
“Bukan itu yang kutanyakan tadi, Bro.”
“Hah?”
“Nah, lihat dirimu. Gagal fokus, kan?”
Keringat dingin mengalir dari pelipis Jonathan. Dia tidak tahu harus berkata apa. Bastian merasa semakin geli melihat kecanggungan sikap pria yang duduk di hadapannya itu. “Aku tadi tanya, kamu sendiri mau sama Karin-kah?”
“Mana mungkin, Bro. Aku bisa digorok istriku!”
“Berarti kalau There nggak masalah, kamu mau, dong?”
Jonathan benar-benar mati kutu. Diambilnya sehelai tisu di meja dan dipakainya untuk menghapus peluh yang semakin deras mengalir di wajahnya. Sahabatnya tersenyum penuh arti. “Skak mat lu, Jon! Pertimbangkan saranku tadi baik-baik, ya. Carilah sekretaris lain kalau kamu masih mau bertahan dengan There. There’s no other way, Bro.”
Pria yang sudah dianggap layaknya adik kandung sendiri oleh Bastian itu berpura-pura tidak mendengar pernyataan kawan akrabnya itu barusan. Ia sibuk menyantap makanan yang berada di depannya. Ketika sudah selesai makan, dialihkannya pembicaraan ke topik yang lain. Bastian hanya dapat menatapnya dengan sorot mata prihatin.
***
Sore itu Jonathan pulang ke rumah dengan perasaan gundah. Banyak sekali permasalahan yang terjadi di pabrik cat akibat keteledoran karyawan-karyawannya. Para distributor mengajukan komplain akibat kualitas beberapa produknya yang dianggap menurun oleh konsumen. Produk-produk tersebut dikembalikan dalam jumlah yang tidak sedikit dan itu merupakan kerugian yang besar bagi perusahaan.
Mudah-mudahan Theresia sedang dalam keadaan baik moodnya, gumam Jonathan dalam hati. Aku ingin segera mandi dengan air hangat dan beristirahat dengan tenang. Persoalan pabrik akan kupikirkan baik-baik solusinya nanti.
Laki-laki yang sangat takut pada istrinya itu lalu membuka pintu utama rumahnya dan terkejut melihat seorang perempuan berambut lurus pendek dan berwarna pirang. Ngapain Mimin berada di rumahku?! pikirnya geram. Bikin susah saja.
“Mas Jon!” pekik perempuan itu berjalan mendekatinya. Jonathan terperangah. Ia segera mengenali suara istrinya yang bernada tinggi. Untung bukan Mimin, ucapnya bersyukur dalam hati. Tapi kenapa There mengubah model rambutnya seperti Mimin? Nggak cocok, ah. Mukanya jadi kelihatan suram.
“Halo, Sayang. Kamu mengganti model rambutmu?” tanyanya berbasa-basi. Dikecupnya pipi kiri dan kanan Theresia sebagai ritual sehabis pulang dari bepergian.
__ADS_1
“Iya, Mas. Gimana? Bagus, nggak?” tanya istrinya itu sembari mengibas-ngibaskan rambutnya yang berwarna terang. Kepalaku jadi pusing melihatnya, keluh suaminya dalam hati. There nggak cocok kalau rambutnya dicat warna terang. Mukanya jadi kelihatan kusam tanpa make-up. Lebih bagus warna coklat tua seperti sebelumnya. Kulit wajahnya tampak segar meskipun tanpa polesan kosmetik.
“Kok diam aja, sih? Nggak suka, ya? Jelek, nggak cocok?!” berondong wanita manja itu dengan pertanyaan bertubi-tubi. Mukanya mulai kelihatan merajuk.
Suaminya yang sabar tersenyum bijaksana. Ia berkata dengan nada rendah, “Bukan nggak cocok, Sayang. Tapi kamu kelihatan lebih segar dengan warna rambut coklat tua seperti biasanya. Rambut panjang, pendek, ikal, ataupun lurus nggak masalah. Cuma warna cat yang ini memang terlalu terang untuk kulit wajahmu….”
Sikap merajuk Theresia semakin menjadi-jadi. Dia tidak suka mendengar perkataan suaminya barusan.
“Tapi orang-orang salon bilang bagus, kok. Kata mereka aku jadi kelihatan jauh lebih muda daripada usiaku yang sebenarnya.”
“Yah, mereka kan terima uang darimu, Yang. Semua yang ada pada dirimu pasti dipuji-puji supaya kamu senang dan datang kembali lagi ke sana.”
“Mas Jon jahat!”
Theresia langsung membalikkan badannya dan berlari menuju ke kamarnya. Isak tangisnya terdengar membahana. Suaminya menjadi lemas seketika. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang kalau suasana rumah jadi runyam begini? Apakah tadi sebaiknya aku berbohong saja dengan mengatakan There cantik dengan warna rambut seperti itu? Takutnya nanti malah dia jadi pede gonta-ganti warna rambut! pikirnya galau.
Dengan gontai dia melangkah menuju ke kamar tidurnya. Ditekannya pegangan pintu, tapi tidak terbuka. Rupanya dikunci dari dalam oleh istrinya. Terdengar isak tangis pasangan hidupnya itu dari dalam kamar.
Tidak terdengar jawaban.
“Ya sudah, aku minta maaf. Tidak sepantasnya aku berkata seperti tadi.”
Tetap tidak terdengar suara.
“Aku yang salah, There. Kamu boleh ganti warna rambut apa aja. Yang penting kamu suka.”
Jonathan merasa bagaikan menjilat ludahnya sendiri mengucapkan kata-kata berusan. Namun ia terpaksa melakukannya agar istrinya mau membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
“There, please…. Aku mau mandi. Badanku lengket sekali rasanya.”
“Mandi di kamar mandi luar saja!” teriak Theresia tiba-tiba.
Suaminya merasa agak lega mendengar suara istrinya. Berarti ngambeknya sudah berkurang.
“Aku nggak bisa mandi di luar, Sayang. Nggak ada handuk dan baju ganti.”
Beberapa saat kemudian pintu kamar dibuka sedikit dari dalam dan beberapa benda melayang keluar. Jonathan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tuan Putri rupanya masih ngambek, batinnya lelah. Laki-laki yang sebenarnya sudah sangat letih itu lalu membungkukkan badannya dan mengambil handuk, kaos oblong, ****** *****, serta celana pendek miliknya yang tercecer di lantai. Dibawanya semua perlengkapan mandinya itu ke kamar mandi di dekat ruang makan. Tas kerjanya diletakkan begitu saja di atas sofa.
Beberapa menit kemudian suami Theresia itu keluar dari dalam kamar mandi dengan raut wajah yang tampak lebih segar. Dilihatnya Bi Sum, pembantunya yang sudah agak tua, sedang menata meja makan. “Silakan makan dulu, Pak,” ujar perempuan yang sudah lama berkerja padanya itu dengan hormat.
“Masak apa, Bi Sum? Harum sekali baunya.”
“Rawon, Pak. Masih panas.”
“Wah, sedap. Saya makan dulu, ya.”
“Silakan, Pak. Apa perlu saya panggilkan Bu Theresia?”
“Nggak usah, Bi. Tadi sepertinya dia kurang enak badan. Biarkan saja beristirahat di kamar.”
Baru saja Jonathan menutup mulutnya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berteriak nyaring, “Siapa bilang aku nggak enak badan?! Aku baik-baik saja, kok. Bilang saja kalau nggak mau kutemani makan!”
Sepasang mata Jonathan terbelalak lebar saking terkejutnya. Tak disangkanya istrinya sudah keluar dari kamar tidurnya. Bi Sum segera membungkukkan tubuhnya dan menyingkir dari tempat itu. Perang Baratayudha akan dimulai kembali, batinnya sedih. Kasihan Pak Jonathan sering menjadi bulan-bulanan Bu Theresia kalau sedang tidak enak hati. Kok bisa-bisanya ada istri yang tega berbuat sewenang-wenang terhadap suaminya seperti ini. Nanti kalau suaminya berpaling pada perempuan lain ya, jangan disalahkan.
Theresia berjalan mendekati suaminya yang sudah duduk di meja makan. Kedua tangannya berkacak pinggang dan kedua matanya mendelik.. Sikapnya benar-benar menantang dan tidak menghargai pasangan hidupnya itu sama sekali. Jonathan seperti biasa berusaha meredam amarah wanita itu dengan bersikap lunak.
__ADS_1
“Mau makan sama-sama, Sayang? Ayo duduk sini.”
Suami yang penurut itu lalu menarik kursi keluar sedikit dari meja makan supaya dapat diduduki oleh istrinya. Theresia langsung duduk tapi mukanya masih cemberut.