
Mila merangkul suaminya dengan penuh kasih sayang. Ditepuk-tepuknya pundak laki-laki yang dicintainya itu dengan lembut. “Sudahlah, Mas. Tak ada gunanya menyesali masa lalu. Pernikahan Theresia dan Jonathan terjadi atas kehendak Tuhan. Kalau tidak, masa bisa bertahan selama sepuluh tahun! Ingatlah, kalau jodoh tak akan lari ke mana. Buktinya…hubungan kita sendiri sudah putus dan masing-masing menikah dengan orang lain. Siapa sangka, puluhan tahun kemudian kita bertemu kembali dalam keadaan sudah sama-sama menjadi duda dan janda. Benar, kan?”
Simon manggut-manggut membenarkan. Direngkuhnya istri tercintanya dalam pelukannya sambil berbisik mesra, “Terima kasih mau menerimaku kembali, Sayang.”
Mila tersenyum bahagia sambil berkata, “Sama-sama, Mas.”
Sepasang suami-istri lanjut usia itu tak menyadari pintu kamar Theresia terbuka sedikit dan si pemilik kamar menyaksikan kemesraan yang mengharukan itu. Putri Simon itu memang sering diam-diam memperhatikan perilaku ayahnya dan Mila di saat mereka sedang berduaan. Ia ingin tahu rahasia keharmonisan hubungan pasangan yang sudah tak muda lagi itu.
Tante Mila tidak pernah membantah ucapan Papa. Ia sering menunjukkan perhatiannya dengan berbicara lembut dan memberikan sentuhan mesra, gumamnya dalam hati. Dulu aku sering melakukannya pada Mas Jon. Cuma entah sejak kapan aku jadi lebih menuntut minta diperhatikan dan marah-marah apabila sikapnya tidak sesuai dengan kehendakku, pikirnya getir.
Sambil menggigit bibirnya, wanita cantik itu menutup pintu kamar. “Barangkali sudah waktunya aku menerima kenyataan kalau tidak ditakdirkan untuk mempunyai keturunan,” ujarnya pada dirinya sendiri. “Baiklah. Tak ada salahnya aku mengambil sebuah keputusan besar untuk…well…mengadopsi seorang anak. Barangkali cara itu justru bisa membuat hubunganku dengan Mas Jon menjadi harmonis kembali.”
Kemudian Theresia berbaring di atas tempat tidurnya sambil memegang ponselnya. “Gimana ya enaknya memulai chat WA dengan Mas Jon?” ucapnya bimbang. Terngiang-ngiang pesan ayahnya tadi, “Pakailah kata-kata yang baik. Tak ada salahnya sesekali kamu menggunakan kata tolong, maaf, dan terima kasih pada suamimu. Jadi dia akan merasa dihargai oleh istrinya sendiri.”
Kepala istri Jonathan itu mendadak terasa pening mengingat wejangan ayahnya tadi. Namun dia menguatkan hatinya dan berkata keras-keras, “Kamu pasti bisa, There. Semangat! Pakai kata-kata yang baik. Jangan lupa ucapkan tolong, maaf, dan terima kasih. Ok, I’m ready now!”
[Halo, Mas Jon. Apa kabar?]
Begitulah bunyi pesan WA-nya yang pertama semenjak pisah rumah dengan suaminya satu setengah bulan yang lalu. Pesan itu langsung terkirim tanpa hambatan.
Semenit, dua menit, tiga menit…hingga lima belas menit berlalu belum ada dua tanda centang biru bahwa pesan itu sudah dibaca oleh suaminya. “Sabar, There…sabar,” ucapnya menenangkan dirinya sendiri. “Sekarang masih jam kantor. Suamimu mungkin masih sibuk bekerja. Nanti jam lima sore kirimlah pesan WA lagi kalau yang tadi belum juga dibaca.”
__ADS_1
Dia lalu mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Diulanginya berkali-kali sampai perasaannya menjadi tenang. Itulah metode praktis yang diajarkan oleh terapis meditasinya. Tak terasa Theresia jadi mengantuk dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian wanita yang sedang dalam perjuangan menyelamatkan rumah tangganya itu pun terlelap di atas pembaringannya.
***
Jonathan sendiri sedang sibuk meeting dengan para bawahannya di pabrik cat. Dia merasa senang sudah tidak ada lagi komplain dari para distributor mengenai kualitas produk-produknya. Barang-barang yang tempo hari dikembalikan ke pabrik sudah digantinya dengan dengan yang baru dan memenuhi standar kualitas yang diterapkan perusahaannya selama ini. Pabrik memang mengalami kerugian yang tak sedikit, tetapi langkah tersebut terpaksa ditempuh demi menjaga hubungan baik dengan para distributor yang selama ini sudah membantu pemasaran dan meningkatkan omzet penjualan secara signifikan.
Menurut perhitungan Jonathan, kalau penjualan berjalan baik seperti biasanya, maka kerugian tersebut dapat ditutup dengan profit yang akan diperoleh dalam tiga bulan ke depan.
“Pak Jon,” kata Rosa begitu meeting sudah selesai. Karin duduk persis di sebelahnya. Gadis itu memang mengikuti kemanapun bibinya pergi supaya cepat memahami tugas-tugas yang kelak menjadi tanggung jawabnya.
“Iya, Bu Rosa. Ada apa?”
“Oh iya, aku lupa. Hari ini ya, pamerannya dimulai?”
“Betul, Pak. Pameran bersama perusahaan-perusahaan properti lainnya se-Jawa Timur. Berlangsung seminggu penuh di aula D-Mall lantai tujuh.”
Jonathan mengernyitkan dahinya seperti sedang memikirkan sesuatu. “Seingatku,” katanya serius, “Pada meeting akhir minggu lalu dibahas bahwa total penjualan sudah mencapai tujuh puluh persen dari total jumlah unit. Tolong tanyakan apakah ada tambahan lagi unit apartemen yang terjual minggu ini.”
“Sudah saya tanyakan, Pak. Menurut manajer marketing ada tambahan dua unit lagi yang terjual. Masing-masing terdiri dari dua bedroom.”
“Hmm…, very good.”
__ADS_1
“Betul, Pak. Mengingat kondisi bisnis properti sedang tidak begitu menggembirakan akhir-akhir ini dan produk kita termasuk dalam kelas premium.”
Sang direktur utama manggut-manggut tanda setuju. Raut wajahnya menampakkan rasa puas terhadap kinerja tenaga-tenaga pemasaran di perusahaan propertinya. Kalau penjualan berhasil mencapai sembilan puluh lima persen dari total unit akhir tahun ini, aku akan memberikan bonus uang tunai kepada mereka, janjinya dalam hati. Hitung-hitung sebagai tambahan bagi para karyawanku untuk merayakan tahun baru dan supaya mereka bekerja lebih giat lagi ke depannya.
“Baiklah, Bu. Kalau begitu kita sekarang langsung berangkat saja ke D-Mall. Karin ikut, ya. Biar tahu proyek apartemen kita seperti apa dan berkenalan dengan tim marketing,” ucap Jonathan seraya memalingkan wajahnya pada sekretaris barunya yang sejak tadi diam saja mendengarkan.
Gadis itu mengangguk dan menjawab sopan, “Baik, Pak.”
Rosa sendiri tampak gelisah dan berkata dengan hati-hati, “Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Sepertinya saya berhalangan ikut.”
“Lho, kenapa Bu Rosa?” tanya atasannya keheranan. Selama ini sekretarisnya itu tak pernah menolak ajakannya sepanjang masih dalam urusan pekerjaan.
Wanita setengah baya itu menunduk dan pipinya bersemu merah. “Anu, Pak. Sore ini waktunya saya fitting busana pengantin dengan calon suami saya….”
“Oh, I see, Bu Rosa,” jawab pimpinannya memahami. Agak geli juga ia melihat perubahan ekspresi sekretarisnya yang tampak malu-malu kucing.
“Maafkan saya ya, Pak,” ucap wanita itu merasa tidak enak hati. “Saya sudah bikin janji sejak tiga minggu yang lalu. Waktu itu kan belum ada jadwal dari tim marketing untuk pameran properti….”
“Tidak apa-apa, Bu Rosa. Saya mengerti, kok,” sahut Jonathan sambil tersenyum menyejukkan. “Lagipula ini kan cuma sekedar meninjau acara pameran saja. Saya bisa pergi sendiri, kok.”
“Lho, kan ada Karin, Pak? Bukankah Bapak tadi bilang ingin memperkenalkannya dengan tim marketing?”
__ADS_1