
Bastian dengan enteng menjawab, “Istriku udah tahu tentang kamu, kok. Pernah kutunjukkin fotomu di HP sama dia. It’s ok. No problem.”
“Nah, itu baru istri yang bijaksana! Bravo lu, Bro, bisa merit sama dia. Hahaha….”
Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benak Jonathan.
“Eh, ngomong-ngomong, kenapa Karin minta tolong kamu dandanin dia? Kan mestinya dia udah dapet free make-up dari salon pengantin tantenya?” tanyanya keheranan.
Dengan sigap Mina menjawab, “Fasilitas free make-up-nya cuma buat dua orang. Sama Karin dikasihkan ke menantu-menantu calon om-nya. Mereka pas dua orang. Jadi biar adil. Karin-nya sendiri milih ngalah dan minta bantuanku aja untuk meriasnya.”
“Emang kamu bisa?”
“Ya bisalah, Bro. Kan aku udah selesai kursus. Setahun lebih lho, aku ambil kursus tata rambut dan rias wajah.”
“Lama banget!”
“Ya, kursusnya kan sampai level advance. Biar hasilnya memuaskan dan aku bisa jadi make-up artist profesional. Sekarang aja klienku udah lumayan. Dari orang-orang yang kenal dulu, terus nanti aku mau ekspansi lewat Instagram sama Facebook.”
“Hebat!” puji Jonathan takjub.
“Arigato kosaimas,” sahut Mina lucu.
“Kalau begitu kukasih nomor ponselmu ke istriku aja ya, Min. Biar suatu saat kalau dia butuh didandanin, bisa langsung kontak kamu. Harga teman, kan? Hehehe…,” timpal Bastian sambil terkekeh.
“Beres, Bro. Yang penting customer puas. Jadi bisa repeat order,” jawab Mina senang. Lalu dia bertanya pada Jonathan, “Istrimu sendiri nanti dandan sendiri pas datang di acara merit tantenya Karin?”
Yang ditanya mengangguk mengiyakan. “There kan pada dasarnya hobi dandan. Dia suka melakukannya sendiri kalau pergi ke pesta. Kecuali kalau itu pesta keluarga yang dirayakan besar-besaran, barulah dia pakai jasa make-up artist.”
“Oh, I see. Mudah-mudahan dia nanti terpesona dengan hasil riasanku pada Karin, ya. Jadi suatu saat mau memakai jasaku. Amin!”
Jonathan cuma nyengir mendengarkan doa sahabat wanitanya itu. Dia benar-benar tak sanggup membayangkan bagaimana penampilan Karin setelah didandani oleh Mina yang gemar berpenampilan nyentrik itu.
__ADS_1
***
Malam harinya ketika bersantai di kamar tidur sambil menonton televisi, Jonathan memberanikan diri untuk menceritakan tentang pertemuannya kembali dengan Mina. Sang istri matanya langsung terbelalak lebar menandakan keterkejutannya. Namun dia kemudian menarik napas panjang beberapa kali sesuai petunjuk psikiaternya dan mendengarkan dengan seksama cerita suaminya.
“Jadi aku selalu bertiga sama Mimin dan Bastian, Sayang. Ya nge-gym atau makan siang bareng. Itupun nggak setiap hari, lho. Aku sama sekali nggak pernah berduaan saja dengan Mimin. Oya, selain sama si Bas, aku juga pernah kebetulan ketemu Mimin waktu makan sama sekretaris di mal. Waktu habis meninjau pameran properti itu lho, Yang. Kamu masih ingat? Kita pas saling chat WA waktu itu,” tutur Jonathan sedetil mungkin supaya tidak menimbulkan kecurigaan istrinya.
Theresia diam saja tak menanggapi. Ditatapnya mata suaminya lekat-lekat seolah-olah hendak mencari-cari sesuatu yang tersembunyi dalam hati laki-laki itu. Sepertinya Mas Jon berkata jujur, komentarnya dalam hati. Tapi aku tidak boleh semudah itu percaya. Kenapa dia baru sekarang menceritakannya padaku? Setelah hubungannya dengan wanita itu berjalan selama tiga bulan dan tiga hari lagi kami akan bertemu dengannya di acara pernikahan Tante Rosa!
Istri Jonathan itu tidak tahu bahwa sikap diamnya itu justru membuat sang suami jauh lebih kuatir daripada waktu dia dulu suka temperamental bila ada hal yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Laki-laki itu meraih kedua tangan wanita yang duduk di hadapannya dan mengecup kedua punggung tangan halus itu penuh cinta kasih.
“Ngomong dong, Yang. Jangan diam saja seperti ini. Bikin aku kuatir….”
Theresia menghela napas panjang dan bertanya ingin tahu, “Warna rambut Mina tetap pirang seperti dulu?”
“Heh?”
“Iya. Dulu pas kita ketemu dia di bioskop kan rambutnya pendek dan dicat warna pirang. Besoknya aku langsung merubah gaya rambutku persis seperti dia, kan? Tapi rupanya kamu nggak suka.”
“Ungu?”
“Iya, ungu.”
“Nggak rusak rambutnya sering gonta-ganti warna kayak gitu?”
Jonathan mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Atau tidak peduli tepatnya.
“Kenapa kamu malah menanyakan warna rambut Mimin, Sayang?”
Theresia tersenyum simpul. Sang suami lega sekali melihatnya. Hati kecilnya dapat merasakan istrinya tidak marah.
“Semakin dia berpenampilan aneh-aneh, aku justru semakin senang, Mas.”
__ADS_1
“Oya? Kenapa?”
“Karena aku sudah tahu bahwa kamu nggak suka tipe wanita seperti itu….”
Keduanya tertawa berbarengan. Jonathan senang sekali akhirnya istrinya bisa memahami dirinya sekarang. Dipeluknya Theresia erat-erat seakan-akan tak hendak dilepaskannya lagi. Mas Jon masih sangat mencintaiku, gumam wanita itu dalam hati. Aku masih dapat merasakannya. Terima kasih, Tuhan, batinnya penuh rasa syukur.
“Mas, aku mempunyai sebuah keinginan….”
“Apa itu, Yang?”
“Semoga kamu mengabulkannya.”
Jonathan senang sekali mendengar istrinya berkata demikian. Dirinya merasa pendapatnya sebagai seorang suami sangat dihargai. Ditatapnya kedua mata wanita itu dengan penuh kasih sayang. “Katakan saja, Sayang. Aku nggak akan menentangnya kalau itu memang baik bagi kita berdua.”
Theresia mengangguk lembut. Kemudian dia berkata lirih, “Aku ingin kita mengadopsi seorang anak. Kalau bisa yang masih bayi sehingga kita benar-benar dapat merasakan suka-duka menjadi orang tua sejak awal….”
Sang suami terpana mendengar permintaan istrinya. Gagasan itu sebenarnya dulu pernah terlintas dalam benaknya. Namun tidak jadi diutarakannya pada istrinya karena sudah keduluan oleh ayah mertuanya. Reaksi Theresia waktu itu menolak keras usul Simon itu sehingga akhirnya Jonathan tidak berani mengungkit-ungkitnya lagi.
“Aku mau sekali, Sayang,” ucap Jonathan terharu. “Kamu benar-benar sudah berubah, There. Lebih dewasa dan pengertian.”
Yang dipuji tersenyum bahagia. “Aku banyak belajar dari sikap Tante Mila terhadap Papa, Mas. Kuperhatikan sinar matanya, caranya bersikap serta berbicara di depan suaminya. Pantas Papa begitu mencintainya dan memperlakukannya dengan mesra meskipun mereka berdua sudah berumur. Tante Mila tidak pernah mengajari orang lain untuk menjadi seperti dirinya. Tapi orang yang melihat hubungannya begitu hangat dengan suaminya jadi tertarik untuk mempelajari lebih dalam dengan memperhatikan gerak-geriknya….”
Jonathan begitu tersentuh. Didekatkannya wajahnya pada wanita yang telah merebut kembali hatinya itu. Diciuminya bibir indah Theresia dengan lembut yang dibalas dengan manis oleh istrinya itu. Ciuman keduanya semakin panas hingga akhirnya tangan-tangan Jonathan dengan sigap melucuti gaun tidur wanita itu. Theresia tersenyum senang dan giliran melepaskan pakaian suaminya.
Laki-laki itu lalu mencumbu leher istrinya yang jenjang, turun semakin ke bawah hingga sampai ke bukit-bukit kembar yang begitu ranum menggoda. Theresia mendesah bahagia dan mulai mengerang-erang penuh kenikmatan tatkala jari tangan suaminya bermain-main dengan lincahnya di dalam organ vitalnya.
Jonathan menjadi semakin bergairah mendengar suara-suara berisik sang istri yang hampir mengalahkan suara televisi yang masih menyala. Dipuas-puaskannya melahap, *******, dan meninggalkan jejak-jejak di tubuh putih mulus itu. Hingga kemudian tibalah waktunya memasukkan benda pusakanya ke dalam gua kenikmatan sang istri berkali-kali sampai akhirnya tubuhnya terkulai lemas di atas tubuh molek Theresia.
“I love you, Mas Jon…,” ucap wanita itu lirih.
“I love you, too…,” jawab sang pria sembari tersenyum dan membalikkan tubuh kekarnya di samping istrinya. Dipeluknya Theresia dan dipejamkannya matanya menikmati momen romantis itu.
__ADS_1
***