
“Mbak Mina itu orangnya lucu ya, Pak. Rame kalau ada dia,” ujar Karin ketika dia dan bosnya sudah berada di dalam mobil. Jonathan yang mengemudikan mobil sementara sekretarisnya itu duduk di jok sebelahnya.
“Hehehe…, kamu suka sama dia, Rin?”
“Iya. Orangnya baik dan apa adanya. Tadi dia cerita kalau dia, Bapak, sama satu orang lagi sering nge-gym bareng.”
“Bastian. Dia sahabatku sejak kecil.”
“Oh, senang ya Pak, punya teman-teman yang baik.”
“Yah, aku bersyukur sekali, sih. Terkadang kawan-kawan di luar hubungan kerja itu malah bisa lebih panjang usia pertemanannya. Makanya aku sangat menghargai persahabatanku dengan Bastian dan Mimin.”
“Hehehe…, panggil Mina dong, Pak. Lebih keren. Lagipula itu kan namanya yang benar.”
Jonathan tersenyum kecut. “Aku udah kebiasaan manggil dia Mimin, sih. Lidahku udah nggak fleksibel lagi. Hehehe….”
Karin tergelak mendengar kelakar bosnya. Gadis ini begitu menyenangkan, gumam Jonathan dalam hati. Ngobrol bersamanya terasa nyaman sekali. Kemudian laki-laki itu melemparkan berbagai joke yang membuat pegawainya itu tertawa terbahak-bahak. Suasana di dalam mobil itu begitu ceria hingga tiba-tiba turun hujan lebat.
“Wah, deras sekali hujannya. Untung sebentar lagi sampai rumahmu, Rin.”
“Iya, Pak.”
Tak lama kemudian mobil mewah Jonathan berhenti di depan sebuah rumah berlantai satu dan berpagar hitam. Laki-laki itu menoleh ke belakang jok-nya dan mengambil sebuah payung besar berwarna biru. Karin tersenyum dan berkata, “Saya pinjam payungnya ya, Pak. Besok saya kembalikan di kantor.”
“Lho, jangan,” sahut bosnya menolak. Karin kaget mendengarnya. Ia semakin terperangah melihat pimpinannya itu lalu membuka pintu mobil dan membuka payungnya. “Lho, mau kemana, Pak?”
Jonathan nyengir lalu turun dari mobil dan mengangkat payungnya untuk mencegah dirinya basah oleh air hujan. Sekretarisnya cuma bisa melongo melihat atasannya itu berjalan ke arah pintu di samping jok tempatnya duduk dan membukanya.
“Ayo, kupayungi kamu biar nggak kehujanan,” ucap pria tampan bertubuh kekar itu sambil tersenyum manis.
Karin yang semakin terkesima menurut saja. Ia turun dari mobil dan berjalan berdua dengan bosnya di bawah lindungan payung yang ukurannya ternyata sangat besar itu. Sesampainya di depan pintu pagar, gadis itu segera membuka gembok dengan kunci yang dibawanya dan mendorong pintu itu hingga terbuka.
“Terima kasih banyak, Pak Jon. Mestinya Bapak tidak usah repot-repot memayungi saya. Saya jadi merasa nggak enak kalau begini….”
Bosnya tersenyum ramah dan berkata, “Nggak apa-apa, Rin. Aku kan yang mengajakmu pergi. Kalau kamu sampai kehujanan dan jatuh sakit, gimana pertanggungjawabanku terhadap Bu Rosa?”
__ADS_1
“Tante kan pegawai Bapak. Dia nggak akan berani protes. Hehehe….”
“Dasar bandel, kamu.”
Keduanya pun tertawa geli bersamaan. Lalu gadis itu menyadari bahwa jarak dirinya dengan laki-laki itu begitu dekat. Dia jadi merasa risih. Lekas-lekas dia masuk melewati pagar dan memandang Jonathan dengan perasaan sungkan.
“Terima kasih sekali lagi ya, Pak. Sudah, nggak usah memayungi saya lagi. Sudah nggak kena air hujan, kok. Kan ada kanopi.”
Jonathan yang masih asyik memperhatikannya jadi gelagapan. “Oh, ehm…iya. Kalau begitu aku pulang dulu, Karin. Tolong sampaikan salamku pada Bu Rosa, ya. Selamat malam.”
“Selamat malam, Pak Jon.”
Laki-laki itu lalu membalikkan badannya dan berjalan masuk kembali ke dalam mobilnya. Dilihatnya Karin masih memperhatikannya dari balik pagar. Jonathan tersenyum dan melambaikan tangannya. Kemudian dia memundurkan mobilnya dan mengemudikannya meninggalkan rumah tersebut.
“Benar-benar seorang atasan yang baik,” gumam Karin pada dirinya sendiri. “Sungguh beruntung aku diterima bekerja untuknya. Mudah-mudahan aku bisa lama mengabdi di perusahaannya seperti halnya Tante Rosa.”
Selanjutnya gadis itu menggembok pintu pagar itu kembali dan berbalik melangkah masuk ke dalam rumahnya.
***
Diperiksanya ponselnya. Oh, benar ada pesan dari There tadi jam delapan lebih dua puluh menit, cetusnya dalam hati.
[Mas Jon masih di pameran? Aku nggak berani nelepon, takut menganggu. Kalau sudah pulang, tolong chat balik, ya. I love you.]
Wow! Mata Jonathan yang tadinya sudah mengantuk sampai terbuka lebar membaca pesan mesra dari istrinya. Coba dari dulu kamu begini, Sayang. Kita pasti nggak bakalan pisah rumah seperti sekarang, soraknya dalam hati. Dia tiba-tiba merasa begitu kangen pada Theresia. Ingin rasanya menelepon wanita itu. Tapi…ehm…, jangan dulu, deh, putusnya dalam hati. Biar saja kami chatting dulu seperti ini. Harus perlahan-lahan naik levelnya. Nanti kalau terburu-buru, takutnya There kumat lagi depresinya. Semua yang sudah diperjuangkan Papa dan Tante Mila jadi berantakan!
Jonathan lalu membalas pesan istrinya seperti ini:
[Aku sudah pulang dari tadi, Sayang. Tapi karena kecapekan, nggak sempat baca pesan-pesan WA. Baru sekarang aku baca pesanmu. Udah tidur, ya? Semoga mimpi indah. I love you, too.]
Pesan itu terkirim dan beberapa saat kemudian ada jawaban.
[Syukurlah kalau sudah pulang, Mas. Hujan deras di sini, aku takut kamu kehujanan terus jatuh sakit. Sekarang istirahat, ya. Good Nite.]
Benar-benar lega hati Jonathan membaca pesan yang terakhir itu. Semoga perkembangan ini berjalan terus dan kami bisa tinggal seatap lagi, batinnya berharap. Selanjutnya dia menguap lebar dan memejamkan matanya rapat-rapat. Beberapa saat kemudian terdengar suara napasnya yang teratur menandakan dirinya sudah terlelap.
__ADS_1
***
Hari-hari selanjutnya Jonathan dan istrinya mulai rutin saling mengirim pesan WA. Isinya pendek-pendek saja untuk menanyakan kabar, sudah makan belum, apa yang sedang dilakukan saat itu, dan lain sebagainya. Namun tak seorang pun dari mereka yang berinisiatif menelepon duluan.
“Kalian pasangan yang lucu. Kayak remaja yang lagi pedekate aja. Hehehe…,” komentar Bastian mendengar cerita sahabatnya.
“Yah, sementara cukup segitu dulu deh, Bas. Tunggu sampai emosi There benar-benar stabil, baru kami telepon-teleponan.”
“Kamu berani nelepon dia duluan?”
Jonathan menelan ludahnya dan menjawab diplomatis, “Aku lebih memilih dia yang meneleponku duluan.”
“Why?”
“Kalau aku yang nelepon duluan, takutnya pas kondisi hatinya sedang nggak bagus. Malah nanti jadi nggak enakan.”
Bastian terkekeh mendengar dalih sahabatnya. Tetap saja suami takut istri, olok-oloknya dalam hati. Selamanya nggak akan berubah.
“There tahu kamu sekarang rutin nge-gym?”
“Tahu.”
“Terus gimana komentarnya?”
“Ya nggak apa-apa. Daripada aku nggak ngapa-ngapain di rumah kalau malam. Kan mending olahraga.”
“Dia nggak nanya kamu nge-gym sama siapa?”
“Nanya, dong.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Ya kubilang nge-gym sama kamu-lah.”
“Lho, Mina terus dikemanain?”
__ADS_1
Jonathan menghela napas sejenak. “Kamu kan tahu, There nggak suka sama Mimin. Ntar kalau aku bilang ketemu lagi sama Mimin di sini dikiranya aku ada main sama dia. Jadi bermasalah lagi hubungan kami nanti.”