
Pendamping hidupnya yang sedang merangkai bunga di dalam vas itu terperangah. Langsung dihentikannya kegiatannya. Ia lalu menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
“Mas, bukankah pabrik cat dan developer properti itu hasil jerih payahmu selama puluhan tahun? Kenapa mau dijual?” tanyanya keheranan.
Lawan bicaranya menghela napas panjang. Diraihnya tangan sang istri yang duduk di sebelahnya. Diremas-remasnya dalam pangkuannya untuk memberikan rasa tenang pada hatinya yang gundah.
“Apa artinya punya bisnis yang berhasil kalau tidak ada orang yang dapat kupercaya untuk meneruskannya?” sahutnya lirih. Ekspresi wajahnya tampak sedih. Ditatapnya wanita yang sangat dicintainya itu dengan sorot mata sendu. “Seandainya aku sepuluh tahun lebih muda, pasti akan kuperjuangkan mati-matian, Mila. Tapi kau lihat sendiri, aku ini sudah tua. Kesehatanku sudah menurun akibat operasi bypass jantung tiga tahun yang lalu. Sudah lama kukubur ambisiku untuk mengejar harta duniawi…..”
Mila tersenyum bijaksana. Tampak kerutan di sudut kedua matanya. Namun bagi Simon, hal yang sering dianggap mengurangi kecantikan seorang wanita itu justru membuat istrinya itu terlihat begitu anggun di matanya. Tanda bahwa pasangan hidupnya itu telah banyak makan asam garam kehidupan.
“Kenapa tidak kauwariskan saja pada Theresia, Mas? Bukankah dulu dia pernah bekerja membantumu di kantor?” tanya wanita itu lembut. Sorot matanya begitu menyejukkan hati Simon.
Suaminya itu tersenyum pahit. “There dulu memang seorang wanita karir yang hebat. Namun semenjak dia mengundurkan diri untuk fokus program hamil, lambat-laun sikapnya berubah. Anakku itu tidak lagi logis dan objektif. Keputusan-keputusannya seringkali tidak bijaksana dan hanya berdasarkan emosi belaka. Aaahhh…,” ujar pria tua itu getir.
__ADS_1
Terbersit sebuah penyesalan dalam hatinya dulu terlalu sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikan pendidikan karakter sang putri. Sekarang sudah terlambat, batinnya pedih. Anakku sudah berusia tiga puluh tiga tahun dan sangat keras kepala. Membawa dirinya dengan baik di depan suaminya saja tak mampu, apalagi memimpin dua buah perusahaan yang mempekerjakan ratusan pegawai?
Mila menghela napas panjang. Ia sebenarnya merasa prihatin dengan keputusan yang diambil suaminya. Dalam hatinya masih terbersit harapan bahwa Theresia akan sanggup meneruskan bisnis-bisnis Simon. Namun melihat sikap pesimistis sang suami, perempuan itu tak berani memaksakan pendapatnya.
“Ya sudah, kalau Mas Simon memang memutuskan demikian. Lalu bagaimana kalau There bertanya kenapa kedua perusahaan itu dijual?” tanyanya pasrah. Dia merasa suaminya membutuhkan dukungannya saat ini. Jalan yang terbaik adalah menerima dengan besar hati tindakan yang akan diambil pria itu.
“Aku akan bilang bahwa sekarang kondisi ekonomi negeri ini sedang tidak baik. Banyak perusahaan besar yang bangkrut. Sebelum terkena imbasnya, lebih baik perusahaan dijual saja mumpung kondisinya masih prima. Setidaknya nilai jualnya akan tinggi. Uangnya bisa dipakai untuk berinvestasi pada hal-hal lain yang menguntungkan dan tidak terlalu memakan energi. Kalau mau, There bisa membuka bisnis yang memang sesuai dengan bakat dan minatnya. Tapi kalau dia tidak mempunyai keinginan untuk bekerja, ya sudahlah. Uang hasil penjualan bisnis-bisnisku lebih dari cukup untuk membuatnya ongkang-ongkang kaki seumur hidupnya.”
Mila mengangguk mendengar ulasan panjang lebar suaminya. Dia percaya apa yang dikatakan laki-laki itu benar. Kekayaan Simon memang luar biasa, bahkan mungkin sanggup menghidupi tiga turunan sekaligus tanpa perlu susah payah mencari nafkah!
“Dan penolongku…,” sela sang suami seraya mengecup mesra punggung tangan belahan jiwanya itu. Hatinya terasa agak ringan sekarang. Kesedihannya akibat ditinggalkan menantu yang dapat diandalkan sedikit terobati dengan dukungan moral yang senantiasa diperolehnya dari wanita budiman ini.
***
__ADS_1
Begitu meninggalkan pabrik cat yang dipimpinnya selama tiga tahun terakhir, Jonathan tidak langsung kembali ke hotel tempatnya menginap seminggu terakhir. Ia mengemudikan mobil Sigra barunya menuju ke gereja Katolik tempat pernikahannya dengan Theresia dulu diberkati. Setelah memarkir mobilnya di halaman depan, pria yang pikiran dan hatinya sedang berkecamuk tak karuan itu melangkah menuju pintu depan tempat ibadah yang megah itu.
Didorongnya pintu yang kini berada tepat di hadapannya. Benda kokoh yang terbuat dari kayu jati itu pun terbuka lebar. Di hadapan Jonathan kini terpampang hamparan bangku-bangku kayu panjang dan altar tempat pastur berkotbah yang membuatnya takjub. Aneh, pikirnya heran. Kenapa aku masih merasa takjub? Bukankah pemandangan ini sudah biasa kulihat ketika dulu masih rutin beribadah bersama Theresia?
Dulu…. Ya, dulu, sesalnya dalam hati. Entah mengapa aktivitas menyembah Sang Pencipta itu lambat-laun ditinggalkannya. Sang istri juga tak pernah mengingatkannya untuk datang ke rumah Tuhan lagi. Sepertinya Theresia juga melakukan ibadah hanya sebagai rutinitas belaka, bukan murni terbit dari hatinya sendiri.
Barangkali karena itulah ikatan perkawinanku dengannya begitu rapuh, batin Jonathan penuh penyesalan. Tak ada pedoman hidup yang menguatkan kami berdua. Mulai sekarang aku akan menyediakan waktu untukMu, Tuhan, janjinya dalam hati. Ia lalu mengambil air suci di depan pintu gereja dan membuat tanda salib. Selanjutnya dia melangkah ke arah bangku paling depan. Semakin maju ke depan, hatinya terasa semakin ringan. Begitu sampai di samping bangku yang ditujunya, kedua kakinya mengambil sikap agak berjongkok menghadap altar dan tangannya membuat tanda salib. Kemudian dirinya bangkit kembali dan duduk di bangku tersebut.
Laki-laki itu lalu memejamkan matanya dan mulai berdoa. Dicurahkannya segenap isi hatinya kepada Yang Maha Kuasa tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bayangan Karin, Theresia, dan Simon muncul bergantian dalam benaknya. Juga pabrik cat dan developer properti yang telah ditinggalkannya. Ada perasaan kuatir Simon akan kewalahan menjalankan dua perusahaan yang selama tiga tahun terakhir ini tidak terlalu diurusinya lagi. Memang terkadang ayah mertuanya itu suka tiba-tiba datang memantau kinerja anak-anak buahnya, tapi itu sebenarnya hanya sekedar formalitas belaka untuk membuat para karyawan merasa segan dan bekerja dengan baik.
Ya Tuhan, Engkau tahu diriku telah berupaya semaksimal mungkin menjadi suami, menantu, dan direktur yang baik. Ampunilah kesalahan-kesalahan yang kulakukan baik itu disengaja maupun tidak. Semuanya itu di luar kemampuanku sebagai seorang manusia yang memiliki keterbatasan. Kini aku telah melepaskan semuanya dengan lapang dada. Kumohon berilah diriku kekuatan dan hikmat untuk menyongsong hari esok yang lebih baik. Terima kasih, Tuhan. Amin.
Begitulah doa Jonathan yang terbit dari relung-relung hatinya yang paling dalam. Setelah membuat tanda salib di dahi dan dadanya, dia laki-laki itu membuka matanya. Tatapannya terarah pada salib Tuhan Yesus yang terpampang dengan megahnya di altar. Ia tersenyum bahagia. Beban berat di hatinya hilang sudah. Ia kini siap menjalani hidup dengan semangat yang baru.
__ADS_1
***