Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Keputusan Karin


__ADS_3

Sang pimpinan yang mengetahui bahwa Karin berasal dari kota buaya menawarinya pertama kali dibandingkan guru-guru lainnya. Gadis itu tak mampu menolak karena merasa sungkan dengan kebaikan dan bimbingan orang itu selama dia bekerja. Akhirnya diterimanya tawaran tersebut dengan berdoa dalam hati semoga dia tidak diusik oleh masa lalunya kembali.


Gadis itu berusaha menghibur diri dengan berpikir tak ada salahnya kembali ke kampung halaman. Dia bisa berkumpul kembali dengan Rosa bibinya dan Mina sahabat baiknya. Jonathan dan Theresia selama ini tak pernah terdengar kabarnya. Tak mungkin mereka tiba-tiba datang mengusiknya.


Berbulan-bulan dia hidup tenang di kota kelahirannya ini. Kalaupun berjalan-jalan ke mal, tak pernah sekalipun dia kebetulan bertatap muka dengan orang-orang dari masa lalu yang tak ingin ditemuinya kembali. Hidupnya benar-benar tenteram. Pekerjaannya menyenangkan. Sesekali dia berkunjung ke rumah Rosa dan Mina untuk sekadar bercakap-cakap atau bahkan pergi refreshing dengan mereka.


Tak dinyana setelah enam bulan berlalu, Jonathan datang menemuinya di tempat kerja! Paras laki-laki itu pucat, agak tua, dan tubuhnya lebih kurus dibandingkan dulu ketika mereka masih bersama. Sorot matanya sayu dan rambut-rambut putih mulai bertebaran di atas kepalanya. Sekeliling mulutnya ditumbuhi rambut-rambut kasar akibat tidak dicukur.


Kenapa setelah kutinggalkan, Mas Jon malah jadi tak terawat begini? pikirnya keheranan waktu itu. Setelah mendengar cerita yang terlontar sendiri dari mulut pria itu, akhirnya Karin memahami bahwa mantan kekasihnya tengah menderita akibat penyakit kritis yang dalam waktu dekat akan merenggut jiwa istrinya.


Mina memperhatikan tamunya yang tengah bergumul dengan perasaannya sendiri. Ditatapnya Karin dengan lembut.  Ia lalu bertanya, "Bagaimana perasaanmu setelah bertemu kembali dengan Jonathan? Penampilannya sudah berubah, ya? Tidak sekeren dulu."


Karin tersenyum getir. Tak heran wanita ini dapat membaca isi hatinya. Hubungan mereka dekat sekali layaknya kakak-adik kandung. Mina banyak memberikan dukungan padanya tahun-tahun belakangan ini. Karin merasa bersyukur mempunyai teman sebaik dan setulus dirinya. Dan sebenarnya Jonathanlah yang telah berjasa memperkenalkan mereka berdua.


"Aku tahu kamu sekarang sudah berubah menjadi wanita yang tegas, Rin. Bukan lagi gadis naif dan lemah lembut yang dulu kukenal. Penderitaan telah menempamu begitu rupa sehingga memiliki karakter yang kuat seperti sekarang," aku Mina jujur. "Tapi aku yakin dalam lubuk hatimu yang paling dalam masih tersimpan kelembutan seorang Karin yang rendah hati dan pemaaf...."


Gadis di sebelahnya masih diam tak bersuara. Pandangan matanya menerawang menelusuri langit-langit ruang tamu. Dia tampak berpikir matang-matang sebelum mengambil keputusan.


"Saranku...temuilah Theresia. Dia sedang sekarat. Keinginan terakhirnya hanyalah memohon pengampunanmu dan mengembalikan Valentina padamu...."


Air mata mulai menitik dari pelupuk mata Karin. Semakin lama semakin deras. Hingga wajah putih mulus itu basah. Dia lalu memeluk Mina dan menumpahkan segenap kesedihannya di bahu kawan baiknya itu.

__ADS_1


***


"Terima kasih banyak atas kesediaanmu menemui There, Karin. Aku sungguh berhutang budi. Entah bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu," ujar Jonathan sambil melirik pada gadis yang duduk di sebelahnya.


Laki-laki itu tengah mengemudikan mobilnya. Sore itu ia menjemput Karin di tempat kursus tempatnya mengajar. Kebetulan gadis itu sudah tidak ada murid lagi sehingga bisa minta izin pulang lebih cepat. Biasanya dia baru selesai mengajar pukul delapan malam.


Karin menelepon Jonathan dan berkata akan naik taksi online menuju ke rumahnya untuk bertemu dengan Theresia. Laki-laki itu lalu menawari untuk menjemputnya saja di tempat kursus. Karin yang merasa tidak ada salahnya menerima bantuan itu, mengiyakan saja.


"Apakah Bu There sudah tahu tiga hari yang lalu kamu datang menemuiku, Mas?" tanya Karin ingin tahu.


Jonathan mengangguk. "Aku sudah memberitahunya. Dia senang sekali, bahkan memintaku membawanya datang menemuimu. Tapi tak kuturuti permintaannya itu. Kondisinya tak memungkinkan untuk dibawa pergi jauh. Aku membujuknya untuk bersabar menunggu. Kubilang kamu sedang sibuk mempersiapkan ujian bahasa Mandarin. Setelah selesai, kamu pasti akan datang menemuinya di rumah."


"Pintar sekali kamu berbohong pada istrimu, Mas."


"Ada apa dengan diriku?"


Jonathan menggigit bibirnya. Lalu dia berkata dengan hati-hati, "Kurasa...ehm...kau butuh waktu menguatkan hati untuk bertemu There. Bagaimanapun juga, dia dulu telah sangat menyakiti hatimu."


Karin meringis. Syukurlah kalau kau memahaminya, Mas, batinnya lega.


Lalu terdengar suara laki-laki itu meneruskan ucapannya, "Tapi Karin, hati kecilku berkata kau akan bersedia menemui There...."

__ADS_1


"Oya? Kenapa begitu?"


"Karena...di balik sikapmu yang dingin sewaktu menemuiku, aku masih dapat merasakan kelembutan hati yang sejak dulu kau miliki. Kamu masih Karin Susilo yang dulu. Bedanya gadis yang dulu naif dan lembah lembut kini telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang kuat dan tegar. Aku salut atas keberhasilanmu mencapai cita-cita, Karin. Kau sekarang telah mahir berbahasa Mandarin dan bahkan sudah menjadi seorang guru pula! Tahukah kamu, ibu-ibu berjilbab yang mengambil kursus privat denganmu sewaktu aku datang itu memujimu sebagai pengajar yang baik dan telaten. Aku bangga sekali mendengarnya!"


"Terima kasih, Mas," sahut Karin sambil tersenyum lebar. Ketegangan di antara mereka mulai mencair. Hatinya sedikit plong dan mulai tak canggung berbicara dengan mantan kekasihnya ini.


"Karin...."


"Iya?"


"Maukah kau memaafkanku?" tanya Jonathan sambil tetap fokus mengemudi. Kedua matanya menatap lurus ke depan memperhatikan jalan. Ia tak berani menoleh sedikitpun pada gadis yang duduk di sebelahnya.


"Apa salahmu sampai harus meminta maaf padaku?" tanya Karin tak mengerti.


"Aku...aku telah berprasangka buruk padamu. Aku memaki-makimu di saat kau sedang hamil.  Akibatnya kamu frustasi dan mengalami pendarahan...."


"Oh, itu," jawab Karin sambil tersenyum kecil. "Kamu kan waktu itu tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Akulah yang menipumu dengan mengatakan sudah menggugurkan kandunganku dan kembali bersama dengan Eric."


"Aku menyesali kebodohanku percaya begitu saja. Seharusnya aku dapat merasakan ada yang tidak beres. Karinku tak mungkin melakukan perbuatan sekeji itu!" ujar Jonathan berapi-api. Lalu dia tersadar sendiri dan merasa malu. "Maaf," katanya menyesali. "Aku...."


"Tidak apa-apa, Mas," sahut Karin singkat. Karinku..., batinnya sedikit berbunga-bunga. Rupanya Mas Jon masih menyimpan perasaan terhadap diriku. Ah, kisah cinta kami memang begitu manis sehingga aku pun belum dapat melupakannya hingga saat ini.

__ADS_1


Mantan pasangan kekasih itu lalu saling berdiam diri. Keduanya bergumul dengan perasaan masing-masing. Jonathan tak menyangka hatinya akan kembali bergejolak begitu bertemu kembali dengan Karin tiga hari yang lalu. Ternyata perasaan cinta itu masih ada, batinnya menyadari. Walaupun aku sudah tak memikirkannya sejak bertahun-tahun yang lalu.


__ADS_2