Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Rencana Theresia


__ADS_3

Tiba-tiba petuah bijak Simon terngiang-ngiang di telinganya, "Kalau menginginkan sesuatu, raihlah dengan cara yang elegan. Jangan sekadar emosi belaka. Pakai logika."


Pakai logika, pakai logika! batin Theresia berusaha mencamkan kata-kata ayah tercinta dalam benaknya. Dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Hal itu dilakukannya beberapa kali sehingga Jonathan yang melihatnya merasa agak bersalah.


"Maafkan aku, There," sesalnya sepenuh hati. "Percayalah, tak sedikit pun pernah tersirat dalam pikiran maupun hatiku untuk menyakitimu. Semua ini terjadi di luar kuasaku. Bagaimanapun juga aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai kelemahan...."


Theresia memperhatikan suaminya yang menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan. Wanita itu memaksakan diri untuk tersenyum. Jonathan sampai takjub menyaksikannya.


"Aku mengerti, Mas Jon," ucap wanita itu lembut. "Tak apa-apa. Aku akan meminta pengacaraku untuk mengadakan pendekatan dengan pihak pengadilan. Bahkan kalau perlu berkolaborasi dengan kuasa hukummu agar semuanya segera selesai. By the way, selamat ya. Mas Jon akan segera menjadi seorang ayah. Sampaikan pada Karin, aku turut berbahagia dengan kehamilannya. Kalian berdua sungguh pasangan yang serasi."


"Terima kasih banyak, There," sahut Jonathan penuh sukacita. "Kudoakan kamu juga dapat segera memulai hidup baru. Papa dan Tante Mila di surga juga pasti selalu mendoakan yang terbaik bagimu."


Laki-laki itu lalu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Istrinya tersenyum semakin lebar. Dijabatnya tangan sang suami. Hati Mas Jon sudah benar-benar telah berpaling dariku, batin Theresia pedih. Akan kurebut kembali kebahagiaan yang pernah kita lalui bersama, Mas. Percayalah....


***


Malam itu Theresia tidak bisa tidur. Dia kini tinggal kembali di rumah yang pernah ditempatinya bersama Jonathan. Tadi telah diutarakannya niatnya pada Jonathan untuk menjual rumah mendiang ayahnya. Sang suami menawarinya untuk membantu memasarkan rumah tersebut melalui kantornya secara cuma-cuma. Theresia menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


Sebenarnya Mas Jon masih memperhatikan diriku, pikir wanita itu. Buktinya dia datang setiap hari membantuku mengurus persemayaman dan pemakaman Papa dan Tante Mila. Pekerjaan dan Karin ditinggalkannya demi mendampingi diriku. Jadi mestinya tidak sulit membuat hatinya berpaling kembali padaku.


Tiba-tiba rasa pening di kepala kembali mengganggunya. Begitulah yang akhir-akhir ini dirasakannya jika sedang fokus memikirkan sesuatu. Diminumnya obat pereda rasa sakit miliknya. Beberapa menit kemudian, rasa pening di kepalanya berangsur-angsur menghilang. Wanita itu pun berkonsentrasi kembali memikirkan cara untuk merebut hati suaminya.


"Hanya ada satu jalan," ucapnya tegas. "Karin harus kusingkirkan! Tak ada ampun lagi. Kehadirannya benar-benar menjadi batu sandungan bagi hubunganku dengan Mas Jon. Tapi, dia sekarang sedang hamil. Bagaimana ya, caraku mengatasi janin  dalam kandungannya?"

__ADS_1


Setelah memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi, wanita itu mendesah panjang. Ekspresi tegang pada wajahnya berangsur-angsur menghilang. Berganti dengan senyuman manis yang tersungging di sudut bibirnya.


"Papa, terima kasih atas wejanganmu. Aku sekarang sudah bukan There yang dulu. Benar-benar kupakai logika untuk menyelesaikan persoalan berat ini. Tolong doakan There, Papa. Agar rencana ini berhasil...."


Selanjutnya wanita yang tengah dalam proses belajar menguasai perasaannya itu kembali berbaring di atas ranjang yang dulu selalu ditidurinya bersama suami tercinta. Ditepuk-tepuknya bantal di sebelahnya yang biasa menyangga kepala Jonathan.


"Tak lama lagi, majikanmu akan kembali kemari. Dan kujamin, dia takkan pernah meninggalkan dirimu lagi...."


Kemudian Theresia memejamkan mata. Raut wajahnya begitu bahagia membayangkan rencana yang akan segera dijalankannya demi merebut kembali miliknya yang hilang.


***


Esok paginya Rosa menerima panggilan telepon tak terduga dari anak mantan bosnya. Dia masih berada di rumah, sedang menikmati sarapan bersama suaminya.


"Halo, There," sapanya sopan. "Bisa Tante bantu?"


Bernard yang tengah menyantap sarapan di depannya memperhatikan sang istri. Tumben Theresia mengajak Rosa bertemu, pikirnya heran. Ada apa, ya?


Setelah istrinya meletakkan ponselnya, laki-laki itu tak kuasa menahan rasa ingin tahunya. "Tumben Theresia menelepon," katanya berkomentar.


Rosa mendesah. Raut wajahnya menunjukkan kegelisahan hatinya. "Dia ingin mengajakku bicara dari hati ke hati. Aku terpaksa menyetujuinya. Kasihan sekali dia, Mas. Sudah kehilangan orang-orang terdekatnya. Barangkali cuma aku satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara sekarang."


"Suaminya masih akan menceraikannya?" tanya Bernard penasaran. "Bukankah hubungan mereka kelihatannya baik-baik saja di acara persemayaman Bapak Simon dan Ibu Mila? Malah kupikir Theresia dan Jonathan akan rujuk kembali."

__ADS_1


Rosa terdiam beberapa saat lamanya. Dia bingung menjawab pertanyaan suaminya. Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya wanita itu menceritakan hubungan spesial antara keponakannya dengan Jonathan.


Bernard tampak terkejut sekali mendengarnya. Pria itu kemudian ingat bahwa Karin datang melayat Simon bersama Rosa dan dirinya. Sikapnya waktu itu tak banyak bicara di depan Jonathan. Barangkali hubungan mereka masih disembunyikan, duga suami Rosa itu dalam hati. Jadi di depan umum kedua orang itu berusaha bersikap biasa-biasa saja.


"Aku kuatir, Mas," kata Rosa mencurahkan isi hatinya. "Baru kali ini Theresia mengajakku bicara empat mata. Jangan-jangan dia mau membahas tentang hubungan suaminya dengan Karin. Apa yang harus kukatakan ya Mas, seandainya dia menegurku kenapa tidak menghalang-halangi hubungan Karin dengan Pak Jon?"


Bernard menatap prihatin sang istri yang kini tampak panik. Ditenangkannya hati wanita itu. "Sudahlah, jangan berpikir terlalu jauh. Toh, Karin sendiri tak permah memberitahumu, kan? Pak Jon yang menemuimu untuk menceritakan hubungan mereka."


"Tapi," jawab Rosa dengan tatapan bersalah. "Aku tak pernah menghalang-halangi mereka, Mas. Meskipun aku sendiri juga tak menyetujuinya."


"Mereka berdua sudah dewasa, Ros. Kamu pikir kalau dihalang-halangi, mereka akan menerima begitu saja?"


"Yah, setidaknya aku sudah berusaha...."


Kedua mata Rosa tiba-tiba berkaca-kaca. "Terus terang ada sedikit penyesalan dalam hatiku, Mas. Akulah yang merekomendasikan Karin berkerja menggantikan posisiku sebagai sekretaris Pak Jonathan...."


Kemudian tangis wanita itu tak tertahankan lagi. Bernard bangkit berdiri dari kursinya. Dihampirinya pendamping hidupnya itu. Direngkuhnya kepalanya dan dielus-elusnya punggungnya penuh kasih sayang. Isak tangis Rosa semakin menjadi-jadi. Ia benar-benar menyesal secara tidak langsung telah menjadi jembatan hubungan terlarang keponakannya sendiri dengan pria yang masih berstatus suami orang.


***


"Selamat siang, Tante Rosa. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang," sapa Theresia ramah. Dia tadi langsung memeluk dan mencium kedua pipi mantan sekretaris ayahnya itu begitu wanita itu muncul di ruangan VIP restoran.


Ruangan ini sengaja di-booking-nya supaya tidak mendapat gangguan bicara empat mata dengan Rosa. Dia merasa lebih nyaman kalau melakukannya di tempat yang netral seperti ini. Bukan di rumahnya sendiri maupun rumah wanita setengah baya itu.

__ADS_1


"Terima kasih atas undangannya, There. Sudah lama sekali Tante tidak makan di restoran seperti ini waktu jam makan siang," jawab Rosa berbasa-basi.


Theresia memasang raut wajah prihatin. "Oh, sibuk sekali ya, pekerjaan Tante Rosa sekarang? Wah, There jadi nggak enak ini sudah merepotkan Tante. Maafkan There ya, Tante."


__ADS_2