Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Mimpi Yang Indah


__ADS_3

Rosa yang merasa tak ada ruginya mempertemukan keponakannya dengan Theresia mengangguk setuju. "Kapan dan dimana kamu mau menemui Karin, There? Tante akan meneleponnya untuk membuat janji temu," katanya lugas.


Sambil tersenyum puas, lawan bicaranya menjawab, "Lebih cepat lebih baik, Tante. Sekarang juga tidak apa-apa."


"Baiklah. Tante hubungi dia sekarang," jawab Rosa menurut. Dia lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelepon keponakannya. Wanita itu tak menyadari betapa Theresia dalam hati bersorak-sorai kegirangan rencananya sudah separuh berhasil.


Tuhan, kumohon pertemukan aku dengan perempuan itu hari ini, doanya dengan sungguh-sungguh dalam hati. Mumpung kehamilannya masih belum kelihatan dan Mas Jon belum menagih janjiku untuk mempercepat proses perceraian. Please, God...please.... Aku kini hidup sebatang kara. Hanya suamikulah satu-satunya anggota keluargaku di dunia ini. Aku tak mampu hidup tanpa dirinya....


Harapannya semakin melambung tinggi ketika Rosa berhasil berbicara dengan keponakannya  di telepon. Diperhatikannya baik-baik ekspresi wajah dan kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu. Datar-datar saja, batin Theresia kecewa. Tante Rosa benar-benar seorang sekretaris yang profesional. Sikap dan tindak-tanduknya tak mudah dibaca orang lain kecuali kalau sudah kenal baik.


Beberapa saat kemudian, Rosa mengakhiri pembicaraan di telepon. Dia lalu berkata pada teman makan siangnya, "Karin masih cuti hari ini. Dia masih meriang, mual, dan muntah-muntah. Jadi Pak Jon menganjurkannya untuk beristirahat saja di rumah."


"Oh, apakah dia bersedia kita temui sekarang, Tante?" tanya Theresia antusias. Dadanya berdebar-debar menanti jawaban.


Rosa mengangguk. "Dia bilang tidak apa-apa, There. Tapi bolehkah Tante meminta tolong padamu?"


Yang ditanya mengangguk mengiyakan. Apapun akan bersedia kupenuhi asalkan kau membawaku bertemu dengan pelakor itu! pekiknya dalam hati.


Terdengah ******* panjang wanita setengah baya itu. Lalu dia berkata dengan hati-hati, "Aku tahu situasi yang kau alami akhir-akhir ini sangat sulit, There. Kondisimu bagaikan sudah jatuh masih tertimpa tangga pula. Tapi kumohon jangan terlalu menyudutkan Karin nanti waktu bertemu. Dia sebenarnya seorang gadis baik-baik. Hanya saja terlalu naif terhadap cinta. Tindakannya memang tak dapat dibenarkan. Namun kujamin, dia tak pernah bermaksud menyakiti siapapun."


Theresia mengangguk pelan. Padahal hatinya geram sekali. Bodo amat dengan permintaanmu, Tante Rosa, pikirnya tak peduli. Yang penting aku bisa segera bertemu anak bau kencur itu dan memaksanya menuruti keinginanku!


Menyaksikan wanita di hadapannya menyanggupi permintaannya, hati Rosa merasa agak lega. Dia tidak menyadari bahwa ini merupakan awal dari penderitaan keponakan yang sangat disayanginya.


***

__ADS_1


Akhirnya kedua wanita itu pergi menuju ke rumah Rosa yang ditempati Karin. Theresia menyerahkan bungkusan makanan yang dibawanya dari restoran kepada sopir pribadinya. Pria setengah baya yang sudah lama bekerja padanya itu mengucapkan terima kasih.


Bosnya mengangguk lalu berpesan, "Tolong ikuti mobil Tante Rosa ya, Pak. Jangan sampai ketinggalan."


Pria itu mengangguk. Ia selalu patuh menjalankan perintah bosnya. Diikutinya mobil Rush putih Rosa dengan kecepatan yang terkendali sementara Theresia merebahkan tubuhnya yang terasa penat di jok belakang.


Entah mengapa perjalanan itu terasa sangat lama baginya. Jantungnya berdegup kencang menandakan kecemasan yang mulai menghampiri perasaannya. Dia lalu memejamkan mata.  Diaturnya pernapasan sesuai petunjuk terapis meditasinya dahulu. Pikiran dan perasaannya berangsur-angsur tenang kembali. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Akhirnya Theresia tertidur.


Ketika dia membuka mata, dilihatnya dirinya tengah berdiri melayang-layang di atas langit biru berhiaskan awan-awan putih nan indah. Ia memakai jubah berwarna putih. Ditengoknya sekeliling, tak ada seorang pun. Namun wanita itu tak merasa takut. Justru kedamaian yang dirasakannya.


Tiba-tiba Jonathan muncul di hadapannya. Suaminya itu terlihat begitu tampan dan gagah  mengenakan jubah putih seperti dirinya. Ia tersenyum lebar lalu mencium bibir Theresia. Sang istri merasa bahagia sekali. Ingin sekali rasanya waktu berhenti saat itu juga.


Namun rupanya kenyataan berkata lain. Theresia mendengar sebuah suara memanggil-manggil namanya.


Theresia membuka matanya. Dilihatnya dirinya kembali berada di dalam mobil bersama sopir kepercayaannya. "Oh, saya tertidur rupanya, Pak," cetusnya tersadar.


"Iya, Bu. Sebenarnya saya tidak tega membangunkan Ibu. Kelihatannya tidurnya lelap sekali."


"Ah, saya tadi bermimpi...."


"Indah sekali sepertinya mimpi Ibu. Sampai lama sekali saya panggil-panggil, baru Ibu terbangun."


Theresia mendesah panjang. Mimpi yang benar-benar indah, batinnya merasa kehilangan. Mudah-mudahan itu sebagai pertanda bahwa Mas Jon akan kembali lagi dalam pelukanku.


"Bu Rosa sudah membuka pintu pagar rumahnya, Bu. Apakah Bu Theresia tidak turun?" kata sopirnya mengingatkan.

__ADS_1


"Oh, iya. Bapak tunggu di sini saja, ya."


"Siap, Bu."


Theresia lalu membuka pintu mobil. Ia turun dan melangkah ke arah rumah Rosa. Baru kali ini dia datang ke tempat tinggal mantan sekretaris ayahnya itu. Rumah kecil yang nyaman dan terawat, komentarnya dalam hati. Di sinikah tempat Mas Jon biasa menghabiskan waktunya untuk berduaan dengan Karin? pikirnya penasaran. Perasaan cemburu menyeruak dalam hatinya.


"Selamat datang ke rumah mungilku, There," sambut Rosa berbasa-basi. Dia tahu rumahnya tidak sampai seperempat besarnya dibandingkan tempat kediaman anak mantan bosnya itu.


Theresia berusaha bersikap sopan dengan berkata, "Taman depan ini terawat sekali, Tante. Banyak tanaman bunga tumbuh subur."


"Oh, iya. Itu hasil buah tangan Karin. Dia suka sekali berkebun. Persis ibu kandungnya dulu."


Theresia manggut-manggut mendengar penjelasan sang nyonya rumah. Dia sendiri tak suka mengotori tangannya dengan berkebun. Ada tukang taman langganan yang biasa dipanggilnya untuk merawat tanaman-tanaman di rumahnya.


Rosa bermaksud memasukkan kunci ke dalam pintu utama ketika tiba-tiba seseorang membuka pintu tersebut dari dalam. Muncullah Karin yang tampak cantik alami tanpa polesan make-up. Ia memakai kaos oblong berwarna merah muda dan celana pendek biru denim. Penampilannya tampak trendy seperti seorang anak kuliahan. Meskipun raut wajahnya kelihatan kurang sehat.


Mungkin karena sering mual dan muntah-muntah, duga Theresia. Tahukah kau Karin, aku bersedia membayar berapapun demi mengalami kondisi yang sama dengan dirimu saat ini. Meriang, mual, muntah-muntah.... Ah, ternyata uang tak mampu membeli segalanya, batinnya perih. Sudah ratusan juta dulu kukeluarkan demi memperoleh keturunan, tapi semuanya sia-sia belaka.


"Selamat datang, Bu Theresia," sapa Karin sopan. "Silakan masuk."


Yang disapa mengangguk. "Terima kasih. Halo juga, Karin," balasnya datar. Hatinya berkecamuk tak karuan. Antara marah, sedih, dan tidak terima. Dia tak lebih cantik dariku.  Hanya lebih muda dan segar. Itukah yang menarik hati Mas Jon hingga berpaling dariku? cetusnya penuh tanda tanya dalam hati.


 Dia lalu masuk diikuti Rosa di belakangnya. Karin mempersilakannya duduk di sofa ruang tamu. Sudah ada beberapa air mineral dalam kemasan gelas dengan sedotan tersedia di atas meja.


Suasana menjadi hening selama beberapa waktu. Masing-masing pihak merasa canggung dan sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2