keselamatan perusahaan dan karyawannya. Meski sedang terguncang dia masih sempat memikirkan nasib karyawan dan dia tak ingin merasa bersalah karena itu," jelas Yudhi.
"Kalau begitu, sebenarnya putri bapak punya jiwa kepemimpinan yang sangat tinggi tanpa disadarinya," ucap seorang direksi yang disetujui oleh direksi lain.
"Benar Pak! Asal dikelilingi orang-orang baik yang membantunya. Orang-orang yang sama-sama peduli pada perusahaan, maka putri bapak adalah kandidat terbaik untuk menggantikan posisi bapak," ucap yang lain.
"Ya benar! Jangan khawatir soal penerus lagi Pak! Bapak masih muda, masih panjang kesempatan bagi putri bapak untuk belajar. Putri bapak sudah memiliki modal jiwa seorang pemimpin. Seperti itu saja sudah sangat bagus, tinggal belajar trik berbisnis. Saya rasa, jika putri bapak mau belajar pada bapak, dia pasti akan menjadi pengusaha yang handal," ucap seorang direksi dan yang lain mengangguk tanda setuju.
Semua pembicaraan itu sampai ke telinga Celine saat mereka berkumpul untuk makan malam. Celine tercenung, mengerucutkan mulutnya sambil berpikir.
__ADS_1
"Baiklah Pa! Kalau begitu Celine akan bekerja di perusahaan Papa, sambil melanjutkan kuliah," ucap Celine yang disambut dengan tepuk tangan dan senyum bahagia Bu Dessery.
Mereka menyambut gembira niat Celine. Dengan bermodal ijazah lulusan luar negeri dan dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di tanah air. Kedua orang tua Celine berharap putri mereka dapat menemukan passion-nya di dunia bisnis.
Dengan cepat niat itu dilaksanakannya. Celine mengundurkan diri dari perusahaan tempat dia bekerja. Lalu masuk sebagai karyawan dan belajar di perusahaan ayahnya. Celine menjalani hari-hari yang penuh pembelajaran. Sementara Mikho sangat mendukung usaha tunangannya itu.
Gadis itu sedang menikmati manis dan lembutnya ciuman Mikho saat laki-laki itu merasakan getaran dari balik saku celananya. Celine meminta laki-laki itu menerima panggilan telepon itu. Mikho menatap layar ponselnya dan merasa tak mengenal angka yang tertera di layar ponselnya itu. Dengan rasa penasaran, laki-laki itu akhirnya menerima panggilan telepon itu.
"Maaf Mikho, apa mengganggu kesibukanmu?" tanya penelpon dan Mikho langsung mengangguk menoleh pada Celine.
"Siapa ini?" tanya Mikho yang tak begitu mengenali suara penelpon.
"Teon,"
"Oh Teon, apa kabar? Aku tak sibuk, silahkan bicara saja," ucap Mikho sambil meraih tangan Celine dan mengecupnya.
Mikho sudah merasa dekat dengan Teon sejak menolongnya menghadapi para pengawal Yodi. Merasa jadi penasaran karena tiba-tiba laki-laki itu menghubunginya. Begitu juga dengan Celine yang juga merasa penasaran, mantan teman sekelasnya itu menelpon calon suaminya.
"Ini aku … di rumah sakit. Apa kamu bisa bantu periksa lukaku?" tanya Teon terdengar ragu-ragu.
"Cari Tiara saja, dia pasti ada rumah sakit," lanjut Mikho setelah menerangkan kalau dirinya sedang berada di klinik yang sangat jauh di luar kota.
Teon terkejut, karena mengenal daerah itu sebagai lokasi wisata pendakian gunung yang pernah mereka datangi dulu. Mikho pun membenarkan. Teon langsung tertawa mengingat Mikho yang ternyata tak bisa lepas dari kenangan naik gunung itu.
"Jangan ketawa, cepat cari Tiara sana. Dia masih praktek jam segini," ucap Mikho.
"Tapi … aku cari dokter lain sajalah. Nggak enak cari dia, nanti dikiranya aku sengaja cari dia lagi," ucap Teon malu-malu.
"Hey anak Sispala, jangan pengecut. Cuma begitu saja merasa nggak enak. Kalau dia tahu kamu cari dokter lain justru malah bahaya. Dia bisa kesal sama kamu. Habis nelpon ini, aku kasih tahu dia, biar dia tahu kamu ada di rumah sakit dan nggak berani temui dia," ucap Mikho tertawa sambil menoleh ke arah calon istrinya yang terperangah.
"Jangan! Jangan! Biar aku cari dia, tak usah telepon dia ya? Ok!" seru Teon.
"Ok! Aku nggak akan telpon dia. Tapi awas kalau tak jadi temui dia. Aku nggak akan kasih tahu lewat telpon. Aku akan kasih tahu sendiri secara langsung," ucap Mikho langsung tertawa.
Sementara Teon langsung menepuk jidatnya. Laki-laki itu pun terpaksa mendaftar dan mencantumkan nama dr. Tiara. Bagian administrasi pun memberi petunjuk ruang praktek dokter cantik itu.
__ADS_1
Saat masuk dan bertatap muka, jantung mereka sontak berdebar-debar. Dalam hati sama-sama mengumpat dan menyalahkan Mikho yang seperti berusaha menjodohkan mereka. Teon berbasa-basi dengan dokter cantik itu.
"Apa kabar … Tiara, eh … dr. Tiara?" tanya Teon.
"Baik, bagaimana kabarmu … Teon?" tanya Tiara juga terbata-bata.
"Baik eh, sebenarnya kurang yakin karena itu aku ingin periksa lukaku ini," ucap Teon ragu-ragu.
Tiara mengangguk lalu meminta laki-laki itu duduk di ranjang periksa. Tiara meminta laki-laki itu untuk melepas kemejanya agar lebih leluasa memeriksa lukanya yang berada di bagian kiri lengan atasnya. Gadis itu tak mungkin merobek seperti yang dilakukannya waktu itu. Selain karena memang telah robek, Tiara memang harus membuka lebih luas agar bisa leluasa memeriksa luka sayat laki-laki tampan itu.
Tiara menelan ludah saat melihat tubuh atletis itu. Seperti sangat ingin mencicipi roti sobek yang berjejer rapi di perut Teon. Namun, gadis itu hanya bisa menunduk seperti yang juga dilakukan Teon.
"Perbanmu basah, sebaiknya aku lepas ya?" tanya Tiara yang dibalas anggukan oleh Teon.
Dokter cantik itu pun mulai melepas perban lama. Mengeringkan bagian luka yang basah itu lalu Memeriksa luka Teon dengan teliti. Dokter cantik itu lalu mengoleskan cairan pembersih dan pengering luka.
"Kenapa bisa basah?" tanya Tiara, berusaha memecah suasana canggung.
Teon yang tadinya duduk kaku lurus ke depan langsung berpaling menoleh ke arah dokter cantik yang sedang merawat lengan sebelah kirinya itu. Wajah mereka begitu dekat, membuat jantung mereka seperti tersengat listrik. Detaknya langsung tak beraturan. Tiara langsung menyibukkan diri membersihkan luka itu.
Kadang Teon meringis karena Tiara yang grogi menekan lukanya terlalu dalam. Gadis itu langsung merasa bersalah. Seperti dokter yang baru lulus kemarin sore, sikap Tiara menjadi sangat canggung. Teon menangkap dan menahan tangan gadis itu.
"Tolong, pelan-pelan ya," pinta Teon.
Tiara mengangguk pelan, menatap wajah tampan yang begitu dekat itu. Namun, bukannya melepas tangan Tiara, Teon justru menatap dan mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara. Mereka merasakan debaran jantung yang tak berirama tetapi terasa nikmat.
Teon semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara dan herannya Tiara bukannya menjauh tetapi juga ikut mendekat. Seperti memiliki magnet yang terpasang dengan kutub yang berbeda di bibir mereka. Kedua bibir itu menempel dengan sempurna.
Tak hanya sampai di situ, lidah Teon mengusap lembut bibir Tiara meminta izin untuk masuk. Anehnya gadis itu membiarkan. Lidah Teon semakin leluasa menjelajahi rongga mulut gadis itu.
Dengan debar jantung yang terasa begitu nikmat dan permainan lembut lidah Teon. Tiara semakin terlena. Gadis yang tak pernah merasakan hal-hal seperti itu saat bertunangan dengan Mikho, kini merasakan sensasi yang membuatnya kecanduan.
Tiba-tiba ponsel laki-laki itu bergetar. Tiara melepaskan ciuman mereka. Reflek Teon meraih ponsel yang bergetar di saat yang tak tepat itu. Tiara terbelalak saat melihat profil wajah manis yang masih belia terpampang di layar ponsel Teon. Dokter cantik itu sontak mundur begitu melihat gadis cantik yang sedang berusaha menghubungi ponsel laki-laki tampan itu.
...~ Bersambung ~ ...
__ADS_1