
Celine mengikuti Mikho yang mengejar Erica. Gadis itu berlari menuju pintu gerbang area gedung pengadilan. Celine berharap gadis itu bisa lolos melarikan diri dari kejaran Mikho. Namun, naas. Sebuah mobil SUV masuk tepat saat Erica hendak keluar gerbang.
Erica salah memilih jalan, menggunakan gerbang masuk untuk keluar. Semua yang melihat kejadian itu langsung terkejut. Erica terpental, gadis itu pingsan dengan luka di kepala dan sebagian wajahnya terluka gores di aspal.
Mikho menjadi orang pertama yang tiba di tempat kejadian karena memang sedang mengejarnya. Selanjutnya Celine yang menyusul di belakang. Sopir SUV itu langsung turun dan panik. Memohon agar tidak disalahkan. Pengemudi yang bisa dipastikan hanya berprofesi sebagai sopir itu membela diri bahwa dia tidak salah. Menganggap kesalahan Erica sendiri yang tiba-tiba muncul di jalan tepat dia berbelok untuk masuk.
"Kita harus segera bawa ke rumah sakit Kak," ucap Celine segera.
Melihat Mikho yang terpaku menatap Erica. Mendengar ucapan gadis itu, Mikho tersadar. Segera memeriksa tanda-tanda vital Erica. Menempel dua jarinya di hidung Erica untuk memeriksa napasnya. Menekan di salah satu lehernya untuk mendeteksi denyut nadi gadis itu.
Orang-orang mulai berdatangan. Melihat Mikho yang memeriksakan keadaan korban mereka terlihat penasaran. Terlebih Mikho yang menyatakan Erica pingsan karena benturan.
"Baiklah Celine, kita bawa dia ke rumah sakit," ucap Mikho yang menggendong Erica.
Celine berlari ke area parkir untuk mengambil mobilnya. Sementara Mikho menunggu tunangannya itu. Saat Celine datang Mikho langsung menggendong Erica masuk di bagian tengah. Celine mengendarai mobil sementara Mikho memangku Erica.
Beberapa orang mengambil foto dan merekam kejadian itu. Mulai dari saat Mikho memeriksa hingga menggendong Erica. Mereka bahkan mengambil foto plat nomor kendaraan mobil yang dikendarai Celine.
"Apa mereka mencurigai kita, pakai di foto segala. Padahal yang menabrak kan bukan kita," ucap Celine di balik kemudi.
Gadis itu mengeluh sikap orang-orang yang hanya cepat dalam merekam, tetapi lambat dalam bertindak. Gadis itu sendiri trauma karena sebuah rekaman. Mereka segera melaju meninggalkan gedung pengadilan itu menuju rumah sakit di mana Mikho praktek.
"Mungkin karena aku yang mengejar Erica, mereka mengira kita berniat buruk padanya dan sekarang kita membawanya. Mungkin saja mereka curiga kita akan membuang korban di suatu tempat," jelas Mikho.
"Jahat sekali pemikiran mereka," ucap Celine.
Pendapat Mikho, kadang mendengar berita korban tabrakan yang pengemudinya hanya berpura-pura membawa korban ke rumah sakit. Lalu ditinggal begitu saja di jalanan. Beruntung di temukan orang dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.
"Aku memang salah, harusnya aku tak mengejarnya," ucap Mikho menyesali perbuatannya.
"Kalau begitu aku yang salah Kak. Kalau tak menghalangi Kak Mikho, saat ini tangannya pasti masih di pegang Kak Mikho dalam gedung pengadilan," jelas Celine. Mikho tertawa tertahan.
"Kalau begitu salah dia sendiri, kenapa lari ke gerbang masuk," ucap Mikho.
"Kasihan dia, Kak. Sudahlah sakit, disalahkan pula," ucap Celine.
"Itulah dirimu, terlalu mudah kasihan sama orang sementara orang lain tak merasa kasihan padamu. Dia ini berkomplot dengan Yodi untuk menjahatimu, apa kamu lupa?" tanya Mikho sambil menatap Celine yang terdiam di bangku pengemudi.
Celine tertegun, gadis itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Nama Yodi seperti momok mengerikan baginya. Teringat bagaimana kasarnya laki-laki itu padanya. Celine bahkan tak bisa mengenalinya lagi. Laki-laki yang selama ini lembut, penurut, pengertian dan perhatian padanya, tiba-tiba berubah menjadi seperti monster.
Memukulinya tanpa ampun, tanpa belas kasihan. Meskipun Celine telah kewalahan, kesakitan dan nyaris pingsan, Yodi tetap menyakitinya. Celine tak mengenali laki-laki itu lagi. Dia seperti berhadapan dengan seorang psikopat. Celine bahkan berpikir dia akan mati hari itu juga. Seperti rencana yang diucapkan Yosi.
Celine merasakan tubuhnya terhempas di atas kap mobil. Perlahan gadis itu mulai kehilangan kesadaran tetapi masih sempat melihat Yosi yang melarang Yodi melakukan sesuatu padanya. Sama halnya dengan Yosi, dia bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Yodi padanya.
__ADS_1
Tolong jangan lakukan ini padaku. Bunuh saja aku, batin Celine dengan menitikkan air mata.
Terbayang pelecehan seksual yang akan dialaminya. Detik itu Celine merasa tak ingin hidup lagi. Terbayang wajah Mikho dan orang tuanya. Penyesalan terbesar gadis itu tak bisa menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang dicintainya.
Tangan Yodi menekan punggungnya dan menyingkap rok selututnya, air mata Celine mengalir di atas kap mobil itu. Wajahnya telah kebas, merasa tak tahu lagi, bagian mana yang tak terasa sakit.
Sekuat tenaga mencoba untuk bangkit, tetapi kembali mendapat dorongan kuat. Wajah dan tubuhnya kembali terhempas di atas kap mobil. Terasa remuk seluruh tubuhnya hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Celine melepas sebelah tangannya dari kemudi. Menghapus air matanya yang mengalir. Sangat wajar jika dia membenci Erica. Sejak dulu Erica selalu bersikap jahat padanya. Menghina dan mem-bully-nya, tetapi tetap saja Celine tak tega. Melihat seseorang yang menderita, hatinya menjadi luluh dengan sendirinya.
Celine tak bisa membalas sikap jahat seseorang dengan sikap yang jahat pula. Ditambah lagi janjinya pada Yosi yang meminta maaf untuk kakaknya. Celine hanya bisa menganggap semua dilakukannya demi membalas budi karena Yosi yang telah menyelamatkannya.
Mereka tiba di rumah sakit, Mikho langsung memeriksa keadaan Erica dengan peralatan medis di rumah sakit. Pemeriksaan dengan menggunakan CT scan pun dilakukan. Sementara itu Celine tertunduk menunggu dengan wajah murung di ruang tunggu. Hatinya bimbang menceritakan pada Yosi, apa yang terjadi pada kakak perempuannya.
Maafkan Kakak Yosi, Kakak tak bisa mengabarkanmu tentang kejadian ini. Kakak takut konsentrasimu akan terganggu. Jangan khawatir, Kak Celine akan menjaga kakakmu. Jika suatu saat kamu mengetahui kejadian ini, Kakak pasrah jika kamu membenci Kakak, batin Celine kembali mematikan layar ponselnya.
Gadis itu menghapus air matanya. Merasa bersalah karena tak bisa menepati janjinya untuk selalu mengabarkan perihal keluarga Yosi. Kini saat Kakak dari anak itu kecelakaan, Celine justru merahasiakannya.
Mikho keluar dari ruang periksa, langsung menemui Celine yang tertunduk sambil menangis. Mikho duduk disamping Celine lalu merengkuh bahu gadis itu dan menyandarkan ke dadanya.
"Bagaimana keadaannya Kak?" tanya Celine dengan suara serak.
"Dari hasil pemeriksaan, dia baik-baik saja tapi … entah bagaimana reaksinya nanti saat tahu wajahnya terluka," jelas Mikho.
"Beberapa bagian cukup dalam, tentu akan meninggalkan bekas," jawab Mikho.
Celine tercengang hingga menutup mulutnya dengan tangannya. Air mata Celine langsung mengalir. Tak tega melihat seorang gadis terluka di wajahnya. Erica pasti tak bisa menerima kenyataan itu. Celine hingga menangis sesenggukan.
Mikho memeluk tubuh yang berguncang itu. Mikho mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya. Mikho mengerti, Celine memang tak sanggup menyakiti atau melihat orang yang tersakiti.
Karena Celine berjanji pada Yosi dalam hati. Gadis itu memaksa menunggu di ruang rawat inap itu meski Mikho memintanya untuk istirahat di rumah. Gadis itu tak tega, Erica tak punya siapa-siapa lagi yang menemaninya di rumah sakit.
Kedua orang tua dan kakaknya telah mendekam dalam penjara sementara adiknya berada jauh di luar negeri. Celine duduk termenung di samping ranjang rumah sakit. Terus menatap wajah Erica yang di balut kain kasa itu.
Beberapa saat kemudian Erica sadar. Celine langsung bangun untuk menyapanya. Gadis itu kembali menangis saat melihat kain kasa yang menutupi sebagian wajah Erica.
"Bagaimana perasaanmu, apa sakit sekali?" tanya Celine menyapa.
Erica memalingkan wajahnya, jangankan menjawab pertanyaan gadis itu. Begitu melihat Celine melangkah mendekatinya, wajahnya langsung berubah marah. Celine tertunduk sedih, melihat sikap Erica yang masih tetap membencinya.
"Kenapa Erica? Kenapa kamu begitu membenciku," tanya Celine.
"Aku benci kamu yang pura-pura kasihan melihatku. Pura-pura peduli padaku padahal dalam hatimu, kamu tertawa melihat kesialanku," ucap Erica begitu kasar.
__ADS_1
"Aku tidak seperti itu. Aku benar-benar khawatir padamu," jawab Celine.
"Omong kosong!" bentak Erica.
"Kenapa Erica? Apa sikapmu ini karena Mikho? Aku … tak merebut dia darimu Erica. Mikho mencintaiku itu bukan kesalahanku. Cinta itu tidak bisa dipaksakan Erica. Aku hanya mencintai Mikho sejak dulu. Meski aku mencoba untuk menghindar darinya. Meski aku menutupi rasa cintaku dengan kebencian tapi pada akhirnya aku tetap tak bisa menghindar darinya. Aku mencintainya. Aku memilih mengakhiri hidupku setiap kali berpikir tak bisa hidup tanpanya. Setiap kali memikirkan dia akan membenciku, hatiku sangat sedih. Lebih mudah memintaku mati daripada memintaku berhenti mencintainya. Aku … tak bisa menyerahkan Mikho pada siapa pun. Tak bisa merelakan Mikho pada siapa pun. Aku tak bisa berhenti mencintai Mikho–"
Mikho yang baru datang dan hendak masuk ke ruangan itu mengurungkan niatnya. Tersenyum saat mendengarkan pengakuan Celine pada Erica. Ungkapan hati Celine telah didengarnya, hatinya menjadi berbunga-bunga.
"Tapi kamu merebutnya dari Tiara. Kamu licik! Kamu tak bisa menyerahkan Mikho pada siapa pun hingga merebutnya dari sahabatmu sendiri," bentak Erica.
"Aku mencoba merelakannya, sungguh! Tapi aku tak bisa. Aku terlalu mencintainya. Satu-satunya yang membuat aku pasrah hanya jika Mikho sendiri yang meninggalkan aku," jawab Celine.
"Aku benci padamu Celine. Bukan hanya karena Mikho. Aku banci padamu lebih daripada itu. Aku bahagia saat melihatmu dikucilkan seluruh teman-teman di sekolah. Aku bahagia saat mendengar kamu melakukan percobaan bunuh diri–"
"Erica!" bentak Mikho.
Celine kaget, begitu juga dengan Erica. Mikho tiba-tiba muncul menghardik Erica. Bagi Mikho, ucapan Erica sangat keterlaluan. Tak ada rasa simpati terhadap teman yang tertekan.
"Apa kamu tahu bagaimana khawatirnya Celine padamu? Apa kamu tak merasa dia membelamu? Aku harusnya melaporkan kamu atas tuduhan penyebaran berita tanpa izin. Tapi apa yang dilakukannya? Dia membelamu, dia membiarkan kamu pergi," ucap Mikho dengan wajah kesal.
"Aku tak peduli! Itu sama sekali tak mengurangi kebencianku padanya! Dia telah menghancurkan harapan kami, rencana-rencana kami," ucap Erica dengan ekspresi kesal menatap lurus pada Mikho.
"Apa maksudmu?" tanya Mikho.
"Tanyakan pada tunanganmu yang pengkhianat itu. Begitu mudahnya dia ingkar janji, tanpa memikirkan perasaan kami sekeluarga. Begitu mudahnya membatalkan janji pertunangannya hanya karena kamu muncul dan menyatakan cinta masa kecilmu. Dia … langsung berpaling. Membuat keluarga kami dipermalukan di depan semua tamu. Apa itu? Perempuan seperti itu yang akan aku percayai peduli padaku?" tanya Erica sambil menunjuk ke arah Celine.
Mikho langsung menoleh ke arah Celine. Air mata gadis itu langsung mengalir. Baru menyadari apa yang dilakukannya telah menyakiti hati keluarga itu. Mikho masih terlihat bingung atas hubungan Erica dengan batalnya pertunangan Celine dan Yodi.
"Aku tak mengerti Erica," ucap Mikho.
"Ya, tentu kamu tak mengerti. Kalian, orang-orang yang tak peduli dengan rasa malu yang diderita keluarga kami karena perbuatan kalian. Tanyakan saja pada gadis yang tak berhati yang telah seenak meninggalkan kakakku demi bertunangan denganmu," ucap Erica.
"Kakakmu? Siapa Kakakmu? Apa Yodi itu kakakmu?" tanya Mikho.
Erica memalingkan wajahnya. Mikho beralih menatap Celine. Dengan wajah penuh tanda tanya menatap ke arah gadis itu.
"Apa kamu tahu tentang ini? Apa kamu tahu kalau Erica itu adiknya Yodi? Kamu ingin merahasiakan ini padaku–"
"Bukan begitu Kak–"
"Lalu apa maksudmu? Karena itukah kamu menghalangi aku melaporkannya? Kamu tak tega melaporkan adik dari mantan tunanganmu? Kamu sengaja merahasiakan ini padaku? Kamu berahasia denganku? Apa masih ada rahasia lain yang tidak aku ketahui? Apa masih ada rahasia lain lagi ?" tanya Mikho dengan membentak.
Celine tertunduk dengan air mata yang mengalir dan dadanya yang berdenyut perih. Celine tak mampu menjawab pertanyaan laki-laki itu. Bahkan menatap matanya saja Celine tak berani. Mikho kecewa tak kunjung mendapat jawaban Celine. Laki-laki itu pergi meninggalkan Celine yang menangis menyesal diri.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...