
Setelah malam Jonathan dipatahkan hatinya oleh Karin, Theresia menelepon suaminya itu esok pagnyai. Terdengar nada sambung berkali-kali, tapi tak ada yang mengangkat telepon.
"Sabar, There," ucap wanita itu menenangkan diri sendiri. "Pukul sebelas siang nanti teleponlah Mas Jon lagi. Cari alasan untuk mengajaknya keluar makan siang."
Lalu istri Jonathan itu duduk bersila dan mengambil sikap meditasi. Sekarang dia telah dapat menikmati keheningan dan energi yang tercipta saat khusyuk melakukan terapi yang berkontribusi besar terhadap ketenangan batinnya itu.
Setelah selesai menyelesaikan aktivitas rutinnya setiap pagi tersebut, Theresia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Kemudian dia berdandan alakadarnya untuk menikmati sarapan di meja makan.
"Terima kasih, Bi Sum," ucapnya pada sang asisten rumah tangga ketika perempuan itu menyajikan segelas susu hangat favoritnya.
"Sama-sama, Bu Theresia," jawab Bi Sum sembari berjalan kembali ke belakang. Dia senang menyaksikan perubahan majikannya akhir-akhir ini. Jauh lebih sopan dan menghargai orang kelas bawah seperti dirinya. Sepertinya kepergian orang-orang terdekat Theresia telah membuatnya introspeksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Kalau Bu Theresia sikapnya begini terus, mungkin lama-lama hati Pak Jonathan bisa luluh dan mau rujuk kembali, batin Bi Sum mengira-ngira. Kasihan juga meihat Bu Theresia sehari-hari makan, nonton TV, dan tidur sendirian di rumah sebesar ini.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel tanda ada telepon masuk. Theresia hampir bersorak kegirangan melihat nama Jonathan terpampang pada layar alat komunikasi digitalnya itu. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan supaya bisa rileks berbicara dengan pria yang sangat dinanti-nantikannya itu.
"Halo, Mas Jon," sahutnya tenang. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang teramat manis. Dia senang sekali suaminya balas meneleponnya setelah sulit dihubungi tadi.
"There," kata laki-laki itu dengan suara parau. "Kamu tadi meneleponku?"
"Iya, Mas," jawab sang istri penuh semangat. "Aku mau memberitahu kalau aku nggak keberatan harga rumah Papa diturunkan hingga dua puluh persen lagi jika memang ada calon pembeli yang serius. Aku mengerti tidak mudah menjual rumah sebesar itu. Jadi daripada terlalu lama nggak laku, kupikir malah nggak efisien. Biaya perawatan yang harus kukeluarkan untuk rumah itu cukup besar setiap bulannya. Jatuhnya ya, sama aja."
Tak terdengar jawaban dari seberang sana. Tiba-tiba rasa cemas timbul dalam hati Theresia. "Mas Jon kok diam saja? Ada apa?"
"Aku nggak enak badan, There," aku Jonathan jujur. "Badanku meriang campur menggigil. Hari ini terpaksa kuambil cuti. Padahal banyak sekali pekerjaan di kantor yang harus diurus. Transaksi-transaksi yang kemarin berhasil didapat dari para pengunjung pameran mesti ditindak-lanjuti. Aku kuatir anak-anak buahku merasa kewalahan. Mudah-mudahan besok aku sudah sembuh dan bisa kerja lagi. Tentang permintaanmu barusan akan kupertimbangkan dulu, ya."
__ADS_1
"Mas Jon," sergah istrinya kuatir. "Kamu sekarang sendirian di apartemen? Karin nggak menemanimu?"
Terdengar suara lawan bicaranya mendengus. "Jangan sebut-sebut lagi nama perempuan jahanam itu, There. Ternyata hatinya busuk sekali, tidak semanis penampilannya. Aku telah terkecoh!"
"Lho, Mas. Kok begitu, sih?" tanya Theresia pura-pura tak mengerti. Padahal dia tengah tersenyum culas.
"Sudahlah. Kelak kau akan mengetahuinya sendiri. Sori, aku mau istirahat dulu, ya. Badanku remuk-redam rasanya," ucap Jonathan siap mengakhiri pembicaraan.
"Eh, tunggu dulu, Mas. Jangan ditutup teleponnya!"
"Ada apa lagi, There?"
Wanita itu menjawab dengan terburu-buru, "Kamu biasanya kalau sakit begitu dikerokin kan cepat sembuh. Biar aku datang ke apartemenmu untuk ngerokin. Abis itu aku langsung pulang dan kamu bisa istirahat. Besok pasti bisa masuk kerja dalam keadaan segar bugar."
"Jangan repot-repot, There. Aku jadi nggak enak sama kamu," tolak laki-laki itu halus.
Tak terdengar suara apapun. Sepertinya Jonathan tengah mempertimbangkan maksud baik sang istri. Theresia tak henti-hentinya berdoa dalam hati agar pria yang dicintainya itu tak menolak bantuannya.
Akhirnya terdengar suara sang suami menjawab lirih, "Baiklah. Kuterima maksud baikmu, There. Terima kasih banyak, ya."
Wanita itu mengepalkan tangan di depannya sambil berterak Yes tanpa suara. "Sama-sama, Mas Jon. Oya, apartemenmu di tower apa, lantai berapa, dan berapa nomor unitnya? Supaya aku bisa memberitahu resepsionis untuk dihubungkan dengan dirimu nanti kalau minta ijin naik ke atas. Aku kan nggak punya kunci dan kartu tanda masuk."
"Sebentar lagi aku kirimkan lewat chat WA ya, There," jawab laki-laki itu singkat.
"Ok. Kutunggu, Mas."
__ADS_1
Jonathan mengakhiri pembicaraan. Dimatikannya sambungan telepon. Lalu dia mengirimkan pesan WA pada istrinya.
Selanjutnya diletakkannya kembali ponselnya di atas bufet. Laki-laki itu berbaring di atas ranjang dan memejamkan mata.
***
"Sori apartemenku berantakan," ujar Jonathan sendu saat membukakan pintu dan mempersilakan Theresia masuk. Wanita itu mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Apartemen ini bersih dan rapi, meskipun tidak besar. pujinya dalam hati. Tapi banyak sekali kaleng-kaleng bir di atas meja makan. Dan semuanya sudah kosong....
"Aku belum sempat membuangnya," kata sang tuan rumah nyengir. Dia lalu mengambil sebuah kantung kresek besar untuk memasukkan kaleng-kaleng itu. Theresia bermaksud mencegahnya.
"Sudah. Biar aku aja yang membereskannya," katanya menawarkan diri. Diulurkannya tangannya untuk mengambil kantung kresek dari sang suami. Wanita itu terkejut saat tangannya bersentuhan dengan tangan Jonathan. "Panas sekali tanganmu, Mas!" serunya kaget.
Spontan disentuhnya dahi dan leher laki-laki yang tampak terkantuk-kantuk itu. "Kamu demam. Ayo kuantar ke rumah sakit sekarang. Cepatlah bersiap-siap."
Sang suami menggeleng. "Aku cuma mau istirahat, There. Katamu kemari mau ngerokin aku. Jadi, nggak?"
Theresia menatap suaminya prihatin. Kondisinya begitu menyedihkan setelah diputuskan sepihak oleh gadis yang baru beberapa bulan menjalin hubungan dengannya, batin wanita itu pilu. Lalu bagaimana ketika dia dulu meninggalkanku? Apakah kondisinya seburuk ini? Atau malah sebaliknya, bahagia karena sudah menemukan pengganti diriku?
"There..., kamu jadi nggak ngerokin aku? Aku sudah nggak kuat berdiri lama-lama."
Wanita itu terkesiap. "Oh, iya...tentu saja, Mas. Aku sudah bawa koin dan minyak kayu putih. Kamu mau dikerokin di mana?"
"Di sofa aja," jawab pria itu sungkan. Bagaimanapun dia sudah lama tidak seatap dengan istrinya ini. Tidak enak rasanya berduaan dengannya di dalam kamar yang merupakan area pribadi.
__ADS_1
"Di dalam kamar aja, Mas," pinta wanita itu berkeras. "Jadi kamu bisa langsung tidur. Nggak usah berjalan lagi. Jangan kuatir. Aku akan langsung pergi kok, setelah kamu tidur."
"Ya sudah. Terserahlah," jawab laki-laki itu pasrah. Dia malas berdebat dalam kondisi tidak fit seperti ini.