
Acara pertunangan telah selesai digelar. Meski tanpa perencanaan, tanpa diduga, Mikho merasa bahagia. Reflek tangannya meraih sesuatu di rak dinding di atas meja kerjanya. Laki-laki itu kaget karena tak menemukan yang dicarinya.
Sebuah kebiasaan baginya, sebelum duduk di meja kerja, tangannya meraih sesuatu di rak dinding kamarnya itu. Namun, kini tak langsung ditemukan. Mikho panik menggeser tangannya ke posisi yang lain tetapi tetap tak menemukan.
Mikho terduduk lalu tertawa, semakin lama semakin terbahak-bahak. Ny. Anisa bahkan cemas mendengar suara tawa Mikho yang terdengar hingga ke lantai bawah.
"Kenapa Mikho!" seru Anisa.
"Nggak apa-apa Mom!" jawab Mikho lalu kembali tertawa.
Ny. Anisa menggelengkan kepalanya, lalu kembali pada aktivitasnya. Sementara Mikho beralih menatap cincin pertunangannya dengan Celine. Mengecup cincin itu berkali-kali lalu menatapnya dan bicara padanya.
"Hampir saja kamu menjadi milik si bangsaat itu. Untung kamu nggak mau, tapi sebagai gantinya, benda yang aku miliki selama belasan tahun lenyap begitu saja. Karena kamu, aku kehilangan benda yang selama ini menemaniku. Tapi tak apa-apa, karena aku mendapatkan yang sebenarnya. Berkat kamu, aku mendapat Evita yang asli, yang bisa tersenyum padaku, bicara padaku, membalas ucapanku, balas memelukku, membalas ciumanku. Terima kasih untuk kesetiaanmu menemaniku. Membuat aku tetap teguh mencintaimu. Oh … terima kasih Oma Celine, sudah menghadiahkan jepitan itu padanya. Terima kasih sudah meminjamkan padaku selama belasan tahun untuk menemani kesedihanku. Terima kasih Oma, mulai sekarang aku akan selalu bahagia dan selalu berusaha membahagiakan Celine, cucumu," ucap Mikho bermonolog.
Mikho merebahkan diri menatap langit-langit kamar. Tersenyum mengenang momen pertunangannya tadi. Meski tubuhnya terasa lelah, tetapi tak dirasakannya sama sekali. Sebuah hari yang menguras emosi dan tenaganya. Namun, berakhir dengan kebahagiaan untuknya.
Berbeda dengan Mikho, Tiara justru termenung di kamarnya. Jika beberapa hari lalu memutuskan pertunangan hanya di hadapan Mikho, hari ini justru mengumumkannya di depan semua orang. Tiara harus menghadapi sendiri kekecewaan kedua keluarga. Keluarganya dan keluarga Mikho. Memutuskan hubungan tiba-tiba tentu membuat kedua keluarga sangat terkejut.
"Ya ampun Tiara, apa yang kamu pikirkan? Hanya selangkah lagi menuju pernikahan, kamu malah putuskan di tengah jalan? Apa yang akan dikatakan keluarga Mikho? Mommy nggak habis pikir. Mommy kira kalian begitu bahagia dengan pertunangan ini," ucap Merry sambil melangkah mondar-mandir di hadapan Tiara yang menangis sesenggukan.
Gadis itu menangis begitu pulang dari rumah sakit. Langsung berlari ke kamarnya membuat ibunya yang sedang bersantai di ruang tengah menjadi panik. Hari itu, hari di mana Tiara memutuskan pertunangannya dengan Mikho. Setelah tak tahan lagi melihat Mikho yang menjalani hari-harinya seperti mayat hidup.
Termenung di rooftop rumah sakit, menatap hampa dan tak merespon ucapan Tiara yang menyapanya setiap hari. Sejak itu Tiara merasa tak ada gunanya lagi mempertahankan pertunangan mereka. Hanya bisa memiliki tubuh Mikho yang melangkah tanpa jiwa. Dengan tangis yang sesenggukan, Tiara akhirnya membatalkan pertunangan mereka.
"Kalau kamu sedih, kenapa ambil langkah ini? Apa tak bisa dirundingkan lagi? Kita sambung lagi pertunangan ini, Tiara. Dia sangat serasi denganmu, kalian pasangan dokter yang sangat hebat. Kenapa memutuskan untuk berpisah? Setelah itu menangis?" sambung Merry menanyakan.
"Dia tak mencintaiku Mom," jawab Tiara terisak-isak.
"Apa? Lalu kenapa kalian begitu dekat? Ke mana-mana bersama. Tertawa bersama, menghadiri acara apa pun bersama. Kenapa bisa ada hubungan antara laki-laki dan perempuan begitu dekat tanpa hadirnya rasa cinta?" tanya Merry semakin heran.
"Karena aku tak jujur, Mommy" ucap Tiara.
"Apa? Apa maksudmu?" tanya Merry.
"Aku berpura-pura sedih kehilangan Celine demi bersamanya," jawab Tiara.
__ADS_1
"Apa? Apa hubungannya dengan Celine?" tanya Merry.
"Mikho mencintai Celine, sejak dia masih kelas enam SD, Mommy," ucap Tiara jujur.
Membuat Merry terperangah, tak menyangka gadis yang telah mereka anggap seperti putri mereka sendiri adalah gadis yang dicintai oleh menantu idamannya. Merry terduduk setelah berjalan mondar-mandir. Lalu memegang kepalanya yang mendadak berdenyut.
"Celine memutuskan bunuh diri karena cintanya yang terhalang pada Mikho," sambung Tiara.
"Karena Mikho? Kenapa?," tanya Merry ingin tahu.
"Celine mengira Mikho membencinya karena kejadian di masa kecil. Padahal aku tahu, Mikho tak membencinya karena itu. Mikho justru mencintainya sejak saat itu bahkan hingga kini Mikho hanya mencintai Celine," jelas Tiara.
"Berarti Mikho menipumu? Menerima pertunangan itu tapi tetap mencintai gadis lain?" tanya Merry emosi.
"Sedikit pun Mikho tak menipuku. Mikho tak pernah mengatakan telah melupakan cintanya pada Celine. Mikho tak pernah melupakan Celine sedetik pun. Aku yang menipu semuanya, termasuk menipu diriku sendiri. Merasa suatu saat Mikho akan melupakan Celine dan akan mencintaiku. Mommy, Mikho tak pernah mencintaiku, kami bersama, karena kami sama-sama menyayangi Celine. Mikho bersedih karena kepergian Celine. Aku bersembunyi dibalik kerinduan kami pada Celine. Padahal aku, dengan curangnya memanfaatkan kepergian Celine agar bisa bersama Mikho. Aku penipu, aku tak tulus, aku berdosa Mommy, karena itu cinta Mikho tak pernah tumbuh padaku," tutur Tiara dengan terisak-isak.
Ny. Merry memeluk putrinya. Tak bisa mendesak dan memaksakan Tiara merubah pikirannya. Ny. Merry pasrah, merelakan kehilangan calon menantu yang begitu dibanggakannya. Nyonya itu memilih merelakan keputusan putrinya di banding melihat Tiara yang menderita karena merasa bersalah terhadap sahabatnya.
Ny. Merry selama ini tak menyadari, kalau calon menantunya itu ternyata memiliki hubungan dengan Celine. Gadis yang dikenalnya dan juga mengenal orang tuanya. Kini Tiara telah melepaskan Mikho.
Rasa takut membayanginya sepanjang prosesi pertunangan. Takut jika tiba-tiba Mikho membatalkan acara tepat di hari H. Takut tiba-tiba Celine muncul dan memakinya sebagai gadis pencuri kekasihnya. Takut kedua keluarga menilainya sebagai gadis yang tega terhadap sahabat.
Namun, prosesi itu berjalan lancar. Tak ada yang menghalangi. Tiara terlena, merasa posisi sebagai tunangan yang sesungguhnya. Padahal semuanya palsu. Pertunangan tanpa cinta. Cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. Membuatnya semakin kejam. Di depan Mikho selalu mendukung cinta laki-laki itu pada Celine. Dibelakangnya, berharap Celine tak pernah kembali, kecelakaan, bunuh diri, tenggelam, tersesat, apa saja. Apa saja yang membuat gadis itu tak akan pernah muncul lagi.
Tiara menyimpan kotak berisi cincin tunangan itu. Lalu merebahkan diri sambil menatap jemarinya yang polos tanpa satu pun cincin ada situ. Tiara memejamkan mata, berusaha mengikhlaskan semuanya. Termasuk kenangan sesaat, masa-masa menjadi tunangan dr. Mikho. Barulah gadis itu sadar, semua kenangan itu tak pernah bebas dari bayangan Celine.
"Ini makanan kesukaan Celine," ucap Mikho.
Tiara mengangguk, mereka berdua memesan menu yang sama, gado-gado. Laki-laki itu menyantapnya dengan penuh semangat. Setiap kali memiliki kesempatan makan siang berdua, mereka mencari restoran yang menyediakan menu gado-gado.
Tak sedikit pun merasa keberatan jika harus memilih menu itu setiap saat. Entah karena begitu ingin menghargai Mikho. Entah karena memang menyukainya atau memang demi mengenang Celine. Semua itu terasa nyaman bagi Tiara.
"Oh, ini lagu kesukaan Celine!" seru Tiara menatap ke langit-langit mall.
Melangkah santai di sepanjang mall sambil mengapit lengan Mikho. Laki-laki itu jadi ikut menikmati lagu yang dikatakan Tiara sebagai lagu kesukaan Celine. Berdua mereka berjalan santai, menikmati nyanyian itu tanpa berkata apa pun. Hening, hanya senyum dibibir mereka, mendengar sambil membayangkan wajah Celine.
__ADS_1
"Kamu ingat? Pernah mengiringi lagu ini dengan gitar saat seorang siswi mendapat hukuman menyanyikan sebuah lagu di perkemahan," ucap Tiara setelah lagu itu berakhir.
"Oh ya benarkah? Aku lupa, begitu banyak lagu yang aku iringi. Aku lupa kalau mengiringi lagu ini," ujar Mikho sambil tersenyum mengenang masa indah itu.
"Iya! Aku langsung melihat ekspresi Celine. Dia … tersenyum. Terpesona padamu. Aku rasa … saat itu dia jatuh cinta padamu. Aku bersyukur dan berharap Celine akan bersikap lebih ramah padamu sejak saat itu," jelas Tiara.
Mikho mengangguk. Tiara bahagia menceritakan kenangan yang bisa membuat Mikho bahagia. Masih mengapit lengan Mikho, mereka bersama-sama menikmati jalan-jalan saat libur praktek itu sambil mengenang Celine.
"Celine lebih suka aktor ini, padahal dia bukan tokoh utamanya!" seru Tiara saat mereka menikmati film-film koleksi Tiara saat menginap di rumah gadis itu karena orang tuanya yang keluar kota.
"Oh ya? Kenapa?" tanya Mikho.
"Entahlah, aku rasa dia agak mirip denganmu," jawab Tiara menatap aktor keturunan Amerika-Korea itu. Kening Mikho berkerut, merasa sedikit heran.
"Apa aku seganteng itu?" tanya Mikho tak mau kege-eran.
Gadis itu tertawa dengan rasa tak percaya diri Mikho. Membuat Tiara pun ikut tertawa sambil menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu kembali pada kenangannya saat Celine berlibur di pantai.
"Celine suka berlibur ke pantai, tapi paling tak suka diajak mandi di pantai. Menurutnya, air laut itu lengket dan terlalu asin," ujar Tiara sambil tertawa. Mikho pun ikut tertawa.
"Siapa yang menyuruhnya mencicipi air laut?" tanya Mikho sambil tertawa.
"Entahlah! Dari mana datangnya ide itu. Yang jelas saat itu Celine tak pernah mau lagi mandi di pantai," ujar Tiara sambil tertawa.
Mereka berdua tertawa mengenang lucunya Celine dengan tingkah dan keluguannya. Pernah memanggil seorang bule dan mengajak bule itu bicara untuk memperlancar bahasa Inggris-nya. Lalu melipir saat bule itu mengajaknya berkencan. Semua kenangan itu diceritakan Tiara hingga membuat Mikho tertawa terbahak-bahak.
Menganggap hanya cerita Celine yang membuat Mikho merasa bahagia dan Tiara punya segudang cerita lucu untuk diceritakan pada laki-laki itu. Tiara lupa, gadis itu tak sadar, apa yang dilakukannya membuat Mikho tak pernah bisa lepas dari sahabatnya itu.
"Asalkan kamu bahagia, aku akan bahagia. Meski itu membuat kenangan Celine tak pernah mati dalam ingatanmu. Bodohnya aku," ucap Tiara sambil memejamkan matanya.
Air mata mengalir dari kedua sisi matanya. Masih berbaring terlentang menghadap langit-langit kamarnya. Tiara ingin melepaskan beban penyesalannya pada Celine yang telah dikhianati olehnya. Pada Mikho karena mencoba meraih cintanya.
"Aku kembalikan semua ke posisi semula Celine. Karena memang tak ada tempat yang tersedia untukku. Semoga kalian bahagia, semakin bahagia karena tak ada lagi masa lalu yang menghalangi cinta kalian," ucap Tiara lirih kembali menatap langit-langit kamar.
Tiara telah melepas Mikho dan sekarang mencoba untuk tak menyesal. Ikut berusaha bahagia demi kedua sahabatnya itu meski tak tahu bagaimana ke depannya. Meski hatinya terasa hampa, kehilangan, tetapi Tiara berharap melihat Celine dan Mikho bahagia, dia juga akan ikut bahagia karena semua itu terjadi karena pengorbanannya.
__ADS_1
...~~ Bersambung ~...