
Mikho yang datang tepat saat Devan memeluk Celine di teras samping rumah, menyaksikan dengan tatapan mata nanar, hingga laki-laki itu langsung terhuyung. Begitu mendapat kabar keberadaan Celine, Mikho langsung melajukan mobilnya untuk segera bertemu dengan istrinya. Tanpa memikirkan kondisi tubuhnya yang lelah menyetir sejauh itu dengan kesehatannya yang tak pernah di hiraukannya lagi.
Hati Mikho terguncang, harapannya untuk bertemu dan bersatu lagi dengan istrinya langsung pupus. Saat ingin ditemui ternyata Celine telah membuka hati pada laki-laki lain. Mikho melangkah kembali ke mobilnya. Bayangan istrinya yang berpelukan dengan laki-laki lain membuatnya sangat frustasi.
Mikho menangis tertunduk di atas setir mobil. Kondisi tubuhnya yang lemah karena tak lagi memperhatikan kesehatannya membuat, Mikho jatuh pingsan di atas setir mobilnya. Air matanya mengalir di sela-sela kelopak matanya yang tertutup rapat.
Sementara itu Celine yang mengetahui fakta tentang ayah Devan yang difitnah oleh ayah dari mantan calon tunangannya itu merasa sangat bersalah. Celine merasa semua hal yang buruk itu terjadi karena dirinya. Devan berusaha menghibur gadis itu.
"Semua sudah berlalu Celine. Kami sudah ikhlas. Papa memang terguncang awalnya tapi seiring berjalannya waktu kami sekeluarga bisa menerimanya–"
"Maafkan aku–"
"Nggak!"
"Apa?"
"Kenapa kamu yang harus minta maaf? Itu bukan salahmu–"
"Kamu nggak mengerti–"
"Kalau begitu buatlah aku mengerti," ucap Devan.
"Aku yang menyebabkan semua itu terjadi. Aku yang meminta untuk pindah ke luar negeri hingga Papa juga terpaksa ikut bersamaku. Jika aku tak memutuskan pindah Papa tak perlu menyerahkan posisi pimpinan itu pada pimpinan sementara. Papamu nggak akan difitnah dan tak perlu resign. Sekarang kamu sudah mengerti? Semua itu salahku 'kan?" tanya Celine. Devan menggelengkan kepalanya.
"Meski kamu yang menyebabkan Papamu harus meninggalkan perusahaan, tapi bukan kamu yang menyebabkan Papaku resign. Kalau pengganti posisi Papamu adalah orang yang jujur, tak akan terjadi hal seperti itu–"
"Tapi tetap saja, akulah akar dari rentetan kejadian itu. Aku yang menjadi asal mulanya–"
"Bukan Celine sayang! Aku sudah bilang, ini bukan salahmu. Mungkin juga ini adalah takdir, buktinya sekarang kami baik-baik saja. Papa balik ke kampung bisa menghabiskan masa tuanya dengan tenang tanpa sibuk memikirkan persaingan dan perkembangan bisnis lagi. Kehidupan kami memang tak bisa mewah seperti dulu lagi, tapi jika terbiasa, kami bisa kok menjalani. Karena itu jangan menyesali diri lagi ya sayang," ucap laki-laki tampan itu.
Ada kesejukan di hati Celine mendengar ucapan Devan sekaligus rasa tak enak saat mendengar ucapan mesra yang dilontarkan laki-laki itu. Melihat Celine yang tersenyum Devan pun bahagia. Laki-laki itu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis yang sejak dulu disukainya itu.
Sedikit lagi bibir laki-laki itu akan menyentuh bibir Celine tetapi Celine langsung memalingkan wajahnya. Devan tersenyum kecut. Devan tahu dia terlalu cepat berharap pada Celine. Gadis itu masih terluka dengan pernikahannya. Devan terlalu percaya diri bisa menghibur gadis itu.
__ADS_1
Penolakan Celine membuat Devan sadar kalau dia harus lebih sabar menghadapi gadis cantik itu. Devan meminta maaf atas tingkahnya dan meminta izin untuk pulang. Celine mengangguk lalu mengantar Devan ke depan rumah.
"Itu … itu seperti mobil Kak Mikho?" tanya Celine ragu-ragu.
"Siapa?"
"Itu seperti mobil suamiku," jawab Celine dan langsung melangkah menghampiri mobil yang terparkir di luar pekarangan rumahnya.
Saat melihat dari kaca jendela, Celine kaget. Terlihat Mikho yang tertunduk di atas setir mobilnya. Celine mencoba memanggil-manggil, tetapi Mikho tak menyahut. Celine langsung panik, tanpa sadar gadis itu langsung menitikkan air mata.
Devan meminta gadis itu untuk tenang. Devan membuka pintu mobil yang memang belum terkunci. Mikho bahkan belum sempat menutup pintu mobilnya.
"Dia kenapa? Apa yang terjadi padanya?" tanya Celine menangis hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Gadis itu begitu panik hingga tak berani mendekat. Devan memeriksa Mikho lalu menenangkan Celine. Menyatakan kalau Mikho hanya pingsan. Laki-laki itu segera memindahkan laki-laki itu ke kursi belakang.
"Kita bawa dia ke klinik sekarang," ucap Devan dan langsung meminta Celine membawa mobilnya sendiri sementara Devan akan mengemudikan mobil Mikho.
Lola yang melihat mobil Mikho masuk ke halaman, langsung menyambut dengan wajah riang. Namun, terkejut saat yang turun dari mobil ternyata adalah laki-laki yang bersama dengan Celine tadi.
Celine yang menyusul dengan mobilnya sendiri, masuk ke halaman klinik, tak lama setelah itu. Lola langsung bertanya apa yang terjadi. Sementara Devan membopong Mikho di punggungnya.
"Itu yang ingin aku tanyakan padamu. Kak Mikho ini kenapa? Dia ditemukan pingsan di depan rumahku," jelas Celine sebisanya.
Lola langsung kaget. Baru teringat kalau belum lama tadi dia telah memberi alamat rumah Celine. Lola langsung tahu kalau Mikho langsung menyusul Celine ke rumahnya.
Setelah dibaringkan di ranjang periksa, perawat itu langsung melakukan pemeriksaan empat tanda vital. Perawat itu kemudian memasang selang infus di pergelangan tangan Mikho.
"Baru kali ini ada perawat yang memeriksa dokter," celetuknya.
Celine tertawa tertahan. Meski tertawa air matanya terus mengalir. Semua itu tak luput dari pandangan Devan. Gadis itu terlihat begitu sedih melihat kondisi suaminya.
"Bagaimana keadaannya? Kenapa dia seperti ini?" tanya Celine.
__ADS_1
"Kadar glukosa dalam tubuh dr. Mikho menurun. Itu membuatnya lemas dan hilang kesadaran. dr Mikho mengalami dehidrasi," jelas Lola sambil mengatur kecepatan cairan infus masuk ke dalam tubuh Mikho.
"Kenapa bisa dehidrasi?" tanya Celine terlontar begitu saja.
"Karena dia nggak makan-makan selama tiga hari," jawab Lola sembarangan.
"Haaa, selama tiga hari? Nggak makan-makan selama tiga hari?" tanya Celine lebih memastikan.
Lola tertawa lalu meminta Celine untuk duduk. Lola melihat Celine begitu khawatir hingga juga khawatir pada kondisi fisik gadis itu. Celine menolak, dia ingin duduk di samping Mikho.
"Dia sepertinya kurang memperhatikan asupan makanannya. dr. Mikho juga mengalami stress, karena itu staminanya drop. Ditambah lagi dia harus menyetir sejauh itu, sementara dia tidak makan-makan," jelas Lola.
"Kamu serius bilang, kalau dia nggak mau makan?" tanya Celine.
"Bisa dikatakan begitu, makan pun mungkin hanya sedikit. Tidak sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Yang pasti dia itu stress. Aku jadi menyesal memberitahu dia alamat rumahmu–"
"Apa? Kenapa beritahu dia?" tanya Celine.
"Ya, aku menyesal memberitahunya. Tapi jika dia tahu aku bertemu denganmu tapi tidak melapor padanya, apa dia akan diam saja? Dia pasti marah padaku," ucap Lola membela diri. Celine tercenung, lalu menoleh menatap wajah Mikho yang masih memejamkan matanya.
"Lihatlah! Wajahnya begitu kurus dan pucat. Apa yang dilakukannya? Kenapa dia jadi seperti ini?" tanya Celine menangis.
"Kenapa tanya padaku? Kamu yang buat dia jadi begini. Kamu yang meninggalkannya. Dia sudah lama mencarimu. Kenapa kamu tega meninggalkannya?" tanya Lola.
"Aku pikir dia tak ingin bersamaku lagi," jawab Celine.
"Sekarang sudah lihat sendiri 'kan? Apa menurutmu dia tak ingin bersamamu lagi? Begitu mendengar kamu ada di sini, dia langsung mengejarnu ke sini," jelas Lola.
Celine mengangguk, baru sadar kalau suaminya masih ingin bertemu dengannya dan bahkan mungkin masih ingin hidup bersamanya. Masih dengan air mata yang mengalir, Celine menggenggam tangan Mikho lalu mendekatkan wajahnya ke wajah dokter tampan itu.
Celine mencium kening, pipi lalu berakhir di bibir suaminya. Devan tertunduk melihat pemandangan itu. Laki-laki itu baru sadar kalau Celine dan suaminya berpisah bukan karena kehendak mereka, karena nyatanya mereka masih saling mencintai.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1