
Mikho bahagia diizinkan menginap menemani gadis yang dicintainya seharian. Mikho bahkan sampai menginap saat weekend karena libur sekolah. Mulai dari Jum'at sore hingga Minggu sore laki-laki itu hanya di ruangan itu bersama Celine. Mikho bahkan meminta kedua orang tua Celine istirahat di rumah saat dirinya yang bertugas menjaga Celine.
Selama menjaga Celine laki-laki itu merawat dengan penuh perhatian. Saat ke kamar mandi Mikho akan menggendongnya. Saat makan Mikho akan menyuapinya. Saat tidur Mikho akan menunggu di sampingnya.
Kadang Celine merasa bahagia, kadang merasa sedih. Saat teringat Mikho akan meninggalkannya jika tahu siapa dirinya. Jika teringat itu Celine akan menangis. Gadis itu merasa takut jatuh cinta lebih dalam lagi pada Ketos tampan itu. Selalu membatasi diri agar jangan terlalu mengagumi laki-laki tampan itu. Namun, setiap hari selalu saja ada yang membuat hati gadis itu terharu, merasakan perlakuan Mikho hingga tak sadar kembali jatuh cinta.
Saat malam Celine terbangun, gadis itu akan menatap wajah tampan yang tertidur di kursi samping ranjang rumah sakit itu. Celine tak tega, lalu meminta Mikho tidur di ranjang yang disediakan khusus untuk penunggu pasien. Namun, Mikho menolak, alasannya terlalu jauh dari Celine dan laki-laki itu takut tak bisa terjaga jika Celine membutuhkannya.
Tak bisa! Tak bisa selalu seperti ini. Aku akan semakin menyukainya. Hatiku akan semakin sakit kalau ditinggal olehnya. Aku tak akan sanggup ditinggalkan Mikho. Aku harus segera meninggalkannya. Aku yang harus pergi, aku yang harus meninggalkannya, ucap dalam hati Celine menatap sedih laki-laki yang terlihat lelah itu.
Besok sorenya Mikho harus pulang karena akan kembali ke sekolah besok harinya. Orang tua Celine juga tak akan izinkan pemuda tampan itu lebih lama lagi di rumah sakit. Mikho juga harus istirahat, untuk kegiatan sekolahnya besok.
"Aku tunggu ortumu datang baru aku pulang ya?" bujuk Mikho meminta untuk diizinkan berada di situ lebih lama lagi tetapi Celine menggelengkan kepalanya.
"Istirahatlah di rumah, aku juga sudah merasa sehat. Mungkin dalam waktu dekat dibolehkan pulang. Jangan sampai kamu jatuh sakit karena aku," ucap Celine meminta laki-laki itu untuk pulang.
"Aku tidak akan jatuh sakit lagi, aku ini sudah jatuh tapi jatuh cinta," jawab Mikho sambil tersenyum.
Celine diam, menatap Mikho dengan raut wajah yang serius. Mikho langsung tertunduk. Gurauannya seperti tak di sukai Celine. Sebenarnya hati Mikho sedih setiap kali meninggalkan Celine. Laki-laki itu selalu ingin di sisi Celine, tetapi perasaan Celine tak sama dengannya. Mikho merasa Celine tak terlalu ingin dekat dengannya.
Laki-laki itu melangkah perlahan sambil tertunduk. Melangkah dengan enggan menuju pintu keluar ruang rawat inap itu. Air mata Celine langsung mengalir, baru saja Mikho ingin mendorong pintu itu, Celine berlari menubruk punggung laki-laki itu.
__ADS_1
Celine memeluk Mikho dari belakang. Laki-laki itu kaget, tetapi hanya diam membiarkan. Mikho mendengar isak tangis Celine, laki-laki itu ingin membalik badan tetapi Celine menahan dengan memeluknya erat. Mikho diam terpaku.
"Terima kasih Mikho dan maafkan aku untuk segalanya," ucap Celine di sela-sela tangisnya.
Mikho terdiam, rasa aneh menjalar di hatinya melihat sikap Celine. Gadis itu terlihat begitu sedih, padahal semua masalah telah berlalu. Teman-teman tak lagi mengucilkannya. Tiara telah meminta maaf padanya dan Mikho sendiri telah menjelaskan perilakunya yang semua terjadi atas dasar cinta. Namun, Celine seperti begitu sedih. Mikho teringat sesuatu yang buruk, laki-laki itu langsung membalik badan.
"Celine, apa yang ada dalam pikiranmu? Katakan padaku! Apa kamu ingin bunuh diri lagi!" ucap Mikho berteriak panik.
Teringat kembali saat Celine bersikap manis padanya. Makan siang bersama di kantin setelah sekian lama bersekolah di situ mereka tak pernah makan berdua di sana. Namun, hari itu. Celine seperti memberikan sebuah kenangan indah. Ingin memberi kesan terakhir sebelum perpisahan.
"Celine, aku mohon. Jangan lakukan itu lagi, aku mohon! Aku akan menyesal seumur hidup Celine. Aku mohon jangan memilih jalan itu. Lakukan apa pun yang kamu mau. Pukul aku jika aku salah, maki aku, lakukan apa saja jika kamu benci aku, tak bisa memaafkan aku. Lakukan apa pun padaku Celine, akan aku terima. Tapi tolong jangan berpikiran seperti itu lagi. Aku mohon Celine, aku mohon," ucap Mikho menangkup wajah gadis itu.
"Nggak! Aku nggak mau pulang. Jangan paksa aku! Aku akan di sini mengawasimu bahkan jika Om dan Tante datang. Aku tidak akan akan tidur sedetik pun untuk mengawasimu," ujar Mikho sambil melangkah kembali ke ruang rawat inap itu.
Celine melangkah perlahan mendekati laki-laki yang terlihat frustasi itu. Dada Mikho turun naik menahan emosi. Napasnya menghembus dengan kencang dan berat. Celine perlahan menyentuh jari-jari tangan Mikho.
Laki-laki itu langsung menoleh, menatap Celine yang seperti asyik menyentuh jari-jari tangannya. Laki-laki itu langsung menangkap jari tangan Celine. Gadis itu mengangkat wajahnya menatap wajah panik laki-laki yang dicintainya itu.
"Aku janji tidak akan lakukan itu," ucap Celine pelan.
"Benarkah? Kamu janji? Apa janjimu bisa dipegang?" tanya Mikho bertubi-tubi. Celine mengangguk.
__ADS_1
"Aku tidak akan bunuh diri," ucap Celine.
"Aku sudah melihat sekali saat kamu kritis. Aku tak mau lagi mengalami itu, sangat menyedihkan. Jika kamu bunuh diri maka aku juga akan bunuh diri. Itu lebih baik daripada hidup dengan penyesalan karena tak bisa menjagamu," ungkap Mikho panjang lebar.
Celine tersenyum, gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Ketos tampan itu. Celine menjinjitkan kakinya untuk mencapai wajah Mikho. Laki-laki itu kaget saat melihat Celine yang berinisiatif mencium bibirnya.
Tak ingin membuat gadis itu kesulitan, Mikho langsung membungkukkan badan menyambut bibir kesukaannya itu. Mereka berciuman, lembut dan menikmati. Mikho tersenyum bahagia, memeluk gadis itu dengan penuh kasih. Laki-laki itu seperti tak ingin melepaskannya. Mencium, pangkal leher gadis itu dengan begitu meresapinya.
"Aku mencintaimu Celine, ingatlah itu. Aku sangat mencintaimu," ucap Mikho sambil menangkup wajah gadis itu lalu mengecup bibirnya.
Mikho tersenyum lalu mencium kening gadis itu. Mikho pamit pulang dan berjanji akan kembali besoknya. Celine mengangguk sambil tersenyum, gadis itu melambaikan tangannya di lorong rumah sakit itu mengiringi langkah kaki laki-laki tampan itu.
Celine menatap punggung yang semakin menjauh itu. Perlahan air matanya mengalir. Celine harus melakukan itu. Celine tak sanggup kehilangan cinta Mikho. Tak sanggup menghadapi Mikho yang akan membencinya. Celine tak akan bunuh diri tetapi memilih meninggalkannya.
Begitu bahagianya Mikho, hingga langsung duduk di meja belajarnya. Meraih jepitan rambut itu lalu tersenyum menatapnya. Sebuah jepitan rambut yang biasa dipakai anak gadis kecil. Seperti biasa, Mikho akan bicara dengan jepitan rambut berbentuk pita itu. Jepitan itu sudah seperti diary bagi Mikho.
"Evita! Sepertinya dia sudah menyukaiku. Tadi dia cium aku duluan. Kamu jangan cemburu ya? Kamu itu cinta masa laluku, Celine cinta masa sekarang. Kalian tak usah saling cemburu karena kalian berdua aku cintai di masing-masing waktu yang berbeda. Tapi jika dia tak izinkan aku cinta sama kamu, jangan marah ya Evita karena aku udah janji, dia boleh lakukan apa saja yang dia mau. Kalau dia tak inginkan kamu, maka terpaksa kamu mengalah ya?" ucap Mikho bicara sendiri.
Laki-laki itu lalu mengecup jepitan rambut itu. Sementara Mikho asyik bicara dengan jepitan rambut berharganya. Celine memutuskan untuk meninggalkan tanah air keesokan harinya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1