
“Buktinya kamu nggak ngomong apa-apa waktu itu!”
“Karena kamu sedang terburu-buru,” sergah Eric berusaha menjelaskan. “Kamu juga kelihatannya nggak suka melihatku. Jadinya kubiarkan kamu pergi.”
Karin tercenung untuk beberapa saat lamanya. Ia tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dilihatnya tulisan Bos Jonathan tertera pada layarnya. Segera diterimanya panggilan telepon itu.
“Halo, Pak Jon?”
“Maaf mengganggu, Karin. Tapi meeting kita akan dimulai sepuluh menit lagi. Bisakah kamu segera datang ke ruang meeting? Di lantai dua. Kamu bisa menanyakannya pada satpam di lobi kalau bingung.”
“Siap, Pak. Saya segera ke sana. Terima kasih.”
Karin mematikan sambungan teleponnya. Kemudian dia berpaling kembali pada Eric dan berkata, “Maaf, aku harus ikut meeting sekarang.”
“Baiklah, aku juga harus kembali ke kantor. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu yang baru, Rin?”
Gadis itu menghela napas panjang dan berkata tegas, “Aku turut menyesal kamu ditipu oleh Emma. Bahkan aku sendiri juga bodoh mempercayai kebohongannya. Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kamu pernah tidur dengan dia sewaktu kita berdua masih menjalin hubungan….”
“Aku benar-benar khilaf waktu itu. Maafkan aku.”
“Sudah kumaafkan kamu sejak dulu, Ric. Tapi aku sudah tidak bisa mempercayaimu lagi. Jadi…sudahlah. Ikhlaskan saja semuanya. Please…leave me alone.”
Gadis yang rupanya berhati keras itu lalu bangkit berdiri dan meninggalkan mantan kekasihnya yang tampak lemas mendengar kata-katanya barusan. Hubungan kita sudah tamat, Eric, ucap Karin tenang dalam hati. Jangan pernah kamu usik aku lagi. Perasaanku padamu sudah hilang dan takkan mungkin kembali lagi….
***
Meeting dengan divisi pemasaran properti selesai pukul satu siang. Jam istirahat yang seharusnya tepat pukul dua belas siang diundur satu jam oleh Jonathan. Sebagai kompensasi, direktur itu mentraktir semua karyawan di kantor itu dengan paket makan siang yang dikirim ke kantor. Semuanya dibiayai secara pribadi oleh si bos dan Karin yang kebagian tugas untuk memesannya.
“Wah, terima kasih banyak, Pak Jon,” ucap Albert, kepala bagian pemasaran yang tempo hari bertemu dengan Karin dan bosnya di pameran properti. Anak-anak buahnya bergantian mengucapkan kalimat yang sama. Jonathan tersenyum lebar dan berkata dia senang sekali dengan hasil rapat hari ini. Semoga tim marketing semakin meningkatkan performanya dan kalau mencapai target akan ada bonus tambahan di akhir tahun. Sorak-sorai semakin membahana hingga akhirnya pria nomor satu di perusahaan tersebut berpamitan untuk kembali ke kantornya di pabrik cat.
__ADS_1
“Tolong bawakan dua kotak, Karin,” pinta Jonathan seraya menunjuk ke arah paket makan siang yang tersisa.
“Baik, Pak.”
“Iya, Karin. Buat kamu dan Pak Jon,” kata Albert menimpali.
Jonathan tersenyum lebar dan kemudian melangkah meninggalkan tim marketing yang masih asyik menikmati makan siang di ruang meeting. Karin berjalan mengikuti di belakangnya. Sambil berjalan dia menelepon sopir bosnya untuk segera menjemput mereka di depan pintu lobi. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka menyapa Jonathan dan berterima kasih atas traktirannya.
Ketika mereka tiba di lobi, mobil mewah hitam pekat milik Jonathan sudah stand by di depan pintu masuk. Sang sopir seperti biasa membukakan pintu mobil buat Karin dan bosnya. Begitu mereka semua sudah berada di dalam mobil, Jonathan meminta satu kotak makanan dari Karin dan bertanya pada sopirnya, “Kamu sudah makan siang?” tanya bos besar itu ramah.
“Sudah, Pak,” jawab sopir itu sopan.
“Kalau begitu, ini buat cadangan kalau mau makan lagi,” ujar Jonathan sembari menyodorkan kotak makanan yang dipegangnya.
“Terima kasih, Pak Jon.”
Jonathan mengangguk dan berpaling pada sekretarisnya. “Yang satu itu buat Bu Rosa,” ucapnya seraya memberi tanda dengan gerakan kepalanya.
“Sekarang kita pergi makan siang. Aku sedang ingin makan ayam penyet. Kamu bisa makan penyetan?”
Karin mengangguk dan menjawab, “Nggak masalah, Pak.”
“Ok. Ayo Pak, kita sekarang pergi ke rumah makan ayam penyet kesukaan saya,” pinta sang bos kepada sopirnya.
“Siap, Pak Jon,” sahut sang pengemudi seraya menjalankan mobil dengan kecepatan standar.
***
“Wuih, sambalnya nggak kebanyakkan, Pak? Nanti sakit perut, lho,” cetus Karin kuatir. Dia sendiri cuma makan sambal sedikit saja. Itupun dicampur dengan kecap manis. Berbeda dengan bosnya yang sambalnya banyak sekali tanpa tambahan apapun.
__ADS_1
“Perutku sudah kebal, Rin. Hehehe…,” jawab Jonathan terkekeh sembari menyantap makanannya dengan tangan.
Dia ini seorang bos besar, tapi tidak jaim sama sekali, komentar si sekretaris dalam hati. Makan nasi dan ayam memakai tangan di depan karyawannya sendiri. Jauh berbeda dengan bosku sebelumnya yang perusahaannya tidak sebesar milik Pak Jonathan tapi jaga image-nya luar biasa.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu, Karin? Aku rakus ya, kalau makan? Hehehe…,” tanya sang direktur sembari tertawa geli. Gadis di depannya jadi tersipu malu. Pipinya sampai kemerah-merahan. Bosnya jadi geregetan melihatnya.
“Ma…maaf, Pak. Bukan itu maksud saya.”
“Nggak apa-apa, kok. Aku memang penggemar berat ayam penyet, apalagi di rumah makan ini. Sambalnya mantap!”
Karin tersenyum dan melanjutkan makannya. Kemudian didengarnya pimpinannya kembali mengoceh, “Selain ayam penyet, aku juga suka soto daging dan rawon untuk masakan lokal. Kalau masakan luar, ya seperti ramen yang tempo hari makan sama kamu di mal.”
“Iya, Pak.”
“Tapi kalau dipikir-pikir lagi aku ini mungkin memang hobinya makan, deh. Apalagi kalau rasanya pedas. Nikmat banget!” cerocos Jonathan tiada henti. Dia memang merasa nyaman setiap kali bercakap-cakap dengan sekretarisnya ini. Karin selalu mendengarkannya dengan sabar dan tak jarang tertawa kecil menanggapi gurauannya. Laki-laki itu jadi merasa dihargai.
“Oya, kamu kelihatannya berjodoh lho, sama Eric. Sering ketemu tanpa direncanakan.”
Karin mendengus dan tiba-tiba dia sadar kalau sedang berhadapan dengan bosnya. Ditutupnya hidung dan mulutnya segera. “Maaf, Pak. Saya nggak sopan,” tuturnya malu.
Jonathan tergelak mendengarnya. “Lalu aku sekarang makan pakai tangan di depanmu sambil ngobrol begini sopan, nggak?” tanyanya balik.
“Yaaa…, Bapak kan atasan saya. Mau berperilaku bagaimanapun juga saya nggak berhak komplain.”
“Oh, gitu? Jadi kalau aku bersikap nggak sepantasnya sama kamu juga nggak apa-apa?”
“Nggak sepantasnya gimana, Pak?”
Jonathan jadi bingung sendiri sekarang. Ah, bahan obrolan macam apa ini? Nggak mutu, cetusnya dalam hati. Kemudian bos besar itu segera mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Aku kalau lagi makan penyetan memang lebih suka pakai tangan. Lebih nikmat rasanya. Cuma ya, tergantung sedang makan sama siapa. Kalau sama orang-orang yang dekat denganku seperti Bu Rosa, Bastian, Mimin…, aku sudah biasa.”
“Berarti saya sekarang termasuk dalam kategori orang yang dekat dengan Bapak, dong?”